Senin, 13 Januari 2020

Solo Batik Carnival 2019 Hadirkan Karakter Khas 11 Negara ASEAN

 Gelaran Solo Batik Carnival (SBC) bakal kembali hadir di Kota Solo, 27 Juli 2019 nanti. Ada delegasi dari 11 negara ASEAN beserta kostum khas.

11 Negara tersebut ialah Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam, Laos, Timor Leste, Vietnam dan Kamboja. Total peserta diperkirakan berjumlah 150 orang.

Para peserta akan berjalan menyusuri Jalan Slamet Riyadi sepanjang empat kilometer. Titik star berada di Sriwedari dan akan berakhir di Benteng Vastenburg.

Ketua Yayasan Solo Batik Carnival, Susanto, mengatakan SBC yang sudah ke-12 kali ini mengambil tema 'Suvarna Bhumi the Golden of ASEAN'. Dia ingin gelaran ini layaknya emas yang diinginkan banyak orang.

"Maknanya ialah 'negara emas'. Sehingga kami ingin SBC ini berharga dan dicari banyak orang. Tidak hanya diminati masyarakat lokal, namun juga internasional," kata Susanto di Balai Kota Surakarta, Jumat (12/7/2019).

Yang unik, masing-masing delegasi akan menampilkan karakter khas negaranya pada kostum yang mereka pakai. Tentunya kostum tersebut menggunakan motif dasar batik yang megah.

"Nanti akan kita lihat para peserta akan beradu kreatif menampilkan desain kostum mereka,"ujar dia.

Seperti salah satu delegasi Malaysia yang menampilkan menara kembar Petronas. Ataupun delegasi Thailand yang menampilkan karakter gajah pada kostumnya.

Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, menjanjikan SBC XII ini menjadi pertunjukan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. SBC yang biasanya hanya mengambil tema lokal, kini bereksperimen dengan tema mendunia.

"Tentu harapannya agar tidak hanya masyarakat lokal yang menonton. Tapi agar wisatawan mancanegara juga berbondong-bondong datang ke Solo," pungkasnya.

Miliki Destinasi Populer, Magelang Bisa Dongkrak Wisata Joglosemar

Kabupaten Magelang berpotensi menjadi mesin penggerak pariwisata di destinasi branding wilayah Joglosemar (Jogja, Solo, dan Semarang) yang tahun ini ditargetkan bisa dikunjungi 2 juta wisman. Angka ini merupakan 10% dari target nasional yang pada 2020 ditargetkan mencapai 20 juta wisman.

"Dari 2 juta wisman tersebut, 500 ribu wisman di antaranya datang ke Candi Borobudur sebagai ikon pariwisata nasional serta destinasi pariwisata super prioritas," kata Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang, Iwan Sutiarso dalam keterangan tertulis, Jumat (12/7/2019).

Iwan menjelaskan posisi Magelang sangat diuntungkan dengan mendatangkan wisman dan wisnus dari tiga arah, Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Apalagi ketiga kota itu masing-masing didukung infrastruktur bandara internasional.

"Pariwisata Magelang didukung unsur 3A, atraksi, amenitas, dan aksesibilitas, yang memadai sehingga menjadi destinasi andalan di Joglosemar," kata Iwan.

Untuk amenitas, Iwan mengatakan bahwa Magelang memiliki hotel berbintang, resor serta homestay yang tersebar di 51 desa wisata termasuk di desa pinggiran kompleks Borobudur.

Menurutnya, pengembangan pariwisata di Magelang lebih mengedepankan dan berbasis komunitas atau 'community based development' yang usaha pariwisata banyak melibatkan masyarakat setempat. Selain itu, Magelang memiliki atraksi budaya, alam, dan buatan yang dikemas dalam wisata petualangan dan sport tourism.

Dua atraksi sport tourism yang sudah dikenal yaitu Borobudur Marathon dan MesaStila Peak Challange yang setiap tahun mendatangkan banyak wisman. Borobudur Marathon bahkan telah masuk Top 10 dalam 100 Calender of Event (COE) sedangkan MesaStila Peak Challenge memasuki tahun ke-9 yang tahun ini bernama MesaStila 100.

Di Pacific Exposition, Menpar Pamer Capaian Pariwisata RI

Pada forum Pacific Exposition 2019 yang digelar di Auckland, Selandia Baru Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan pertumbuhan sektor pariwisata Indonesia meningkat tajam. Hal tersebut dibuktikan dengan pertumbuhan pariwisata Indonesia yang berada di peringkat kesembilan dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara.

"Capaian sektor pariwisata Indonesia dicatat oleh perusahaan media di Inggris, The Telegraph. Telegraph mencatat Indonesia sebagai salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan pariwisata tercepat," ujar Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (12/7/2019).

Menurut Arief, kunjungan wisman ke Indonesia tumbuh di angka 22%. Angka ini berarti tiga kali lipat dibanding rata-rata pertumbuhan regional Asia Tenggara yang tumbuh sebesar 7% sedangkan pertumbuhan dunia saja hanya mencapai 6%. Selain itu, indeks daya saing pariwisata Indonesia juga meningkat dari peringkat 70 dunia di tahun 2013 ke posisi 42 besar di 2017.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) juga telah mendapat berbagai penghargaan dunia tiap tahunnya. Tahun 2016, Kemenpar memperoleh 46 penghargaan dunia, tahun 2017 mendapat 27, dan tahun 2018 memperoleh 66. Selain itu, penerimaan devisa Indonesia dari sektor pariwisata juga terus meningkat sejak 2015.

"Bukan hanya penghasil devisa terbesar, tetapi juga menjadi yang terbaik. Pariwisata Indonesia sudah diakui dunia. Salah satu buktinya, Kemenpar terpilih sebagai The Best Ministry Of Tourism atau Best National Tourism Organization (NTO) se-Asia Pasifik di ajang TTG Travel Awards 2018," ujar Arief.

Menurutnya, di tahun 2019, pariwisata Indonesia diproyeksikan menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan devisa Indonesia. Angkanya dapat meningkat hingga USD 20 miliar. Jumlah ini melebihi migas, batu bara, dan minyak kelapa sawit. Ia juga mengatakan bahwa kesuksesan pariwisata Indonesia bisa iikuti oleh negara-negara kawasan pasifik yang hadir dalam acara tersebut. Salah satu contohnya berkaca dari benchmark Wonderful Indonesia.

"Melalui Rencana Strategis Pariwisata ASEAN untuk 2016-2025, ASEAN ingin membangun tujuan wisata berkualitas, menawarkan pengalaman ASEAN yang unik dan beragam. Kita juga berkomitmen untuk pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab, berkelanjutan, inklusif, dan seimbang karena akan berkontribusi secara signifikan terhadap kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat ASEAN," ucap Arief.

Untuk mencapai tujuan itu, ada dua strategi yang diambil. Strategi pertama yaitu meningkatkan daya saing ASEAN sebagai tujuan wisata tunggal yang berarti negara-negara akan berkolaborasi. Seperti untuk mengintensifkan promosi dan pemasaran, diversifikasi produk pariwisata, termasuk menarik investasi pariwisata dan meningkatkan kualitas SDM pariwisata, standar fasilitas pariwisata, dan pelayanannya.

Selanjutnya strategi kedua adalah memastikan pengembangan pariwisata berkelanjutan dan inklusif. Hal ini memerlukan beberapa tindakan, yaitu meningkatkan partisipasi masyarakat lokal, sektor swasta, dan sektor publik dalam pembangunan. Kemudian memastikan keselamatan dan keamanan, memprioritaskan perlindungan dan pengelolaan situs warisan dan meningkatkan upaya terhadap pelestarian lingkungan serta perubahan iklim.

Menurut Arief, Program Pariwisata Berkelanjutan Tunggal di ASEAN telah terbukti efektif. Utamanya dalam mengembangkan pariwisata di kawasan ini. Ada pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman ASEAN bahwa harus berkolaborasi untuk menjadi tujuan wisata yang besar dan kuat. Dalam upaya untuk menjadikan Pasifik sebagai single destination, semua di kawasan Pasifik, perlu bekerja dan saling mendukung.

"Negara-negara pasifik juga harus dipromosikan sebagai brand One Pacific Destination kepada wisatawan global. Membangun dan mempromosikan One Pacific Destination dapat menjadi solusi. Solusi untuk membentuk masa depan pariwisata berkelanjutan bagi destinasi Pasifik," ucap Arief.

Arief juga berharap ada tindak lanjut setelah forum, yaitu untuk membangun strategi dan upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Menurutnya, sektor pariwisata di wilayah Pasifik semakin meningkat dan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dalam dekade mendatang. Pariwisata juga akan menjadi salah satu bidang kerja sama terpenting di negara-negara pasifik dan akan dianggap sebagai pendorong sosial ekonomi utama untuk pertumbuhan dan pembangunan.

"Mudah-mudahan forum ini dapat memberi wawasan yang bermanfaat, wawasan yang dibalut dengan kesuksesan, dan menghasilkan hasil substansial. Juga keuntungan nyata yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi One Pacific Destination," pungkas Arief.