Senin, 24 Agustus 2020

RI-Arab Bukan Cuma Kerja Sama Vaksin Corona, Ini Rinciannya

Sehabis melakukan kunjungan kenegaraan di China, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI dan Menteri BUMN Erick Thohir langsung bertolak ke Uni Emirat Arab (UEA). Kunjungan itu tidak lain untuk membahas sejumlah rencana kerja sama bilateral.
Salah satu yang jadi prioritas, kata Erick adalah kerja sama ketahanan energi.

"Setelah ini tentu kami ingin mendalami bagaimana ketahanan daripada energi bisa dilakukan dengan UAE," kata Erick dalam konferensi pers, Sabtu (22/8/2020).

Lantaran, Indonesia, kata Erick, ketergantungan akan impor energi terutama minyak masih cukup tinggi. Untuk itu, pemerintah bertekad mencari jalan keluar atas masalah tersebut.

"Untuk mencari jalan keluar bagaimana kita bersama partner, negara sahabat kita UAE supaya kita bisa mendapatkan yang namanya solusi yang baik. Kita tidak mau hanya dijadikan pasar, tetapi kita juga ingin mendapat tambahan teknologi daripada negara besar seperti UAE yang khususnya di bidang energi," sambungnya.

Salah satu solusi untuk mengurangi impor energi tadi adalah mengembangkan energi baru terbarukan (EBT).

"Kita juga melakukan kerja sama tidak hanya di minyak, tetapi kita juga eksplor kerja sama sumber alam terbarukan, sumber energi terbarukan, karena itu salah satu poin meeting yang akan kita lakukan, bagaimana PLN bisa mentrasformasi dengan partner dari Masdar membangun daripada energi tenaga surya yang awalnya sekarang di Cirata dan kita akan eksplor lagi di beberapa daerah lain," paparnya.

Lalu, ada juga kerja sama ketahanan pangan. Menurut Erick, Indonesia punya potensi yang sangat besar dark segi ketahanan pangan. Berpotensi untuk di ekspor ke pasar global. Akan tetapi, punya kekurangan yakni terkait produktivitasnya. Untuk itu, diharapkan kerja sama dengan UEA ini bisa meningkatkan produktifitas sekaligus kualitas pangan RI.

"Kita melihat, ada potensi pasar yang besar. Tidak hanya tadi Indonesia dengan UAE dan UAE juga sebagai pusat distribusi untuk daerah Afrika dan Timur Tengah. Dan kita ingin pastikan standarisasinya baik. Ini yang menjadi kekurangan kita dalam memproduksi daripada hasil pangan kita, yang kita kalah dengan negara-negara tetangga. Nah ini yang kita harapkan bagaimana kerja sama ini kita bisa menaikkan kualitas daripada produksi pangan kita sekalian juga mensecurity daripada kebutuhan pangan yang ada di Indonesia," pungkasnya.

Kimia Farma dan Indofarma Kerja Sama Vaksin Corona Bareng Arab

Menteri BUMN Erick Thohir bersama dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi akhirnya mendarat di Uni Emirat Arab (UEA). Keduanya jauh-jauh terbang ke Semenanjung Arab untuk membahas kerja sama bilateral salah satunya terkait pengembangan Vaksin COVID-19.
Pengembangan vaksin COVID-19 dengan UEA ini tidak lagi melibatkan Bio Farma yang sudah lebih dulu bekerja sama dengan Sinovac.

Adapun perusahaan farmasi yang dilibatkan dalam kerja sama kali ini, Erick menunjuk Indofarma dan Kimia Farma. Namun, Erick tidak memaparkan secara rinci seperti apa kerja samanya yang akan dibangun kedua negara lewat dua perusahaan farmasi tersebut.

Kerja sama ini, kata Erick sebagai bukti bahwa industri kesehatan Indonesia tidak jago kandang alias berani mengambil langkah untuk mulai bersaing di pasar internasional.

"Kalau kita lihat pada saat ini Indofarma dan Kimia Farma yang kita sekarang lakukan kerja sama setelah kemarin Bio Farma. Di sinilah kita memastikan bahwa transformasi daripada industri kesehatan Indonesia tidak jago kandang tetapi menjadi partner yang baik untuk dalam menjaga distribusi baik di dalam negeri ataupun distribusi atas produk-produk Indonesia di luar negeri," tutur Erick dalam konferensi pers, Sabtu (22/8/2020).

Selain kerja sama di bidang ketahanan kesehatan, Indonesia juga menyodorkan beberapa jenis kerja sama lainnya yakni kerja sama ketahanan energi dan kerja sama ketahanan pangan.

"Kita ketahui bahwa penting sekali ketahanan energi, ketahanan pangan, ketahanan kesehatan menjadi prioritas kita, dalam menghadapi tentu perubahan yang terjadi karena COVID-19. Karena itu kita konsisten sejak dari perjalanan kami, kami ingin memastikan ketiga hal ini menjadi 3 kepentingan yang sangat pokok dan didasari dalam situasi yang juga kita pastikan untuk kerja sama yang saling menguntungkan," pungkasnya.

Mengenal Perusahaan Arab yang Mau Pasok 10 Juta Vaksin Corona ke RI

Uni Emirat Arab (UEA) disebut-sebut siap memasok 10 juta dosis vaksin Corona ke Indonesia. Adapun perusahaan UEA yang menyatakan kesiapan diri soal stok dosis vaksin tadi adalah perusahaan teknologi kesehatan G42 Healthcare AI Holding Rsc Ltd.
Apa itu G42 Health Care Al Holding Rsc Ltd dan bagaimana perusahaan ini bisa memproduksi vaksin Corona?

Melansir laman resminya, G42 adalah perusahaan teknologi kesehatan berbasis artificial intelligence (AI) dan cloud computing terkemuka asal Abu Dhabi. Tidak hanya di sektor kesehatan saja, hasil penelitian dan pengembangan teknologi G42 ini turut diterapkan pada berbagai sektor mulai dari pemerintahan, keuangan, penerbangan dan perhotelan, hingga minyak dan gas.

G42 bisa terlibat dalam pengembangan vaksin Corona lewat kerja sama dengan Sinopharm CNBG (China National Biotech Group).

Sinopharm memilih UEA karena ada sekitar 200 kebangsaan yang berbeda yang tinggal di sana. Sehingga memudahkan Sinopharm menguji efektifitas uji klinis vaksin tersebut. Sedangkan, G42 Healthcare dalam pengembangan dosis vaksin ini berperan sebagai pihak yang menyediakan laboratorium dan teknologi untuk penelitian terhadap vaksin baru tersebut, memetakan dan memprediksi tren wabah, mutasi virus dan membantu memerangi penyakit.

Dikutip dari South China Morning Post, G42 dan Sinopharm CNBG sudah memulai uji klinis tahap akhir pada manusia sejak 23 Juni 2020 lalu di UEA. Uji coba tersebut dilakukan bekerja sama dengan pemerintah Abu Dhabi dan melibatkan 15.000 peserta.

Jenis vaksin yang dikembangkan adalah inactivated vaccine atau vaksin Corona yang sudah dilemahkan. Kandidat vaksin ini diklaim menjadi yang pertama di dunia yang menunjukkan imunogenisitas dan keamanan yang sangat bagus.

Ketua China National Pharmaceutical Group (Sinopharm), Liu Jingzhen, mengatakan kandidat vaksin ini telah melewati uji klinis fase I dan fase II pada 12 April 2020 lalu. Berdasarkan dua fase uji klinis yang dilakukan, vaksin ini tidak menunjukkan adanya dampak yang buruk pada manusia.

Bahkan Liu telah menerima suntikan vaksin tersebut saat uji coba pada 30 Maret 2020. Ia mengungkapkan bahwa vaksin itu belum menunjukkan adanya efek samping.

RI-Arab Bukan Cuma Kerja Sama Vaksin Corona, Ini Rinciannya

Sehabis melakukan kunjungan kenegaraan di China, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI dan Menteri BUMN Erick Thohir langsung bertolak ke Uni Emirat Arab (UEA). Kunjungan itu tidak lain untuk membahas sejumlah rencana kerja sama bilateral.
Salah satu yang jadi prioritas, kata Erick adalah kerja sama ketahanan energi.

"Setelah ini tentu kami ingin mendalami bagaimana ketahanan daripada energi bisa dilakukan dengan UAE," kata Erick dalam konferensi pers, Sabtu (22/8/2020).

Lantaran, Indonesia, kata Erick, ketergantungan akan impor energi terutama minyak masih cukup tinggi. Untuk itu, pemerintah bertekad mencari jalan keluar atas masalah tersebut.

"Untuk mencari jalan keluar bagaimana kita bersama partner, negara sahabat kita UAE supaya kita bisa mendapatkan yang namanya solusi yang baik. Kita tidak mau hanya dijadikan pasar, tetapi kita juga ingin mendapat tambahan teknologi daripada negara besar seperti UAE yang khususnya di bidang energi," sambungnya.

Salah satu solusi untuk mengurangi impor energi tadi adalah mengembangkan energi baru terbarukan (EBT).

"Kita juga melakukan kerja sama tidak hanya di minyak, tetapi kita juga eksplor kerja sama sumber alam terbarukan, sumber energi terbarukan, karena itu salah satu poin meeting yang akan kita lakukan, bagaimana PLN bisa mentrasformasi dengan partner dari Masdar membangun daripada energi tenaga surya yang awalnya sekarang di Cirata dan kita akan eksplor lagi di beberapa daerah lain," paparnya.

Lalu, ada juga kerja sama ketahanan pangan. Menurut Erick, Indonesia punya potensi yang sangat besar dark segi ketahanan pangan. Berpotensi untuk di ekspor ke pasar global. Akan tetapi, punya kekurangan yakni terkait produktivitasnya. Untuk itu, diharapkan kerja sama dengan UEA ini bisa meningkatkan produktifitas sekaligus kualitas pangan RI.

"Kita melihat, ada potensi pasar yang besar. Tidak hanya tadi Indonesia dengan UAE dan UAE juga sebagai pusat distribusi untuk daerah Afrika dan Timur Tengah. Dan kita ingin pastikan standarisasinya baik. Ini yang menjadi kekurangan kita dalam memproduksi daripada hasil pangan kita, yang kita kalah dengan negara-negara tetangga. Nah ini yang kita harapkan bagaimana kerja sama ini kita bisa menaikkan kualitas daripada produksi pangan kita sekalian juga mensecurity daripada kebutuhan pangan yang ada di Indonesia," pungkasnya.
https://indomovie28.net/the-fault-in-our-stars-2/