Rabu, 06 Mei 2020

Intelijen Korsel Tak Temukan Tanda-tanda Kim Jong Un Operasi Jantung

 Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sempat 20 hari menghilang dari hadapan publik. Hal ini menimbulkan berbagai rumor terkait kondisi kesehatannya. Salah satu rumor menyebut bahwa pria berusia 36 tahun tersebut menjalani operasi karena sakit jantung.
Tapi kemudian, baru-baru ini Kim dilaporkan media pemerintah Korea Utara menghadiri acara peresmian pabrik pupuk setempat.

Kepala Badan Intelijen Korea Selatan, Suh Hoon, melaporkan tidak menemukan tanda-tanda Kim Jong Un baru menjalani operasi jantung. Hal ini ia ungkapkan dalam pertemuan parlemen pada hari Rabu (6/5/2020).

Fenomena menghilangnya Kim dari publik disebut dalam parlemen kemungkinan karena menghindari wabah virus Corona COVID-19. Meskipun, secara resmi Korea Utara belum melaporkan adanya kasus.

"Tidak menutup kemungkinan terjadi wabah di Korea Utara," kata salah satu anggota pertemuan Kim Byung-kee seperti dikutip dari BBC, Rabu (6/5/2020).

Ini bukan pertama kalinya Kim menghilang dari publik. Pada tahun 2014 lalu Kim juga pernah menghilang selama 40 hari dan kemudian muncul lagi dengan menggunakan tongkat bantu berjalan. Media pemerintah Korea Utara mengakui Kim saat itu "mengalami kondisi fisik yang tak nyaman".

895 Meninggal dari 12.438 Kasus, Tingkat Kematian Corona RI 7,19 Persen

Pemerintah pada hari Rabu (6/5/2020) mengumumkan total kasus positif virus Corona COVID-19 di Indonesia menjadi 12.438 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 895 di antaranya meninggal dunia sementara 2.317 orang lain dinyatakan sembuh.
"Kasus konfirmasi positif COVID-19 yang meninggal bertambah 23 orang sehingga menjadi 895 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Rabu (6/5/2020).

Dengan data tersebut artinya tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) virus Corona di Indonesia saat ini ada di angka 7,19 persen. Terjadi penurunan dari hari Senin kemarin yang angkanya 7,22 persen.

Data yang dihimpun oleh Research Center Johns Hopkins University menunjukkan rata-rata CFR wabah Corona di dunia saat ini ada di angka 7,01 persen persen.

Amerika Serikat (AS) masih ada di urutan pertama sebagai negara dengan jumlah kasus Corona terbanyak yaitu 1.204.475 kasus. Berikutnya diikuti Spanyol sebanyak 219.329 kasus dan Italia 213.013 kasus.

Sebagai perbandingan AS memiliki CFR Corona 5,90 persen, Spanyol 11,67 persen, dan Italia 13,76 persen.

Ahli Gizi Sarankan Minum Air Kelapa Saat Buka Puasa, Ini Alasannya

 Air kelapa merupakan salah satu minuman segar yang banyak dipilih untuk berbuka puasa. Selain menyegarkan, minuman ini ternyata juga mengandung banyak kandungan yang baik untuk tubuh.
Dokter gizi dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) dr Titi Sekarindah, MS, SpGK, merekomendasikan minum air kelapa saat berbuka. Rasanya yang segar dan manis dapat menghindari tubuh dari dehidrasi, terlebih ketika berpuasa seharian.

"Air kelapa itu segar dan fresh. Mengandung manis gitu, jadi kita memakan sesuatu yang segar dan enak," kata dr Titi saat dihubungi detikcom, Selasa (5/4/2020).

Selain menyegarkan, banyak kandungan baik seperti vitamin, kalium, dan natrium dalam air kelapa. Kandungan kalium yang tinggi pada air kelapa dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Selain itu air kelapa juga diketahui sebagai sumber antioksidan yang baik buat tubuh.

"Selain itu juga, dia (air kelapa) mengandung beberapa elektrolit seperti natrium, kalium yang bagus buat tubuh, dan yang penting enak," kata dr Titi.

Mengkonsumsi air kelapa sebaiknya tanpa gula, karena di dalamnya sudah mengandung kadar gula alami yang membuat rasanya manis. Ia kemudian mengingatkan, walaupun harus menggunakan gula agar tidak berlebihan.

"Pokoknya kalau mau ngasih gula jangan berlebihan lah. Aku selalu menganjurkan kalau ingin minum manis satu kali saja atau bisa diganti pakai buah-buahan yang manis itu kan bisa juga," tutupnya.

Jokowi Ingin Corona Turun di Mei, Ini Syarat Penting untuk Mewujudkan

Presiden RI Joko Widodo menargetkan kurva kasus COVID-19 di Indonesia akan menurun di bulan Mei hingga menjadi posisi ringan di bulan Juli. Maka dari itu, dirinya meminta seluruh jajaran baik aparat negara beserta elemen masyarakat dapat bekerja sama mewujudkannya.
"Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai, sesuai target yang kita berikan yaitu, kurvanya harus turun, dan masuk pada posisi sedang di bulan Juni, dan bulan Juli masuk pada posisi ringan, dengan cara apapun, dan itu dilakukan tidak hanya dengan Gugus Tugas COVID-19, tapi seluruh elemen bangsa," ungkap Presiden RI Joko Widodo pada Rabu (6/5/2020).

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, menilai kecil kemungkinan kurva menurun di bulan Mei. Karena laporan penambahan kasus Corona di Indonesia masih tinggi.

"Sekarang sudah masuk Mei kan masih meningkat, kasus barunya sekarang kan antara 400. Nah itu kemampuan lab-nya sekarang ini masih terbatas masih 34 lab, jadi kalau ditingkatkan jumlah lab-nya pasti meningkat terutama luar provinsi Jakarta," ungkap dr Tri saat dihubungi detikcom pada Rabu (6/5/2020).

Meski begitu menurutnya ada beberapa hal yang bisa ditingkatkan untuk segera menurunkan wabah Corona di Indonesia secepat mungkin.

1. Deteksinya tidak terhambat
Deteksi Corona dinilai dr Tri masih lambat. Perlu untuk meningkatkan kemampuan deteksi ini agar menekan penyebaran Corona di Indonesia.

"Sekarang masih terjadi delay 5 sampai 7 hari, apalagi di provinsi mungkin ada yang sampai 10 hari, kabupaten juga ada yang 10 hari, tapi rata-rata 5-7 hari, deteksinya seharusnya tidak terlambat, maksimal 2 hari," ungkapnya.

2. Isolasi kasus
Disebutkan hanya 3 ribu kasus Corona positif yang menjalani perawatan di rumah sakit. Hal ini disinggung dr Tri agar menjadi pengawasan ketat.

"Semua isolasi kasus baik yang di rumah sakit atau di rumah isolasi kasus dilakukan dengan baik. Sekarang ini isolasi di rumah yang lebih banyak dari kasusnya, jadi kalau sekarang ada 11 ribu kasus, itu berapa yang dirawat sedikit sekali bayangin 3 ribuan dirawat di RS, sisanya ada di rumah begitu," tuturnya.

"Jadi isolasi yang di rumah ini harus benar-benar isolasi, saya nggak jamin semua kasus yang diisolasi di rumah dilakukan dengan baik. Kalau nggak diisolasi dia bisa menularkan kepada orang lain," lanjutnya.

3. Contact tracing lengkap
Contact tracing lengkap pun dinilai dr Tri menjadi hal penting dalam menekan kasus penyebaran Corona di Indonesia.

"Dilakukan contact tracing lengkap, jadi kasus dilakukan contact tracing terhadap semua kasus yang ada harian itu 400-an harus ditracing, kemudian tanyakan kontaknya berapa dari setiap kasus, kalau nggak lengkap kemungkinan ada penularan orang lain," kata dr Tri.

"Kalau nggak lengkap ternyata di daerah itu banyak contact tracing yang dilakukan karena penolakan, jadi kemudian saya bilang pokoknya kalau ditolak upayakan dari RT-nya atau tetangganya, pasti bisa dilakukan contact tracing," ungkapnya.

4. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Perlunya tindakan PSBB yang tegas untuk membuat kurva kasus Corona dengan cepat menurun. dr Tri menilai hal ini adalah upaya yang tak kalah penting untuk cepat mengatasi wabah Corona di Indonesia.

"Jadi PSBB sebenarnya adalah modifikasi dari social distancing sedang atau social distancing berat, kalau berat yang hanya boleh keluar adalah kalau dia mau beli obat atau beli makanan itu baru boleh keluar, kalau sedang itu masih boleh keluar," jelasnya.

"jadi PSBB itu modifikasi antara berat dan sedang, tapi nggak berat, nah ini karena harapannya kalau misalnya menerapkan lockdown social ditancing berat yang tidak memperbolehkan keluar dan masuk, jadi otomatis kegiatan ekonominya bisa jadi 0 bahkan negatif," pungkasnya.

5. Turun jadi 200 kasus perhari
Terakhir ia menjelaskan bahwa kasus Corona bisa dianggap menurun jika laporan penambahan kasus menjadi 200 kasus perhari. "Diharapkan penurunan kasusnya turun jadi 200an, kalau 300-400 masih banyak," bebernya.

Dengan catatan tentunya, pemeriksaan tetap dilakukan dan menjangkau sebanyak mungkin warga.