Rabu, 15 Januari 2020

Kembangkan Pariwisata Daerah, Kemenpar Gandeng 400 Kabupaten

Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) akan berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk mengembangkan sektor pariwisata daerah. Mulai pariwisata lintas batas negara atau crossborder tourism, homestay, sampai desa wisata.

Ketua Umum APKASI Abdullah Azwar Anas mengatakan, pihaknya mendukung program-program Kemenpar. Sehingga, ke depan kebijakan pariwisata nasional bisa semakin punya instrumen pelaksanaan yang efektif dan saling dukung di daerah. Yang mana, APKASI sendiri beranggotakan lebih dari 400 kabupaten.

"Pengembangan kolaborasi pariwisata ini adalah bagian dari strategi mendorong pemajuan seni-budaya daerah. Sebab, semakin kuat konten kearifan lokalnya, semakin kuat pula daya tariknya bagi pengunjung," ujarnya, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (6/7/2019).

Anas yang juga Bupati Banyuwangi ini memaparkan, sejumlah hal yang dikolaborasikan antara lain crossborder tourism, desa wisata, dan homestay.

"Untuk crossborder tourism, saya sudah sampaikan ke Pak Menteri. Pilot project kerjasama ini akan dibuat di beberapa kabupaten. Salah satunya Kabupaten Belu, NTT. Wisata lintas batas negara ini bisa ikut mendongkrak perekonomian kabupaten setempat. Apalagi, wilayah perbatasannya telah dibangun oleh pemerintah pusat dengan ikon-ikon yang menarik," jelasnya.

Menurut Anas, strategi crossborder tourism yang diinisiasi Kemenpar harus disambut oleh APKASI. Ini akan sangat mendukung pengembangan kabupaten-kabupaten yang menjadi perbatasan negara. Pasarnya datang dari negara-negara tetangga. Seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste.

"Sudah banyak kisah sukses crossborder tourism. Perancis misalnya. Sekitar 50% wismannya diperoleh dari negara yang berbatasan dengannya. Di Belgia, sekitar 51% wismannya didapat dari border touris. Di Thailand, sekitar 45% wismannya berasal dari border touris. Di Malaysia, angkanya bahkan lebih tinggi. Sekitar 60% wismannya berasal dari negara tetangga," ungkapnya.

Karenanya, ini kesempatan bagi kabupaten terdepan untuk menjadi mesin penyedot wisatawan mancanegara, yang otomatis akan menggerakkan ekonomi di daerah setempat.

Di sisi lain, APKASI berkolaborasi dengan Kemenpar untuk menyukseskan program desa wisata sesuai visi Presiden Jokowi untuk membangun bangsa dari pinggiran. Termasuk desa dengan memanfaatkan budaya, alam, dan kreativitas warganya.

"APKASI siap menyukseskan target 2.000 Desa Wisata Mandiri yang dicanangkan pemerintah pusat. Bukan hanya desa wisata rintisan, berkembang, dan maju, tapi sudah mengarah ke mandiri," tegasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, Indonesia memiliki total sekitar 75.000 desa atau setingkat desa. Dari jumlah itu, sudah dihitung oleh tim di pemerintah pusat, kira-kira 10 persennya berpotensi menjadi desa wisata. Ini menjadi tugas bersama untuk mewujudkannya. Antara lain APKASI, pemerintah provinsi, dan Kemenpar.

Terkait pengembangan homestay, fokusnya adalah mengangkat kearifan arsitektur khas lokal. Itu akan diimplementasikan dalam homestay-homestay dengan pendampingan Kemenpar.

"Sudah ada ribuan kamar penduduk di desa-desa yang diaktivasi menjadi homestay. Juga ada arsitektur khas lokal yang diusung, sehingga jadi daya tarik. Itu akan dikerjasamakan dengan APKASI, agar semakin merata di Tanah Air," pungkasnya.

Asyik! Pantai Pulau Merah Banyuwangi Gelar Kompetisi Surfing

Traveler penggemar surfing, mungkin bisa coba aktivitas lomba ini. Inilah International Surfing Competition yang digelar Pantai Pulau Merah Banyuwangi.

Sudah tiga tahun ini Pantai Pulau Merah tak menggelar kompetisi surfing. Terakhir, pantai nan cantik di Selatan kota Banyuwangi ini menggelar International Surfing Competition pada tahun 2015 lalu. Tahun ini, kembali Pantai Pulau Merah Banyuwangi menggelar kompetisi Gandrung Surf Competition 2019. Pesurfer dari Nusantara dan mancanegara turut serta dalam ajang ini.

Gandrung Surf Competition 2019 ini diikuti oleh lebih dari 80 peserta dari dalam maupun luar negeri, seperti Australia dan Jepang. Dalam ajang ini, para peserta dibagi ke dalam beberapa kategori, antara lain Kelas Open, Under 16, Under 12, Women dan Long Board. Mereka akan bertanding selama dua hari, Sabtu dan Minggu (6-7/72019).

Para peserta terlihat seperti menari diatas air dengan papan selancar yang melaju diatas ombak besar. Tak jarang, banyak peserta yang berhasil menaklukkan ombak tinggi pantai yang dikenal indah saat sunset ini.

Mereka diberi waktu beberapa menit, untuk menunjukkan kepada dewan juri kepiawaiannya menaklukkan ombak. Penilaian dilakukan beberapa kali, hingga pesurfer menunjukkan bakat terbaiknya dalam lomba ini.

Ajang ini digelar oleh masyarakat sekitar atau Pokmaswas Pantai Pulau Merah. "Ini merupakan kebangkitan masyarakat setempat untuk menggelar ajang surfing tanpa ada campur tangan EO dari daerah lain. Ini murni event kami," ujar Suyitno, Ketua penyelenggara event Gandrung Surf Competition kepada detikcom, Sabtu (6/7/2019).

"Kami ditantang oleh Bupati Anas untuk bikin acara dari kami sendiri. Tanpa ada EO dari luar dan ternyata kami bisa," tambahnya.

Diakui Suyitno, meski vakum selama 3 tahun, tapi antusiasme para pesurfer dari Nusantara dan mancanegara sangat tinggi. Terbukti, dari pendaftaran online terdapat 140 peserta uang mendaftarkan diri. "Tapi yang fix datang hari ini sekitar 80an peserta yang datang. Besok bakal bertambah lagi," tambahnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku gembira dengan ajang perdana yang digelar oleh masyarakat sekitar Pantai Pulau Merah Banyuwangi. Ini menunjukkan kegiatan Banyuwangi Festival menumbuhkan semangat masyarakat untuk mengemas destinasi wisata dengan baik.

"Terbukti event ini bisa jalan meski penduduk lokal yang mengemas. Wisatawan domestik juga mancanegara semakin banyak yang datang ke Banyuwangi," ujarnya saat menyapa undangan melalui aplikasi Facetime.

Diakui Bupati Anas, Pantai Pulau Merah merupakan destinasi wisata favorit bagi wisatawan. Selama libur Lebaran dan libur sekolah, pantai ini menjadi jujugan terbanyak dibandingkan dengan destinasi wisata lain setelah TWA Kawah Ijen.

"Data dari Disbudpar Banyuwangi terbanyak kunjungan di Pulau Merah, TWA Kawah Ijen dan destinasi yang lain," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peserta dari Pantai Parangtritis Jogjakarta Oyoaki Iko mengaku ombak pantai Pulau Merah Banyuwangi sangat konsisten. Ini paling dia sukai karena akan bisa menunjang dirinya bisa tampil bagus. Namun angin di Pantai ini sangat kencang. Hal ini menjadi tantangan dirinya menjadi jawara di ajang ini.

"Anginnya kencang. Tapi ini menjadi tantangan bagi saya. Semoga bisa jadi jawara," pungkasnya.