Kamis, 16 Januari 2020

Sudah Pernah ke Taman Arca?

Di Museum Nasional, ada Taman Arca yang berisi peninggalan bersejarah dengan usia lebih dari 1 Abad. Sudah pernah ke sini belum, traveler?

Jika tiba saatnya liburan dan memiliki budget terbatas, tidak perlu galau jika tidak bisa jalan-jalan sampai keluar kota. Sebab di sekitar Jakarta terdapat objek menarik dengan tiket yang murah.

Salah satunya adalah Museum Nasional. Cukup membayar Rp 5.000 untuk dewasa, maka kita sudah bisa menjelajahi seluruh bagian Museum Nasional sampai puas.

Museum ini terdiri dari beberapa bagian, sesuai kategori koleksinya. Di antara seluruh bagian museum, bagian yang paling menarik bagi saya adalah Taman Arca, tempat disimpannya berbagai arca peninggalan kerajaan-kerajaan di Indonesia pada jaman dahulu.

Beberapa waktu lalu, selasar galeri arca dan sekitarnya sempat ditutup untuk dilakukan renovasi, namun saat ini, traveler sudah bisa mengeksplore kembali area Taman Arca dan sekitarnya.

Taman Arca sendiri terbagi menjadi galeri selasar utara dan selasar selatan. Galeri selasar Utara menampilkan koleksi arca dan bagian bangunan yang masih dipengaruhi ornamen Hindu - Buddha pada abad ke 13-15 Masehi yang berasal dari peninggalan kerajaan Singhasari dan Majapahit.

Sementara galeri selasar Selatan menampilkan koleksi arca dan bagian bangunan dari abad ke 8-10 Masehi yang berasal dari kerajaan Mataram kuno. Arca dari periode ini terbagi menjadi seni arca abad 8 yang disebut seni Dieng dan seni arca abad 9-10 Masehi yang disebut sebagai seni Sailendra.

Jika traveler penasaran, datang saja langsung ke Museum Nasional yang beralamat di Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Jakarta. Museum buka dari hari Selasa-Minggu jam 08.00-17.00. Jangan lupa traveler setiap hari Senin museum libur.

Hutan Bambu yang Instagramable di Kyoto

 Liburan ke Jepang, jangan lupa mampir ke Kyoto. Berfotolah di hutan bambu yang Instagramable ini. Apalagi kalau bukan Arashiyama Bamboo Grove.

Kyoto terkenal dengan hutan bambunya yang dikenal dengan nama Arashiyama Bamboo Grove. Lokasinya terletak tidak jauh dari pintu keluar gerbang utara Tenryu-ji Temple.

Di sana, kita akan langsung menemukan deretan bambu di kanan kiri jalan sepanjang kurang lebih 500 meter yang tidak terlalu lebar. Jalanannya menanjak hingga mencapai bukit. Jadi tak heran jika kita perlu beristirahat di saat-saat tertentu karena lelah sebelum melanjutkan perjalanan.

Sebagai salah satu tujuan utama wisatawan, tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Untuk berfoto pun kita harus pintar mencari spot yang lebih leluasa. Apalagi melewati jalan yang tidak terlalu lebar ini tidak terasa panas dengan adanya hamparan pepohonan bambu.

Bambu dari sini ternyata digunakan untuk membuat berbagai produk diantaranya keranjang, tikar dan produk lainnya.
Selain menikmatinya dengan berjalan kaki, disini wisatawan bisa mencoba naik rickshaw. Rickshaw berasal dari bahasa Jepang "jinrikisha" yang artinya kendaraan dengan tenaga manusia.

Konon rickshaw sudah ada sejak akhir abad 19. Sesuai dengan artinya penumpang rickshaw ini memang diangkut dan ditarik oleh manusia. Kuat sekali ya abang yang menariknya. Untuk rickshaw ini memiliki jalurnya sendiri, tidak sama dengan pejalan kaki.

Untuk menuju ke sini dari pusat kota menuju Arashiyama, bisa menggunakan kereta dari Kyoto Station (JR Sagano atau San-in Line) dan turun di Saga-Arashiyama.

Kuliner Batak Nikmat di Ola Kisat

Menyantap kuliner khas Indonesia, seperti masakan Batak memang nikmat. Salah satunya ada di Rumah Makan Ola Kisat di Medan.

Saya pertama kali mencoba masakan Batak ketika di Salatiga. Ketika di Jakarta, saya juga sudah menyantap makanan Batak. Makanan Batak yang saya santap ini adalah Panggang, Saksang dan Ubi Tumbuk. Saya menyantapnya baik di restoran maupun di warung tenda kaki lima.

Namun, saya belum pernah menyantapnya langsung di Sumatera Utara. Jadi sebenarnya masih panasaran bagaimana rasanya kalau makan langsung di Sumatera Utara.

Bulan Januari 2019 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Medan, Sumatera Utara. Ada tugas sehingga saya bisa sampai ke sana. Sudah pasti kalau ke Medan saya ingin menyantap masakan Batak.

Karena tidak punya informasi soal Makanan Batak, saya kemudian bertanya kepada Pengemudi kendaraan sewa yang mengantarkan saya. Dia menawarkan saya untuk makan di Rumah Makan Batak bernama Ola Kisat.

Ola Kisat ini, salah satu tempat makan, yang sudah terkenal di Medan. Pengemudi mengatakan, dijamin enak karena sudah banyak cabangnya dan ramai dikunjungi. Sudah lewat dari jam makan siang ketika saya sampai di Ola Kisat.

Masuk ke tempat makan, ternyata memang sedang ramai meski tidak penuh. Saya memesan Panggang, Saksang dan Tango-tango. Kalau Tangp-tango ini, baru pertama kali saya coba. Tidak lupa juga saya pesan daun ubi tumbuk. Kurang lengkap rasanya kalau tidak ada ubi tumbuk.

Ketika makanan sampai di meja, saya sedikit kaget. Wah benar-benar berbeda dengan yang biasa saya makan di Jakarta. Panggangnya sedikit berminyak dan ada daging di dalam usus. Saksang dan daun ubi tumbuknya juga berbeda.

Dan memang benar, ketika disantap, Panggangnya berbeda rasanya. Daging terasa lebih berbumbu. Begitu juga dengan saksang. Khusus Tango-tango yang baru pertama kali saya santap juga sangat nikmat. Daging sangat empuk dan terasa bumbunya. Saksang juga terasa nikmatnya dan benar-benar berbeda.

Pengalaman makan di Medan ini memang berbeda. Makan masakan Batak di Medan mempunyai sensasi berbeda. Masalah harga? Saya sampai kaget. Saya kira makan di restoran harus mahal. Ternyata saya hanya membayar 80.000 sudah lengkap dengan jus Terong Belanda.

Ah kalau ke Medan, mau ke sini lagi deh.

Sudah Pernah ke Taman Arca?

Di Museum Nasional, ada Taman Arca yang berisi peninggalan bersejarah dengan usia lebih dari 1 Abad. Sudah pernah ke sini belum, traveler?

Jika tiba saatnya liburan dan memiliki budget terbatas, tidak perlu galau jika tidak bisa jalan-jalan sampai keluar kota. Sebab di sekitar Jakarta terdapat objek menarik dengan tiket yang murah.

Salah satunya adalah Museum Nasional. Cukup membayar Rp 5.000 untuk dewasa, maka kita sudah bisa menjelajahi seluruh bagian Museum Nasional sampai puas.

Museum ini terdiri dari beberapa bagian, sesuai kategori koleksinya. Di antara seluruh bagian museum, bagian yang paling menarik bagi saya adalah Taman Arca, tempat disimpannya berbagai arca peninggalan kerajaan-kerajaan di Indonesia pada jaman dahulu.

Beberapa waktu lalu, selasar galeri arca dan sekitarnya sempat ditutup untuk dilakukan renovasi, namun saat ini, traveler sudah bisa mengeksplore kembali area Taman Arca dan sekitarnya.

Taman Arca sendiri terbagi menjadi galeri selasar utara dan selasar selatan. Galeri selasar Utara menampilkan koleksi arca dan bagian bangunan yang masih dipengaruhi ornamen Hindu - Buddha pada abad ke 13-15 Masehi yang berasal dari peninggalan kerajaan Singhasari dan Majapahit.

Sementara galeri selasar Selatan menampilkan koleksi arca dan bagian bangunan dari abad ke 8-10 Masehi yang berasal dari kerajaan Mataram kuno. Arca dari periode ini terbagi menjadi seni arca abad 8 yang disebut seni Dieng dan seni arca abad 9-10 Masehi yang disebut sebagai seni Sailendra.