Rabu, 15 Juli 2020

Hana Hanifah Terjerat Prostitusi, Mapan Cara Instan Jadi Sorotan

Artis FTV Hana Hanifah terseret kasus dugaan prostitusi. Meski berstatus sebagai saksi, polisi tetap mengungkap sejumlah fakta mengejutkan terkait dugaan prostitusi yang melibatkan Hana.
Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko menduga kasus prostitusi Hana karena faktor ekonomi. Menurut Riko, ada keuntungan besar dalam kasus ini.

"Alasannya tadi sudah saya sampaikan, menjanjikan keuntungan ekonomi yang sangat besar," ujar Riko.

Nuzulia Rahma Tristinarum, psikolog klinis dari Pro Help Center yang juga seorang penulis, menjelaskan kemungkinan motif ekonomi dalam kasus prostitusi bisa disebabkan beberapa hal. Termasuk salah satunya adalah gaya hidup.

"Kalau dari data tersebut kan karena faktor ekonomi. Dalam arti keuntungan ekonomi yang besar. Keinginan hidup mapan secara instan," jelas Rahma saat dihubungi detikcom Rabu (15/7/2020).

"Yang dimaksud faktor ekonomi di sini bukan kebutuhan ekonomi untuk biaya hidup sehari hari tetapi ada keinginan ekonomi atau keinginan untuk kehidupan yang mapan," lanjut Rahma.

Sebagai contoh, motif ekonomi menurut Rahma tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja. Bisa jadi kebutuhan dalam memenuhi tuntutan gaya hidup yang diinginkan.

"Contoh keinginan hidup mapan adalah keinginan beli baju, tas, handphone dan barang barang ber-merk. Keinginan hidup gaya dan hidup kaya tanpa kerja keras," pungkasnya.

Bayi Lahir Positif Corona Jadi Bukti Penularan Terjadi di Rahim

Seorang bayi yang terlahir dengan infeksi Corona jadi salah satu bukti bahwa penularan bisa terjadi selama kehamilan. Bayi yang lahir di Texas, Amerika Serikat, ini segera dilarikan di unit perawatan intensif setelah mengalami masalah pernapasan.
Sang ibu, sebelumnya didiagnosa mengidap COVID-19. Bayinya setelah lahir mengalami masalah pernapasan dan demam. Ketika para peneliti menganalisis plasenta, mereka menemukan jejak peradangan dan jejak virus Corona COVID-19.

"Studi kami adalah yang pertama kali mendokumentasikan penularan selama kehamilan berdasarkan bukti imunohistokimia dan ultrastruktural dari infeksi SARS-CoV-2 dalam sel janin plasenta," kata peneliti dr Amanda Evans dari Universitas Texas dari Pusat Medis Universitas Texas Barat Daya dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Pediatric Infectious Disease.

Peneliti juga menyebut kasus ini menjadi bukti bayi bisa tertular di dalam rahim. Pekan lalu, para ahli di Italia juga menemukan 'bukti kuat' penularan janin setelah virus ditemukan di dalam darah tali pusat dan plasenta.

Untuk kasus di Texas, bayi tersebut lahir prematur di usia 34 minggu. Karena adanya kecurigaan terpapar COVID-19, ia ditempatkan di unit perawatan intensif neonatal.

Tes lebih lanjut dari plasenta mengungkapkan adanya partikel Corona dan protein yang diyakini spesifik untuk COVID-19. Karena hasil ini, para peneliti menyimpulkan bahwa COVID-19 ditularkan kepada bayi dalam kandungan, bukan selama atau setelah kelahirannya.

Bayi itu diberi oksigen tambahan selama beberapa hari dan dinyaakan positif COVID selama dua minggu pertama kehidupannya. Tiga minggu setelah dia lahir, dia dan ibunya dipulangkan, dan keduanya dikatakan dalam kondisi baik.
https://nonton08.com/guilty/

Perlu Tahu, Ini 3 Kota dengan Angka Kematian Corona Tertinggi di Jawa Barat

Hingga Rabu (15/7/2020), siang, jumlah kasus COVID-19 di Jawa Barat telah mencapai 5.235 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.924 pasien telah dinyatakan sembuh dan 186 meninggal dunia.
Anggota Tim Ahli Epidemiologi dan Informatika Gugus Tugas, dr Dewi Nur Aisyah, mengatakan Depok, Bandung, dan Bogor memiliki angka kematian tertinggi di Jawa Barat.

"Dari angka kematian ini nomor satu masih Kota Depok, sedangkan yang kedua adalah Kota Bandung 1,77 per 100.000 penduduk, yang ketiga adalah Kota Bogor 1,43," kata dr Dewi di siaran langsung BNPB melalui kanal YouTube, Rabu (15/7/2020).

Angka kematian akibat COVID-19 di ketiga kota tersebut adalah sebagai berikut, dikutip dari data BNPB per 12 Juli 2020:

- Kota Depok: 1,78 kasus per 100.000 penduduk
- Kota Bandung: 1,77 kasus per 100.000 penduduk
- Kota Bogor: 1,43 kasus per 100.000 penduduk

Menurut dr Dewi, tingginya angka kematian di tiga kota tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor dan perlu diselidiki lebih lanjut agar dapat ditanggulangi.

"Ini yang angka kematiannya tinggi, ini karena apa? Apakah ada keterlambatan? Apakah lama dirujuknya atau seperti apa kan harus diurai," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data BNPB jumlah kasus positif Corona terbanyak di Jawa Barat per 12 Juli 2020, yaitu Kota Depok (845), Kota Bekasi (586), dan Kota Bandung (428).

Hana Hanifah Terjerat Prostitusi, Mapan Cara Instan Jadi Sorotan

Artis FTV Hana Hanifah terseret kasus dugaan prostitusi. Meski berstatus sebagai saksi, polisi tetap mengungkap sejumlah fakta mengejutkan terkait dugaan prostitusi yang melibatkan Hana.
Kapolrestabes Medan Kombes Riko Sunarko menduga kasus prostitusi Hana karena faktor ekonomi. Menurut Riko, ada keuntungan besar dalam kasus ini.

"Alasannya tadi sudah saya sampaikan, menjanjikan keuntungan ekonomi yang sangat besar," ujar Riko.

Nuzulia Rahma Tristinarum, psikolog klinis dari Pro Help Center yang juga seorang penulis, menjelaskan kemungkinan motif ekonomi dalam kasus prostitusi bisa disebabkan beberapa hal. Termasuk salah satunya adalah gaya hidup.

"Kalau dari data tersebut kan karena faktor ekonomi. Dalam arti keuntungan ekonomi yang besar. Keinginan hidup mapan secara instan," jelas Rahma saat dihubungi detikcom Rabu (15/7/2020).

"Yang dimaksud faktor ekonomi di sini bukan kebutuhan ekonomi untuk biaya hidup sehari hari tetapi ada keinginan ekonomi atau keinginan untuk kehidupan yang mapan," lanjut Rahma.

Sebagai contoh, motif ekonomi menurut Rahma tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja. Bisa jadi kebutuhan dalam memenuhi tuntutan gaya hidup yang diinginkan.

"Contoh keinginan hidup mapan adalah keinginan beli baju, tas, handphone dan barang barang ber-merk. Keinginan hidup gaya dan hidup kaya tanpa kerja keras," pungkasnya.

Bayi Lahir Positif Corona Jadi Bukti Penularan Terjadi di Rahim

Seorang bayi yang terlahir dengan infeksi Corona jadi salah satu bukti bahwa penularan bisa terjadi selama kehamilan. Bayi yang lahir di Texas, Amerika Serikat, ini segera dilarikan di unit perawatan intensif setelah mengalami masalah pernapasan.
Sang ibu, sebelumnya didiagnosa mengidap COVID-19. Bayinya setelah lahir mengalami masalah pernapasan dan demam. Ketika para peneliti menganalisis plasenta, mereka menemukan jejak peradangan dan jejak virus Corona COVID-19.

"Studi kami adalah yang pertama kali mendokumentasikan penularan selama kehamilan berdasarkan bukti imunohistokimia dan ultrastruktural dari infeksi SARS-CoV-2 dalam sel janin plasenta," kata peneliti dr Amanda Evans dari Universitas Texas dari Pusat Medis Universitas Texas Barat Daya dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Pediatric Infectious Disease.

Peneliti juga menyebut kasus ini menjadi bukti bayi bisa tertular di dalam rahim. Pekan lalu, para ahli di Italia juga menemukan 'bukti kuat' penularan janin setelah virus ditemukan di dalam darah tali pusat dan plasenta.

Untuk kasus di Texas, bayi tersebut lahir prematur di usia 34 minggu. Karena adanya kecurigaan terpapar COVID-19, ia ditempatkan di unit perawatan intensif neonatal.

Tes lebih lanjut dari plasenta mengungkapkan adanya partikel Corona dan protein yang diyakini spesifik untuk COVID-19. Karena hasil ini, para peneliti menyimpulkan bahwa COVID-19 ditularkan kepada bayi dalam kandungan, bukan selama atau setelah kelahirannya.

Bayi itu diberi oksigen tambahan selama beberapa hari dan dinyaakan positif COVID selama dua minggu pertama kehidupannya. Tiga minggu setelah dia lahir, dia dan ibunya dipulangkan, dan keduanya dikatakan dalam kondisi baik.
https://nonton08.com/the-light-between-oceans/