Jumat, 10 Januari 2020

Pertama di Asia Pasifik, Singa Merah Punya Pesawat Airbus Terbaru

Maskapai Lion Air datangkan armada terbaru dari Airbus. Ia jadi pemilik pertama jenis 330-900NEO di Asia Pasifik.

Dalam rilis resminya, Minggu (21/7/2019), A330-900NEO adalah pesawat berbadan lebar (wide body). Pesawat generasi terbaru berregistrasi PK-LEI itu langsung diterbangkan dari Bandar Udara Internasional Toulouse Blagnac (TLS), Prancis.

Perjalanannya dari pukul 19.40 waktu setempat dan mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada 15.40. Mengudara non-stop berkisar 15 jam, pesawat ini dijalankan oleh pilot senior Capt. Taufik Hidayat didampingi Capt. Marvinus Kemuel Hanfree dan First Officer (FO) Faris Purnama.

Lion Air bangga memperkenalkan sebagai maskapai pertama di Asia Pasifik mengoperasikan Airbus 330-900NEO. Penyambutan dilakukan oleh President Director of Lion Air Group, Edward Sirait bersama jajaran manajemen serta perwakilan masing-masing departemen di lingkungan Lion Air.

Tahun ini, Lion Air akan menerima dua pesawat tersebut. Pesawat pertama melengkapi tiga pesawat wide body Airbus 330-300. Lion Air pada 2018 telah memesan sepuluh (10) unit Airbus 330-900NEO dan mempunyai opsi memperoleh empat pesawat sejenis.

Kesepuluh unit direncanakan dikirim bertahap pada 2019 dan 2020. Seluruh pesawat yang dipesan oleh Lion Air adalah jenis armada berkapasitas lebih besar.

Lion Air mengucapkan terima kasih kepada Airbus, regulator, pengelola bandar udara, pengatur lalu lintas udara dan pihak yang terlibat dalam pengiriman perdana Lion Air Airbus 330-900NEO. Setibanya di Indonesia dan setelah menjalani tahapan administrasi, pesawat ini akan beroperasi untuk layanan penerbangan haji ke Timur Tengah.

Lion Air sangat fokus menjalankan seluruh operasional dengan tetap mengedepankan faktor keselamatan, keamanan dan kenyamanan (safety first). Lion Air menegaskan Airbus 330-900NEO di waktu mendatang, akan melayani penerbangan berbagai jaringan populer yang membutuhkan waktu tempuh hingga lebih dari 13 jam non-stop.

Adapun layanan itu, seperti ibadah (umrah) rute Makassar ke Madinah dan Jedddah, Balikpapan ke Jeddah, Surabaya ke Madinah, Solo ke Jeddah dan tujuan lainnya. Pengoperasian Airbus 330-900NEO merupakan salah satu langkah strategis guna mendukung ekspansi bisnis penerbangan low cost carrier (LCC).

Itu juga termasuk mengakomodir tren baru kenyamanan perjalanan udara jarak jauh seiring dinamika bepergian kekinian (millennials traveling). Airbus 330-900NEO Lion Air mempunyai tata letak (konfigurasi) kursi lorong ganda (double aisle) dengan 436 kursi kelas ekonomi.

Pesawat ini dilengkapi fitur utama dari kabin airspace agar bisa menikmati suasana penerbangan yang santai. Ada pula desain baru bagasi kabin yang memudahkan pengaturan dan menyimpan lebih banyak barang bawaan.

Kenyamanan yang lain adalah kabin yang paling senyap di kelasnya. Bagi airlines, bisa didapatkan keuntungan 25% karena lebih efisien dalam rasio penggunaan bahan bakar per kursi.

Itu memanfaatkan teknologi generasi baru A350 XWB, seperti lekukan ujung sayap (sharklets) rentang hingga 64 meter, penyempurnaan aerodinamis, mesin generasi terbaru, common type rating (lisensi pilot yang sama) dan sistem baru. Ada pula teknologi kokpit WI-FI Tablet EFB, layar head-up ganda dalam pencegahan runway overrun.

Lion Air mengatakan sudah mempersiapkan secara maksimal sumber daya manusianya untuk pengoperasian Airbus 330-900NEO. Sumber daya manusia meliputi pilot, awak kabin dan teknisi, layanan di darat (ground handling), pusat pelatihan dan hal-hal lain yang terkait.

Kemenpar Siapkan Uji Trail Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat

Paket wisata budaya Pulau Penyengat siap ditawarkan ke wisatawan. Namun, paket ini akan menjalani Uji Trail terlebih dahulu, 24-27 Juli 2019.

Uji Trail ini jadi rangkaian program Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengemasan Produk Wisata Sejarah dan Warisan Budaya di Pulau Penyengat.

Bimtek tersebut digulirkan 2 periode. Pertama pada 23-24 Januari 2019, lalu, pada 20-22 Maret.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan, hasil dari Uji Trail Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat akan dituangkan dalam buku 'Kelana 3 Negeri'.

Buku tersebut berisi kompilasi hasil Bimtek Pengemasan Produk Wisata Sejarah dan Warisan Budaya. Kontennnya berupa Sejarah, Religi, hingga Tradisi dan Seni Budaya.

"Pulau Pengengat memiliki potensi luar biasa. Kekuatannya kini semakin optimal dengan program Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat. Kontennya kini sudah siap setelah digali dan disusun melalui Bimtek. Sebelum dilempar ke pasar, program paketnya kini masuk tahap pengujian," tutur Giri Adnyani, Minggu (21/7/2019).

Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat terdiri 8 konten utama. Ada Tradisional Dress Experience (TraDE), Bentor/Cycling Historical Tour (BenCHiT), Tour The Sites, hingga Literature Tour (LitTour). Ada juga Cultural Performance (CulPer), Gurindam Experience (GurEx), Craft Experience, dan Cooking Class (CooClass).

"Ada banyak experience yang bisa dinikmati oleh wisatawan di sana. Konten paket memang sudah siap, tapi harganya akan dimunculkan pada Agustus nanti. Saat ini fokusnya tetap Uji Trial. Nantinya, tentu akan ada evaluasi. Pasti ada masukan untuk menyempurnakan paketnya sebelum dilempar ke pasar," terang Giri Adnyani.

Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat rencananya dipasarkan secara online dan offline. Pangsa pasarnya mancanegara sekaligus domestik. Treatment pemasarannya melalui beragam program sales mission di Kemenpar. Uji Trail Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat tersebut akan memastikan soliditas produk, mulai dari ketersediaannya hingga kemasannya.

"Kami harus memastikan Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat sudah siap 100%, makanya Uji Trial ini digulirkan. Kami berharap, wisatawan akan puas dan terkesan dengan paket tersebut. Bagaimanapun, Pulau Penyengat adalah situs budaya Melayu yang luar biasa. Semuanya bisa dinikmati secara utuh oleh wisatawan," jelas Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya Kemenpar Oneng Setya Harini.

Mengacu sejarah, destinasi ini juga disebut sebagai Pulau Penyengat Inderasakti. Oleh bangsa Belanda saat itu, Pulau Penyengat disebut sebagai Pulau Mars. Dengan posisinya yang strategis, pulau tersebut berkembang menjadi imperium Melayu yang diperintah Kerajaan Riau-Lingga. Kerajaan ini bertahan hingga 120 tahun, sebelum akhirnya dikuasai kolonial Belanda.

Pulau Penyengat memiliki luas 2 Kilometer Persegi. Destinasi ini mudah dijangkau dari Kota Tanjung. Dengan memakai perahu pompong, perjalanan memakan waktu 15 menit. Sangat kental dengan nuansa Melayu, Pulau Penyengat memiliki banyak spot dengan nilai sejarah besar. Sebut saja Makam Raja-Raja, Masjid Raya Sultan Riau, Kompleks Istana Kantor, hingga Makam Engku Putri Raja Hamidah.

"Destinasi Pulau Penyengat sangat eksotis. Kami optimistis, dengan didukung Paket Wisata yang bagus, maka arus wisatawan akan semakin optimal ke Pulau Penyengat. Destinasi tersebut secara umum sudah memiliki pangsa pasar yang jelas," papar Oneng lagi.

Kawasan Pulau Penyengat menjadi salah satu destinasi penopang pariwisata Tanjungpinang. Pergerakan wisman di sana sangat kompetitif. Sepanjang Januari-Mei 2019, arus wisman di Tanjungpinang berada di angka 69.927 orang. Jumlah tersebut naik 28,46% dari periode sama 2018 yang mencapai 54.435. Lebih menarik, Tanjung Pinang menjadi salah satu pintu penting bagi wisman yang masuk ke Kepulauan Riau.

Pergerakan wismannya didominasi Singapura dengan slot 45,13%. Destinasi tersebut juga jadi favorit bagi wisatawan Tiongkok yang menempati slot 10,84%. Untuk slot wisatawan Malaysia mencapai 10,16%. Pada rentang sama, arus wisman di Kepulauan Riau sekitar 1,14 Juta. Jumlah ini memberi kontribusi 17,86% di skala nasional atau terbesar ke-2 setelah Bali.

"Pergerakan wisatawan di Tanjungpinang dan Kepulauan Riau secara menyeluruh sangat kompetitif. Trennya pun naik signifikan. Keberadaan Paket Wisata Budaya Pulau Penyengat akan memberi impact positif bagi arus wisatawan. Sebab, wisatawan memiliki kepastian harga dan value yang didapat. Dan, dengan begitu, artinya potensi kenaikan income bagi masyarakat di sana," tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN.