Selasa, 07 Januari 2020

Jejak Geosite Sungai Purba di Negeri Laskar Pelangi

Belitung selama ini dikenal dengan keindahan alam laut yang cantik. Ternyata, jejak sungai purba juga ada di sana!

Inilah Tebat Rasau, sebuah sungai yang terletak di Simpang Renggiang, Belitung Timur, Pulau Belitung. Pemerintah setempat melabeli Tebat Rasau sebagai Geosite Rawa Kenozoikum Tebat Rasau.

detikcom sempat berkunjung ke sana atas undangan dari Yayasan Rempah Indonesia beberapa waktu lalu. Tebat Rasau menjadi saksi tentang pergeseran sesar yang bersar di kawasan Sunda purba saat era pertengahan Kenozoikum.

Masa kenozoikum merupakan era yang terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu. Di masa-masa ini, mamalia dan tumbuhan berbiji modern berkembang. Selain itu, kenozoikum juga terbagi 2. Yakni kenozoikum tersier--mulai munculnya binatang dan mamalia seperti monyet atau kera. Sedangkan kenozoikum kuarter adalah masa-masa munculnya manusia. Kenozoikum juga sering disebut permulaan peradaban modern.

Akibat pergeseran di masa kenozoikum, terjadi bentukan bidang datar yang luas, dikenal dengan nama rawa rheotripik. Rawa purba ini pun dikenal kaya akan alga dan ikan. Selain itu, rawa purba juga memiliki tipe alluvial (alluvial swamps) yang memiliki ciri-ciri tumbuhan spesies Pandanus. Pandanus akan berkembang biak pada kondisi air pasang surut dan tidak tercampur dengan air payau, dengan kisaran pH 5,5.

Jenis sungai atau rawa purba Tebat Rasau, alluvial juga memiliki ciri khusus. Yakni merupakan habitat alamiah dari ikan hias arwana, ikan ampong dan ikan buntal.

Kini, sesuai dengan misi Belitung mengembangkan berbagai macam geopark, Tebat Rasau dikelola oleh pemerintah dan warga setempat. Warga sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan mulai belajar mengenai alam dan pengembangan tempat wisata alam.

Dengan luas 8.040 hektare, Tebat Rasau terdiri dari 3 dusun dan 900 Kepala Keluarga. Wilayahnya pun terdiiri dari tempat tinggal dan hutan dengan bekerja sebagai nelayan dan petani lada.

Masyarakat pun juga ikut memiliki minat yang besar untuk mengembangkan dan melestarikan Tebat Rasau. Hal ini pun didasari mereka karena lingkungan adalah tempat tinggal mereka berserta keluarga.

"Masyarakat sini banyak yang aslinya nelayan. Puluhan tahun bergantung dengan sungai, jadi terpikir untuk peduli terhadap sungai, karena rawan kerusakan yang bisa jadi karena ulah kami sendiri," ujar Nasidi, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Lanun.

Selain itu, masyarakat juga tersadar akan potensi pariwisata dari Geosite Tebat Rasau. Pemberdayaan manusia pun sudah dimulai dengan membuat komunitas dan grup literasi mulai dari anak-anak.

"Di sini juga ada komunitas, kami belajar mengelola geosite. Ada berbagai buku, seminar juga diselenggarakan," tambah dia.

Jembatan dari bambu sudah mulai dibangun berikut dengan pondok-pondok di sekitarnya. Saat detikcom datang di bulan Juli, sungai sedang surut sehingga air tidak banyak terlihat.

Meski masih dalam pengembangan, Tebat Rasau kini mulai didatangi oleh para wisatawan dan peneliti. Umumnya, para peneliti berasal dari luar negeri yang ingin mengetahui berbagai macam sejarah alam.

"Kemarin ada yang datang peneliti dari Eropa. Ada beberapa yang mau melihat langsung sejarah sungai," tambah dia.

Selain itu, tanaman di sekitar Tebat Rasau juga mudah mulai diberdayakan. Misalnya saja teh dari tumbuhan pelawan yang bisa dipesan khusus. Meski belum memiliki sertifikasi badan POM, Nasidi mengatakan bahwa khasiatnya pun bermacam-macam untuk tubuh.

"Memang belum dites pemerintah, tapi di badan kami aman," ujar Nasidi melontar lawakan.

detikcom pun mencoba teh tersebut. Rasanya memang segar, apalagi diminum saat hangat. Menurut Nasidi, teh ini berkhasiat untuk mengatasi masuk angin dan pegal-pegal.

Hingga kini, masyarakat dibantu pemerintah daerah setempat masih mengembangkan Geopark Tebat Rasau. Diharapkan, nantinya ini dapat menjadi alternatif destinasi di Pulau Belitung.

Banyuwangi Kenalkan Potensi Kuliner di Festival Pantai Cacalan

Semangat Kabupaten Banyuwangi kembangkan wisata terlihat dari Festival Pantai Cacalan. Selain mengenalkan keindahan pantai, festival juga kenalkan kuliner.

Kabupaten Banyuwangi terus mengembangkan destinasi wisata pantainya. Lewat Festival Cacalan, Banyuwangi ingin mengenalkan wisata Pantai Cacalan yang masih di kawasan kota. Pantai ini akan dijadikan pusat kuliner ikan bakar dan minuman segar jus jambe.

Festival Pantai Cacalan yang digelar Rabu, (31/07/2019) di Pantai Cacalan, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro ini dibuka Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko.

Festival ini berlangsung meriah. Ratusan pengunjung yang hadir, disuguhkan deretan kuliner ikan bakar. Aroma khas ikan yang dibakar pun meruak di sekitar lokasi. Membuat para pengunjung tak sabar ingin segera mencicipi ikan bakar yang diolah oleh nelayan setempat.

Tak hanya ikan, warung makanan di sana juga menyediakan Jus Jambe. Jus ini dikenal dengan khasiatbya untuk vitalitas tubuh. Rasanya, dijamin segar.

Wabup Yusuf mengatakan, festival ini digelar untuk mengenalkan destinasi bahari di sekitar kota, yang dilengkapi dengan kuliner ikan bakar. Ikan yang dijual juga tergolong fresh, karena langsung dibeli dari nelayan yang melabuhkan kapalnya di kawasan tersebut.

"Dengan dibukanya festival ini secara otomatis, menjadi identitas baru Pantai Cacalan sebagai destinasi yang menyajikan kuliner ikan bakar. Wisatawan yang ingin menikmati ikan bakar yang fresh, dan lokasi tak jauh dari pusat kota, silakan datang ke Pantai Cacalan," kata Yusuf, saat membuka acara.

Dalam kesempatan itu, Yusuf ikut membakar ikan bersama para istri dan nelayan setempat.

"Dan jangan lupa dicoba pula Jus Jambe. Rasanya segar, meski ada rasa getir sedikit dari jambenya. Tapi tetap enak, itu sensasinya. Cocok untuk mereka yang ingin meningkatkan stamina tubuh," imbuh Yusuf.

Festival Cacalan dibuka dengan tarian kuntulan dan hadrah kolosal. Sebanyak 200 penabuh hadrah memukul rebana dengan rancak, mereka dengan kompak menyanyikan lagu-lagu Islami mengiringi para penari dengan berlatar belakang pantai.

Turis asing yang hadir pun turut menikmati atraksi yang ditampilkan. "Ini sangat menyenangkan. Sebuah festival di pinggir pantai sambil bakar ikan. Juga ada kesenian setempat. Keren," kata Corwin Böker, asal Jerman.

Yusuf menambahkan atraksi seni akan menjadi agenda tetap yang akan ditampilkan di Pantai Cacalan. "Festival ini tidak hanya untuk mengenalkan destinasinya saja, tapi juga mengenalkan budaya dari warga setempat. Jadi di setiap kawasan deatinasi, kita akan mengangkat budaya yang berbeda, tergantung tradisi warga setempat," kata Yusuf.

Camat Kailpuro Hendry Suhartono menambahkan dengan dibukanya festival ini maka seluruh warung yang ada di pantai ini telah siap menyajikan menu ikan bakar hasil tangkapan sendiri. Mereka ini, kata Hendry, sebelumnya telah dilatih oleh Dinas Perikanan cara mengolah ikan bakar dengan higienis.

"Pesertanya rata-rata istri nelayan. Kita ajarkan bagaimana membuat diversifikasi usaha. Tak hanya menjual ikan dalam bentuk mentah, tapi diedukasi bagaimana ikan lokal di branding secara higienis," tutur Hendry.

Tak hanya dilatih sekedar membakar saja, tapi mereka juga diajari bagaimana menjadikan ikan bakarnya berkualitas. Mulai dari cara membersihkannya, membakar, membumbui dan menyajikan ikan bakarnya ala restoran.

"Dan yang pasti, mereka juga kami ajarkan bagaiman memilih dan membuat jus jambe yang pas di lidah," pungkas Hendry.