Selasa, 05 Mei 2020

Produsen Masker Melonjak 200% di Tengah Pandemi Corona

Produsen masker jumlahnya meningkat drastis selama pandemi COVID-19 di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat angkanya melonjak hingga 200%.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Engko Sosialine Magdalene menjelaskan sebelum adanya wabah virus Corona, jumlah produsen masker hanya 26. Kini yang sudah mendapatkan izin menjadi 83 produsen.

"Perizinan sudah dilakukan dan ini terbukti seperti produsen masker. Di awal tahun hanya 26 produsen. Saat ini sudah berjumlah 83 produsen. Artinya terdapat peningkatan lebih dari 200%, adanya perizinan untuk produsen masker," kata dia dalam rapat kerja gabungan dengan Komisi VI, VII dan IX secara virtual, Selasa (5/5/2020).

Kata dia, hal serupa juga terjadi di produk alat pelindung diri (APD) serta ventilator. Pihaknya mencatat adanya peningkatan perizinan untuk memproduksi alat kesehatan (alkes) tersebut. Namun dia tak menyebutkan angkanya.

Selanjutnya, pihaknya juga menyampaikan adanya peningkatan izin edar produk kesehatan buatan dalam negeri. Contohnya adalah hand sanitizer.

"Sekarang sudah lebih dari 600 izin edar yang diterbitkan selama masa COVID-19 ini. Dan relaksasi-relaksasi juga tentu saja diberikan untuk terkait dengan perizinan ataupun izin edar ini," jelasnya.

Pihaknya berjanji untuk mempercepat perizinan di sektor alat kesehatan, tak hanya di masa pandemi saja melainkan untuk seterusnya.

"Bukan hanya pada saat masa COVID-19, tentunya selanjutnya produksi dalam negeri tetap menjadi perhatian utama kami, dan diharapkan juga nanti di sisi hilir di mana pada saat penggunaan oleh fasilitas pelayanan kesehatan bisa menyambut dengan baik hasil-hasil produksi dalam negeri," tambahnya.

China: Menlu AS 'Gila' Soal Klaim Corona dari Lab Wuhan

 China melalui televisi nasionalnya, CCTV, menyerang Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo terkait klaim adanya bukti soal virus Corona (COVID-19) berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan. CCTV menyebut klaim Pompeo itu sebagai 'pernyataan gila'.
Pompeo dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (3/5) waktu setempat, menyatakan bahwa ada 'sejumlah besar bukti' yang menunjukkan virus Corona berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, China -- titik nol pandemi virus Corona.

Klaim itu terus-menerus didorong oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, yang semakin kritis terhadap cara China menangani wabah virus Corona di awal-awal setelah virus ini terdeteksi di kota Wuhan, akhir tahun lalu. Sejauh ini, virus Corona telah menginfeksi lebih dari lebih dari 3,5 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan lebih dari 251 ribu orang secara global.

Seperti dilansir AFP, Selasa (5/5/2020), CCTV dalam tayangan pada Senin (4/5) waktu setempat menyebut klaim Pompeo sebagai 'pernyataan gila dan bersifat mengelak'. Tayangan itu diberi judul 'Pompeo yang jahat secara ceroboh memuntahkan racun dan menyebarkan kebohongan'.

Dalam tayangan itu, CCTV menyertakan komentar Direktur Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mike Ryan dan pakar virologi Columbia University, W Ian Lipkin, yang mengklaim virus Corona terbentuk secara alami dan bukan dibuat oleh manusia atau bocor dari laboratorium.

"Pernyataan salah dan tidak masuk akal dari politikus Amerika semakin memperjelas kepada orang-orang bahwa 'bukti' itu tidak ada," demikian bunyi narasi tayangan CCTV itu.

"Hype soal 'virus bocor dari sebuah lab Wuhan' adalah kebohongan total. Para politikus Amerika berupaya menggeser kesalahan, mencurangi suara rakyat dan menekan China saat upaya anti-epidemi domestik dari mereka sungguh kacau," imbuh CCTV.

'Ramalan' Bos Laboratorium Wuhan Tentang Corona

 Wabah virus sudah beberapa kali menimpa manusia dan sebagian kalangan ilmuwan, berdasarkan pengalaman mereka, kadang memperingatkan ancaman serupa mungkin bakal terjadi di masa depan. Termasuk Shi Zhengli, ahli virus top China sekaligus direktur laboratorium Wuhan.
Zhengli dijuluki 'bat woman' lantaran kerap meneliti virus di kelelawar yang mungkin menular ke manusia. Jabatannya adalah Direktur Center for Emerging Infectious Diseases di Wuhan Institute of Virology (WIV). Zhengli pula orang pertama yang menemukan sekuens gen COVID-19.

Pada tahun 2018 di sebuah seminar di China, Zhengli berbicara soal wabah SARS untuk memberi peringatan soal kejadian serupa di masa mendatang. "Kenapa SARS? Karena SARS masih dibahas komunitas sains dan publik. Ada beberapa masalah yang belum terselesaikan," katanya pada saat itu.

SARS disebut menyebar dari musang tapi host alami virus itu diduga kuat adalah kelelawar yang menularkannya pada binatang itu lalu ke manusia melalui pasar hewan. Kejadian serupa menurut Zhengli masih mungkin terjadi di masa depan.

"Jika kita manusia tidak waspada, infeksi virus selanjutnya, apakah langsung atau melalui hewan lain, kemungkinannya benar-benar eksis," cetus Zhengli melontarkan semacam prediksi.

"Tahapan di mana SARS berkembang adalah di Guangdong Wildlife Market. Jika kita tidak mengganggu musang, maka penyebaran virus pada kelelawar ke musang dan ke manusia tidak akan terjadi. SARS tidak akan mewabah," paparnya.

"Kita bisa melihat bahwa sumber patogen tersebut berhubungan dengan aktivitas kita sebagai manusia," sambungnya, dikutip detikINET dari 7News.

Ia pun menyarankan bagaimana cara mencegah wabah seperti SARS. "Jika kita ingin mencegah penyakit menular baru dari sumbernya, sebenarnya sangat mudah. Cukup jauhilah hewan tersebut," tuturnya.

"Kami menyarankan untuk menghentikan konsumsi hewan liar, menurunkan kerusakan alam liar, gangguan pada habitat mereka. Hanya dengan lingkungan harmonis antara manusia dan hewan liar, kita akan menurunkan peluang patogen menyebar dari mereka ke kita,"

Tapi sepertinya saran tersebut tidak diindahkan dan muncullah COVID-19. Walaupun belum ada bukti sahihnya, COVID-19 diduga bersumber dari pasar hewan di Wuhan.

Di sisi lain, Zhengli juga jadi sorotan lantaran ada tudingan COVID-19 dibuat atau bocor di Wuhan Institute of Virology yang ia pimpin. Mengenai itu, wanita berusia 55 tahun ini sudah berulangkali mengeluarkan bantahan.

Pada bulan Februari, dia sudah membantah teori tersebut dan berani menjamin dengan nyawanya, bahwa COVID-19 tidak berasal dari labnya.

Produsen Masker Melonjak 200% di Tengah Pandemi Corona

Produsen masker jumlahnya meningkat drastis selama pandemi COVID-19 di Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat angkanya melonjak hingga 200%.
Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Farmalkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Engko Sosialine Magdalene menjelaskan sebelum adanya wabah virus Corona, jumlah produsen masker hanya 26. Kini yang sudah mendapatkan izin menjadi 83 produsen.

"Perizinan sudah dilakukan dan ini terbukti seperti produsen masker. Di awal tahun hanya 26 produsen. Saat ini sudah berjumlah 83 produsen. Artinya terdapat peningkatan lebih dari 200%, adanya perizinan untuk produsen masker," kata dia dalam rapat kerja gabungan dengan Komisi VI, VII dan IX secara virtual, Selasa (5/5/2020).

Kata dia, hal serupa juga terjadi di produk alat pelindung diri (APD) serta ventilator. Pihaknya mencatat adanya peningkatan perizinan untuk memproduksi alat kesehatan (alkes) tersebut. Namun dia tak menyebutkan angkanya.

Selanjutnya, pihaknya juga menyampaikan adanya peningkatan izin edar produk kesehatan buatan dalam negeri. Contohnya adalah hand sanitizer.

"Sekarang sudah lebih dari 600 izin edar yang diterbitkan selama masa COVID-19 ini. Dan relaksasi-relaksasi juga tentu saja diberikan untuk terkait dengan perizinan ataupun izin edar ini," jelasnya.

Pihaknya berjanji untuk mempercepat perizinan di sektor alat kesehatan, tak hanya di masa pandemi saja melainkan untuk seterusnya.

"Bukan hanya pada saat masa COVID-19, tentunya selanjutnya produksi dalam negeri tetap menjadi perhatian utama kami, dan diharapkan juga nanti di sisi hilir di mana pada saat penggunaan oleh fasilitas pelayanan kesehatan bisa menyambut dengan baik hasil-hasil produksi dalam negeri," tambahnya.