Rabu, 08 Januari 2020

Kisah Pulau Cantik di Papua Barat yang Diangkat Jadi Film Hollywood

Awal tahun ini beberapa media ramai memberitakan rencana Hollywood menggarap film Mansinam: Man is Man. Inilah kisah Mansinam, pulau cantik di Papua Barat.

Film Mansinam yang berlatar sejarah religi masyarakat Papua. Aktor peraih Piala Oscar Denzel Washington pun digadang-gadang akan ikut meramaikan proyek layar lebar ini. Publikasi tersebut memancing keingintahuan saya tentang Mansinam, sebuah pulau kecil di timur kota Manokwari, Papua Barat.

Bagi masyarakat Papua, Mansinam memiliki nilai sejarah penting karena menjadi titik awal masuknya agama Kristen ke tanah Papua. Adalah dua orang pendeta muda Jerman-- Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottloba Geissler (Ottow-Geissler) yang pertama kali memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat Papua.

Mereka berlabuh di Mansinam 5 Februari 1855. Sampai saat ini, setiap tanggal tersebut, Mansinam selalu dipadati umat Kristiani yang datang beribadah sekaligus memperingati hari bersejarah tersebut. Tanggal 5 Februari menjadi hari libur di Papua yang dikenal dengan sebutan peringatan masuknya Injil di Tanah Papua.

Cara menuju ke Mansinam dari Manokwari mudah saja. Di tepi pantai di Distrik Manokwari Timur terdapat satu dermaga tempat beberapa perahu motor penyeberangan ditambatkan. Awalnya saya berniat menyewa perahu, tetapi melihat jarak Mansinam yang cukup dekat saya memilih menaiki perahu penyeberangan bersama-sama warga Mansinam yang hendak kembali setelah membeli beberapa kebutuhan pokok di Manokwari.

Untuk membayar taksi laut ini saya hanya perlu merogoh sepuluh ribu rupiah. Menurut pengemudi, perahu penyeberangan ini selalu tersedia setiap saat. Selama di atas perahu, saya dapat menikmati segarnya udara sekaligus bentang alam yang memesona sejauh mata memandang.

Meski cuaca sedikit mendung, laut sedang bersahabat sehingga perjalanan cukup nyaman. Sepanjang perjalanan perahu yang saya tumpangi kerap berpapasan dengan beberapa perahu dengan arah yang sama atau sebaliknya. Perjalanannya singkat saja. Hanya dalam waktu sekitar lima belas menit, saya pun menginjakkan kaki di pantai Pulau Mansinam.

Pantai Pulau Mansinam berwarna coklat dengan serpihan bebatuan. Nyiur tinggi menjulang bersama sekelompok anjing yang berlarian di pinggir pantai seakan menyambut kedatangan saya di pulau ini. Dibandingkan pantai-pantai lain di Papua, harus diakui pantai di pulau Mansinam tidak terlalu istimewa. Tapi, menu utama pulau ini memang bukan panorama alam, tetapi nilai sejarahnya.

Buat Anda yang mau cari keringat sambil menghirup udara segar, Mansinam dapat dikelilingi dengan berjalan kaki saja. Tetapi, karena pulau sepi dan saya juga ingin ada teman berbicara, saya akhirnya mengiyakan tawaran ojek motor dari pemuda setempat. Harganya hanya sepuluh ribu rupiah saja. Tentunya, tukang ojeknya akan lebih senang jika Anda memberi lebih mengingat pulau ini hanya ramai sekali dalam setahun.

Terdapat lima situs utama di pulau Mansinam, yaitu tugu pendaratan, gereja lama, museum, gereja baru, dan Patung Kristus Raja. Situs pertama yang akan ditemui adalah tugu pendaratan yang merupakan monumen peringatan tempat pertama kali Ottow-Geissler berlabuh di Mansinam.

Di Yogya Kamu Bisa Ngopi Sambil Main Air

Liburan ke Yogyakarta, kamu bisa coba main ke Kampung Wisata Flory. Di sini bisa ngopi sambil main air lho. Asyik banget!

Bagiku yang sejak 1,5 tahun lalu pindah ke Jakarta, ketika pulang ke Yogya, wisata kuliner menjadi hal yang wajib dilakukan. Seperti beberapa hari kemarin, aku dan keluarga makan siang di kawasan Kampung Flory di daerah Plaosan Tlogoadi Mlati Sleman, Yogyakarta.

Sampai disana, karena kebetulan hari Sabtu, Kawasan Kampung Flory ini sangat ramai. Ternyata kawasan ini mengkombinasikan antara kuliner serta wahana wisata. Di Desa Wisata Flory yang berada di kawasan Kampung Flory, kita akan menemukan dua lokasi kuliner yang memiliki sejumlah wahana wisata, yakni Bali nDeso dan Kopi Keceh.

Sekilas lokasinya nampak nyaman, parkir luas, masakannya enak, dan setelah melihat menu harganya juga terjangkau. Kedua lokasi kuliner ini berdekatan dan punya atmosfer yang sama berupa gaya etnik khas pedesaan dengan ruang makan terbuka yang langsung menghadap pemandangan alam. Tak jauh dari keduanya ada Puri Mataram dan Iwak Kalen.

Dari yang aku baca, kawasan kuliner ini dulunya lahan yang kurang maksimal pemanfaatannya. Bahkan ada yang sangat jarang dirambah warga sekitar. Lalu oleh sejumlah orang bekerjasama dengan generasi muda sekitar, lahan ini diubah menjadi lokasi kuliner yang dikombinasikan dengan wahana wisata.

Di kopi keceh sendiri, salah satu menu yang paling banyak diburu pengunjung konon adalah minumannya yaitu Kopi Keceh. Kopi Keceh merupakan kopi susu dengan campuran ketan hitam, dengan pemanis dari gula merah. Kopi yang digunakan jenis robusta dari Temanggung Jawa Tengah. Harga segelas Kopi Keceh ini pun tak menguras kantong karena hanya Rp 18 ribu.

Kalau mau makan di sini, ada berbagai pilihan paket yang bisa kita pesen. Ada Paket Juragan (untuk enam orang) yang isinya berupa satu ekor gurame jumbo (masak asam manis), enam ekor Nila Bakar, satu bakul nasi putih, satu porsi ca kangkung, satu porsi ca brokoli, enam gelas teh manis, enam botol air mineral, enam gelas jus jambu plus seporsi buah segar yang harganya Rp 325 ribu.

Ada pula paket per orang atau disebut Paket Priyayi yang isinya menu ayam atau nila masak goreng atau bakar plus seporsi nasi, tahu goreng, lalapan dan sambal yang harganya mulai Rp 18-22 ribu per paket.

Bagi yang ingin makan dalam rombongan besar, di sini banyak limasan yang bisa menampung hingga 70 orang. Tempat ini sering digunakan untuk acara arida, halal-bihalal dan juga outbond.

Di bagian belakang limasan ada sungai Bedog yang ramai dimanfaatka anak kampung sekitar untuk mandi dan atraksi loncat ke sungai. Air sungai yang masih jernih dengan banyak bebatuan besar pun menggoda untuk sekedar mencelupkan kaki.

Bagi pengunjung yang mau kekeceh (bermain air), tidak perlu repot turun ke sungai. Pengelola menyediakan kolam renang dengan air sungai yang diberi bola-bola mini (seperti mandi bola versi di kolam air sungguhan) dengan tiket masuk seharga Rp 8 ribu rupiah per orang.

Ada pula dekorasi lucu yaitu susunan batu-batu yang menjulang tinggi yang cocok untuk foto-foto sambil bergaya seakan sedang menyusun batu.

Di Kopi Keceh Kampung Flory yang terletak di Komplek Kampung Flory, Dewi Flory, Plaosan RT 01 RW 20, Tlogoadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman ini sudah tersedia fasilitas pendukung yang cukup lengkap seperti mushola, kamar mandi, parkir luas, kolam renang, limasan, dan sejumlah spot foto menarik.

Bagaimana, tertarik buat kesini? Leboh enak ramai-ramai bersama teman atau keluarga besar supaya bisa pesan menu paket sehingga menu makanannya bisa variatif.