Sabtu, 11 Januari 2020

Ini yang Buat Pelaku Industri Pariwisata Apresiasi Jokowi

Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengaku terkesan dengan komitmen Presiden Joko Widodo dalam membangun sektor pariwisata. Menurut catatannya, inilah satu-satunya Presiden Republik Indonesia selama ini yang paling serius mendorong pariwisata.

"Dan konkret! Tidak basa-basi, cepat dan sudah terasa impact-nya dalam lima tahun terakhir," aku Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Didien Junaedy, dalam keterangan tertulis, Kamis (18/7/2019).

Didien yang sudah 50 tahun berkecimpung di industri pariwisata tersebut mengatakan dia tidak pernah bosan menekuni industri ini.

"Kalau orang nomor satunya mau, semua akan bergerak! Begitu pun sebaliknya. Saya melihat beliau ini sangat concern dengan pariwisata," kata Didien.

Bahkan, sampai di akhir masa jabatannya pun, menurut Didien, semangat menjadikan Indonesia sebagai destinasi kelas dunia masih sangat tinggi. Dia mengamati presiden yang dalam sebulan terakhir fokus kunjungan kerja ke beberapa destinasi.

"Dari meninjau Bitung, Manado, Sulawesi Utara, sampai ke Labuan Bajo Komodo. Goa Batu Cermin pun beliau kunjungi," ungkap Didien.

Joglosemar, Jogja Solo Semarang juga dirapatkan khusus, untuk menjadikan destinasi di kawasan segitiga pariwisata itu. Harapannya, devisa dari bisnis pariwisata segera meroket, sekaligus memberi benefit kepada masyarakat yang ada di sana.

"Buat GIPI, kami beruntung punya presiden yang serius di pariwisata," kata Didien.

Terakhir, 15 Juli 2019, Presiden Jokowi lagi-lagi mengumpulkan para stakeholder di destinasi super prioritas, ke Istana Negara. Ada Gubernur Sumatera Utara, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur NTB, Gubernur NTT, Menteri Pariwisata, Kabekraf, untuk lebih cepat lagi membangun destinasinya.

"Infrastruktur di-support besar-besaran, agar akses dan koneksi antardestinasi semakin kuat," ungkapnya.

Didien yang menjadi saksi sejarah itu mengaki baru kali ini mendapatkan sosok pemimpin yang bersungguh-sungguh membangun industri pariwisata.

"Tidak mudah lho, menciptakan sebuah destinasi kelas dunia! Apalagi masyarakat sudah punya ekspektasi yang sangat tinggi, ingin cepat-cepat punya kawasan seperti Nusa Dua Bali," papar Didien.

"Saya masih ingat, untuk membuat Nusa Dua seperti sekarang butuh waktu 20-30 tahun. Padahal itu di Pulau Bali, yang secara generik sudah ratusan tahun sudah punya tradisi dan budaya pariwisata yang kuat. Menciptakan Bali Baru itu, benar-benar harus super ekstra serius, dari alam, budaya, buatan, SDM-nya, masyarakatnya, pemerintahnya, semua harus satu visi satu tujuan," ungkapnya.

Didien juga sering menggunakan istilah Penthelix Model, harus ada kekuatan bersama, spirit bersama, antara Academician, Business, Community, Government, Media. Kekompakan dan kesamaan visi dari mereka inilah yang akan membuat sebuah daerah itu bisa melompat lebih cepat. "Dari sisi Government, saya melihat sudah sangat cepat dan responsive," lanjut Didien.

"Kebetulan saya ikut dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo beberapa lalu. Saat itu disampaikan mengenai pembangunan pariwisata. Beliau kaget karena ternyata untuk membangun Nusa Dua dibutuhkan waktu sampai 20-30 tahun. Dan menurut Presiden itu sangat lama," kata Didien.

Didien menilai, kondisi itu terjadi lantaran pemerintahan sebelumnya tidak ada yang berani mengangkat pariwisata atau pariwisata tidak menjadi prioritas. Baru pada era Joko Widodo, selama lima tahun berturut-turut menempatkan pariwisata sebagai sektor prioritas.

"Baru pada pemerintahan Joko Widodo juga ada penetapan 10 Destinasi Prioritas, atau 10 Bali Baru. Destinasi-destinasi top di Indonesia mulai digarap. Dan hasilnya sudah terlihat. Proses pembangunannya jauh lebih cepat dari Nusa Dua zaman dulu," papar Didien.

Ia mencontohkan cara kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, yang dibangun dengan sangat serius. Bahkan, targetnya pada tahun 2020 Mandalika akan memiliki sirkuit internasional untuk menggelar MotoGP. Ini luar biasa, menempatkan Indonesia satu level dengan negara-negara di dunia.

Suku Tengger Rayakan Puncak Hari Raya Yadnya Kasada di Bromo

Warga Suku Tengger akhirnya menggelar ucapara 'Yadnya Kasada' di Pura Luhur Poten, areal Kaldera lautan pasir Gunung Bromo. Upacaranya berlangsung khidmat

Setelah melaksanakan malam resespsi pengukuhan tamu kehormatan Warga Suku Tengger, di Pendopo Agung Desaa Ngadsari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Rabu malam 17/7, warga Suku Tengger akhirnya menggelar ucapara 'Yadnya Kasada' di Pura Luhur Poten, areal Kaldera lautan pasir Gunung Bromo.

Dalam ritual tahunan ini, warga dari 4 kabupaten membawa 'Ongkek' atau aneka hasil bumi, dan sesajen ke dalam Pura untuk dimantrai.

Ongkek dibawa oleh warga dari empat Kabupaten, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Ongkek sendiri merupakan, keranjang bambu yang dibuat warga Suku Tengger, sebagai wadah sesajen baik hasil bumi dan ternak.

Di dalam pure, Ongkek tersebut dimantrai secara bersama oleh para dukun pandita perwakilan dari 36 desa, yang ada di kawasan lereng Gunung Bromo. Usai dimantrai, selepas pukul 03 : 30 dini hari, aneka hasil bumi dan sesajen pun kemudian dibawa menuju gunung Bromo, untuk dilarung ke kawah.

Selain itu dalam Yadnya Kasada kali ini, ada 7 orang yang dilantik menjadi dukun pandita. 4 Dari Pasuruan, dan 3 dari Probolinggo.

Sementara dalam upacara Yadnya Kasada yang berlangsung Kamis dini hari (18/7/2019), suhu udara di sekitar Gunung Bromo mencapai 5 sampai 8 derajat Celcius.

Salah seorang pengunjung Bromo, Ade Rizky mengatakan, meski suhu udara cukup dingin namun melihat prosesi adat di Bromo sangat menarik. Ia mengaku terkesan, dengan adat masyarakat Suku Tengger lereng Bromo, dimana masih lestari sampai saat ini.

"Luar biasa adatnya, menarik sekali dan patut dipertahankan karena ini bagian dari identitas bangsa," ungkapnya.

Sekedar informasi, upacara Yadnya Kasada merupakan penghormatan warga terhadap leluhurnya, yakni pasangan suami istri, Roro Anteng dan Joko Seger.

Keduanya rela mengorbankan anak ke-25, yakni Raden Kusuma untuk dilarung ke dalam kawah Gunung Bromo. Raden Kusuma dikorbankan untuk menepati janji pasutri keturunan Kerajaan Majapahit itu, kepada Sang Hyang Widhi.

Dan sebagai ungkapan penghormatan itu, Warga Suku Tengger lantas melarung hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Menariknya, aneka hasil bumi dan sesajen yang dibuang kedalam kawah justru menjadi rebutan warga. Bahkan banyak warga dari luar kawasan Bromo, sengaja naik ke puncak kawah sejak malam hari sebelumnya, menunggu sedekah bumi dilarung.

"Kalau dapet, sesajinya buat dimakan, sayur sama buah-buahan bisa dijual mas. Tahun kemarin saya bisa dapat 80 ribu, kalau sekarang belum dihitung," kata Sutikno (40), salah seorang pemburu ongkek.

Ini yang Buat Pelaku Industri Pariwisata Apresiasi Jokowi

Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengaku terkesan dengan komitmen Presiden Joko Widodo dalam membangun sektor pariwisata. Menurut catatannya, inilah satu-satunya Presiden Republik Indonesia selama ini yang paling serius mendorong pariwisata.

"Dan konkret! Tidak basa-basi, cepat dan sudah terasa impact-nya dalam lima tahun terakhir," aku Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Didien Junaedy, dalam keterangan tertulis, Kamis (18/7/2019).

Didien yang sudah 50 tahun berkecimpung di industri pariwisata tersebut mengatakan dia tidak pernah bosan menekuni industri ini.

"Kalau orang nomor satunya mau, semua akan bergerak! Begitu pun sebaliknya. Saya melihat beliau ini sangat concern dengan pariwisata," kata Didien.

Bahkan, sampai di akhir masa jabatannya pun, menurut Didien, semangat menjadikan Indonesia sebagai destinasi kelas dunia masih sangat tinggi. Dia mengamati presiden yang dalam sebulan terakhir fokus kunjungan kerja ke beberapa destinasi.

"Dari meninjau Bitung, Manado, Sulawesi Utara, sampai ke Labuan Bajo Komodo. Goa Batu Cermin pun beliau kunjungi," ungkap Didien.

Joglosemar, Jogja Solo Semarang juga dirapatkan khusus, untuk menjadikan destinasi di kawasan segitiga pariwisata itu. Harapannya, devisa dari bisnis pariwisata segera meroket, sekaligus memberi benefit kepada masyarakat yang ada di sana.

"Buat GIPI, kami beruntung punya presiden yang serius di pariwisata," kata Didien.