Selasa, 14 Juli 2020

Jika Semesta Punya Jam, Detiknya 1 Miliar Triliun Triliun Lebih Cepat

Di Bumi, kita punya perhitungan jam 1x24 jam. Tapi... jika alam semesta memiliki perhitungan jam juga, hitungan per detiknya bisa lebih cepat dari satu miliar triliun triliun per detik.
Dalam fisika, waktu biasanya dianggap sebagai dimensi keempat. Tetapi beberapa fisikawan berspekulasi bahwa waktu mungkin merupakan hasil dari proses fisik, seperti detak bawaan dari jam itu sendiri.

Jika alam semesta benar-benar memiliki jam fundamental, ia harus berdetak lebih cepat dari satu miliar triliun triliun kali per detik, menurut sebuah studi teoritis yang diterbitkan 19 Juni di Physical Review Letters.

Waktu sendiri merupakan konsep yang kerap diperdebatkan, bahkan dua teori fisika saling bertentangan tentang bagaimana mereka mendefinisikannya. Dalam mekanika kuantum, yang menggambarkan atom dan partikel kecil, waktu adalah suatu hal yang sudah pasti menurut fisikawan Flaminia Giacomini dari Perimeter Institute di Waterloo, Kanada.

Tetapi dalam teori relativitas umum, yang menggambarkan gravitasi, waktu bergeser dengan cara yang aneh. Jam di permukaan Bumi sedikit tertinggal bila dibandingkan dengan jam pada satelit yang mengorbit.

Sebelumnya sudah ada jam atomik. Namun bila dapat ditemukan jam alam semesta atau jam fundamental, waktu Planck mungkin merupakan perhitungan yang masuk akal. Waktu Planck sendiri merupakan waktu yang dibutuhkan cahaya untuk berjalan, dalam vakum, jarak 1 Planck.

Kendati demikian, fisikawan perimeter Bianca Dittrich, yang tidak terlibat dengan penelitian berpikir bahwa mungkin tidak akan pernah ada satu jam fundamental di alam semesta, melainkan beberapa hal yang dapat digunakan untuk mengukur waktu.

Bos Teknologi yang Rasis Pada Orang Asia Kena Batunya

Seorang bos perusahaan teknologi asal San Fransisco sempat viral minggu lalu karena tertangkap kamera melontarkan ucapan rasis kepada keluarga Asia-Amerika. Kini ia telah mundur dari jabatan di perusahaannya.
Pelaku pun kena batunya. Selain dihujani kritik netizen, Michael Lofthouse yang merupakan CEO dari perusahaan Cloud8 dalam keterangannya mengatakan ia telah mundur dan tidak lagi memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan yang ia pimpin.

"Saya dapat memastikan bahwa saya telah mundur dari Solid8, memutuskan semua hubungan bisnis dengan segera," kata Lofthouse dalam emailnya kepada CNN, seperti dikutip detikINET, Selasa (14/7/2020).

"Akan menjadi tugas saya untuk memastikan tindakan pribadi saya tidak berdampak buruk terhadap orang-orang terdekat saya," sambungnya.

Seperti diketahui, Lofthouse tertangkap kamera melontarkan ucapan rasis kepada keluarga Jordan Chan yang sedang merayakan ulang tahun tantenya di restoran Lucia di California, AS.

Keluarga itu merekam perkataan kotor sang pria. "Trump's going to f**k you. You f**kers need to leave ... You f***ing Asian piece of sh*t," begitu kata dia. Ini sungguh sebuah perkataan kasar yang mengagetkan.

Tidak lama setelah video ucapan rasisnya viral, Lofthouse langsung meminta maaf lewat keterangan resmi yang dirilis oleh akun Twitter perusahaannya. Ia menyebut perilakunya saat itu menjijikkan dan ia telah kehilangan kontrol.

Setelah itu, muncul banyak petisi di situs Change.org yang meminta Lofthouse untuk mundur dari jabatannya. Ada juga yang meminta Solid8 untuk langsung memecat Lofthouse.

Dalam keterangan yang baru ia rilis, Lofthouse mengakui bahwa ucapannya pada keluarga Chan rasis, menyakitkan dan sangat tidak pantas. Ia juga mengatakan telah memulai lagi proses untuk menjauhi minuman beralkohol sekaligus mengikuti program anti rasisme.
https://cinemamovie28.com/younger-sister-2-2/

Ini Alasan Uni Emirat Arab Ngebet Datangi Planet Mars

 Uni Emirat Arab (UAE) untuk pertama kalinya akan meluncurkan satelit bernama Hope ke planet Mars. Apa alasan negara Arab itu menjelajah planet Merah?
Wahana Hope seberat 1,2 ton, bakal diluncurkan sebentar lagi dengan digendong roket H-2A dari landasan antariksa Tanegashima di Jepang. Ia akan menempuh perjalanan 500 juta kilometer ke antariksa dan dijadwalkan tiba Februari 2021, bertepatan perayaan 50 tahun Uni Emirat Arab.

UEA minim pengalaman mendesain dan menciptakan wahana antariksa, tapi mereka berambisi menyaingi dedengkot luar angkasa semacam Amerika Serikat, Rusia dan Eropa. Mereka maju terus.

Engineer mereka dilatih oleh pakar dari Amerika, berhasil membuat wahana canggih dalam waktu 6 tahun. Saat sampai di orbit Mars, ia dirancang untuk meneliti atmosfernya, mempelajari cuaca dan iklim planet Merah.

Diharapkan, penelitian dari wahana UEA ini bakal menambah pengetahuan tentang kenapa Mars kehilangan banyak udara dan air. Misi besar yang diharapkan meningkatkan gairah bakat-bakat cemerlang di wilayah Arab untuk menekuni sains.

Satelit ke Mars adalah salah satu proyek pemerintah UEA sebagai pertanda mereka ingin menurunkan ketergantungan pada sumber daya alam menuju masa depan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.

Akan tetapi risikonya memang sangat tinggi. Sekitar separuh misi ke planet Mars berakhir dengan kegagalan. Direktur program Hope, Omran Sharif, menyadari hal itu tapi menekankan bahwa negaranya patut mencoba.

"Ini adalah misi riset dan ya kegagalan itu mungkin. Apa yang paling penting di sini adalah kapabilitas yang didapat oleh UEA dalam misi ini dan pengetahuan yang dibawa bagi negeri ini," cetusnya.

Bekerja sama dengan pakar AS, kebanyakan proses produksi wahana Uni Emirat Arab itu berlangsung di Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP), University of Colorado. Akan tetapi banyak pekerjaan juga dilakukan di Mohammed Bin Rashid Space Centre (MBRSC), Dubai.

Brett Landing selaku system engineer senior LASP meyakini UEA kini sudah berpeluang melakukan misi lain dengan kemandirian penuh. "Engineer mereka sudah melakukannya dan tahu bagaimana mengerjakannya saat nanti mereka membuat pesawat antariksa," tutur dia.

Menariknya lagi, 34% dari seluruh orang dari UEA yang mengerjakan proyek besar ini adalah perempuan. Salah satunya adalah Menteri Sains, Sarah Al Amiri.

Wahana pengorbit ini akan menggunakan tiga instrumen untuk mempelajari atmosfer, cuaca dan iklim di Mars dari orbit. Observasi tersebut akan membantu astronom memahami transisi Mars dari planet yang hangat dan memiliki air menjadi planet yang dingin dan kering seperti saat ini.

Dalam melangsungkan penelitian, seperti dikutip detikINET dari BBC, wahana UEA nantinya akan berada di jarak antara 22 ribu sampai 44 ribu kilometer dari Mars.

Juli memang menjadi bulan yang penting bagi misi menuju Mars. Selain dari UEA, pesawat antariksa dari NASA Amerika Serikat (AS) dan China akan melesat juga ke sana.

Kenapa Uni Emirat Arab dan negara-negara itu menuju Mars di bulan yang sama? Ini dikarenakan pada pertengahan Juli dan Agustus Bumi dan Mars berada dalam posisi terbaiknya satu sama lain sehingga memungkinkan perjalanan sesingkat mungkin.
https://cinemamovie28.com/zebra/