Rabu, 19 Agustus 2020

Fakta Ngenes Jepang dan Thailand yang Terjun ke Jurang Resesi

 Jepang dan Thailand resmi menyusul sederet negara yang terjun ke dalam jurang resesi. Pandemi virus Corona dinilai jadi biang kerok dua negara ini melambat ekonominya.
Ekonomi Thailand mengalami tekanan besar pada kuartal II 2020 bahkan terparah sejak krisis keuangan 1998. Thailand pun resmi masuk jurang resesi.

Mengutip Reuters, Selasa (18/8/2020), berdasarkan data badan perencanaan negara, penurunan pariwisata asing memberikan tekanan besar pada Thailand karena pandemi Corona. Tak hanya itu, Corona juga memukul konsumsi, investasi swasta dan ekspor.

Ekonomi Thailand yang sangat bergantung pada pariwisata dan ekspor tercatat minus 12,2% pada kuartal II 2020 dibanding periode yang dari tahun sebelumnya. Kondisi itu sekaligus mengantar Thailand ke jurang resesi menyusul raihan kuartal I yang minus 2%.

Ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan ekonomi akan menyusut 13,3% tahun ke tahun dan turun 11,4% kuartal ke kuartal.

Deputi Baru Perdana Menteri Supattanapong Punmeechaow mengatakan pemerintah akan mengumumkan lebih banyak stimulus bulan ini sebagai langkah menghadapi pelemahan ekonomi.

"Untuk mendukung ekonomi dan semua kelompok orang yang terkena dampak (resesi)," kata Supattanapong.

Kontraksi ekonomi yang terjadi juga diperparah dengan masalah lain bagi pemerintah Thailand yang tengah menghadapi protes anti-pemerintah. Pemulihan ekonomi Thailand juga dinilai akan memakan waktu lama.

"Rilis ekonomi hari ini menggarisbawahi jatuhnya permintaan agregat, baik secara eksternal maupun internal. Pemulihan akan berlangsung lama karena guncangan pada sisi permintaan dan pasokan telah menjadi yang paling parah dalam ingatan yang masih hidup," kata Kobsidthi Silpachai, kepala riset pasar modal Kasikornbank.

Jepang juga sudah terjerembap ke dalam jurang resesi. Apa penyebab utamanya?

Jepang juga telah resmi masuk resesi. Perekonomian negeri Sakura disebut merosot paling dalam sepanjang masa di tengah upaya melawan pandemi virus Corona.

Dilansir dari BBC, Jepang yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar ketiga dunia ini, justru mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

Tercatat ekonomi Jepang minus 7,8% pada kuartal II. Atau minus 27,8% dari waktu yang sama di tahun sebelumnya.

Faktor utama di balik kemerosotan tersebut adalah penurunan konsumsi domestik yang parah. Padahal konsumsi domestik Jepang menyumbang lebih dari separuh perekonomian. Ekspor juga turun tajam karena perdagangan global dilanda pandemi.

Penurunan tersebut memberikan tekanan lebih lanjut pada ekonomi Jepang yang sudah berjuang dengan efek kenaikan pajak penjualan menjadi 10% tahun lalu. Belum lagi dengan dampak topan Hagibis terhadap ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 ini merupakan penurunan paling besar sejak angka pembanding tersedia di tahun 1980. Jumlahnya pun sedikit lebih besar dari perkiraan para analis. Sementara itu, bila dilihat datanya, penurunan ekonomi Jepang saat ini menjadi kinerja terburuknya sejak 1955.

Namun, sebagian besar analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang akan pulih dalam beberapa bulan mendatang.

Harapan nampaknya masih dimiliki oleh Jepang. Lembaga Capital Economics mengatakan meski Jepang berada di tengah gelombang kedua infeksi, sistem perawatan kesehatannya tidak kewalahan. Bahkan dilaporkan kini kasus baru mulai menurun.

Mereka memprediksi pertumbuhan ekonomi Jepang dalam kuartal III tahun ini bangkit kembali dan berlanjut hingga tahun depan.

Perdana Menteri Shinzo Abe pun telah memperkenalkan paket stimulus besar-besaran yang bertujuan untuk membantu meredam pukulan pandemi.
https://indomovie28.net/the-protector-2-2/

Senin, 17 Agustus 2020

Bagaimana Urutan Gejala Corona Mulai dari Awal Terinfeksi? Ini Hasil Studinya

 Studi baru mengungkap urutan gejala virus Corona COVID-19 yang umumnya dialami pasien. Temuan dari para peneliti di University of Southern California ini memungkinkan untuk membantu mendeteksi penyakit COVID-19 dan melakukan pengobatan lebih awal pada pasien.
"Ini semacam panduan yang bagus," kata Dr Bob Lahita, seorang profesor kedokteran yang tidak terkait dengan penelitian tersebut, dikutip dari CBS News.

"Kami dapat mengatakan dengan aman, belajar seperti yang mereka lakukan, saya pikir itu 55 ribu pasien dari China (dalam studi baru), mereka melihat data dan melihat gejala dan menemukan bahwa urutan ini cukup dapat dijadikan patokan," lanjut Dr Bob.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis Frontier Public Health urutan gejala yang dialami pasien Corona adalah sebagai berikut.

- Demam diikuti batuk
- Nyeri otot
- Mual
- Diare

"Demam itu nomor satu, diikuti batuk, diikuti nyeri, dan tidak semuanya harus muncul secara berurutan, bisa muncul bersamaan," kata Lahita tentang pengelompokan gejala Corona pertama.

Penelitian tersebut menegaskan tidak semua pasien mengalami gejala yang sama. Tetapi temuan baru membantu menggarisbawahi bagaimana COVID-19 berbeda dari penyakit umum lainnya.

Seperti gejala demam dan batuk yang juga dikaitkan dengan penyakit lain, seperti flu, bisa dibedakan. Penelitian mencatat bahwa pada penyakit COVID-19 munculnya gejala demam dan batuk disertai gejala lain seperti gejala gastrointestinal.

Dalam siaran pers tentang studi tersebut, ilmuwan USC Peter Kuhn mengatakan bahwa memahami urutan gejala virus Corona berguna selama banyak penyakit yang dihadapi, seperti musim flu yang akan datang.

"Dokter bisa menentukan langkah apa yang harus diambil untuk merawat pasien, dan mereka bisa mencegah kondisi pasien memburuk," kata Kuhn.

Untuk menemukan urutannya, para peneliti USC, yang dipimpin oleh kandidat doktor Joseph Larsen, memeriksa rekam medis dan data lain pada lebih dari 55.000 kasus virus Corona di China yang dikumpulkan selama rentang sembilan hari pada bulan Februari, bersama dengan lebih dari 1.000 kasus dari Desember hingga Januari. Mereka juga membandingkan temuan mereka dengan data 2.470 kasus influenza di Amerika Utara, Eropa, dan belahan bumi bagian selatan dari tahun 1994 hingga 1998.

"Penting untuk memiliki informasi ini," kata Lahita.

"Selain hal-hal yang kita semua bicarakan seperti kehilangan penciuman dan hilangnya rasa, sekali lagi, demam, batuk, nyeri otot, mual, muntah dan kemudian diare adalah indikator yang sangat baik dari fakta bahwa Anda mungkin mengidap COVID-19," sebut para peneliti.

Ini 4 Provinsi dengan Penambahan Kasus Corona Tertinggi Per 17 Agustus

Indonesia mencatatkan penambahan kasus baru positif COVID-19 sebanyak 1.821 kasus per 17 Agustus 2020. Dua provinsi di Indonesia, yaitu DKI Jakarta dan Jawa Timur mencatatkan penambahan kasus tertinggi.
Berdasarkan situs resmi Satgas Penanganan COVID-19 pada hari Senin (17/8/2020), sebanyak 1.821 orang telah terkonfirmasi positif COVID-19, sehingga totalnya menjadi 141.370 kasus.

Data tersebut juga menunjukkan pasien Corona yang sembuh sebanyak 94.458 orang dan 6.207 lainnya meninggal dunia.

Berikut 4 provinsi dengan penambahan kasus baru Corona terbanyak pada 17 Agustus.

DKI Jakarta: 552 kasus
Jawa Timur: 336 kasus
Aceh: 168 kasus
Kalimantan Timur: 116 kasus
Adapun 3 provinsi di Indonesia yang tidak ada penambahan kasus baru Corona pada 17 Agustus.

Bengkulu
Kalimantan Barat
Nusa Tenggara Timur
https://cinemamovie28.com/young-wife-in-a-bus-2/