Jumat, 10 Januari 2020

Crescent Lake, Danau Oasis yang Ajaib di Padang Pasir Bernyanyi

Di tengah padang pasir di China, ada sebuah oase cantik yang eksotis. Tempat ini diberi nama Crescent Lake. Inilah danau ajaib berbentuk bulan sabit.

Dihimpun dari banyak sumber, Senin (22/7/2019) Crescent Lake menjadi salah satu tempat wisata di China yang terpencil di dunia.

Pengenalan tentang Crescent Lake dimulai dari namanya. Orang lokal menyebutnya Yueyaquan yang memiliki arti danau yang berbentuk seperti bulan sabit.

Ya, oasis ini cukup unik karena bentuknya. Yeayaquan berada di Kota Dunhuang, 6 km dari Kota Gansu, China bagian barat. Tepatnya di tengah Echoing Dessert atau gurun pasir bernyanyi. Bagian ini kita simpan dulu.

Letaknya yang berada di tengah gurun, agak sedikit sulit dijangkau. Inilah mengapa tempat ini disebut sebagai salah satu oasis terpencil dunia.

Mari kita lanjutkan dengan sejarah Crescent Lake. Danau bulan sabit ini sudah berumur sekitar 2.000 tahun. Karena berada di jalur Sutera Kuno, Yueyaquan menjadi salah satu tempat peristirahatan pedagang dan biksu dari Asia Tengah.

Masuk masa Dinasti Han, danau ini juga mencuri perhatian. Pada waktu pemerintah dinasti melakukan pengecekan kedalaman danau ini. Menurut catatan sejarah, Crescent Lake memiliki kedalaman sampai 5 meter.

Karena menjadi salah satu tempat peristirahatan di jalur perdagangan dunia, Crescent Lake mulai menyusut. Hingga pada tahun 2018 diketahui bahwa danau ini sudah sekarat hingga hanya menyisakan kedalaman 1,3 meter.

Untuk menyelamatkan danau bersejarah ini, pemerintah melakukan langkah berani. Pihak pemerintah mengisi danau cantik ini seperti semula.

Mungkin kamu masih berpikir, langkah tersebut tidak sia-sia jika badai gurun datang? Bukannya nanti danau malah terisi pasir?

Jawabannya ada pada letak danau ini. Crescent Lake berada di di balik gundukan pasir besar, seakan berada di lembah. Jika badai gurun datang, maka pasir akan terbang ke gundukan tersebut.

Sementara hembusan angin gurun menimbulkan suara siulan lembut. Inilah mengapa tempat ini disebut gurun pasir bernyanyi. Warga lokal juga menyebutnya Singing Sand Dessert.

Kini Crescent Lake bukan cuma oase, tapi juga sebuah pagoda yang jadi penginapan dan penjualan suvenir. Saat malam tiba, seluruh lampu dari pagoda ini akan menyala dan membuat pemandangan eksotik di antara gurun.

Bukan cuma menikmati oase cantik nan bersejarah di tengah tempat terpencil dunia. Menjadi salah satu atraksi menarik China, ada beberapa kegiatan yang bisa traveler lakukan di sini.

Traveler bisa menunggang unta, bermain papan seluncur pasir atau sekedar menimati matahari terbenam di puncak gurun. Tentu saja kita harus menaiki gurun terlebih dahulu. Untuk naik gurun setinggi kurang lebih 250 meter diperlukan waktu sekitar 20 menit. Terdapat anak tangga yang bisa digunakan untuk melintasi.

Sebagai salah satu atraksi bersejarah, Yueyaquan sudah mulau mudah dijangkau ole traveler. Sebelum memasuki gurun pasir, traveler akan diwajibkan menggunakan pelapis sepatu nyaris setinggi lutut yang terbuat dari kain. Tujuannya agar kaki tidak kemasukan pasir yang bisa melukai.

Pemandangan Cantik Ini Ada di Sorong (2)

Kami berangkat menggunakan perahu motor tempel yang kami sewa untuk satu hari. Kami berangkat dari kawasan Rufei, salah satu desa di Sorong yang berlokasi di tepi pantai. Tidak lama setelah perahu yang kami tumpangi meninggalkan muara sungai, pemandangan kampung nelayan yang padat pelan-pelan berubah menjadi laut lepas berwarna hijau kebiruan.

Kami sangat menikmati segarnya udara dan sinar matahari pagi yang hangatnya masih cukup ramah. Pulau pertama yang menjadi tujuan kami adalah Pulau Um, pulau kecil yang berlokasi di timur laut Kota Sorong. Jarak dari daratan Sorong ke pulau ini sebenarnya tergantung dari titik mana kita menyeberang.

Kebetulan dari tempat kami bertolak lokasi pulau ini agak jauh, butuh sekitar tiga jam perjalanan. Namun tidak mengapa, kami sengaja memilih kecepatan santai supaya tidak terlalu basah dan bisa menikmati pemandangan alam sekitar.

Di kanan perahu mata kita akan dimanjakan dengan jejeran hutan yang masih hijau lebat. Jika mata Anda cukup jeli, di sela-sela pepohonan tersebut terkadang akan terlihat burung Rangkong dan Kakatua Putih, dua spesies burung yang dilindungi.

Sepanjang perjalanan pun cukup banyak titik-titik pantai yang bagus untuk berhenti sejenak sekadar untuk mengabadikan gambar indah yang tersaji. Kami pun sempat berhenti satu spot bernama Batu Lubang yang merupakan struktur karang dengan lubang besar seperti pintu gua di tengahnya. Lokasi ini bukan lokasi lazim dikunjungi wisatawan.

Untungnya teman yang menemani perjalanan saya merupakan penduduk lokal. Dia terlebih dahulu menemui tetua di kampung tersebut untuk meminta izin supaya kami boleh berfoto di lokasi tersebut. Saat kami mendekati Batu Lubang, seekor burung Kakatua Putih berkokok di atas puncak pohon seakan menyambut kedatangan kami. Karang di lokasi tersebut agak tajam, sehingga kami harus berhati-hati melangkah supaya kaki tidak terluka.

Selain bentuk Batu Lubang nya yang unik, dari titik tersebut kami bisa menikmati pemandangan laut yang memukau dengan langit biru cerah. Setelah puas mengambil gambar di lokasi tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pulau Um. Menjelang tengah hari akhirnya kami pun tiba di sana.Um dalam bahasa Suku Moi, suku yang memiliki hak ulayat di kawasan ini berarti kelelawar.

Memang pada saat kami berkunjung, puncak pepohonan ramai dipenuhi dengan kelelawar yang sedang beristirahat. Pulau Um merupakan pulau kecil dengan pepohonan hijau rimbun dan pasir putih sepanjang pantai. Air laut di dekat pulau ini sangat jernih dengan warna hijau kebiruan. Teman saya langsung melepas penat akibat duduk di perahu dengan mandi di air laut yang jernih sambil menikmati pemandangan sekitar yang indah.

Dari pantai Pulau Um ini kita bisa melihat daratan Papua yang hijau di ujung laut biru. Karena sudah siang, kami sempat menikmati bekal nasi kuning yang kami bawa dari Sorong. Idealnya, berwisata ke pulau-pulau di sekitar Sorong akan lebih nikmat dengan membakar ikan dan menikmati kelapa muda.

Tetapi karena kami bangun sedikit kesiangan, kami hanya sempat membawa nasi kuning. Itu pun sudah sangat nikmat.  Setelah puas menikmati Pulau Um, kami pun bertolak ke tujuan berikutnya, yaitu Pulau Matan. Matahari yang sudah tegak di atas kepala dan ombak yang cukup tinggi membuat perjalanan ke pulau ini terasa lebih berat. Tetapi semua terbayarkan saat kami tiba di pulau kecil yang yang berlokasi di barat Sorong.

Pulau ini ukurannya kurang lebih sama dengan Pulau Um. Namun, pantai dengan airnya yang jernih dibingkai nyiur tinggi melambai, mirip pemandangan yang sering kita lihat di majalah-majalah travel. Di satu sisi pantai terdapat dermaga kayu yang bisa digunakan untuk perahu merapat di saat air sedang pasang. Dermaga ini pun menjadi spot foto yang sangat instagramable buat pengunjung.

Pulau Matan lebih siap menerima pengunjung dibanding Pulau Um, terlihat dari bangku-bangku kayu yang tersedia di sana. Kita harus membayar Rp 50.000 untuk dapat duduk di bangku-bangku tersebut. Dulu saat bandara Sorong masih berlokasi di Pulau Jefman, bukan di Kota Sorong seperti saat ini, Pulau Matan kerap menjadi tempat ngaso pengunjung dalam dan luar negeri sebelum mereka menyeberang ke kota sorong.

Kami puas menikmati pantai Pulau Matan, lengkap dengan koleksi foto-foto yang memukau. Karena senja sudah membayang dan ombak juga semakin tinggi, kami pun akhirnya memutuskan kembali ke Sorong. Sepanjang perjalanan pulang kami terus menandai pulau-pulau yang kami lihat sebagai tujuan island hopping kami berikutnya.