Jumat, 10 Januari 2020

Ini Dia Bentuk Telur Ikan Terbang yang Mahal dari Polewali Mandar

Tak hanya berburu ikan, nelayan di Polewali Mandar juga mengolah telur ikan terbang. Traveler mesti tahu nih, seperti apa hasilnya.

Nelayan pesisir pantai Desa Tangnga-Tangnga, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, memiliki aktivitas baru selain mencari ikan di laut. Sejak beberapa bulan terakhir, mereka disibukkan dengan kegiatan berburu telur ikan terbang.

Warnanya yang berkilauan dengan nilai ekonomi yang tinggi, tidak salah jika warga menyebut telur ikan terbang sebagai butiran emas dari lautan. Tidak sulit untuk mendapatkan telur ikan terbang ini, yang biasanya ditemukan menempel pada rerumputan laut dan terbawa gelombang.

"Biasanya kami harus berlayar sejauh 80 mil baru menemukan telur ikan terbang yang terbawa ombak bersama rumput laut," ujar salah seorang nelayan Onro, saat dijumpai detikcom, Minggu (21/7/2019).

Diakui, jarak tersebut adalah yang paling dekat dengan garis pantai, jika dibandingkan dengan musim telur ikan terbang pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk mengumpulkan telur ikan terbang tidak membutuhkan alat khusus bahkan perahu yang digunakan juga biasa saja.

"Biasanya kalau yang mencari telur itu sendiri memakai perahu katinting, tetapi kalau dilakukan berkelompok biasanya menggunakan perahu yang lebih besar", ungkap Onro menambahkan.

Dalam sehari, setiap nelayan di daerah ini mampu mengumpulkan sebanyak 10-20 kg telur ikan terbang. Jika aktivitas perburuan dilakukan selama beberapa hari dengan menggunakan perahu yang lebih besar, hasil yang diperoleh bisa mencapai ratusan kilogram.

Telur ikan yang terkumpul tidak lantas langsung dijual, harus dijemur dulu untuk menghilangkan kadar airnya, kemudian dibersihkan dari kotoran rumput laut yang menempel. Telur ikan yang sudah dibersihkan, dijual seharga Rp 440-450 ribu per kilogram.

Telur ikan berbentuk butiran bulat dengan diameter 0,5 centimeter ini, disatukan oleh selaput tipis berwarna bening, dijual pada sejumlah pengepul di daerah ini, untuk diekspor pada beberapa negara salah satunya Jepang.

"Infonya telur ikan ini akan dijadikan menu utama makanan restoran dan bahan baku kosmetik," pungkas Onro.

Diakui musim panen telur ikan terbang ini, berlangsung dari bulan Maret lalu hingga September mendatang.

Festival Lembah Baliem Tawarkan Pemandangan Papua dari 2.400 Mdpl

Ada yang baru di Festival Lembah Baliem 2019. Selain menyuguhkan atraksi budaya, gelaran ini juga kini punya wahana paralayang. Dengan atraksi baru ini wisatawan bisa menikmati indahnya alam Papua dari ketinggian.

Staf Khusus Menpar Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono mengatakan, aktivitas paralayang akan membawa wisatawan terbang hingga ketinggian 2.400 Mdpl dengan durasi selama 60 menit. Wisatawan akan mendapat pengalaman yang sulit dilupakan.

"Festival Budaya Lembah Baliem bukan hanya tempat untuk menikmati eksotisnya budaya Papua. Tetapi juga memacu adrenaline. Sebab, wisatawan bisa merasakan sensasi melayang dan mendarat di zona pegunungan yang tinggi. Tantangannya jelas berbeda, terutama menyangkut angin. Jadi, Paralayang harus dicoba saat berkunjung ke Festival Budaya Lembah Baliem," ungkap Don Kardono dalam keterangan tertulis, Senin (22/7/2019).

Festival Budaya Lembah Baliem 2019 digelar di Distrik Welesi, Jayawijaya, Papua pada 7-11 Agustus 2019. Secara geografis, wilayah ini berada pada ketinggian 2.000-2.500 Mdpl. Lembah Baliem dikelilingi Pegunungan Jayawijaya yang terkenal dengan puncak dengan salju abadinya. Ada Puncak Trikora (4.750 M), Puncak Mandala (4.700 M), dan Puncak Yamin (4.595 M).

"Untuk Festival Budaya Lembah Baliem tahun ini sengaja ditampilkan sesuatu yang berbeda. Paralayang akan menjadi atraksi istimewa. Sebab, ketika melayang, wisatawan bisa menikmati seluruh eksotisnya alam di sana. Kawasan ini sangat indah. Udaranya juga sangat segar," jelas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jayawijaya Alpius Wetipo.

Distrik Welesi memiliki banyak surga tersembunyi. Sebut saja Wisata Tirta dan Taman Rekreasi Air Terjun Welesi. Kawasan ini sangat natural dengan airnya yang jernih dan segar. Memiliki karakter unik, air terjun tersebut memiliki ketinggian sekitar 4 Meter. Selain nuansa alam, para wisatawan juga bisa menikmati kuliner khas Jayawijaya. Ada ikan, jagung, dan ubi.

"Menikmati Paralayang di Festival Budaya Lembah Baliem tentu saja berbeda. Viewnya memang indah. Siapapun bisa menikmati aktivitas ini. Bagi para pemula juga akan didukung oleh para mentor yang siap mendukung," terang Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuty.

Banyak Akses yang Bisa Antarkan Kamu ke Banyuwangi Ethno Carnival

Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019 akan digelar pada akhir pekan ini. Traveler yang berencana datang ke acara tersebut jangan lupa melakukan persiapan agar terencana dengan baik. Berikut panduannya berdasarkan akses, amenitas dan atraksi (3A).

Menurut Staf Khusus Menpar Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, kabupaten berjuluk The Sunrise of Java memiliki unsur 3A yang sangat lengkap. Hal ini, membuat Banyuwangi menjelma menjadi salah satu destinasi top di Indonesia.

"Dalam beberapa tahun belakangan, pariwisata Banyuwangi melesat sangat cepat. Mereka mampu mencuri perhatian wisatawan mancanegara dan nusantara. Mengapa bisa begitu? Jawabannya karena Banyuwangi membenahi 3A dengan sangat serius," papar Don dalam keterangan tertulis, Senin (22/7/2019).

Tahun ini, Banyuwangi memiliki 99 event. Ini artinya, hampir setiap pekan ada event di Banyuwangi dan hampir semua event yang digelar memiliki kualitas. Karena kualitas dan daya tariknya, BEC bahkan masuk dalam Top 10 Wonderful Event. Selain BEC, Banyuwangi juga memiliki Tour de Banyuwangi Ijen, Gandrung Sewu, dan banyak event berkelas lainnya. Belum lagi api biru Gunung Ijen yang sangat keren.

Sementara Kabid Pemasaran Area I Kemenpar Wawan Gunawan, mengatakan bukan hanya atraksinya yang oke. Banyuwangi juga memiliki amenitas layaknya kota-kota besar. Hotel-hotel mewah tersebar.

"Untuk amenitas, Banyuwangi sangat lengkap. Memiliki banyak piihan. Kalau mau yang berkelas bisa datang ke seperti Illira Hotel, Dialoog, Aston, El Royale, hingga Ijen Resort and Villa. Kisaran harganya mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per kamar," papar Wawan.

Namun jika ingin yang lebih ramah kantong, ada banyak guest house atau homestay di Banyuwangi. Dengan kisaran harga Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu per malam. "Kondisi ini yang membuat Banyuwangi ramah buat siapa saja yang datang," paparnya.

Lalu bagaimana akses menuju Banyuwangi? Menurut Ketua Tim Pelaksana Calendar of Event Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty mengatakan, Banyuwangi termasuk destinasi dengan akses terlengkap.

"Mengapa terlengkap, karena Banyuwangi bisa diakses lewat darat, laut, dan udara plus kereta api. Ini juga yang menguntungkan Banyuwangi. Karena, wisatawan mempunyai banyak pilihan moda transportasi," paparnya.

Lewat udara, Bandara Banyuwangi memiliki penerbangan langsung ke beberapa daerah seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan, bandara ini memiliki direct flight international ke Kuala Lumpur, Malaysia. Maskapai yang melayani direct flight di Banyuwangi adalah Citilink, Garuda, dan Wings.

Dengan kereta, Banyuwangi bisa dicapai dengan beberapa alternatif. Dari Jakarta bisa ke Surabaya terlebih dahulu. Bisa dari Gambir atau Pasar Senen. Dari Surabaya, dilanjutkan ke Stasiun Banyuwangi Baru. Buat yang ingin membawa kendaraan pribadi, Banyuwangi juga terhubung dengan tol Trans Jawa.

Sementara lewat laut, pilihan utaranya adalah Pelabuhan Ketapang. Pelabuhan ini menjadi favorit lantaran terhubung dengan Pelabuhan Gilimanuk di Bali.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, menegaskan pentingnya 3A buat sebuah destinasi. Bahkan ia menyebut 3A sebagai faktor utama.

"Atraksi, akses, dan amenitas adalah faktor utama. Tiga hal ini sangat diperhatikan wisatawan. Karena memudahkan mereka dalam traveling. Banyuwangi sukses menjadi destinasi top di Indonesia karena membenahi 3A. Daerah lain juga bisa seperti Banyuwangi jika membenahi 3A," katanya.