Jumat, 17 Januari 2020

Cara Murah Menikmati Indahnya Helsinki di Finlandia

Mengunjungi Helsinki, untuk sebagian traveller Indonesia mungkin terasa jauh dan mahal. Namun ada caranya supanya bisa menghemat uang.

Finlandia mungkin bukan menjadi salah satu negara yang wajib dikunjungi bagi traveler dari Indonesia. Selain jaraknya yang cukup jauh, faktor biaya menjadi alasannya. Namun, Helsinki sangat bersejarah bagi Indonesia. MoU Helsinki antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, membuat nama kota ini familiar bagi warga Indonesia.

Perjalanan dari Denpasar ke Helsinki cukup memakan waktu yang panjang. Perjalanan kurang lebih 15 jam, belum termasuk transit dan proses check-in, saya habiskan di dalam pesawat. Sampai di Helsinki Airport, perlahan saya hirup oksigen segar musim panas yang menyisakan dinginnya udara negara kawasan Nordik. Suasana bandara yang padat, entah karena high season atau karena bandara yang tidak terlalu besar serta ada beberapa renovasi sedikit membingungkan bagi yang pertama kali ke Helsinki, termasuk saya.

Helsinki merupakan kota yang berada di tepi laut, suasana khas tepian laut Eropa terasa saat saya membuka pintu taksi yang membawa saya ke hotel. Pemandangan boat dan sailing boat yang terparkir rapi diselingi teriakan khas burung camar yang terbawa hembusan angin laut Baltik akan menjadi memori jangka panjang.

Destinasi di dalam kota Helsinki sendiri sangat menawan. Jadi, wajib pertama kali harus mengelilingi kota. Ada beberapa alternatif untuk memilih program tur keliling kota, tentunya saya memilih yang free of charge, namanya adalah Free Walking Tour of Helsinki (Red Umbrella). Sesuai dengan nama tour, pemandunya menggunakan payung merah sebagai pengenal.

Program tour ini ada setiap hari dimulai pukul 11.00 dengan titik kumpul di Havis Amanda Statue. Ada hal yang sedikit istimewa, Anda akan diberi Licorice Candy, saya tidak bisa menggambarkan rasanya namun anda harus mencoba sendiri. Bagi traveller sejati, ikut program tour adalah wajib, alasannya adalah Anda dapat rute terbaik untuk keliling kota ditambah dengan penjelasan detail tiap tempat.

Salah satu bangunan yang saya kunjungi saat tur adalah Helsinki Cathedral, bangunan putih dengan kubah hijau dan halaman luas merupakan tempat bersejarah sebagai penghormatan bagi Tsar Nicholas I dari Rusia. Sedangkan tempat favorit saya adalah Market Square, tempat untuk membeli suvenir ataupun buah dan sayur segar. Pada akhir tour sisakan sedikit lembaran euro untuk memberi tips bagi pemandunya, tidak ada kewajiban juga sih.

Destinasi berikutnya saya lakukan tanpa pemandu adalah Suomenlinna, transportasi menuju pulau indah penuh jejak sejarah ini menggunakan kapal penumpang dengan tarif 5 Euro per orang pulang-pergi, ditempuh kurang lebih 20 menit. Saya mengira, karcis dijadikan alat untuk membuka gate masuk, ternyata gate terbuka terus dan tidak ada pemeriksaan.

Selama perjalanan Anda akan disuguhkan pemandangan yang menawan dari kapal-kapal pesiar yang megah, membuat suasana ramai di dalam kapal terabaikan. kapal mulai bersandar, pintu rampa terbuka dari sisi kiri kapal. Bagi turis yang pertama kali kemari akan bingung memulainya, ke arah kanan atau kiri, begitu pula dengan saya. Jangan lupa membaca peraturan dan larangan serta mengambil peta yang tersedia di pintu masuk pulau ini.

Butuh sekitar 2 jam perjalanan jika ingin mengelilingi pulau ini, jadi siapkan footwear yang paling pas. Kunjungilah pulau ini sebelum pukul 17.00 karena beberapa gedung bersejarah tutup pada pukul 17.00. Suomenlinna merupakan benteng yang dibangun pada pertengahan abad ke-18, serasa masuk ke dalam Eropa pada zaman itu, tiap kali menikmati pemandangan bangunan yang terjaga keasliannya.

Pengalaman mengunjungi Helsinki sangat berkesan untuk saya, suasana yang berbeda dengan beberapa negara Eropa favorit traveler Indonesia seperti Prancis, Belanda atau Jerman. Penduduk kota yang sangat ramah, terasa hangat dan aman yang saya rasakan selama berada di sana. Jika Anda sedang berencana liburan ke Eropa, tidak ada salahnya memasukkan Helsinki sebagai salah satu destinasi tujuan wisata.

Memburu Sunrise di Gunung Merbabu

Gunung Merbabu adalah destinasi yang menarik untuk para pecinta alam. Menikmati garis merah ufuk fajar di ketinggian 3.142 mdpl, rasanya luar biasa.

Kali ini saya mau membahas tentang kegiatan pecinta alam. Dari semua kegiatan pecinta alam saya akan mengerucutkan pembahasan tentang pendakian Gunung Merbabu dan pencarian garis merah yang ada di gunung tersebut.

Setiap gunung pasti memiliki keistimewaan dan daya tarik tersendiri, seperti Gunung Merbabu ini. Dari jauh nampak biasa saja, namun setelah mulai mendaki dan menikmati dari dekat, dia memiliki keunikan yang tersembunyi. Ketinggian Gunung Merbabu mencapai 3.142 Mdpl.

Apa sih maksud dari garis merah yang ada di Gunung Merbabu? Tidak sedikit para pendaki untuk memilih perjalanan pada malam hari, alasannya adalah supaya kita tidak melihat bagaimana kondisi jalan yang akan dilalui. Karena apabila kita mulai mendaki pada siang hari, kita akan melihat kondisi jalan yang bikin geleng kepala. Jadi untuk menghindari rasa capai lebih baik lakukan saat malam hari.

Perjalanan malam hari terasa lebih sejuk dari pada siang hari, selain itu setelah kita sampai puncak kita akan mendirikan tenda dan tidur sejenak untuk menunggu pagi hari. Selain melihat akan indahnya bentang alam yang ada di depan mata, banyak para pendaki mencari dan memburu garis merah.

Jawaban dari pertanyan garis merah adalah terbitnya matahari dari arah timur, atau yang biasa disebut sunrise. Kelelahan para pendaki terbayar sudah ketika berhasil melihat dan mengabadikan moment terbitnya matahari. Begitu pula sebaliknya, akan tambah bersemangat ketika melihat matahari terbenam juga.

Kita dapat melihat dan menikmati matahari terbit dari pos 3. Jalur yang sangat digemari para pendaki adalah jalur pendakian via Selo (Boyolali), dari basecamp ke pos 1, 2, dan 3 membutuhkan waktu selama kurang lebih 3-4 jam, kemudian dari pos 3 sudah bisa melihat matahari terbit, akan tapi jika kamu ingin menikmati keindahan yang lebih menakjubkan, kamu bisa mendaki lagi ke atas yaitu ke sabana 1 dan 2 memerlukan waktu kurang lebih 2-3 jam.

Namun kalau masih kurang bisa naik lagi ke puncak bayangan kemudian ke puncaknya Gunung Merbabu (Kenteng Songo) yang kira-kira membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Di puncak inilah kamu akan mendapatkan view yang sangat cantik, seperti berada di atas awan.

Demikian sedikit ulasan menarik tentang Gunung Merbabu dan garis merahnya. Gimana tertarik kan? Kalau teman-teman baru pertama kali mendaki jangan pernah coba-coba untuk mulai mendaki sendirian, karena sangat bahaya. Selalu ajaklah teman yang sudah terbiasa dan sudah paham tentang situasi dan kondisi dari gunung tersebut.

Cara Murah Menikmati Indahnya Helsinki di Finlandia

Mengunjungi Helsinki, untuk sebagian traveller Indonesia mungkin terasa jauh dan mahal. Namun ada caranya supanya bisa menghemat uang.

Finlandia mungkin bukan menjadi salah satu negara yang wajib dikunjungi bagi traveler dari Indonesia. Selain jaraknya yang cukup jauh, faktor biaya menjadi alasannya. Namun, Helsinki sangat bersejarah bagi Indonesia. MoU Helsinki antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, membuat nama kota ini familiar bagi warga Indonesia.

Perjalanan dari Denpasar ke Helsinki cukup memakan waktu yang panjang. Perjalanan kurang lebih 15 jam, belum termasuk transit dan proses check-in, saya habiskan di dalam pesawat. Sampai di Helsinki Airport, perlahan saya hirup oksigen segar musim panas yang menyisakan dinginnya udara negara kawasan Nordik. Suasana bandara yang padat, entah karena high season atau karena bandara yang tidak terlalu besar serta ada beberapa renovasi sedikit membingungkan bagi yang pertama kali ke Helsinki, termasuk saya.

Helsinki merupakan kota yang berada di tepi laut, suasana khas tepian laut Eropa terasa saat saya membuka pintu taksi yang membawa saya ke hotel. Pemandangan boat dan sailing boat yang terparkir rapi diselingi teriakan khas burung camar yang terbawa hembusan angin laut Baltik akan menjadi memori jangka panjang.