Rabu, 08 Januari 2020

Mantap! Ratusan Orang Adu Skill Mancing di Tebing Pantai Gunungkidul

Ratusan pemancing dari berbagai daerah unjuk kebolehan di kejuaraan Gunungkidul Rock Fishing Tournament (GRFT). Mereka memancing di pinggir tebing yang eksotis.

Selain itu, terdapat lomba mengumpulkan sampah plastik untuk menjaga kebersihan Pantai. Ketua Pelaksana GRFT, Amri Santoso mengatakan, bahwa GRFT adalah turnamen memancing ikan dari atas tebing Pantai. Menurutnya, turnamen yang diinisiasi Handayani Rock Fishing (HRF) ini sudah memasuki kali kedua dalam penyelenggaraannya.

"Untuk pesertanya ada 104 tim, mereka berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terus setiap tim itu terdiri dari 4 orang," katanya saat ditemui di Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Minggu (28/7/2019) siang.

Sedangkan untuk kategori yang dilombakan, Amri menyebut ada 3 kategori yakni kategori ikan sisik, ikan non sisik dan ikan spesies, seperti ikan baracuda, layur, oleng-oleng atau sidat, kerapu dan kakap. Nantinya, penentuan pemenang turnamen berdasarkan berat ikan yang diperoleh peserta.

"Nah, nantinya mereka akan mancing di 104 spot mancing mulai kemarin Sabtu (27/7) sore sampai siang ini. Semua spot itu berupa tebing pantai yang tersebar dari Kecamatan Girisubo sampai Kecamatan Panggang," katanya.

Lanjut Amri, pemilihan spot berupa tebing Pantai bukan tanpa alasan. Menurutnya, hal itu karena Kabupaten Gunungkidul memiliki banyak spot memancing ikan dari atas tebing, meski berisiko, Amri memastikan spot tersebut aman saat digunakan turnamen.

"Spot mancing itu sudah kami survei dan dipastikan aman saat digunakan lomba, kami juga tempatkan 1 pengawas dan 1 porter untuk setiap spot," ucap Amri.

"Kami tempatkan 1 pengawas dan 1 porter untuk setiap spot karena untuk mencapai spot mancing itu medannya cukup sulit, selain itu untuk menjamin keamanan para peserta," sambung Amri.

Lebih lanjut, Amri mengakui bahwa selain sebagai ajang silaturahim antar pemancing, GRFT ini juga bertujuan untuk mengenalkan dan menjaga kelestarian spot rock fishing di Gunungkidul.

"Karena itu, selain lomba mancing, kami juga adakan lomba mengumpulkan sampah plastik di setiap spot yang digunakan peserta. Jadi setiap tim akan mengumpulkan sampah plastik, terus nanti ditimbang dan yang paling berat akan mendapat hadiah 1 sepeda," katanya.

"Harapannya dengan lomba mengumpulkan sampah plastik ini memicu setiap orang untuk menjaga kelestarian Pantai, khususnya spot-spot mancing di Gunungkidul.

Salah seorang peserta GRFT, Heri Susanto mengatakan, bahwa ini adalah kali kedua ia mengikuti turnamen rock fishing di Gunungkidul. Lanjut Heri, ia tertarik mengikuti turnamen tersebut karena memiliki tantangan tersendiri, terlebih ia telah menekuni hobi memancing sejak lama.

"Yang bikin seru itu spotnya diundi, jadi ada tantangan tersendiri mas. Contohnya ada yang biasa mancing di tebing Pantai Kesirat terus di turnamen ini dapat spot di Pantai Woh Kudu, itu membuat kita harus cepat menyesuaikan dan mencari umpan yang pas biar dapat ikan," katanya.

"Seperti saya tadi dapat spot di Pantai Krakal, tepatnya di sebelah barat patung ikan padahal belum hafal daerah sana, kan mau tidak mau harus putar otak biar bisa dapat ikan di sana (tebing Pantai Krakal)," imbuh Heri.

Meski tidak berhasil memperoleh ikan berukuran besar, pemancing asal Bantul ini mengaku cukup puas dengan hasil pancingannya. Mengingat ia belum terbiasa memancing ikan di sekitaran Pantai Krakal.

"Saya tadi hanya dapat beberapa ikan kakap merah sama ikan mrisi, tapi ukurannya tidak terlalu besar," ucapnya.

Kendati harapan untuk menjuarai turnamen tersebut telah pupus, Heri mengaku tidak kcewa. Hal itu karena ia bisa bertemu dengan para pemancing lain, khususnya yang berasal sari luar DIY.

"Juara itu bonus mas, yang penting hobi tersalurkan dan sekalian silaturahim antar pemancing. Karena ketemu pemancing lain sama saja dengan menambah saudara," kata Heri.

Milenial Malaysia Kepincut Wisata Homestay di Bakkara

Program live homestay di Bakkara, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara sukses membuat milenial Malaysia betah bahkan ogah kembali pulang ke negaranya. Destinasi yang menawarkan keindahan sekitar Danau Toba ini membuat puluhan peserta dari Universiti Teknologi Mara, Melaka, Malaysia terpana.

"Hari terakhir di Bakkara, tim dari Universiti Teknologi Mara, Melaka tidak mau pulang. Mereka terkesan dengan keramahan penduduk. Senang dengan makanan yang dimasak penduduk. Mereka bilang sangat lezat, "ujar Pembimbing Inspire Travel and Tourism Learning Center Jakarta, Krisanti Kurniawan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/7/2019).

Anggota Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rode Ayu Wahyuningputri mengatakan para milenial Malaysia diajak menghargai kebersamaan di Bakkara.

"Konsepnya ada interaksi antar manusia. Di Bakkara, milenial Malaysia kami ajak tidur di rumah masyarakat, makan di rumah kepala desa, trekking, rafting, mengolah kopi, sampai menenun," katanya.

Ia yakin wisata Bakkara bisa bernafas panjang karena wisatawan mendapatkan pengalaman baru sekaligus kenangan manis.

"Mereka sampai membantu panen bawang penduduk. Membantu petani mendapatkan gabah dengan cara manual dan semuanya happy. Saya sampai mendapat laporan ada tim Sinambela yang tidak mau dipisahkan sampai hari terakhir. Jalan sama-sama, sewa motor sama-sama, naik mobil pun rela berdesak-desakan meski ada space kosong di mobil lain. Ini luar biasa," kata Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional I Kemenpar, Lokot Ahmad Enda.

Kepala Sub Bidang (Kasubid) Bidang Pengembangan Destinasi Area I B, Andhy Marpaung, mengatakan adapun yang membuat pariwisata Bakkara istimewa adalah interaksi dengan masyarakat lokalnya. Meskipun di Bakkara tidak ada televisi dan akses internet, wisatawan dihibur dengan budaya dan kuliner Batak buatan masyarakat lokal.

"Kuncinya ada di interaksi dengan masyarakat lokal. Milenial Malaysia jadi bisa mempelajari budaya Batak. Banyak yang terbiasa mengucapkan horas dan ini diucapkan dengan penuh respek," jelas Andhy.

Pengalaman wisata di Bakkara membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya makin bersemangat mengembangkan Bakkara yang ada di sekitar Danau Toba. Arief menilai Bakkara telah memiliki modal dasar, seperti alam yang indah dan cerita tentang Sisingamangaraja yang mempesona.

"Alam (Planet), masyarakat (People), kesejahteraan (Prosperity), dan tujuan (Purpose) yang saya sebut 4P harus diperhatikan. Ini rumus pengembangan pariwisata yang terbaik. Ingat, semakin dilestarikan akan semakin menyejahterakan. Wisatawan zaman now tidak hanya sekedar berkunjung ke destinasi, tapi juga terlibat menjaga lingkungan, budaya, juga berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Travel, enjoy, respect!," kata Arief.

Mantap! Ratusan Orang Adu Skill Mancing di Tebing Pantai Gunungkidul

Ratusan pemancing dari berbagai daerah unjuk kebolehan di kejuaraan Gunungkidul Rock Fishing Tournament (GRFT). Mereka memancing di pinggir tebing yang eksotis.

Selain itu, terdapat lomba mengumpulkan sampah plastik untuk menjaga kebersihan Pantai. Ketua Pelaksana GRFT, Amri Santoso mengatakan, bahwa GRFT adalah turnamen memancing ikan dari atas tebing Pantai. Menurutnya, turnamen yang diinisiasi Handayani Rock Fishing (HRF) ini sudah memasuki kali kedua dalam penyelenggaraannya.

"Untuk pesertanya ada 104 tim, mereka berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Terus setiap tim itu terdiri dari 4 orang," katanya saat ditemui di Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Minggu (28/7/2019) siang.

Sedangkan untuk kategori yang dilombakan, Amri menyebut ada 3 kategori yakni kategori ikan sisik, ikan non sisik dan ikan spesies, seperti ikan baracuda, layur, oleng-oleng atau sidat, kerapu dan kakap. Nantinya, penentuan pemenang turnamen berdasarkan berat ikan yang diperoleh peserta.

"Nah, nantinya mereka akan mancing di 104 spot mancing mulai kemarin Sabtu (27/7) sore sampai siang ini. Semua spot itu berupa tebing pantai yang tersebar dari Kecamatan Girisubo sampai Kecamatan Panggang," katanya.