Senin, 15 Juni 2020

Kalau Geprek Bensu Ganti Nama, Bakal Tetap Laku Nggak?

Pakar marketing Hermawan Kartajaya menilai brand atau merek menjadi kunci penting dalam berbisnis. Bahkan ketika nama brand suatu produk diganti bisa menyebabkan popularitasnya menurun.
Hal itu dia sampaikan dalam menyoroti perebutan nama 'Bensu' di bisnis 'I Am Geprek Bensu' yang dimiliki oleh Yangcent vs 'Geprek Bensu' yang dimiliki oleh Ruben Onsu.

Dalam perebutan tersebut, Mahkamah Agung menolak gugatan Ruben Onsu terkait nama Bensu dalam bisnis ayam geprek miliknya. Konsekuensinya, dia harus mengganti merek Geprek Bensu dengan nama lain.

"(Mengubah brand) sangat (mempengaruhi bisnisnya), karena brand itu paling penting, kalau di marketing kan paling penting," kata dia saat dihubungi detikcom, Minggu (14/6/2020).

Menurutnya amat disayangkan mengganti brand yang sudah sangat terkenal. Dia mengibaratkan mengganti brand lebih rumit ketimbang mengganti resep.

"Ruben Onsu kalau harus ganti nama nggak fair juga. Kalau harus ganti nama kasihan juga kalaupun itu punyanya dia lho," sebutnya.

Dia menjelaskan ketika suatu brand sudah disukai oleh konsumen maka amat mudah untuk memperkenalkan resep barunya agar diterima. Bahkan nantinya bisa muncul produk-produk baru dari brand tersebut.

"Jadi nggak gampang ganti brand itu, apalagi brand itu sudah terkenal, sayang. Ganti brand itu susah, ganti resep masih oke. Kalau brand-nya kuat, memperkenalkan resep baru kan lain," ujarnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan kedua pihak yang berseteru memperebutkan merek Bensu bisa berdamai, entah berbisnis bareng seperti dulu atau berbagi merek.

"Sekarang cobalah dirundingkan lagi bagaimana. Brand name, hak merek itu kan bisa hasilnya dibagi 2, punya berdua. Menurut saya penyelesaiannya itu, sehingga kalau nanti kembangin kemana-mana ya bareng-bareng gitu," tambahnya.

IDI Kritik Mal di DKI Buka Lagi Besok, Ini Respons Pengusaha

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) kurang sependapat jika pusat perbelanjaan atau mal dibuka lagi Senin (15/6) besok. IDI menyebut penyebaran Corona di Indonesia, termasuk DKI Jakarta belum landai.
"Kalau pertimbangan dari sisi medis bisa dibaca kan setiap hari Indonesia masih tambahnya seribu-seribu lebih, jadi memang intinya masih banyak, tandanya masih banyak, belum ada cerita melandai atau berkurang," kata Ketua Dewan Pertimbangan IDI, Zubairi Djoerban saat dihubungi detikcom, Sabtu (13/6/2020).

Menanggapi itu, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat mengatakan sebagai pengelola hanya mengikuti arahan Pemprov DKI Jakarta. Sehingga ia tidak mau berkomentar.

"Itu biar Pemprov yang jawab. Kita ikuti aturan Pemprov," kata Ellen kepada detikcom, Minggu (14/6/2020).

Untuk menghindari adanya penumpukan di dalam mal, Ellen bilang, setiap mal sudah dilengkapi alat khusus menghitung jumlah pengunjung. Jika sudah mencapai 50% dari kapasitas mal, pengunjung lainnya dilarang masuk mal.

"Mal punya alat headcount jadi bisa tahu berapa banyak jumlah pengunjung," ucapnya.

Tak hanya jumlah pengunjung yang dibatasi, jumlah karyawan juga akan dibatasi demi mencegah penularan COVID-19.

"Saat ini karyawan yang bisa diserap hanya sekitar 50% karena mal belum beroperasi penuh, baru start dengan 50%. Jam buka juga dibatasi dari jam 11 siang sampai jam 8 malam saja, kalau normalnya dulu kan dari jam 10 pagi sampai 10 malam," paparnya.

Heboh Rebutan Nama 'Bensu' di Bisnis Ayam Geprek, Ini Kata Pakar

Pakar marketing Hermawan Kartajaya ikut merespons keributan soal perebutan nama 'Bensu' di bisnis 'I Am Geprek Bensu' yang dimiliki oleh Yangcent vs 'Geprek Bensu' yang dimiliki oleh Ruben Onsu.
Dia menyarankan agar kedua belah pihak berdamai dan bekerja sama kembali seperti dulu, mengingat bisnis mereka sudah berkembang dengan baik. Sayang bila harus berujung konflik.

"Sebetulnya sayang kalau gini kan ya. Memang tambah terkenal secara brand (setelah heboh di masyarakat) tapi kan efeknya nggak bagus untuk kedua belah pihak," kata dia saat dihubungi detikcom, Minggu (14/6/2020).

Jika kedua pihak tidak mau berdamai, justru akan merugikan bisnis mereka masing-masing.

"Nah saya pikir lebih baik damai lah, bersatu lagi. Ini kan bensu kalau bisa bersatu kan bagus untuk kedua belah pihak. Dan untuk Yangcent ya ngalah dikit lah, sekarang sudah terkenal, ini sudah jadi dua (pecah kongsi), nanti lost-lost lho (sama-sama rugi). Harus dibikin win-win lah kalau menurut saya," ujarnya.

Terlepas dari konflik siapa yang berhak atas nama tersebut, Hermawan melihat Yangcent adalah orang yang lebih dulu menyadari peluang dari bisnis ayam geprek tersebut.

"Saya mau netral ya, Yangcent yang menemukan bahwa customer mulai senang ayam geprek dan ini peluang toh, kalau seorang entrepreneur itu kan melihat peluang. Nomor dua dia mengambil risiko, bukan menghindari risiko. Terus ketiga bisa kerjasama dengan orang," kata dia.

Namun di dalam kerja sama keduanya kala itu, mungkin Ruben Onsu merasa ada ketidakadilan sehingga pecah kongsi dan mendirikan Geprek Bensu.

"Cuma saya lihat ini masalah kolaborasi ini yang perjanjiannya mungkin belakangan Ruben Onsu mungkin melihat ini nggak fair," sebutnya.

Hermawan menilai sebenarnya hal tersebut bisa dibicarakan dengan baik-baik.

"Percuma tuntut-tuntutan bisa sampai ke Mahkamah Agung, mau kemana lagi?," tambahnya.

Kalau Geprek Bensu Ganti Nama, Bakal Tetap Laku Nggak?

Pakar marketing Hermawan Kartajaya menilai brand atau merek menjadi kunci penting dalam berbisnis. Bahkan ketika nama brand suatu produk diganti bisa menyebabkan popularitasnya menurun.
Hal itu dia sampaikan dalam menyoroti perebutan nama 'Bensu' di bisnis 'I Am Geprek Bensu' yang dimiliki oleh Yangcent vs 'Geprek Bensu' yang dimiliki oleh Ruben Onsu.

Dalam perebutan tersebut, Mahkamah Agung menolak gugatan Ruben Onsu terkait nama Bensu dalam bisnis ayam geprek miliknya. Konsekuensinya, dia harus mengganti merek Geprek Bensu dengan nama lain.

"(Mengubah brand) sangat (mempengaruhi bisnisnya), karena brand itu paling penting, kalau di marketing kan paling penting," kata dia saat dihubungi detikcom, Minggu (14/6/2020).

Menurutnya amat disayangkan mengganti brand yang sudah sangat terkenal. Dia mengibaratkan mengganti brand lebih rumit ketimbang mengganti resep.

"Ruben Onsu kalau harus ganti nama nggak fair juga. Kalau harus ganti nama kasihan juga kalaupun itu punyanya dia lho," sebutnya.

Dia menjelaskan ketika suatu brand sudah disukai oleh konsumen maka amat mudah untuk memperkenalkan resep barunya agar diterima. Bahkan nantinya bisa muncul produk-produk baru dari brand tersebut.

"Jadi nggak gampang ganti brand itu, apalagi brand itu sudah terkenal, sayang. Ganti brand itu susah, ganti resep masih oke. Kalau brand-nya kuat, memperkenalkan resep baru kan lain," ujarnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan kedua pihak yang berseteru memperebutkan merek Bensu bisa berdamai, entah berbisnis bareng seperti dulu atau berbagi merek.

"Sekarang cobalah dirundingkan lagi bagaimana. Brand name, hak merek itu kan bisa hasilnya dibagi 2, punya berdua. Menurut saya penyelesaiannya itu, sehingga kalau nanti kembangin kemana-mana ya bareng-bareng gitu," tambahnya.
https://indomovie28.net/cast/megan-neuringer/