Senin, 24 Februari 2020

Nyaris 2 Tahun Hilang, Kapal Hantu Ini Muncul Lagi

Kapal tanpa awak yang hampir 2 tahun hilang, tiba-tiba muncul kembali di Irlandia. Kapal ini terdampar usai tersapu Badai Dennis.
Sebuah 'kapal hantu' yang telah ditinggalkan awaknya, muncul kembali di pantai selatan Irlandia. Kapal itu karam setelah terombang-ambing melintasi Samudera Atlantik.

Kapal bernama Alta ini merupakan kapal kargo yang berasal dari Tanzania. Kapal sepanjang 77 meter yang dibuat pada tahun 1976 itu sampai di Irlandia pada akhir pekan lalu.

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat (21/2/2020) MV Alta kemungkinan tersapu Badai Dennis sehingga bisa sampai di Irlandia. Penjaga Pantai Irlandia mengatakan, saat kapal ini ditemukan, tidak ada seorang pun di kapal itu.

Sebelumnya, Penjaga Pantai Amerika Serikat telah menyelamatkan 10 awak kapal pada September 2018, sejak kapal itu ditinggalkan di Bermuda.

Rekaman yang dirilis oleh Penjaga Pantai Irlandia menunjukkan kapal itu kandas di area bebatuan dekat Desa Ballycotton di County Cork, Irlandia pada Minggu (16/2/2020).

Dari laporan Irish Times, kapal ini awalnya berlayar dari Yunani ke Haiti. Namun dalam perjalanannya, awak kapal mengalami kesulitan dan telah terkatung-katung selama 20 hari ketika meminta bantuan melalui radio. Mereka kemudian diselamatkan sekitar 2.220 kilometer di tenggara Bermuda.

Otoritas setempat sedang mencari pemilik bangkai kapal tersebut. Komisaris Pendapatan Irlandia mengatakan, mereka telah dihubungi oleh seseorang yang mengaku mewakili pemilik kapal itu.

Dewan County Cork juga telah meminta masyarakat untuk menjauh dari bangkai kapal karena terletak di bentangan pantai yang berbahaya dan sulit diakses serta berada dalam kondisi yang tidak stabil.

Sambut Era 4.0, Hotel di Cirebon Hadirkan Robot Pelayan Tamu

Manajemen Hotel Bentani Kota Cirebon, Jabar, membuat terobosan pelayanan yang unik. Pihak hotel menciptakan robot khusus untuk melayani tamu.
Robot tersebut bernama Robbent, akronim dari Robot Bentani. Kehadiran Robbent merupakan implementasi dalam menyambut era 4.0. Public Relation Hotel Bentani & Residence Sherly Putri mengatakan, Robbent hanyalah robot yang bertugas melayani tamu hotel.

"Robbent ini untuk memanjakan para tamu dengan memberikan voucher, ada voucher makan, spa, sampai dengan voucher menginap," kata Sherly saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (22/2/2020).

Robbent memiliki tinggi sekitar 190 sentimeter. Berwarna silver dan merah. Robbent bermata hijau. Uniknya Robbent memiliki hati yang menyala. Kemudian, tepat di bagian dadanya terdapat monitor kecil, monitor yang menunjukkan hadiah voucher bagian tamu hotel.

"Jadi, tamu hanya menempelkan key tag (kunci kamar berbentuk kartu) ke hati Robbent. Setelah itu, akan muncul di layar monitor Robbent soal voucher bagi tamu yang telah menempelkan key tag. Setiap tamu hanya memiliki satu kesempatan untuk mendapatkan voucher," ucap Sherly.

Lebih lanjut, Sherly menerangkan lebih detil tentang kehadiran Robbent. Menurutnya, Robbent adalah simbol sinergi antara robot humanoid dengan karyawan. Terlebih lagi, lanjut dia, saat ini telah bermunculan robot yang mampu menggantikan peran manusia sebagai pekerja.

"Kita ingin berdaptasi dengan era 4.0. Kita juga ingin mengedukasi kepada karyawan bahwa manusia seyogyanya tidak bisa digantikan oleh robot sepenuhnya. Karena itu ada tulisan I'm not a robot, I have heart," kata Sherly.

Robbent tak bisa bergerak. Ia hanya menyapa dan melayani pemberian voucher. Robbent disetting secara acak dalam memberikan voucher. "Ke depan tentu kita akan inovasi lagi. Rencana sih pengin ada disetting untuk scanner wajah pengunjung, ya bisa buat check in juga," kata Sherly.

Sedih, Terumbu Karang Australia Terancam Kehilangan Warnanya

- Terumbu karang di Australia terancam alami pemutihan. Sebabnya karena meningkatnya suhu air laut. Sedih..
Terumbu karang yang berada di kawasan Great Barrier Reef Australia saat ini tengah terancam mengalami pemutihan (bleaching) akibat meningkatnya suhu di bawah laut. Badan pemerintah yang bertugas memantau kesehatan karang di sana mengatakan, pihaknya telah mendeteksi tanda-tanda stres pada karang di beberapa wilayah dan melihat adanya kemungkinan terjadinya pemutihan dalam skala besar lainnya.

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat (21/2/2020), otoritas Taman Laut Great Barrier Reef mengatakan pada Kamis bahwa periode yang lebih hangat dari arus lautan telah menyebabkan suhu air yang mulanya bersuhu 2 derajat Celcius naik menjadi 3 derajat Celcius. Suhu ini merupakan suhu di atas rata-rata sepanjang Februari. Ini juga berarti, suhu tersebut menjadi yang terpanas sepanjang tahun bagi terumbu karang.

"Jadi anomali ini benar-benar memprihatinkan dan telah meningkat pada minggu terakhir," kata Kepala Ilmuwan Otoritas Taman Laut Great Barrier Reef, David Wachenfeld.

Terumbu karang yang membentang sepanjang 2.300 kilometer di pantai timur laut Australia itu baru saja mulai pulih setelah dilanda pemutihan karang selama dua tahun berturut-turut pada tahun 2016 dan 2017. Untuk pemutihan tahun ini, pemeriksaan secara langsung akan dilakukan oleh penyelam, patroli helikopter, dan pengamatan publik.

Sementara itu, Direktur Stasiun Penelitian Pulau Lizard dari Museum Australia, Lyle Vail mengatakan, pihaknya juga telah mengamati sekitar 30 hingga 40 persen karang di perairan dangkal pulau itu mengalami beberapa tingkat pemutihan.

"Karang staghorn biru cerah sedang berfluoresensi yaitu tanda lain karang sedang dalam kesulitan," katanya dalam sebuah pernyataan dari World Wildlife Fund Australia.

Great Barrier Reef merupakan kumpulan terumbu karang terbesar di dunia yang juga ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Gugusan karang itu membentang di lepas pantai Queensland di timur laut Australia. Setidaknya 3.000 karang hidup di sana.

Great Barrier Reef ini memiliki nilai aset ekonomi, sosial dan ikon sebesar USD 56 miliar (Rp 775 triliun) dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 64 ribu orang. Selain itu, wilayah ini juga menyumbang USD 6,4 miliar (Rp 86 triliun) untuk ekonomi Australia pada 2017.

Apa itu pemutihan (coral bleaching)?

Setiap terumbu karang pada dasarnya memiliki bagian luar yang berwarna putih. Warna-warna cantik yang biasanya kita lihat itu sebenarnya berasal dari ganggang zooxanthellae yang hidup dalam polyps, binatang kecil yang menempel di terumbu karang. Hubungan antara zooxanthelle dengan terumbu karang ini merupakan simbiosis mutualisme dimana ganggang itu memberikan gizi untuk fotosintesis sementara karang menyediakan tempat tinggal untuknya.

Peningkatan suhu antara 1-2 derajat menyebabkan ganggang tersebut pergi dari terumbu karang. Itulah yang menyebabkan akhirnya karang berubah warna atau mengalami pemutihan dalam skala besar bahkan bisa mencapai ratusan kilometer.

Selain peningkatan suhu, faktor lain yang juga menyebabkan pemutihan adalah polusi dan penangkapan mahkluk hidup di laut yang berlebihan.

Terumbu karang yang hidup tanpa ganggang ini sebenarnya masih bisa bertahan hidup namun lebih mudah terserang penyakit. Dalam kondisi yang parah, terumbu karang perlahan akan mati.

Untuk dapat mengembalikan terumbu karang seperti sediakala dibutuhkan waktu yang lama, yaitu antara 10 hingga 15 tahun.