Sabtu, 22 Februari 2020

Taman Cantik di Hiroshima yang Dulunya Kandang Kuda

Hiroshima di Jepang memang dikenal karena serangan bom atom. Tapi kota ini juga punya taman bunga cantik yang dulunya adalah kandang kuda kerajaan.

Berjalan-jalan di Kota Hiroshima, detikTravel bersama Japan Airlines dan Japan National Tourism Organization (JNTO) mampir ke sebuah taman yang terkenal dengan bunga sakura dan plumnya. Inilah Shukkeien Garden.

Shukkeien Garden dibangun oleh seorang Daimyo bernama Asano Nagaakira pada zaman Edo di Jepang. Daimyo adalah kepala daerah yang bekuasa pada zaman feodal saat itu.

Taman ini dibangun oleh seorang master tea ceremony, Ueda Nagaakira. Ueda Nagaakira juga menjadi pengikut utama dari sang daimyo.

Shukkeien Garden dibangun pada tahun 1620. Taman ini sendiri memiliki arti Shrink-scenery-garden atau taman dengan pemandangan yang menenggelamkan.

Nama ini didapat dari ide untuk membuat miniatur dan mengoleksi pemandangan cantik. Konsepnya mirip Sungai Xihu di Hangzhou, China. Sekarang, taman ini menjadi tempat wisata di Jepang.

Taman ini dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan koleksi tanaman. Sebut saja pohon sakura, plum, ginko, bambu sampai herbal ada di sini. Yang paling populer adalah taman bunga plum dan sakura.

Taman bunga plum kebetulan sudah mekar di Bulan Februari. Mulai dari warna putih, pink sampai merah, merekah mempesona pengunjung taman ini. Banyak dari pengunjung adalah fotografer yang khusus datang untuk mengabadikan keindahan taman ini.

Taman bunga plum sendiri dulunya adalah kandang pelatihan kuda. Bukan cuma pelatihan kuda, taman-taman ini juga dulunya ada yang tempat memanah dan pelatihan senjata api.

Selain bunga-bunga yang indah, taman ini juga dilengkapi dengan pemandangan yang indah bak surga. Di tengah taman dibuat danau cantik dengan jembatan.

Taman yang ini tidak dibangun dengan asal-asalan. Saat berjalan ke arah danau, wisatawan diajak untuk naik bukit-bukit kecil.

Kolam ikan kecil yang paralel dengan kolam utama membuat taman ini semakin apik. Jembatan dengan model setengah lingkaran menambah keanggunan Shukkeien Garden.

Di atas bukit, menghadap ke tengah kolam dan jembatan, ada sebuah gazebo kecil yang dikhususkan untuk minum teh pada zaman itu. Sekarang spot ini digunakan untuk berfoto dan beristirahat sejenak untuk wisatawan.

Dari gazebo, kamu bisa menikmati keindahan bunga sakura jika musim semi tiba. Setelah itu tibalah wisatawan di kolam utama, Takuei-Chi.

Sebuah jembatan menjadi penghubung di tengah kolam ini. Jembatan ini diberi nama Koko-kyo yang artinya jembatan antara surga dan dunia.

Sayangnya, wisatawan dilarang naik ke atas Koko-kyo yang berbentuk setengah lingkaran. Wisatawan bisa lewat area samping yang telah disiapkan oleh pengelola.

Sambil menikmati pemandangan taman, wisatawan diperbolehkan untuk memberi makan ikan di kolam ini. Tapi makanan ikannya harus beli di loket ya seharga JPY 100 atau sekitar Rp 13.000.

Taman ini tak hanya memamerkan keindahan bunga dan arsitektur, tapi juga galeri seni. Pemandangan taman jadi tambah cantik.

Pada serangan bom nuklir, taman ini juga ikut hancur. Namun karena menjadi bagian dari sejarah Hiroshima, taman ini direnovasi dan kembali dibuka untuk umum menjadi sebuah tempat wisata di Jepang.

Shukkeien Garden bisa menjadi pilihan traveler yang mau menikmati Hiroshima dengan gaya elegan. Biaya masuk ke taman ini JPY 260 atau sekitar Rp 32.834 per orang.

Taman bersejarah ini bisa dijangkau dari stasiun trem Hiroshima. Selain dapat foto-foto cantik, kamu juga akan merasa segar karena jalan-jalan di taman luas ini.

Museum Kereta Api di Bondowoso yang Nyaris Terlupakan

Indonesia memiliki sejarah kereta api yang melekat. Namun nyatanya, ada museum yang nyaris terlupakan di Bondowoso.

Menempati bekas stasiun kereta api Bondowoso yang kini sudah tak difungsikan, Museum Kereta Api Bondowoso memajang alat-alat yang dulu pernah digunakan, untuk menunjang operasional kereta api. Inilah tempat wisata di Bondowoso yang mungkin luput dari perhatian traveler.

Aat-alat tersebut merupakan peninggalan zaman dahulu. Bahkan, ada beberapa alat peninggalan zaman Belanda. Alat tersebut masih asli. Hal itu terlihat dari bentuknya yang sudah mulai tampak keropos di makan usia.

Sebut saja misalnya Semboyan 40. Alat ini berupa tongkat rambu berwarna hijau berbentuk bundar pada ujungnya. Semboyan 40 biasanya diberikan oleh Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) pada kondektur, dengan mengangkat benda berbentuk tongkat itu.

Semboyan 40 sebagai isyarat bahwa kereta api sudah boleh berangkat. Semboyan ini biasanya diikuti Semboyan 41 atau peluit panjang satu kali oleh kondektur. Lalu dijawab oleh masinis dengan Semboyan 35 atau suara seruling panjang lokomotif. Maka, berangkatlah kereta api.

Menariknya lagi, di museum ini masih tersimpan alat Semboyan 40 tersebut peninggalan zaman Belanda. Karena alat ini bukan berbahan logam seperti saat ini. Melainkan hanya terbuat dari anyaman bambu dan berpenopang kayu.

Ada lagi Lampu Hansen. Istilah ini sebenarnya berasal dari kata handsign. Lampu berbentuk kubus ini berbahan seng. Pada zaman dulu, nyala lampu ini bersumber dari pijar api yang bahan bakarnya minyak tanah atau minyak jarak. Setelah disulut lalu dimasukkan ke lampu.

Bagian samping lampu ini berbahan kaca bulat yang berwarna hijau. Lampu tangan ini biasanya digunakan PPKA, sebagai tanda saat memberikan ijin pada masinis untuk segera memberangkatkan kereta api.

Tak hanya itu. Selain beberapa alat yang usianya mungkin sudah lebih seabad, di museum tersebut juga ditampilkan foto-foto. Dalam foto hitam putih digambarkan tentang awal mula pembangunan jalur kereta api di Indonesia. Khususnya jalur antara Jember-Panarukan yang melintasi Bondowoso.

"Alat-alat di museum ini masih asli semua. Kami dapatkan dari beberapa stasiun yang kebetulan masih ada," jelas Mulyana, Supervisor Museum Kereta Api Bondowoso, saat ditemui detiktravel di kantornya, Sabtu (23/2/2019).

Diuraikannya, di museum sejarah kereta api ini menampilkan koleksi benda-benda bersejarah yang digunakan untuk mengoperasikan kereta api sejak zaman Belanda atau sebelum abad ke-20, dan alat itu masih asli.

"Museum ini sebagai sarana untuk mengingatkan kembali pada anak cucu kita kelak. Bahwa, kereta api merupakan moda transportasi yang sangat vital, kala itu," ujar Mulyana.

Sementara salah seorang pengunjung museum, Setiawan (37), menuturkan jika keberadaan museum kereta api sangat bermanfaat bagi masyarakat dan wisatawan. Terutama kalangan muda di daerah yang kini sudah tidak lagi dilintasi kereta api.

"Saya sering mengajak anak-anak berlibur ke sini. Untuk sekadar mengenalkan, ini lho yang namanya stasiun kereta api. Ini lho alat-alat untuk mengoperasikannya. Meski, semuanya kini tinggal cerita," tutur Setiawan, yang mengaku asal Situbondo.

Nah, bagi traveler yang mau ke Bondowoso, mungkin bisa berkunjung ke sini sebagai alternatif liburan sejarah sekaligus belajar kereta api.