Kamis, 09 Januari 2020

Kasus Turis Usir Warga, Dispar Buleleng Tegaskan Pantai Milik Umum

Kasus turis usir warga karena bermain di pantai depan villa yang disewa jadi sorotan. Dinas Pariwisata Buleleng memastikan tak ada kawasan pantai yang privat.

"Nggak ada yang menyewakan sepadan pantai itu open akses, sepadan pantai itu tidak ada dimiliki oleh hotel atau villa," kata Kepala Dinas Pariwisata Nyoman Sutrisna kepada wartawan, Rabu (24/7/2019).

Sutrisna menegaskan tidak ada hotel atau villa yang berlokasi di daerah pantai memprivatisasi pantai. Dia mengatakan jika ditemukan pelanggaran bisa diproses hukum.

"Nggak boleh. Milik negara, milik orang banyak, kok disewakan? nggak boleh dong. Kalau melanggar, salah apa tidaknya itu kewenangan polisi pariwisata," terangnya.

Sutrisna mengatakan usai peristiwa pengusiran itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat desa setempat, bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Buleleng untuk menyosialisasikan aturan ini.

"Nggak ada, belum ada ini aja. Makanya kemarin saya sudah ngomong sama PHRI maupun bersama polisi pada waktu itu bahwa laut itu adalah open akses, milik kita bersama, milik umum tidak ada dikavling-kavling," jelasnya.

Sutrisna mengapresiasi langkah manajemen villa untuk menyelesaikan persoalan pengusiran oleh turis tersebut. Sehingga bisa meminimalisir potensi konflik turis dengan warga lokal.

"Oh iya, yang menyatakan sudah diinfokan seketika itu diusir mungkin karena emosional. Pihak manajer hotel juga melakukan cooling down karena kita takut jangan sampai istilahnya turis-turis yang datang ada hal yang tidak diinginkan," ucapnya.

"Kita harus kalem karena pariwisata kita positif yang berkelanjutan bagaimana mendekati tamu agar tidak ada hal-hal yg diinginkan di dunianya dia atau di luar negeri, mari kita jaga sopan, santun, saya sependapat manajer hotel biar terus didekati jam 23.00 Wita katanya sudah pergi," sambungnya.

Dia mengaku juga sudah mengingatkan kepada semua pelaku usaha maupun warga yang memiliki bangunan berdekatan dengan pantai. Dia menegaskan kawasan pantai merupakan milik publik yang bisa diakses siapa saja.

"Itu santunlah untuk menjaga imej Bali itu ramah, jangan melanggar aturan ya ini akibatnya, dan saya sudah mengimbau juga mari istilahnya hotel-hotel yang punya pajakan pantai 157,05 km yang ada katakanlah hotel atau vila amenginformasikan kepada tamu atau guide, pokdarwwis bahwa laut kita open akses untuk umum. Mungkin pemilik rumah juga tidak harus memiliki, itu ada pura segara itu juga open akses," tegasnya.

Bertualang di Simeulue, Pulau Surga Penghasil Lobster

Bertualang ke Pulau Simeulue, Aceh yang sangat indah, menjadi pengalaman traveling yang luar biasa. Dari pantainya sampai pulau-pulau kecilnya, indah!

Menyelesaikan pendidikan layaknya warga negara lainnya mulai membuat saya berpikir apa langkah selanjutnya yang harus diambil. Layaknya lirik dalam lagu Alter Bridge 'Life Must Go On' tentu semua ini tidak bisa berhenti dengan kata pasif. Memiliki hobi dalam bidang fotografi membuat saya terus mencari tempat dan suasana yang baru untuk diabadikan, yang mana dengannya membuat saya tidak bisa jauh dari kata traveling.

Lahir jauh dari kampung halaman dimana seharusnya saya berada, Pulau Simuelue. Terkenal dengan sejarah dan keindahan alamnya membuat ia menjadi salah satu pengalaman traveling paling berkesan dari sekian banyak perjalanan yang pernah saya lakukan.

Dari pusat Kota Banda Aceh menuju Pulau Simeulue membutuhkan waktu kurang lebih 16 jam. Pulau Simeulue masih sangat alami dan begitu tenang. Hal ini mulai terasa di saat kapal meniup trompet tanda bahwa telah tiba, saat pertama saya tiba memang terasa sedikit melelahkan dalam perjalanan menuju ke Simeulue, tapi semua lelah hilang terbayar tuntas dengan suasana pagi yang disuguhi pulau tersebut kepada saya. Dengan masih diselimuti kabut pagi, Pulau Simeuelue menyambut kedatangan saya.

Hari pertama saya menjelajahi Kota Sinabang yang menjadi pusat perekonomian di pulau tersebut dan sambil mencari makan khas Simeulue yaitu kerupuk Tripang (keripik ulat laut) dan Memek (campuran beras ketan, pisang dan santan). Namun sayang saya kurang beruntung untuk makanan Memek khas Simeulue ini.

Tidak berhenti sampai di situ, setelah berkeliling saya berkesempatan pergi ke penangkaran Lobster di Simeulue dan mencicipinya lobster. Pulau Simeulue ini sudah sangat terkenal dengan lobsternya hingga Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga memiliki penangkaran lobster di pulau tersebut.

Makin Canggih, Bandara Changi Hadir Lewat Permainan Interaktif

Bandara Changi disebut sebagai bandara yang terbaik di dunia. Kalau ingin mengenalnya lebih jauh, kamu bisa coba permainan interaktif di Jewel.

Bicara tentang Bandara Changi di Singapura tak lepas dari sejarah panjang serta orang-orang yang terlibat membesarkannya hingga maju seperti sekarang. Buat kamu yang mau mengenal bandara terbaik di dunia tersebut, bisa mampir ke Changi Experience Studio dalam destinasi wisata Jewel yang terbaru.

Dikunjungi detikcom atas undangan Changi Airport Group, Rabu (25/7/2019), salah satu wahana rekreasi terbaru Jewel yang diresmikan pada 10 Juni 2019 lalu ini memang begitu menarik dan berbeda. Wahana ini pun mengajak traveler mengenal Bandara Changi dengan permainan interaktif dan visual cantik.

Berlokasi di level 4 Jewel, Changi Experience Studio terdiri dari 10 zona dengan konten berbeda. Di mana ada sekitar 20 titik permainan interaktif yang bisa traveler jajal. Wahananya pun sangat bervariasi, tapi sama-sama menceritakan Bandara Changi dengan keunikannya masing-masing.

Contohnya ada wahana permainan Amazing Runway yang menceritakan salah satu momen unik Changi saat dibuat balapan antara mobil dan pesawat. Kemudian ada juga wahana interaktif Hanging Garden yang menampilkan sejarah Changi dulu, kini dan progresnya di masa depan lewat permainan hologram.

Ada juga wahana Smile Challenge, di mana traveler harus berfoto dengan senyum selebar mungkin untuk mengalahkan senyum para staff Bandara Changi. Diungkapkan oleh Lee Ching Wern, Associate General Manager, Changi Experience Studio pada detikcom, bahwa semua itu adalah upaya untuk mengenalkan Changi.

"Itulah kenapa pada awalnya kami membuat tempat ini, untuk menceritakan Changi dengan cara yang menyenangkan," ujar Lee.

Dikemas dengan format yang interaktif dan kekinian, Changi Experience Studio memang cukup populer di Jewel. Tak sedikit traveler hingga keluarga yang datang untuk mendapat gambaran lebih soal Bandara Changi sekaligus berwisata.

"Wahana ini cukup populer di kalangan keluarga dan kamu bisa bermain bareng anak di sini. Ada juga banyak pelajar dan anak kuliahan yang berkunjung ke sini," tutup Lee.

Untuk informasi, Changi Experience Studio buka dari pukul 10.00-22.00 waktu setempat setiap harinya. Harga tiketnya adalah sekitar 25 SGD (Rp 256 ribu) untuk orang dewasa dan 17 SGD (Rp 174 ribu) untuk anak-anak.

Kasus Turis Usir Warga, Dispar Buleleng Tegaskan Pantai Milik Umum

Kasus turis usir warga karena bermain di pantai depan villa yang disewa jadi sorotan. Dinas Pariwisata Buleleng memastikan tak ada kawasan pantai yang privat.

"Nggak ada yang menyewakan sepadan pantai itu open akses, sepadan pantai itu tidak ada dimiliki oleh hotel atau villa," kata Kepala Dinas Pariwisata Nyoman Sutrisna kepada wartawan, Rabu (24/7/2019).

Sutrisna menegaskan tidak ada hotel atau villa yang berlokasi di daerah pantai memprivatisasi pantai. Dia mengatakan jika ditemukan pelanggaran bisa diproses hukum.

"Nggak boleh. Milik negara, milik orang banyak, kok disewakan? nggak boleh dong. Kalau melanggar, salah apa tidaknya itu kewenangan polisi pariwisata," terangnya.

Sutrisna mengatakan usai peristiwa pengusiran itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat desa setempat, bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Buleleng untuk menyosialisasikan aturan ini.

"Nggak ada, belum ada ini aja. Makanya kemarin saya sudah ngomong sama PHRI maupun bersama polisi pada waktu itu bahwa laut itu adalah open akses, milik kita bersama, milik umum tidak ada dikavling-kavling," jelasnya.

Sutrisna mengapresiasi langkah manajemen villa untuk menyelesaikan persoalan pengusiran oleh turis tersebut. Sehingga bisa meminimalisir potensi konflik turis dengan warga lokal.

"Oh iya, yang menyatakan sudah diinfokan seketika itu diusir mungkin karena emosional. Pihak manajer hotel juga melakukan cooling down karena kita takut jangan sampai istilahnya turis-turis yang datang ada hal yang tidak diinginkan," ucapnya.