Kamis, 09 Januari 2020

Tempat yang Wajib Didatangi di Taman Nasional Komodo

Gugusan pulau berpasir putih dan pesona bawah laut menjadi magnet Taman Nasional Komodo. Kearifan lokal masyarakat dan sejarahnya juga menjadi kesan mendalam.

Lagu Indonesia Pusaka menggugah jiwa nasionalisme saya dan membuka pandangan akan keindahahan dan kekayaan negeri ini bak surga dunia, negeri yang menawarkan sejuta pesona wisata alam yang memanjakan mata. Spot-spot wisata bak surga alam di Pulau Komodo memang tak ada habisnya untuk kita eksplor.

Hamparan gugusan pulau diselimuti sucinya pasir putih kemerah-merahan dilengkapi dengan jernihnya lautan dan keeksotisan dunia bawah laut seakan menjadi magnet tersendiri untuk kita jelajahi. Ya, berkesempatan mengabdi selama 45 hari di Pulau Komodo menjadi motivasi untuk mengeksplor kearifan lokal masyarakat, pesona alam dan tentunya memperdalam seluk beluk sejarah Komodo. Ini bucket list saya selama di Pulau Komodo.

Desa Komodo, desa terpencil dengan sejuta pesona kearifan lokal

Desa Komodo merupakan desa terpencil yang jauh dari hingar bingar kota yang terletak di tengah lautan, di bawah kaki Gunung Ara. Desa ini terdiri dari 1.500 jiwa dengan mayoritas penghuni desa berasal dari Suku Komodo dan sisanya adalah peranakan Bugis atau Bima.

Desa Komodo termasuk desa wisata yang sering dikunjungi turis lokal maupun internasional karena kearifan lokal yang masih terpelihara dan keunikan warganya yang tinggal bersama Komodo. Meskipun banyak kasus warga desa dimakan komodo, tetapi warga desa tetap menyayangi komodo. Mereka menganggap bahwa komodo adalah nenek moyang mereka. Sejarah komodo berasal dari seorang putri Ina Matrea yang melahirkan anak kembar, satu manusia dan satu komodo. Masyarakat sering memanggil komodo dengan sebutan Sebae yang artinya kembaran.

Hal yang unik dari desa ini yaitu masyarakat membiarkan kambing peliharaannya berkeliaran di desa, sehingga saat Komodo turun ke desa tidak akan memakan manusia tetapi akan memakan kambing. Tak jarang saat kita berjalan di desa, banyak kambing yang berlalu lalang dan bermain dengan anak-anak. Karena jarangnya pepohonan hijau di desa, kambing di desa Komodo tidak hanya mengkonsumsi rumput tetapi mengkonsumsi makanan yang sama dengan pemiliknya seperti nasi, ikan, sayur, roti dan kopi.

Listrik di desa ini menyala setiap jam 17.00 WITA sampai 06.00 WITA sehingga saat pagi sampai sore hari listrik akan mati. Desa Komodo hanya memiliki satu SD dan SMP yang disebut SD-SMP Satu Atap. Kondisi sekolah masih sangat terbatas karena sekolah tidak memiliki kamar mandi, kekurangan ruang kelas sehingga 1 ruang kelas dibagi menjadi 2 kelas dan beberapa kelas masih menggunakan gubug kecil dipinggir sekolah. Sesuai misi kami sebagai calon pendidik bangsa yang mencerdaskan generasi emas. Kami memiliki beberapa program yaitu program mengajar di SD dan SMP, mengajar cara cuci tangan dan gosok gigi, program mentoring, pelestarian permainan tradisional, membuat vertical garden tanaman toga dari botol bekas, kerja bakti bersih lingkungan, pelatihan Tari Arugelle, pelatihan nugget bagi perempuan, pembuatan perpustakaan dan senam kebugaran jasmani.

Salah satu tradisi yang menunjukkan kearifan lokal di desa wisata Komodo adalah tradisi pernikahan. Hal yang unik dari tradisi pernikahan adalah warga satu desa bersatu beriuran uang hingga terkumpul puluhan juta rupiah kemudian warga bergotong royong membuat kue khas Komodo. Sebelum acara pesta, tim KKN bersama pemuda desa mengundang warga untuk menghadiri acara dengan cara door to door ke setiap rumah. Pada malam puncak, tradisi yang harus ada dalam acara pernikahan adalah adu joget. Adu joget dilakukan oleh keluarga pengantin perempuan melawan keluarga pengantin laki-laki diiringi biduan dari Bima.

Melihat Rumah Bolon yang Khas dari Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara tidak hanya terkenal dengan Danau Toba, namun juga aneka ragam budaya. Yang paling menarik tentu saja Rumah Bolon yang bentuknya khas.

Daya tarik wisata di Sumatera Utara antara lain tempat perlindungan gajah sumatera di Tangkahan, rumah orang utan di Bukit Lawang, Istana Maimun yang merupakan kediaman raja-raja Melayu Deli di kota Medan, dan bangunan rumah ibadah dari masjid, gereja, vihara dan lainnya.

Bagi yang menyukai arsitektur, jangan sampai lupa mengunjungi desa-desa tradisional yang ada di sana dan melihat gaya bangunan rumah yang ada disana. Saat berkunjung ke Sumatera Utara kami mengunjungi rumah Bolon. Lokasinya tidak jauh dari air terjun Sipiso-piso yang terkenal sebagai air terjun tertinggi di Pulau Sumatera.

Hanya diperlukan berkendara selama 2 jam untuk tiba di Rumah Bolon. Rumah Bolon berlokasi di Kecamatan Purba, Simalungun sebagai kawasan wisata Rumah Bolon bisa dikatakan cukup terawat selain papan penunjuk arah yang ada di sepanjang jalan jalan menuju ke sana juga cukup bagus.

Selain terdapat taman-taman yang sengaja dibuat untuk memperindah lingkungan, di dalam kawasan Rumah Bolon ada beberapa rumah adat pengiringnya. Lokasinya terpisah dengan permukiman warga sekitar sehingga keaslian suasan tetap terjaga.

Bagi yang ingin mengetahui sejarah Rumah Bolon terdapat petugas yang akan senang hati memandu kita. Menurut keterangan petugas, Rumah Bolon Sendiri sudah berumur ratusan tahun. Hal ini bisa diketahui dari sebuah prasasti yang terdapat di pintu masuk Rumah Bolon yang berisi silsilah raja-raja yang pernah memerintah di kawasan Purba.

Total ada 14 raja yang pernah memerintah dimulai dari Tuan Pangultop Ultop dari tahun 1642-1648 hingga ke raja ke 14 Tuan Mogang 1933-1947 dimana akhirnya ketika bangsa indonesia memproklamirkan kemerdekaan di 17 Agustus 1945. Tuang Mogang sebagai raja ke 14 dengan keikhlasan hati menyatakan bergabung dengan NKRI semenjak itu keturunan beliau tetap menjadi raja secara adat tapi tidak memiliki daerah kekuasaan dan pemerintahan sendiri seperti sebelumnya.

Rumah Bolon merupakan kediaman raja sesuai dengan sistem masyarakat Batak. Dimana dalam satu rumah akan berkumpul lebih dari satu keluarga, begitu juga dengan Rumah Bolon. Di istana raja ini terdapat beberapa tungku perapian dimana dalam adat batak 1 tungku perapian berarti 1 keluarga.

Pengunjung diperbolehkan masuk ke dalam Rumah Bolon dan melihat isi dari Rumah Bolon. Di dalam rumah, kita akan melihat peralatan masak, alat-alat rumah tangga, alat musik, alat menenun, dll.

Sebelum meninggalkan Rumah Bolon, kami mengambil foto bagian dalam Rumah Bolon dengan latar belakang tumpukkan tanduk kerbau. Nah di halaman Rumah Bolon kita dapat mengambil foto Rumah Bolon secara keselurhan dan bangunan lainnya yang menjadi bagiannya seperti Balai Huttu yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah, dan tempat menjamu tamu.

Pada saat-saat tertentu di sini juga ditampilkan pertunjukkan tari-tarian.dibelakang rumah bolon terdapat makam para raja-raja yang pernah memerintah daerah Purba.