Rabu, 15 Januari 2020

Camping Under The Sea, Cara Baru Ancol Kenalkan Satwa Laut ke Anak-anak

Sebanyak 70 peserta anak-anak berusia 6-12 tahun mengikuti acara Camping Under The Sea yang diselenggarakan selama dua hari pada 6-7 Juli 2019 di Ocean Dream Samudera Ancol, Jakarta.

Pada hari pertama, anak-anak yang dibagi dalam sembilan kelompok tersebut didampingi fasilitator untuk diperkenalkan dengan satwa-satwa laut yang ada di Ocean Dream Samudera Ancol dan Sea World. Mulai dari lumba-lumba, singa laut, penguin, penyu, kura-kura, berbagai jenis ikan, dan satwa laut lainnya.

"Jadi apa ciri lumba-lumba sebagai makhluk mamalia?" Ucap salah satu fasilitator kepada anak-anak dalam rangkaian acara Petualangan Lumba-Lumba.

"Bernafas menggunakan paru-paru, melahirkan, menyusui," teriak anak-anak menjawab.

Selain Petualangan Lumba-Lumba, pada hari pertama anak-anak juga diajak mengikuti Explore Dolphin, 5D Cinema, Explore Penguin, Underwater Show, Explore Singa Laut, Perawatan Satwa Lumba-Lumba, Explore SeaWorld, dan malamnya akan camping serta Treasure Hunt.

Para peserta anak-anak diberikan kesempatan lebih untuk dekat dengan satwa laut dibanding dengan pengunjung lain di Ocean Dream Samudera Ancol. Misalnya, ikut masuk dalam akuarium memberi makan penguin di mana pengunjung yang lain hanya bisa melihatnya dari luar kaca. Selanjutnya perwakilan anak juga diberi kesempatan memegang dan mencium singa laut dan lumba-lumba dan tentu juga materi edukasi dari fasilitator.

Departement Head Corporate Communications PT Taman Impian Jaya Ancol Rika Lestari mengatakan bahwa tujuan acara ini ialah untuk meningkatkan kepedulian terhadap ekosistem laut khususnya kepada anak-anak.

"Pertama, pengenalan hewan satwa laut. Mereka diajari cara merawat, mengobati kalau sakit, terus boleh engga kita melihara hewan tersebut? Mengapa kita boleh? Karena kita lembaga konservasi, kita melihara itu punya kaidah dan patuh terhadap kaidah tersebut," ucap Rika.

Menurut Rika setelah dikenalkan satwa laut, anak-anak akan camping di Seaworld Ancol pada malam harinya. Camping inilah yang membedakan dengan camping biasanya yang biasa diselenggarakan di gunung atau pantai.

Lanjut Rika, besoknya anak-anak akan diajak ke pantai Ancol untuk ikut menebarkan kerang hijau yang diharapkan untuk mengurangi polusi laut.

"Untuk mengisi liburan sekolah, mereka rekreasi sekaligus pendidikan. Ke depannya diharapkan mereka peduli konservasi, khususnya ekosistem laut," ucap Rika.

Lanjut Rika, program ini merupakan pertama kalinya yang digelar pihaknya. Ia membatasi 70 peserta yang sebagian besar dari Jabodetabek.

"2 atau 3 jam tidak cukup kalau melihat doang. Mereka harus diajari bagaimana kasih makan, merawat, diharapkan tumbuh jadi orang yang mencintai ekosistem laut," ucapnya.

Salah seorang wali peserta Bayu Aji mengatakan bahwa mengizinkan dua anaknya untuk ikut Camping Under The Sea untuk mengisi liburan.

"Biar enggak main gadget terus, awalnya itu. Saya browsing, punya beberapa pilihan liburan outdoor activity. Mereka pilih yang ini," ucap Bayu.

Bayu juga mengatakan telah berkoordinasi dengan panitia dengan membentuk grup Whatsapp untuk mengawasi anak-anaknya yang ikut camping.

Para Peserta The Border Battle Dijamu dalam Welcome Dinner

Para peserta, ofisial dan perwakilan dua badan tinju dunia mengikuti Welcome Dinner di Suba Suka Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (5/7/2019) lalu. Welcome Dinner ini adalah rangkaian awal acara The Border Battle 2019 yang diselenggarakan pada 5-7 Juli 2019.

Selain mengajak para peserta dan pihak terkait lainnya makan malam bersama, acara yang dikemas santai itu juga diisi dengan menari bersama. Semua diajak larut dalam kebersamaan.

Menariknya, Welcome Dinner juga dihadiri salah satu petinju terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, Chris John. Dalam acara ini, Chris John tampil santai dengan kemeja dan celana jeans. Ia kerap diserbu fans yang ingin foto bersama.

"Kupang dan NTT ini salah satu gudangnya petinju di Indonesia. Makanya kita menggelar acara di sini. Tapi, kita juga berharap Gubernur memberikan dukungan buat perkembangan tinju di Kupang. Karena saya tahu daerah ini banyak sekali bibit. Salah satunya calon petinju terbaik Indonesia Tibo Monabesa yang akan bertanding di ajang ini," kata petinju legendaris itu, dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/7/2019).

Sementara Kabid Pemasaran Area II Regional III di Deputi Bidang Pemasaran I Kemenpar Hendry Noviardi menambahkan, The Border Battle 2019 juga sejalan dengan semangat untuk memeriahkan wilayah border Indonesia. Apalagi, tema yang diangkat adalah Mencetak Juara Tinju Dunia dari Batas Negara.

"Seperti yang sama-sama kita ketahui, crossborder menjadi senjata pamungkas Kementerian Pariwisata untuk mendatangkan wisatawan perbatasan. Semangat ini juga ada dalam The Border Battle. Karena, melibatkan petinju asal Timor Leste. Ada tiga pertandingan yang melibatkan petinju Timor Leste. Dan saya rasa hal itu menjadi daya tarik. Karena tinju olahraga yang digemari di Timor Leste dan NTT," paparnya.

Tidak hanya itu, Hendry pun menilai kehadiran dua badan tinju dunia, IBO dan WBC, juga memiliki pengaruh yang cukup bagus buat event ini.

"Pertandingan ini bukan pertandingan biasa. Karena, ada dua badan tinju dunia di dalamnya. Ada IBO dan WBC. Jelas ini pertandingan bergengsi yang membuat wisatawan Timor Leste akan datang untuk menyaksikannya. Belum lagi ada sosok petinju legendaris Chris John. Jelas sosoknya akan menjadi daya tarik lain dari event," tuturnya.

Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh. Ricky Fauziyani juga menilai event memiliki daya tarik untuk mendatangkan wisatawan perbatasan.

"Ada alasan mengapa event ini di-support Kementerian Pariwisata. Pertama karena potensinya. The Border Battle melibatkan wisatawan mancanegara. Dan itu jelas sekali. Ada ofisial dari IBO dan WBC. Ada peserta mancanegara. Termasuk peserta dari Timor Leste. Dan kita sama-sama tahu tinju sangat favorit di sana," kata Ricky.

Petinju yang akan terlibat di event ini berasal dari Australia. Tepatnya di Negara Bagian Victoria. Kemudian dari Thailand, Filipina, dan Timor Leste. Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap The Border Battle bisa menggerakkan wisatawan perbatasan untuk datang ke Kupang.

"Ini sajian berkelas. Sajian yang jarang ditemui. Di Timor Leste dan NTT, tinju adalah cabang idola. Jadi tidak salah jika The Border Battle digelar di sana. Apalagi, Kupang juga dikenal sebagai gudangnya petinju Tanah Air," ungkapnya.