Jumat, 10 Januari 2020

Keren! Dieng Kini Punya Homestay Ramah Lingkungan

Homestay di Dieng adalah hal yang biasa. Terbaru sudah ada homestay yang berkonsep ramah lingkungan.

Bagaimana cara kerja dan di mana lokasinya?

Suasana sejuk nan hijau begitu terasa di homestay Mikroba di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Bangunannya pun tidak biasa, terbuat dari bambu apus dan petung. Bentuknya dibangun ala rumah panggung dengan kamar mandi berada di bawah kamar.

Sekelilingnya adalah tanaman kentang, dengan bangunan bagian depan digunakan untuk minum kopi lokal Banjarnegara. Sayangnya, saat ini baru ada 5 kamar yang tersedia.

"Ada lima kamar dengan kapasitas 4 sampai 6 orang. Tetapi ada satu yang besar bisa 8 sampai 10 orang," kata pengelola homestay Mikroba Diqdu Subagyo pada detikcom, Minggu (21/7/2019).

Ia mengaku, konsep homestay sengaja dibuat ramah lingkungan. Mengingat saat ini bangunan di Dieng belum terarah apalagi ramah lingkungan. Homestay itu baru digunakan sekitar 2 bulan lalu, semuanya menggunakan bambu mulai dari tiang, pagar hingga atap.

"Semuanya membutuhkan sekitar 1500 bambu. Jenisnya ada bambub apus dan bambu petung," terangnya.

Selain alami, homestay ini juga menonjolkan suasana kampung. Misalnya, wisatawan diajak keluar saat malam hari untuk menikmati perapian sambil menikmati jagung bakar bersama wisatawan lainnya.

"Jadi ada kebersamaan, seperti di desa. Antara wisatawan satu dengan yang lainnya bisa saling kenal," tuturnya.

Sayangnya, homestay ini sudah diboking saat gelaran Dieng Culture Festival (DCF) pada awal Agustus mendatang. Bahkan, untuk tahun 2020, juga sudah dipesan wisatawan.

"Pas DCF besok dan tahun depan sudah ada yang pesan. Jadi kalau mau menikmati jangan yang pas DCF," ujarnya.

Di dalam kamar, disediakan selimut dan sleeping bag sebagai penghangat. Satu unit kamar, dibanderol dengan harga Rp 250 ribu per malam untuk 2 orang wisatawan.

"Kalau yang menginap 2 orang Rp 250 ribu, tetapi kalau lebih Rp 350 ribu. Itu kan ada dua kasur di bawah sedangkan di atas juga ada kasur lagi," jelasnya.

Ke Cimory Tak Hanya Ketemu Susu Lho

Cimory On the Valley yang berlokasi di kawasan Bawen merupakan salah satu dari total tiga restaurant yang dimiliki Cimory. Kedua restaurant lainnya berlokasi di kawasan Puncak, Bogor.
Restoran dengan gabungan konsep restoran, arena bermain, mini zoo dan souvenir shop ini selalu saja dipadati pengunjung baik warga sekitar maupun wisatawan dari luar kota. Walaupun sudah ada jalan tol yang Semarang-Solo, tapi tetap saja ada pengunjung yang sengaja keluar tol atau melewati jalan arteri Semarang-Bawen untuk menuju ataupun mapir sejenak di restoran ini.

Selain itu, saat bulan Ramadhan, tempat ini menjadi favorit untuk ngabuburit sekaligus berbuka puasa bersama. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, pengunjung bisa sambil bermain aneka hewan imut di Dairy Land.

Saat berbuka puasa di sini beberapa waktu yang lalu, saya mencoba fried banana caramel yang disajikan dengan sangat menarik. Rasanya nikmat, terlebih dinikmati di tengah segarnya udara sekitar.

Restorannya berkonsep open air, namun demikian tetap dipisahkan antara smoking dan non smoking area. Sehingga di area non smoking kita masih bisa menikmati udara segar dengan nyaman.

Untuk makanan berat pun cukup beragam dan kisaran harganya masih relatif terjangkau untuk sebuah restoran yang juga merangkap sebagai objek wisata favorit itu.

BYMS Kediri Angkat Budaya Lokal, Pengunjung Dihibur Kesenian Jaranan

Dua hari berturut-turut kesenian tradisional Jaranan tampil di lapangan GOR Jayabaya, Kediri pada 20-21 Juli 2019. Acara kesenian tradisi lokal ini merupakan rangkaian dari gelaran Blue Core Yamaha Motor Show (BYMS) 2019 di Kediri.

Acara kesenian yang mengangkat tradisi lokal ini selalu ramai pengunjung, baik hari pertama maupun kedua. Tak hanya orang tua, anak-anak dan remaja warga Kediri pun ikut menyaksikan Jaranan yang selalu dijadwalkan siang hari.

Hal ini senada dan sesuai rencana event BYMS yang memang ingin menampilkan dan menyesuaikan tradisi lokal. Menurut Chef Yamaha Area Kediri dan Madiun, Ronald Djapari, tradisi Jaranan memang paling banyak dinikmati oleh warga Kediri. Makanya ia sengaja menampilkan kesenian ini dua hari berturut-turut.

Selain mengangkat budaya lokal dan kegiatan dengan konsep pesta rakyat yang bisa dinikmati semua kalangan, Ronald juga mengatakan bahwa event BYMS sendiri memang bertujuan untuk mengenalkan teknologi motor terbaru Yamaha, Blue Core kepada masyarakat.

"Pada event ini, kita juga memamerkan produk terbaru Yamaha yang menggunakan teknologi Blue Core, seperti Lexi, Freego, dan Mio S," ucap Ronald saat ditemui, Sabtu (20/7/2019).

Menurutnya, motor-motor dengan teknologi terbaru Yamaha ini bisa irit dalam konsumsi bensin. Selain itu, fitur-fiturnya juga mendukung pengguna, seperti bagasi yang besar dan desain yang stylish sehingga sangat cocok digunakan milenial maupun orang tua.

Selanjutnya, Ronald juga mengatakan bahwa event BYMS di kota selanjutnya yaitu Sidoarjo dan Belitung pada 3-4 Agustus 2019, akan terus menampilkan dan menyesuaikan budaya lokal. Dan, tentu saja tetap mempromosikan teknologi Blue Core kepada masyarakat di kota-kota BYMS selanjutnya.

Keren! Dieng Kini Punya Homestay Ramah Lingkungan

Homestay di Dieng adalah hal yang biasa. Terbaru sudah ada homestay yang berkonsep ramah lingkungan.

Bagaimana cara kerja dan di mana lokasinya?

Suasana sejuk nan hijau begitu terasa di homestay Mikroba di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Bangunannya pun tidak biasa, terbuat dari bambu apus dan petung. Bentuknya dibangun ala rumah panggung dengan kamar mandi berada di bawah kamar.

Sekelilingnya adalah tanaman kentang, dengan bangunan bagian depan digunakan untuk minum kopi lokal Banjarnegara. Sayangnya, saat ini baru ada 5 kamar yang tersedia.

"Ada lima kamar dengan kapasitas 4 sampai 6 orang. Tetapi ada satu yang besar bisa 8 sampai 10 orang," kata pengelola homestay Mikroba Diqdu Subagyo pada detikcom, Minggu (21/7/2019).

Ia mengaku, konsep homestay sengaja dibuat ramah lingkungan. Mengingat saat ini bangunan di Dieng belum terarah apalagi ramah lingkungan. Homestay itu baru digunakan sekitar 2 bulan lalu, semuanya menggunakan bambu mulai dari tiang, pagar hingga atap.

"Semuanya membutuhkan sekitar 1500 bambu. Jenisnya ada bambub apus dan bambu petung," terangnya.

Selain alami, homestay ini juga menonjolkan suasana kampung. Misalnya, wisatawan diajak keluar saat malam hari untuk menikmati perapian sambil menikmati jagung bakar bersama wisatawan lainnya.

"Jadi ada kebersamaan, seperti di desa. Antara wisatawan satu dengan yang lainnya bisa saling kenal," tuturnya.

Sayangnya, homestay ini sudah diboking saat gelaran Dieng Culture Festival (DCF) pada awal Agustus mendatang. Bahkan, untuk tahun 2020, juga sudah dipesan wisatawan.

"Pas DCF besok dan tahun depan sudah ada yang pesan. Jadi kalau mau menikmati jangan yang pas DCF," ujarnya.

Di dalam kamar, disediakan selimut dan sleeping bag sebagai penghangat. Satu unit kamar, dibanderol dengan harga Rp 250 ribu per malam untuk 2 orang wisatawan.

"Kalau yang menginap 2 orang Rp 250 ribu, tetapi kalau lebih Rp 350 ribu. Itu kan ada dua kasur di bawah sedangkan di atas juga ada kasur lagi," jelasnya.