Bertepatan dengan HUT RI ke-75 Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menyatakan belum ada tanda wabah Corona akan segera berakhir berdasarkan analisis yang dilakukan hingga saat ini. Dr Masdalina Pane salah satu pengurus pusat PAEI, menyampaikan bahwa penanganan wabah Corona selama ini tidak sesuai dengan metode standar yang ada.
"Iya jadi pengendalian wabah yang saat ini menurut pandangan kita ahli epidemologi itu tidak sesuai dengan penanganan wabah yang standar, jadi sejak dari awal sebenarnya kita sudah bicara tentang itu, tetapi banyak ahli-ahli yang saya nggak tahu ya apa keahliannya sebenarnya, tapi kemudian membuat banyak sekali statement jauh dari yang sebenarnya," ungkap dr Masdalina saat dihubungi detikcom Senin (17/8/2020).
Dalam menangani suatu wabah, jika dilakukan sesuai standar seharusnya sudah bisa dikendalikan dalam dua masa inkubasi. Umumnya, pada pandemi sebelumnya, wabah tertangani dalam dua bulan.
"Dalam standar pengendalian wabah, wabah itu seharusnya sudah bisa terkendali dalam dua kali masa inkubasi, dua kali masa inkubasi terpanjang ya. Tapi karena ini pandemi dan besar, kita pernah punya pandemi H1N1 tahun 2009. Kalau kita lihat rata-rata bisa mengendalikan dalam waktu 2 bulan, nah jadi seperti itu," kata dr Masdalina.
"Jadi kalau sudah sampai sekarang, sudah berpuluh-puluh masa inkubasi, iya evaluasi kenapa kok nggak juga selesai," tegasnya.
Salah satu yang disinggung dr Masdalina terkait penanganan wabah Corona yang tidak sesuai standar adalah terkait isolasi kasus dan karantina. Isolasi kasus menurutnya harus dilakukan dari analisis yang terendah.
"Sampai wabah yang sifatnya international dengan case fatality rate (angka kematian) yang tinggi, pengendalian wabah itu dilakukan dari tingkat analisis yang terendah, rumah, itu biasanya dimulai dari rumah," jelasnya.
"Jadi kalau ada suatu kasus maka rumah tersebut yang dikarantina, kalau ada yang sakit dia bisa isolasi diri sendiri di rumah, iya rumahnya saja yang dikarantina," sebutnya.
"Tetapi kemudian nggak lama dari pandemi itu satu kota yang dikarantina. Ini orang sehat juga ikut dikurung, satu RT terdiri dari 40 rumah, kalau 40 rumah di antaranya banyak yang terkena, baru dikarantina satu RT," lanjut dr Masdalina.
Lebih lanjut, dr Masdalina menjelaskan jika beberapa RT dari satu kelurahan ada yang terkena Corona, maka satu RT tersebut harus dikarantina. Tidak dengan langsung mengkarantina suatu wilayah sehingga banyak yang akhirnya aktivitas seperti mencari nafkah terganggu karena penerapan karantina tersebut.
Jika penerapan metode tersebut dilakukan secara disiplin, wabah Corona dinilai bisa dikendalikan. Namun, faktanya hingga saat ini disiplin dan karantina disebut PAEI belum menjadi perhatian.
"Maka dapat dipastikan kondisi (pandemi) seperti ini akan berlangsung lebih lama," sebut rilis PAEI yang diterima detikcom.
IDAI Ungkap Risiko Buka Sekolah Saat Penularan pada Anak Masih Tinggi
Pembukaan kembali sekolah di tengah pandemi dinilai masih rentan terhadap penularan virus COVID-19. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa anak rentan tertular dan menularkan COVID-19.
dr Aman mengungkapkan setiap minggu kasus meninggal anak akibat COVID-19 semakin hari semakin meningkat. Data awal pada 17 Maret menunjukkan belum ada korban yang meninggal sedangkan data pantauan terakhir 10 Agustus sudah ada 59 anak yang meninggal.
"Kita IDAI setiap minggu mengumpulkan data. Negara memang lebih banyak datanya daripada kita. Tapi data kita kumpulkan ini kita tahu betul-betul yang dirawat oleh dokter anak," ucap Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr Aman Bhakti Pulungan dalam diskusi via Zoom, Senin (17/08/2020).
"Coba lihat dari 17 Maret ini belum ada yang meninggal dan akhirnya pada saat itu April ada yang meninggal. Karena pada saat itu banyak yang meninggal ini tidak terperiksa karena pada saat itu masih susah PCR. Kita masih lihat kan jumlah ini nih masih banyak. Yang 59 ini data minggu lalu kita tahu pasti semua every single case kita tahu semua penyebabnya," jelasnya.
Secara keseluruhan, tercatat 66 persen dari kasus anak meninggal akibat COVID-19 yang berusia di bawah enam tahun. Persentase tersebut lebih rinci di antaranya:
10 persen anak berusia 0 hingga 28 hari
32 persen berusia 29 hari hingga 11 bulan 29 hari
24 persen berusia 1 tahun hingga 5 tahun 22 bulan 29 hari
14 persen berusia 6 tahun hingga 9 tahun 11 bulan 29 hari
20 persen berusia 10 tahun hingga 18 tahun.
"Kalau sekolah dibuka yang 10 tahun juga paling banyak salah satunya 20 persen, ini anak yang nggak bisa diatur yang nggak bisa pake masker ini yang dikatakan sekolah mau dibuka? Kan nggak mungkin kami nggak pernah ditanya baik di daerah atau di mana-mana tanya dong sama seluruh ketua IDAI. Kami kan tahu siapa yang meninggal bagaimana yang meninggal itu semua tapi kan tidak ditanya," pungkasnya.
https://cinemamovie28.com/as-the-gods-will/