Rabu, 15 Juli 2020

Ditargetkan Dapat Izin Edar 2021, Ini Fakta Vaksin Corona Sinovac

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menyampaikan perkembangan beberapa vaksin Corona di Indonesia. Dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Menkes Terawan menyebut salah satu vaksin corona paling cepat ditargetkan sudah mendapat izin edar awal tahun 2021.
Vaksin tersebut diketahui merupakan kerja sama internasional antara Biofarma dan Sinovac. "Biofarma dan Sinovac estimasi persetujuan izin edar pada awal tahun 2021," kata Menkes Terawan.

Berikut beberapa fakta-fakta vaksin yang dikembangkan Sinovac:

1. Masuk uji tahap 3
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac dilaporkan sudah mendapat persetujuan untuk menjalani uji klinis tahap tiga. Dalam tahap ini vaksin akan kembali diuji terkait toksisitas dan kemampuannya merangsang respons imun pada populasi yang luas.

2. Terbuat dari virus yang sudah dinonaktifkan
Sinovac mengembangkan vaksin COVID-19 dari virus yang sudah dinonaktifkan. Artinya vaksin mengandung virus, namun sudah 'dilemahkan' sehingga tidak bisa menimbulkan penyakit infeksi.

3. Diklaim bisa ciptakan kekebalan pada 90 persen orang
Hasil uji klinis tahap satu dan dua melihat vaksin buatan Sinovac berhasil merangsang kekebalan tubuh pada lebih dari 90 persen relawan yang terlibat dalam studi. Selain itu sejauh ini belum ada efek samping serius yang dilaporkan.

50 Hari Tak Ada Kasus, Kini Thailand Hadapi Risiko Gelombang Kedua Corona

Pemerintah Thailand kini memperketat aturan masuknya orang asing ke negaranya setelah muncul dua kasus virus Corona impor atau imported case. Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi COVID-19.
Thailand sempat menyatakan 'merdeka' dari virus Corona setelah 50 hari tanpa kasus baru baik transmisi lokal atau kasus impor. Tetapi baru-baru ini ada dua kasus impor namun menyebabkan sekitar 400 warga harus menjalani karantina mandiri karena adanya risiko penularan.

Mereka yang diisolasi disebut akibat terpapar COVID-19 dari awak pesawat militer Mesir berusia 43 tahun di Provinsi Rayong Timur, dan dari seorang anak perempuan anggota keluarga diplomat berusia 9 tahun di Bangkok. Kedua kasus ini sempat dikecualikan dari karantina wajib 14 hari.

Pemerintah mengakui bahwa peraturan untuk diplomat dan awak pesawat, yang termasuk di antara beberapa kategori orang asing yang diizinkan masuk sejak Maret dengan persyaratan isolasi diri, terlalu longgar.

"Ini harusnya tidak terjadi, saya benar-benar minta maaf karena itu dan saya ingin meminta maaf kepada publik," kata Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha, dikutip dari Reuters.

Kekhawatiran kini menyebar di antara warga Thailand bahwa gelombang kedua Corona akan terjadi dan lockdown bisa kembali diberlakukan.

Saat ini dua sekolah di Bangkok ditutup dan setidaknya 10 sekolah di Provinsi Rayong. Satu pusat perbelanjaan juga ditutup sebab warga Mesir tersebut diketahui sempat menghabiskan waktu di sana sebelum bertolak ke negara lain.

Semua diplomat dan anggota keluarga, yang sebelumnya diizinkan untuk menyendiri di tempat tinggal mereka, sekarang harus dikarantina di bawah pengawasan pemerintah.
https://nonton08.com/doraemon-stand-by-me-doraemon/

Respons Kekebalan yang Lemah Jadi Tantangan Pengembangan Vaksin Corona

Beberapa studi dari China, Jerman, dan Inggris menunjukkan bahwa orang yang pernah terinfeksi virus Corona akan memiliki antibodi atau kekebalan pada tubuhnya. Namun, ini hanya berlangsung dalam beberapa bulan saja.
"Umumnya antibodi akan terbentuk, tetapi seringkali antibodi itu menghilang dengan cepat, menunjukkan mungkin hanya ada sedikit kekebalan," kata Daniel Altmann, seorang profesor imunologi di Imperial College London, seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (15/7/2020).

Menurut para ilmuwan, ini akan bisa jadi tantangan dalam mengembangkan vaksin COVID-19. Terlebih belum ada data dari uji klinis tahap awal yang bisa menunjukkan berapa lama vaksin bisa memberikan efek perlindungan.

"Ini artinya ketergantungan yang berlebihan terhadap vaksin (untuk mengendalikan pandemi) tidak bijaksana," kata Stephen Griffin, seorang profesor kedokteran di Universitas Leeds.

Agar vaksin benar-benar efektif, Stephen mengatakan vaksin COVID-19 perlu menghasilkan kekebalan yang lebih kuat dan jauh lebih tahan lama.

"Atau mungkin perlu diberikan secara teratur... dan ini bukanlah hal yang mudah," ujarnya.

Saat ini sudah lebih dari 100 peneliti dari berbagai perusahaan di seluruh dunia yang sedang berusaha mengembangkan vaksin Corona dan sudah ada 17 kandidat vaksin yang telah diuji klinis pada manusia.

Ditargetkan Dapat Izin Edar 2021, Ini Fakta Vaksin Corona Sinovac

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto menyampaikan perkembangan beberapa vaksin Corona di Indonesia. Dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Menkes Terawan menyebut salah satu vaksin corona paling cepat ditargetkan sudah mendapat izin edar awal tahun 2021.
Vaksin tersebut diketahui merupakan kerja sama internasional antara Biofarma dan Sinovac. "Biofarma dan Sinovac estimasi persetujuan izin edar pada awal tahun 2021," kata Menkes Terawan.

Berikut beberapa fakta-fakta vaksin yang dikembangkan Sinovac:

1. Masuk uji tahap 3
Vaksin COVID-19 buatan Sinovac dilaporkan sudah mendapat persetujuan untuk menjalani uji klinis tahap tiga. Dalam tahap ini vaksin akan kembali diuji terkait toksisitas dan kemampuannya merangsang respons imun pada populasi yang luas.

2. Terbuat dari virus yang sudah dinonaktifkan
Sinovac mengembangkan vaksin COVID-19 dari virus yang sudah dinonaktifkan. Artinya vaksin mengandung virus, namun sudah 'dilemahkan' sehingga tidak bisa menimbulkan penyakit infeksi.

3. Diklaim bisa ciptakan kekebalan pada 90 persen orang
Hasil uji klinis tahap satu dan dua melihat vaksin buatan Sinovac berhasil merangsang kekebalan tubuh pada lebih dari 90 persen relawan yang terlibat dalam studi. Selain itu sejauh ini belum ada efek samping serius yang dilaporkan.

50 Hari Tak Ada Kasus, Kini Thailand Hadapi Risiko Gelombang Kedua Corona

Pemerintah Thailand kini memperketat aturan masuknya orang asing ke negaranya setelah muncul dua kasus virus Corona impor atau imported case. Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang gelombang kedua infeksi COVID-19.
Thailand sempat menyatakan 'merdeka' dari virus Corona setelah 50 hari tanpa kasus baru baik transmisi lokal atau kasus impor. Tetapi baru-baru ini ada dua kasus impor namun menyebabkan sekitar 400 warga harus menjalani karantina mandiri karena adanya risiko penularan.

Mereka yang diisolasi disebut akibat terpapar COVID-19 dari awak pesawat militer Mesir berusia 43 tahun di Provinsi Rayong Timur, dan dari seorang anak perempuan anggota keluarga diplomat berusia 9 tahun di Bangkok. Kedua kasus ini sempat dikecualikan dari karantina wajib 14 hari.

Pemerintah mengakui bahwa peraturan untuk diplomat dan awak pesawat, yang termasuk di antara beberapa kategori orang asing yang diizinkan masuk sejak Maret dengan persyaratan isolasi diri, terlalu longgar.
https://nonton08.com/lukisan-ratu-kidul-2/