Kamis, 06 Agustus 2020

Ramai Herbal Diklaim 'Obat COVID-19', Pakar Jelaskan Khasiat Sebenarnya

- Berbagai obat herbal tradisional kerap diklaim dapat menyembuhkan infeksi virus Corona COVID-19. Peneliti Indonesia mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada obat Corona, herbal tradisional seperti jamu yang sudah terbukti khasiatnya hanya bisa membantu meringankan penyakit penyerta.
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BBPPTOOT), Kementerian Kesehatan, Akhmad Saikhu, menegaskan obat herbal tradisional tidak bisa menyembuhkan COVID-19. "Penggunaan herbal atau jamu ini sebenarnya tidak bisa disebut menyembuhkan COVID-19," kata Saikhu dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Rabu (5/8/2020).

"Jamu atau herbal bisa dipakai untuk meringankan gejala-gejala penyakit penyerta. Tujuannya seperti itu. Jadi bukan untuk menyembuhkan COVID-nya seperti ada beberapa informasi misleading beberapa hari ini," lanjutnya.

Sebagai contoh ramuan jamu seledri, pegagan, daun kumis kucing, temulawak, kunyit, hingga meniran dijelaskan oleh Saikhu bisa membantu seseorang mengendalikan hipertensi yang menurut data jadi komorbid nomor satu pada pasien Corona.

Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Togi Junice Hutadjulu, mengimbau masyarakat agar memilih jamu yang sudah mendapat izin edar. Hal ini bisa diketahui dengan mengecek label pada kemasan.

Jamu yang sudah mendapat izin edar disebut Togi aman dikonsumsi dan bermanfaat karena sudah melalui uji coba.

"Masyarakat harus berhati-hati karena dalam kondisi seperti ini banyak sekali tawaran-tawaran atau endorse. Klaim-klaimnya menyembuhkan COVID, harga murah, dan sebagainya," ungkap Togi dalam kesempatan yang sama.

Bukan Cuma 2, Ternyata Ada 4 Tipe Diabetes! Ini Daftarnya

 Pada umumnya, diabetes berbicara mengenai insulin di dalam tubuh. Insulin merupakan hormon yang keluar dari pankreas.
"Insulin bekerja membuka pintu sel jadi seperti anak kunci. Jika insulin menempel pada sel yang terbuka masuknya gula dipakai untuk energi di dalam tubuh," jelas dr Roy Panusnan Sibarani SpPD-KEMD, FES dalam diskusi via Zoom, Rabu (05/08/2020).

Diabetes adalah suatu kondisi yang mengganggu kemampuan tubuh untuk memproses glukosa darah. Jenisnya ada banyak, tapi yang populer tipe 1 dan tipe 2.

Sedikitnya ada 4 tipe diabetes yang dikenal yaitu:

1. Diabetes tipe 1
Seseorang masuk kategori ini, biasanya terkena saat masih muda sekitar umur 8 dan 9 tahun. Namun, terkadang lebih tua sedikit yaitu umur 17 dan 18 tahun.

Orang dengan diabetes tipe 1 tergantung pada insulin yang berarti mereka harus mengonsumsi insulin buatan.

"Kalau dia (pengidap) diabetes tipe 1 udah engga bisa keluarin insulin apa-apa, udah habis aja," jelas dr Roy.

2. Diabetes tipe 2
Seseorang yang rentan terkena kategori ini adalah orang dewasa yang banyak makan tetapi malas olahraga.

Malas bergerak membuat perut semakin gemuk. Hal ini menimbulkan insulin resisten yaitu kondisi sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik.

"Insulin enggak bisa nempel pada selnya jadi pintunya enggak bisa dibuka, insulin bukan ga ada tetapi tidak bisa menempel dengan baik," ucap dr Roy.

3. Diabetes gestational
Disebut juga diabtes gestational. Tipe ini terjadi pada wanita hamil sehingga tidak terjadi pada semua wanita dan biasanya sembuh setelah melahirkan.

4. Diabetes tipe lain
Seseorang dikategorikan tipe ini jika tidak tipe lain. Diabetes tipe ini tidak berkaitan dengan kadar gula darah, melainkan karena ada defisiensi nutrisi kadar insulin menuju otak.
https://kamumovie28.com/project-a/

Resesi Adalah...

 Resesi menjadi kata yang ramai diperbincangkan akhir-akhir ini. Sebenarnya apa sih resesi itu?
Resesi adalah situasi yang terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Jika dalam kuartal berikutnya ekonomi tetap negatif, maka resesi berlanjut. Sebuah negara berhasil keluar dari resesi ketika ekonominya sudah bisa tumbuh positif lagi.

Nah, Indonesia sudah hampir masuk ke resesi nih. Pasalnya, di kuartal II-2020, ekonomi Indonesia minus -5,32% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu.

Jika di kuartal III-2020 ekonomi kembali minus, maka Indonesia resmi masuk resesi. Mudah-mudahan pemerintah bisa membuat gebrakan selama tiga bulan ke depan supaya resesi tidak terjadi.

Beda Resesi dengan Krisis dan Depresi

Jangan sampai salah mengerti, resesi ekonomi beda dengan krisis, apalagi dengan depresi ekonomi. Krisis adalah keadaan yang mengacu pada penurunan kondisi ekonomi drastis yang terjadi di sebuah negara.

Penyebab krisis ekonomi adalah fundamental ekonomi yang rapuh antara lain tercermin dari laju inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang macet.

Penyebabnya juga dikarenakan beban utang luar negeri yang melimpah dan melebihi kemampuan bayar, investasi yang tidak efisien, defisit neraca pembayaran yang besar dan tidak terkontrol.

Gejala krisis ekonomi biasanya didahului oleh penurunan kemampuan belanja pemerintah, jumlah pengangguran melebihi 50% dari jumlah tenaga kerja, penurunan konsumsi atau daya beli rendah, kenaikan harga bahan pokok yang tidak terbendung, penurunan pertumbuhan ekonomi yang berlangsung drastis dan tajam, dan penurunan nilai tukar yang tajam dan tidak terkontrol.

Krisis ekonomi biasanya mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, angka pengangguran naik, pemerintah kesulitan membiayai belanja, dan harga kebutuhan naik tajam.

Sedangkan depresi ekonomi, sebenarnya tidak ada definisi standar tentang perbedaan antara resesi dengan depresi. Tapi, depresi ekonomi biasanya lebih parah dalam hal besarnya dan lamanya kontraksi ekonomi.

Mengutip Fortune, terdapat perbedaan yang jelas dalam penurunan PDB dan jangka waktu krisis antara resesi dengan depresi.

Dalam resesi, penurunan PDB berada di kisaran -0,3% hingga -5,1%. Di Amerika Serikat (AS) contohnya, penurunan PDB paling parah (-5,1%) terjadi lebih dari sepuluh tahun lalu yaitu pada Desember 2007-Juni 2009. Untuk penurunan PDB paling rendah berada di -0,3% terjadi pada Maret-November 2001.

Sedangkan dalam istilah depresi, penurunan PDB berada di kisaran -14,7% hingga -38,1%. Penurunan PDB terburuk di AS (-38,1%) terjadi pada Januari 1920- Januari 1921. Untuk penurunan PDB paling rendah berada di -14,7% terjadi pada Januari 1910-Januari 1912. Secara sekilas, nampak bila penurunan PDB pada depresi ekonomi jauh lebih buruk daripada resesi.

Selain perbedaan besar penurunan PDB, jangka waktu krisis juga menentukan perbedaan antara resesi dengan depresi. Pada resesi, jangka waktu atau lamanya krisis berlangsung selama 6-18 bulan. Sedangkan untuk depresi, lamanya krisis berlangsung antara 18-43 bulan. Dengan kata lain, depresi ekonomi merupakan kondisi yang jauh lebih parah dari resesi.
https://kamumovie28.com/thank-you-cinta-2/