Awal tahun ini beberapa media ramai memberitakan rencana Hollywood menggarap film Mansinam: Man is Man. Inilah kisah Mansinam, pulau cantik di Papua Barat.
Film Mansinam yang berlatar sejarah religi masyarakat Papua. Aktor peraih Piala Oscar Denzel Washington pun digadang-gadang akan ikut meramaikan proyek layar lebar ini. Publikasi tersebut memancing keingintahuan saya tentang Mansinam, sebuah pulau kecil di timur kota Manokwari, Papua Barat.
Bagi masyarakat Papua, Mansinam memiliki nilai sejarah penting karena menjadi titik awal masuknya agama Kristen ke tanah Papua. Adalah dua orang pendeta muda Jerman-- Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottloba Geissler (Ottow-Geissler) yang pertama kali memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat Papua.
Mereka berlabuh di Mansinam 5 Februari 1855. Sampai saat ini, setiap tanggal tersebut, Mansinam selalu dipadati umat Kristiani yang datang beribadah sekaligus memperingati hari bersejarah tersebut. Tanggal 5 Februari menjadi hari libur di Papua yang dikenal dengan sebutan peringatan masuknya Injil di Tanah Papua.
Cara menuju ke Mansinam dari Manokwari mudah saja. Di tepi pantai di Distrik Manokwari Timur terdapat satu dermaga tempat beberapa perahu motor penyeberangan ditambatkan. Awalnya saya berniat menyewa perahu, tetapi melihat jarak Mansinam yang cukup dekat saya memilih menaiki perahu penyeberangan bersama-sama warga Mansinam yang hendak kembali setelah membeli beberapa kebutuhan pokok di Manokwari.
Untuk membayar taksi laut ini saya hanya perlu merogoh sepuluh ribu rupiah. Menurut pengemudi, perahu penyeberangan ini selalu tersedia setiap saat. Selama di atas perahu, saya dapat menikmati segarnya udara sekaligus bentang alam yang memesona sejauh mata memandang.
Meski cuaca sedikit mendung, laut sedang bersahabat sehingga perjalanan cukup nyaman. Sepanjang perjalanan perahu yang saya tumpangi kerap berpapasan dengan beberapa perahu dengan arah yang sama atau sebaliknya. Perjalanannya singkat saja. Hanya dalam waktu sekitar lima belas menit, saya pun menginjakkan kaki di pantai Pulau Mansinam.
Pantai Pulau Mansinam berwarna coklat dengan serpihan bebatuan. Nyiur tinggi menjulang bersama sekelompok anjing yang berlarian di pinggir pantai seakan menyambut kedatangan saya di pulau ini. Dibandingkan pantai-pantai lain di Papua, harus diakui pantai di pulau Mansinam tidak terlalu istimewa. Tapi, menu utama pulau ini memang bukan panorama alam, tetapi nilai sejarahnya.
Buat Anda yang mau cari keringat sambil menghirup udara segar, Mansinam dapat dikelilingi dengan berjalan kaki saja. Tetapi, karena pulau sepi dan saya juga ingin ada teman berbicara, saya akhirnya mengiyakan tawaran ojek motor dari pemuda setempat. Harganya hanya sepuluh ribu rupiah saja. Tentunya, tukang ojeknya akan lebih senang jika Anda memberi lebih mengingat pulau ini hanya ramai sekali dalam setahun.
Terdapat lima situs utama di pulau Mansinam, yaitu tugu pendaratan, gereja lama, museum, gereja baru, dan Patung Kristus Raja. Situs pertama yang akan ditemui adalah tugu pendaratan yang merupakan monumen peringatan tempat pertama kali Ottow-Geissler berlabuh di Mansinam.