Selasa, 28 Juli 2020

Jessica Iskandar Akui Idap Graves Disease Autoimmune, Ini Faktor Risikonya

Belum lama ini artis Jessica Iskandar mengaku didiagnosis mengidap graves disease autoimmune. Penyakit ini merupakan kondisi saat sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang kelenjar tiroid.
"Kemarin dikasih tau dokter, bahwa sudah dipastikan sakit yang aku alami saat ini namanya graves disease autoimmune," jelas Jessica di channel YouTube miliknya, yang dikutip detikcom pada Senin (27/7/2020).

Dikutip dari Medical News Today, hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab seseorang mengalami graves disease autoimmune. Ada beberapa faktor yang dianggap bisa membuat seseorang lebih berisiko terkena penyakit ini, seperti sebagai berikut:

- Genetik: Adanya riwayat keluarga yang mengidap graves disease autoimmune juga meningkatkan risiko anggota keluarga lainnya untuk terkena penyakit tersebut.

- Jenis kelamin: Wanita lebih berisiko terkena penyakit ini.

- Usia: Graves disease autoimmune lebih sering terjadi pada wanita berusia di bawah 40 tahun.

- Kehamilan: Wanita yang sedang hamil atau baru saja melahirkan juga berisiko terkena Graves disease autoimmune.

- Stres: Sering mengalami stres secara emosional atau fisik bisa meningkatkan risiko terkena Graves disease autoimmune.

- Merokok: Seseorang yang memiliki kebiasaan merokok lebih berisiko terkena penyakit tersebut.

Kata Vaksinolog Soal Konspirasi China Ambil Untung dari Vaksin Corona

 Uji klinis tahap III vaksin Corona buatan perusahaan farmasi Sinovac, China, sempat mengundang kontroversi. Sebagian dari mereka menolak vaksin karena alasan ini konspirasi dari China yang ingin mengambil untung dari pandemi.
"Permainan licik otak komunis... Mereka menyebar virus, mereka juga yang buat vaksinnya...," kata salah satu netizen pengguna Facebook.

Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, menjelaskan bahwa sebetulnya tidak hanya China yang saat ini mengembangkan vaksin Corona COVID-19. Inggris, Korea, Amerika Serikat, Jerman, bahkan Indonesia sendiri juga sedang berusaha membuat vaksin.

"Kandidat vaksin COVID ada beberapa. Ada dari China, dari Inggris, kemudian negara-negara lain juga mengembangkan. Jadi kebetulan yang kita pilih, pemerintah kita pilih, kandidat vaksin COVID dari Sinovac ini," kata dr Dirga saat dihubungi detikcom, Senin (27/7/2020).

"Misalnya bulan depan ada perusahaan vaksin dari Korea, Genexine, itu juga akan melakukan uji coba kandidat vaksin di Indonesia. Jadi tidak benar ini hanya dari China atau apa. Bahwa China, selain Inggris, bisa lebih awal ya wajar karena memang penyakit ini awalnya dari sana. Mereka punya waktu duluan untuk mengembangkan," lanjut pria lulusan University of Siena ini.

Untuk diketahui vaksin Corona yang akan diuji di Indonesia merupakan uji klinis tahap III. Ini artinya vaksin tersebut sudah lulus uji klinis tahap I dan II yang melihat faktor keamanan dan efektivitasnya.

Relawan yang berpartisipasi juga akan disaring untuk memenuhi standar. Oleh sebab itu dr Dirga mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir.
https://kamumovie28.com/inazuma-eleven-episode-17-subtitle-indonesia/

ASN-Nakes Bisa Daftar Jadi Relawan Uji Klinis Vaksin Corona Sinovac

Tim penelitian uji klinis vaksin Corona Sinovac, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjajaran (Unpad), mengungkapkan masyarakat yang hendak menjadi relawan bisa dari berbagai kalangan. Begitu juga bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga kesehatan (nakes) bisa mendaftar sebagai relawan vaksin.
Peneliti dari FK UNPAD Prof Kusnandi Rusmil mengatakan persyaratan bagi relawan yang akan mengikuti uji klinis harus dipastikan sehat dan berusia antara 18 hingga 59 tahun.

"Tenaga kesehatan juga boleh menjadi relawan asal tadi sehat dan tidak ada indikasi tertular COVID-19. Karena pengawasan nanti kita ada timnya dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS)," kata Kusnandi di Balai Kota, Senin (27/7/2020).

Kusnandi mengatakan, tidak hanya bagi tenaga medis, peluang menjadi relawan uji klinis vaksin juga akan terbuka bagi masyarakat.

"Masyarakat yang mau ikut dipersilahkan, nanti setelah kita mendapat izin baru setelah itu buka pendaftaran dan yang paling cepat daftar akan kita proses," ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengungkapkan tidak ada paksaan bagi para ASN yang ingin menjadi relawan uji klinis vaksin Sinovac.

"ASN minta daftar silahkan, boleh asal memenuhi kriteria, mendukung program tersebut dan berharap segera terdapat vaksin COVID-19," tandasnya.

Manajer Lapangan Uji Klinis Vaksin COVID-19 Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Eddy Fadlyana mengatakan hingga saat ini pendaftaran relawan secara resmi belum dibuka. Pihaknya masih menunggu pernyataan perizinan dari Komite Etik internal.

"Kita belum bisa mencatat ada berapa orang yang mendaftar karena belum dapat izin dari Komite Etik. Rencananya hari ini izin akan keluar dan besok kita akan mulai membagikan selebaran-selebaran kepada masyarakat," kata Eddy.

Jessica Iskandar Akui Idap Graves Disease Autoimmune, Ini Faktor Risikonya

Belum lama ini artis Jessica Iskandar mengaku didiagnosis mengidap graves disease autoimmune. Penyakit ini merupakan kondisi saat sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang kelenjar tiroid.
"Kemarin dikasih tau dokter, bahwa sudah dipastikan sakit yang aku alami saat ini namanya graves disease autoimmune," jelas Jessica di channel YouTube miliknya, yang dikutip detikcom pada Senin (27/7/2020).

Dikutip dari Medical News Today, hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab seseorang mengalami graves disease autoimmune. Ada beberapa faktor yang dianggap bisa membuat seseorang lebih berisiko terkena penyakit ini, seperti sebagai berikut:

- Genetik: Adanya riwayat keluarga yang mengidap graves disease autoimmune juga meningkatkan risiko anggota keluarga lainnya untuk terkena penyakit tersebut.

- Jenis kelamin: Wanita lebih berisiko terkena penyakit ini.

- Usia: Graves disease autoimmune lebih sering terjadi pada wanita berusia di bawah 40 tahun.

- Kehamilan: Wanita yang sedang hamil atau baru saja melahirkan juga berisiko terkena Graves disease autoimmune.

- Stres: Sering mengalami stres secara emosional atau fisik bisa meningkatkan risiko terkena Graves disease autoimmune.

- Merokok: Seseorang yang memiliki kebiasaan merokok lebih berisiko terkena penyakit tersebut.
https://kamumovie28.com/inazuma-eleven-episode-12-subtitle-indonesia/