Rabu, 04 Desember 2019

Ketua Komisi II DPR Dukung Ibu Kota RI Pindah: Jakarta Crowded!

Ketua Komisi II DPR Zainudin Amali mendukung rencana memindahkan ibu kota Indonesia. Alasannya, DKI Jakarta saat ini sudah terlalu ramai dan padat.

"Saya mendukung itu karena memang kondisi Jakarta sebagai kota pemerintahan sekaligus sebagai pusat bisnis itu sudah sangat crowded," kata Amali kepada wartawan, Selasa (30/4/2019).

Amali mengatakan Indonesia harus bisa mencontoh sejumlah negara yang memisahkan ibu kota dan pusat bisnis. Beberapa di antaranya, dia menyebut Malaysia dan Brasil.

"Saya kira ini harus ada keberanian memulai. Memang belum tentu akan selesai pada periode ini. Tapi misalnya beliau diputuskan KPU menjadi pemenang dan akhirnya dilantik untuk periode kedua kalinya, beliau harus berani memulai itu," ujar politikus Golkar itu.

"Apakah sampai selesai periode keduanya bisa terlaksana, itu kita lihat perkembangannya," imbuh Amali.

Pernyataan senada dilontarkan anggota Komisi II DPR F-PPP, Achmad Baidowi (Awiek). Ia menilai saat ini beban Jakarta terlalu berat sebagai kota pemerintahan dan pusat niaga.

Namun, menurut Awiek, keputusan pemindahan ibu kota ini dibarengi dengan kajian mendalam. Ia tak ingin kesemrawutan yang sama terjadi di ibu kota RI yang baru. Awiek mencontohkan soal kemacetan dan banjir.

"Keputusan memindah ibu kota pemerintahan harus dibarengi dengan kajian mendalam, termasuk menyiapkan RT/RW (rencana tata ruang wilayah) dan RDTR (rencana detail tata ruang) agar tidak mengulang kesalahan Jakarta," sebut Awiek.

"Mulai dari sistem tata letak perkantoran, infrastruktur, sistem transportasi, serta aspek keamanan. Jangan pula di ibu kota yang baru justru macet, banjir, kriminalitas menjadi masalah baru," imbuh dia.

Pada Senin (29/4), Presiden Jokowi mengumpulkan sejumlah menteri untuk rapat terbatas membahas rencana pemindahan ibu kota negara. Ada 3 alternatif yang awalnya dipaparkan Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro.

Pertama, harus mengubah peruntukan di wilayah sekitar Istana Kepresidenan Jakarta dan Monas. Alternatif kedua adalah memindahkan pusat pemerintahan di wilayah yang dekat dengan Jakarta. Sementara alternatif ketiga adalah memindahkan ibu kota di luar Pulau Jawa.

Jokowi pun mengatakan lebih tertarik alternatif yang memindahkan ibu kota di luar Pulau Jawa. "Kalau masih berpikir tiga alternatif tadi, kalau saya sih alternatif satu dan dua sudah tidak," kata Jokowi.

Soal Pemindahan Ibu Kota, Pengamat Bicara Smart-Liveable City

Presiden Joko Widodo (Jokowi) merencanakan pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa. Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna, menjelaskan kriteria ibu kota baru Indonesia, dari masalah infrastruktur hingga kebencanaan. Seperti apa?

Menurut Yayat, ketersediaan lahan untuk ibu kota baru menjadi salah satu faktor penting agar tidak perlu ada masalah pembebasan lahan seperti yang terjadi di Pulau Jawa. Selain itu, lokasi ibu kota disebut Yayat harus bebas dari bencana.

"Apakah lokasi yang ditetapkan itu nanti betul-betul bebas dari bencana asap, bebas dari bencana banjir, misalnya apakah ada sungai yang meluap. Kalau gempa okelah, tidak ada. Kemudian lokasi tersebut minimal sudah didukung dengan ketersediaan infrastruktur yang bagus," ujar Yayat saat dihubungi, Senin (29/4/2019) malam.

"Penting untuk transportasi. Seperti misalnya di ibu kota provinsinya sudah ada bandara misalnya skala internasional, ada pelabuhan laut yang bisa mendukung kemudahan untuk logistik dan sebagainya, tersedia jaringan jalan yang bisa mengakses lokasi itu dari berbagai lokasi daerah," imbuhnya.

Yayat menyebutkan ibu kota baru haruslah mencerminkan wajah Indonesia di masa depan. Menurutnya, lokasi ibu kota harus bisa menjadi smart city dan layak huni.

"Lokasi itu harus menjadi sebuah wajah baru Indonesia. Yang maju, modern, smart city, livable, environment-nya juga bagus. Jadi betul-betul kota masa depan tapi tidak mengabaikan aspek kota yang nyaman dan liveable, dan layak untuk dihuni. Jangan model sekarang, di mana-mana kumuh-kumuh," tuturnya.

Berdasarkan kriteria tersebut, Yayat mengatakan kota yang cukup representatif untuk menjadi Ibu Kota Indonesia yang baru adalah Balikpapan, Kalimantan Timur. Menurutnya, penataan Kota Balikpapan sudah cukup memadai.

"Yang sekarang cukup representatif di Kalimantan itu kan kalau di Balikpapan itu ada ekonominya berupa tambang dan sebagainya. Tapi Kota Balikpapan itu pertama dari sisi penataan transportnya misalnya, kemudian dari sisi ruang terbukanya, kemudian dari sisi pelabuhannya, bandaranya, itu cukup memadai dia. Kedua, kota itu lebih tertata apik gitu," jelas Yayat.

Soal Pemindahan Ibu Kota, Mendikbud: Sangat Positif untuk Pendidikan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy merespon positif rencana Presiden RI Joko Widodo memindahkan Ibu Kota RI. Menurutnya rencana itu sangat baik untuk pemerataan pendidikan di daerah tertinggal.

"Ya pasti lah, tapi itu kan masih wacana, saya belum mengagendakan secara khusus, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan," kata Muhadjir kepada wartawan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (2/5/2019).

Sebelumnya rencana pemindahan Ibu Kota RI ke luar Jawa ini direncanakan oleh Presiden Joko Widodo. Muhadjir mengatakan rencana tersebut positif untuk pemerataan dunia pendidikan.

"Ya positif lah, mungkin bisa dikaitkan dengan masalah pemerataan, kemudian juga menarik pusat kekuasaan itu di tengah wilayah Indonesia saya kira sudah waktunya," ungkapnya.

Muhadjir juga menjelaskan kondisi Ibu Kota di Jawa membuat ketimpangan di dunia pendidikan. Menurutnya kondisi Ibu Kota RI di pula Jawa memperberat pemerataan pendidikan di Indonesia.

"Betapa beratnya kita untuk menangani wilayah terluar, tertinggal, terdepan (3T) dan luar Jawa itu karena memang pusat kekuasaannya berada di sini. Saya kira dampaknya akan sangat positif untuk upaya kita untuk segera mempercepat pemerataan pendidikan," jelasnya.

Terkait keputusan pemindahan ibu kota RI, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan rencana ini nantinya akan dikonsultasikan ke DPR selaku lembaga legislatif. Saat ini, sudah ada 3 kandidat lokasi ibu kota baru.

"Kita konsultasi ke DPR, tokoh formal, politik, tokoh masyarakat, karena ini menyangkut sebuah visi ke depan kita dalam membangun suatu ibu kota pemerintahan yang representatif ke depan," kata Jokowi di PT KMK Global Sports I, Cikupa, Tangerang, Banten, Selasa (30/4).

"Nanti semua, baik kajian hukum, kajian sosial, politik, semuanya kalau sudah matang nanti diputuskan, tapi ini tetap harus dikonsultasikan ke DPR," imbuhnya.

Fadli Bilang Pemindahan Ibu Kota Pengalihan Isu: Omong Kosong Jokowi!

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyebut keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memindahkan ibu kota RI merupakan upaya pengalihan isu. Ia pun menyebut rencana itu hanya omong kosong belaka.

"Itu saya kira wacana isapan jempol saja untuk mengalihkan isu ya. Dulu juga begitu empat tahun, lima tahun yang lalu. Nanti juga reda sendiri," kata Fadli di Lapangan Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5/2019).

Menurut Fadli, isu pemindahan ibu kota RI sudah pernah bergulir, tetapi tidak kunjung terwujud. Maka, jika rencana tersebut benar, Fadli meminta pemerintah mempersiapkannya matang-matang.

"Sudahlah, ini omong kosong. Omong kosong yang dilakukan oleh Presiden Jokowi," ujarnya.

Terkait keputusan pemindahan ibu kota RI, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan rencana ini nantinya akan dikonsultasikan ke DPR selaku lembaga legislatif. Saat ini, sudah ada 3 kandidat lokasi ibu kota baru.

"Kita konsultasi ke DPR, tokoh formal, politik, tokoh masyarakat, karena ini menyangkut sebuah visi ke depan kita dalam membangun suatu ibu kota pemerintahan yang representatif ke depan," kata Jokowi di PT KMK Global Sports I, Cikupa, Tangerang, Banten, Selasa (30/4).

"Nanti semua, baik kajian hukum, kajian sosial, politik, semuanya kalau sudah matang nanti diputuskan, tapi ini tetap harus dikonsultasikan ke DPR," imbuhnya.