Selasa, 05 Mei 2020

Bill Gates Kritik Sistem Tes Virus Corona di Amerika, Puji Asia

 Bill Gates mengkritik tes virus Corona di Amerika Serikat. Bukan karena ia menganggap tes tidak membantu tapi karena sistem tes yang diterapkan.
Hal ini disampaikan Gates saat berbicara di program CNN Town Hall. Ia mengatakan saat ini tes dan pelacakan yang dilakukan di AS kalah jauh dibanding beberapa negara Asia.

"Di Asia, kualitas tes dan contact tracing sangat jauh di depan dibanding AS," kata Gates, seperti dikutip detikINET dari Inc, Selasa (5/5/2020).

Gates mengatakan pemerintah AS mungkin terus meningkatkan kapasitas tes virus Corona setiap harinya. Tapi angka ini tidak merefleksikan kenyataan sebenarnya di masyarakat, terutama di komunitas berpenghasilan rendah.

Menurut Gates mundurnya sistem tes virus Corona di AS karena dua alasan. Pertama karena sistem yang tidak merata dan tidak memprioritaskan golongan yang lebih rawan.

Pendiri Microsoft ini menjelaskan bahwa ada beberapa kasus di mana seseorang pernah dites hingga berkali-kali karena pekerjaannya. Tapi di sisi lain ada komunitas marjinal yang tidak mendapatkan akses terhadap tes COVID-19.

"Jika kalian orang dengan penghasilan tinggi, kalian bisa dites banyak kali, jika kalian berpenghasilan rendah, kemungkinan kalian tidak bisa mendapatkan tes sama sekali," ucap Gates.

Alasan kedua adalah lamanya durasi untuk mengetahui hasil tes yang bisa memakan waktu lebih dari 24 jam. Jika hasil tes membutuhkan 3-4 hari untuk dikeluarkan, Gates mengatakan orang yang telah dites pun tetap bisa menyebarkan virus tanpa diketahui.

"Apa gunanya? Apa kalian cukup menulis catatan minta maaf kepada orang yang kalian temui selama tiga hari terakhir?" ujar pria berusia 67 tahun tersebut.

'Ramalan' Bos Laboratorium Wuhan Tentang Corona

 Wabah virus sudah beberapa kali menimpa manusia dan sebagian kalangan ilmuwan, berdasarkan pengalaman mereka, kadang memperingatkan ancaman serupa mungkin bakal terjadi di masa depan. Termasuk Shi Zhengli, ahli virus top China sekaligus direktur laboratorium Wuhan.
Zhengli dijuluki 'bat woman' lantaran kerap meneliti virus di kelelawar yang mungkin menular ke manusia. Jabatannya adalah Direktur Center for Emerging Infectious Diseases di Wuhan Institute of Virology (WIV). Zhengli pula orang pertama yang menemukan sekuens gen COVID-19.

Pada tahun 2018 di sebuah seminar di China, Zhengli berbicara soal wabah SARS untuk memberi peringatan soal kejadian serupa di masa mendatang. "Kenapa SARS? Karena SARS masih dibahas komunitas sains dan publik. Ada beberapa masalah yang belum terselesaikan," katanya pada saat itu.

SARS disebut menyebar dari musang tapi host alami virus itu diduga kuat adalah kelelawar yang menularkannya pada binatang itu lalu ke manusia melalui pasar hewan. Kejadian serupa menurut Zhengli masih mungkin terjadi di masa depan.

"Jika kita manusia tidak waspada, infeksi virus selanjutnya, apakah langsung atau melalui hewan lain, kemungkinannya benar-benar eksis," cetus Zhengli melontarkan semacam prediksi.

"Tahapan di mana SARS berkembang adalah di Guangdong Wildlife Market. Jika kita tidak mengganggu musang, maka penyebaran virus pada kelelawar ke musang dan ke manusia tidak akan terjadi. SARS tidak akan mewabah," paparnya.

Ventilator Made in Indonesia Diproduksi Minggu Depan

Sebanyak 4 ventilator atau alat bantu pernapasan yang dikembangkan baik perguruan tinggi dan swasta telah melewati uji alat. Saat ini, 4 ventilator itu masuk uji klinis.

Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro menjelaskan, saat ini ada sekitar 28 usulan pembuatan ventilator. Dari 28 itu, sebanyak 4 ventilator telah menyelesaikan uji alat.

Empat usulan yakni berasal dari Universitas Indonesia. Kedua dari ITB, Unpad dan Salman. Ketiga berasal dari Dharma Group. Keempat berasal dari BPPT.

"Dari sekitar 28 usulan untuk pembuatan ventilator, 4 itu sudah bisa dikatakan menyelesaikan pengujian di BPFK Kemenkes. Jadi uji alatnya alat termasuk endurance sudah dilakukan. Saat ini yang sedang berlangsung uji klinis," katanya dalam rapat gabungan dengan DPR, Selasa (5/5/2020).

"Meskipun yang sekarang dikembangkan belum menyentuh kebutuhan ventilator ICU namun ke depan melakukan upaya penelitian sehingga akhirnya Indonesia bisa memproduksi ventilator yang digunakan untuk ruang ICU," sambungnya.

Bambang mengatakan, uji klinis ini diharapkan selesai minggu ini. Sehingga, pekan depan bisa diproduksi.

"Kami harapkan uji klinis bisa selesai minggu ini sehingga minggu depan diharapkan sudah mulai produksi," ungkapnya.

Lanjutnya, kapasitas produksi ventilator ini cukup tinggi. Untuk yang dikembangkan BPPT misalkan, bisa memproduksi 100 ventilator per minggu.

"Kapasitas produksi cukup tinggi untuk kerjasama yang BPPT misalkan, bisa produksi 100 unit ventilator per minggu per pabrik," ungkapnya.

Bill Gates Kritik Sistem Tes Virus Corona di Amerika, Puji Asia

 Bill Gates mengkritik tes virus Corona di Amerika Serikat. Bukan karena ia menganggap tes tidak membantu tapi karena sistem tes yang diterapkan.
Hal ini disampaikan Gates saat berbicara di program CNN Town Hall. Ia mengatakan saat ini tes dan pelacakan yang dilakukan di AS kalah jauh dibanding beberapa negara Asia.

"Di Asia, kualitas tes dan contact tracing sangat jauh di depan dibanding AS," kata Gates, seperti dikutip detikINET dari Inc, Selasa (5/5/2020).

Gates mengatakan pemerintah AS mungkin terus meningkatkan kapasitas tes virus Corona setiap harinya. Tapi angka ini tidak merefleksikan kenyataan sebenarnya di masyarakat, terutama di komunitas berpenghasilan rendah.

Menurut Gates mundurnya sistem tes virus Corona di AS karena dua alasan. Pertama karena sistem yang tidak merata dan tidak memprioritaskan golongan yang lebih rawan.

Pendiri Microsoft ini menjelaskan bahwa ada beberapa kasus di mana seseorang pernah dites hingga berkali-kali karena pekerjaannya. Tapi di sisi lain ada komunitas marjinal yang tidak mendapatkan akses terhadap tes COVID-19.

"Jika kalian orang dengan penghasilan tinggi, kalian bisa dites banyak kali, jika kalian berpenghasilan rendah, kemungkinan kalian tidak bisa mendapatkan tes sama sekali," ucap Gates.

Alasan kedua adalah lamanya durasi untuk mengetahui hasil tes yang bisa memakan waktu lebih dari 24 jam. Jika hasil tes membutuhkan 3-4 hari untuk dikeluarkan, Gates mengatakan orang yang telah dites pun tetap bisa menyebarkan virus tanpa diketahui.

"Apa gunanya? Apa kalian cukup menulis catatan minta maaf kepada orang yang kalian temui selama tiga hari terakhir?" ujar pria berusia 67 tahun tersebut.