Senin, 17 Agustus 2020

Mengenal Masker Berkatup yang Dipakai Petugas Upacara HUT RI di Istana

 Upacara HUT RI ke-75 berlangsung pagi ini di Istana Negara, Jakarta. Ada 17.845 kuota undangan disediakan untuk masyarakat luas dalam mengikuti upacara virtual di Istana Negara. Seluruh masyarakat yang telah mendaftar melalui alamat https://pandangistana.setneg.go.id dapat mengikuti upacara secara daring.
"Setelah melakukan pendaftaran, pendaftar akan menerima notifikasi melalui pesan WhatsApp dan surel sebagai tanda bahwa permohonan undangan telah diterima," ujar Kepala Biro Protokol Sekretariat Presiden Yayat Hidayat dalam keterangan tertulis dari Setpres, Senin (10/8/2020).

Dalam upacara yang berlangsung secara virtual, protokol kesehatan diterapkan dengan ketat. Para petugas upacara termasuk paskibraka terlihat memakai masker, sebagian di antaranya tampak dilengkapi katup di bagian sisi. Jenis masker seperti apa yang mereka pakai?

Ahli paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, menjelaskan masker yang terlihat dipakai para petugas upacara merupakan masker N95 yang memiliki katup. Jenis masker ini dinilai memang lebih nyaman dikenakan.

"N95 jenisnya sepertinya berkatup. Memang nyaman dipakai," kata dr Erlang saat dihubungi detikcom Senin (17/8/2020).

Meskipun nyaman dipakai, jenis masker ini tidak dianjurkan untuk digunakan sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya risiko penularan Corona dari orang yang positif tanpa gejala.

"Tidak disarankan digunakan karena orang yang tanpa gejala tetapi ada virusnya bisa menyebarkan ke lingkungan," lanjut dr Erlang.

Rayakan kemerdekaan, tonton tayangan livestreaming Semangat Satu Indonesia di detik.com/semangatsatuindonesia

PM Jepang Shinzo Abe Masuk RS, Dikabarkan Check Up Rutin

Sejumlah media Jepang melaporkan Perdana Menteri Shinzo Abe memasuki Keio University Hospital di Tokyo. Sumber menyebut Abe melakukan check up rutin.
Tidak disebutkan alasan Abe melakukan check up. Mengutip Kyodo News, Reuters menyebut Abe rutin melakukan check up 2 kali setahun. Terakhir, Abe melaklukannya pada 13 Juni.

Sebelumnya, ketua panel pajak dari Partai Demokrat Liberal Akira Amari menyebut Abe bisa mengalami keletihan atau fatigue karena bekerja keras mengatasi pandemi virus Corona COVID-19.

"Saya ingin beliau istirahat," katanya dalam sebuah program di Fuji TV.

Berbagai spekulasi berkembang terkait kesehatan Abe. Diketahui, ia memiliki riwayat chronic ulcerative colitis.

Mutasi Virus Corona 10 Kali Lebih Menular Ditemukan di 3 Negara Ini

 Virus Corona COVID-19 bermutasi dari jenis yang pertama kali ditemukan di Wuhan. Salah satu jenis mutasi yang disebut para ahli paling menular bahkan hingga 10 kali lipat juga ditemukan di Malaysia.
Sebelum ditemukan di Malaysia, ada beberapa negara yang lebih dulu melaporkan jenis mutasi D614G ini. Negara mana saja yang memiliki jenis mutasi virus Corona paling menular? Berikut rangkuman detikcom dari berbagai sumber.

1. Malaysia
Otoritas kesehatan Malaysia melaporkan bahwa mutasi D614G terdeteksi di Malaysia, hal ini diumumkan pada Minggu (16/8/2020). Mutasi Corona yang paling menular ditemukan Institut Penelitian Medis Malaysia dari empat kasus di antara dua kelompok atau klaster COVID-19 di Malaysia.

"Kelompok Sivagangga dan kelompok Ulu Tiram," kata Direktur Jenderal Kesehatan Noor Hisham Abdullah dalam pada hari Minggu, dikutip dari The Straits Times.

Menurut Datuk Dr Hisham, dengan ditemukannya mutasi Corona yang paling menular tersebut berarti masyarakat harus lebih berhati-hati. Terlebih dalam menjalani protokol kesehatan seperti jaga jarak dan mewajibkan penggunaan masker.

"Ini ditemukan 10 kali lebih menular dan mudah disebarkan oleh 'super-spreader' individu," kata Dr Hisham berbicara soal jenis mutasi Corona.

2. Amerika Serikat
Dikutip dari Sky News, peneliti di Los Alamos National Laboratory menjelaskan telah mendeteksi 14 mutasi virus Corona, salah satunya D614G. Mutasi Corona tersebut mendominasi wabah di New York, Amerika Serikat (AS).

"Mengkhawatirkan, karena kita melihat adanya bentuk virus yang bermutasi muncul dengan sangat cepat. Dan selama bulan Maret menjadi bentuk pandemi yang dominan," ujar Dr Bette Korber, penulis utama studi tersebut.

3. Inggris
Seorang pakar dari Universitas Birmingham, Inggris, Profesor Nick Loman mengatakan bahwa mutasi D614G juga ditemukan di Inggris. Ia pun meyakini bahwa mutasi Corona ini menyebar lebih cepat dibandingkan yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China.

"Kami telah memperhatikan di Inggris juga negara-negara lain bahwa mutasi ini melakukan mutasi lebih cepat dari virus yang ada di Wuhan," ujar Nick.
https://cinemamovie28.com/cupid/

IDAI Ungkap Risiko Buka Sekolah Saat Penularan pada Anak Masih Tinggi

Pembukaan kembali sekolah di tengah pandemi dinilai masih rentan terhadap penularan virus COVID-19. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa anak rentan tertular dan menularkan COVID-19.
dr Aman mengungkapkan setiap minggu kasus meninggal anak akibat COVID-19 semakin hari semakin meningkat. Data awal pada 17 Maret menunjukkan belum ada korban yang meninggal sedangkan data pantauan terakhir 10 Agustus sudah ada 59 anak yang meninggal.

"Kita IDAI setiap minggu mengumpulkan data. Negara memang lebih banyak datanya daripada kita. Tapi data kita kumpulkan ini kita tahu betul-betul yang dirawat oleh dokter anak," ucap Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr Aman Bhakti Pulungan dalam diskusi via Zoom, Senin (17/08/2020).

"Coba lihat dari 17 Maret ini belum ada yang meninggal dan akhirnya pada saat itu April ada yang meninggal. Karena pada saat itu banyak yang meninggal ini tidak terperiksa karena pada saat itu masih susah PCR. Kita masih lihat kan jumlah ini nih masih banyak. Yang 59 ini data minggu lalu kita tahu pasti semua every single case kita tahu semua penyebabnya," jelasnya.

Secara keseluruhan, tercatat 66 persen dari kasus anak meninggal akibat COVID-19 yang berusia di bawah enam tahun. Persentase tersebut lebih rinci di antaranya:

10 persen anak berusia 0 hingga 28 hari
32 persen berusia 29 hari hingga 11 bulan 29 hari
24 persen berusia 1 tahun hingga 5 tahun 22 bulan 29 hari
14 persen berusia 6 tahun hingga 9 tahun 11 bulan 29 hari
20 persen berusia 10 tahun hingga 18 tahun.
"Kalau sekolah dibuka yang 10 tahun juga paling banyak salah satunya 20 persen, ini anak yang nggak bisa diatur yang nggak bisa pake masker ini yang dikatakan sekolah mau dibuka? Kan nggak mungkin kami nggak pernah ditanya baik di daerah atau di mana-mana tanya dong sama seluruh ketua IDAI. Kami kan tahu siapa yang meninggal bagaimana yang meninggal itu semua tapi kan tidak ditanya," pungkasnya.

dr Aman mengatakan jika ingin sekolah dibuka kembali, pemerintah harus tahu dengan benar data anak yang terinfeksi virus COVID-19. Jangan sampai ada gelombang kedua akibat sekolah dibuka kembali.

Mengenal Masker Berkatup yang Dipakai Petugas Upacara HUT RI di Istana

 Upacara HUT RI ke-75 berlangsung pagi ini di Istana Negara, Jakarta. Ada 17.845 kuota undangan disediakan untuk masyarakat luas dalam mengikuti upacara virtual di Istana Negara. Seluruh masyarakat yang telah mendaftar melalui alamat https://pandangistana.setneg.go.id dapat mengikuti upacara secara daring.
"Setelah melakukan pendaftaran, pendaftar akan menerima notifikasi melalui pesan WhatsApp dan surel sebagai tanda bahwa permohonan undangan telah diterima," ujar Kepala Biro Protokol Sekretariat Presiden Yayat Hidayat dalam keterangan tertulis dari Setpres, Senin (10/8/2020).

Dalam upacara yang berlangsung secara virtual, protokol kesehatan diterapkan dengan ketat. Para petugas upacara termasuk paskibraka terlihat memakai masker, sebagian di antaranya tampak dilengkapi katup di bagian sisi. Jenis masker seperti apa yang mereka pakai?

Ahli paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, menjelaskan masker yang terlihat dipakai para petugas upacara merupakan masker N95 yang memiliki katup. Jenis masker ini dinilai memang lebih nyaman dikenakan.

"N95 jenisnya sepertinya berkatup. Memang nyaman dipakai," kata dr Erlang saat dihubungi detikcom Senin (17/8/2020).

Meskipun nyaman dipakai, jenis masker ini tidak dianjurkan untuk digunakan sehari-hari. Hal ini dikarenakan adanya risiko penularan Corona dari orang yang positif tanpa gejala.

"Tidak disarankan digunakan karena orang yang tanpa gejala tetapi ada virusnya bisa menyebarkan ke lingkungan," lanjut dr Erlang.

Rayakan kemerdekaan, tonton tayangan livestreaming Semangat Satu Indonesia di detik.com/semangatsatuindonesia
https://cinemamovie28.com/chasukes-journey/