Para guide ilegal asal Rusia diduga nekat bekerja di Bali meski menggunakan visa turis. Selain itu, mereka menjual paket tur murah keliling Bali.
"Visa kerja nggak punyalah, paling visa kunjungan. Kalau toh dia punya izin kerja sebagai pemandu wisata nggak boleh," Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali Nyoman Nuarta ketika dihubungi via telepon, Jumat (12/7/2019).
"Kerja apa yang dibolehkan terhadap izin itu (misal) jangan sampai sebagai (terdaftar) chef tapi jadi guide. Pemberi kerjanya tidak mungkin memberi izin pemandu wisata, kecuali travel agent itupun menyalahi peraturan," sambungnya.
Aturan yang dimaksud Nuarta yaitu Perda Bali nomor 5 tahun 2016 tentang pramuwisata. Salah satu poin utamanya yakni warga negara Indonesia dan wajib memiliki identitas berupa KTP Pramuwisata.
Kembali soal turis Rusia, selama ini mereka biasa menghabiskan waktu liburan 5-7 hari di Bali. Mereka juga cenderung mendatangi obyek wisata alam hingga budaya.
"Paket-paket yang dijual itu Rusia senang di pantai dan alam, budaya. Dia senang tur panjang Kintamani, Karangasem, itu yang mereka lakukan jadi ke Lovina, yang ada pantainya, length of stay bervariasi 5-7 hari. Eropa itu panjang-panjang dibandingkan Asia, mereka minimal 5 hari," jelasnya.
Nuarta lalu menyinggung soal ulah guide ilegal Rusia yang merusak harga pasar paket tur Bali. Dia pun menyesalkan persaingan yang tidak sehat itu.
"Contoh harga tur ke Kintamani USD 65 per orang kalau jumlahnya 6 bisa dijual per orang USD 3-40. Kalau dia tetep, ini kan akan mengacaukan market. Wisatawan itu tidak tahu bahwa di Bali itu orang asing dilarang menjadi guide, ini akan merusak tatanan market produk-produk Bali kepada wisatawan," paparnya.
Dia menambahkan praktik guide ilegal Rusia ini berbeda dengan Tiongkok. Jika guide ilegal Tiongkok memanfaatkan aplikasi Wechat para guide Rusia ilegal ini dengan cara konvensional.
"Dia nggak punya, konvensional. Ini memang orang yang pinter dan bermainnya konvensional tapi diketahui basisnya Rusia," tutur Nuarta.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Pariwisata Bali Putu Astawa mengatakan praktik guide ilegal ini mengancam tenaga kerja lokal. Dia pun meminta HPI untuk mengidetifikasi keberadaan para guide ilegal Rusia ini.
"Selanjutnya ini mengancam keberadaan tenaga kerja kita, karena dia kesini visanya adalah visa turis. Akhirnya kita kan tidak paham, mana yang berbuat seperti itu dan mana yang turis. Itu yang tahu persoalan itu temen-temen yang dari divisi guide Rusia, mereka diintilah untuk mengidentifikasi mana orang-orangnya yang begitu setelah tahu baru kita tindak melalui Satpol PP," terang Astawa.
Siap-siap! Bromo Marathon Akan Kembali Digelar
Traveler yang mau sehat sambil menikmati alam Pasuruan, bisa siap-siap! Karena, Bromo Marathon akan kembali digelar.
Event ikonik kebanggaan Pasuruan hadir kembali, nilah ajang lari marathon Bromo. Kali ini Bromo marathon hadir dengan nama Plataran Bromo Marathon Xtravaganza, dalam konferensi press di Jakarta, Jumat (12/7/2019).
Lomba lari ini bekerja sama dengan Plataran Bromo dalam mempersiapkan venue terbaik untuk para pelari. Sudah jadi acara tahunan, Bromo marathon rutin diadakan tiap 1 September, tahun ini juga sama.
"Keinginan kita menjadikan acara ini sebagai ikon Pasuruan. Juga memperkenalkan adat istiadat suku tengger," ujar Dedi Kurniawan, Founder dari Bromo Marathon.
Meski akan diselenggarakan pada Bulan September, namun sudah banyak peserta yang mendaftar di kegiatan ini. Sudah terdaftar 1320 peserta dari 30 negara.
"Pesertanya 65 persen orang Indonesia, sisanya ekspat yang tinggal di sini dan ada yang terbang langsung dari negaranya," jelas Dedi.
Kali ini Plataran Bromo Marathon Xtravaganza akan menambah 1 rute dengan panjang 5k selama 2 jam. Sebelumnya ada rute 10k, 21k dan 45k.
Tapi yang jadi unggulan tetaplah rute 21k. Karena rute inilah yang jadi sport tourism dalam Bromo.
"Rutenya melipir ke pinggir Bromo. Di beberapa titik rute bisa melihat Gunung Batok dan Bromo. Bisa jadi titik selfie. Ini mumpung bisa berhenti, banyak pelari yang berhenti di sana untuk foto. Karena kalau naik jeep tidak bisa" tutur Dedi.