Jumat, 28 Agustus 2020

Vaksin Corona Sinovac Produksi RI Baru Bisa untuk Warga 18 Tahun ke Atas

Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir membeberkan ada 30 juta dosis vaksin COVID-19 yang siap disuntikkan ke masyarakat pada akhir tahun ini. Namun, tidak semua kelompok masyarakat bisa mendapatkan vaksin ini.
Kata Erick, vaksin ini baru bisa disuntikkan kepada masyarakat berusia 18 tahun ke atas saja.

"Alhamdulillah dari konfirmasi terakhir yang kita sampaikan, tadinya vaksin ini berlaku untuk usia pada 18 sampai 59 tetapi dari konfirmasi terakhir usia di atas 59 sudah bisa menerima vaksin ini," kata Erick dalam rapat kerja dengan Menteri Kesehatam dan Komisi IX DPR di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2020).

Meski begitu, saat ini terus dikembangkan vaksin yang bisa disuntikkan juga buat usia 18 tahun ke bawah.

"Sekarang terus dikembangkan untuk vaksin kepada yang lebih muda 18 tahun ke bawah termasuk anak-anak ini masih ada prosesnya," sambungnya.

Namun, belum jelas kapan pengembangan vaksin COVID-19 untuk usia 18 tahun ke bawah selesai diproduksi.

Untuk diketahui, total 30 juta dosis vaksin yang bakal masuk ke RI akhir tahun ini berasal dari Sinovac Biotech asal China dan vaksin G42 asal Uni Emirat Arab (UEA). Masing-masing berkomitmen mengirimkan 20 juta dosis vaksin dari Sinovac dan 10 juta dosis vaksin dari G42. Jenis vaksin yang dikirim adalah vaksin yang sudah dinon-aktifkan.

Rencananya, tahun depan jumlah tersebut akan ditingkatkan secara masif. Erick memasang target mau menyuntikkan hingga 340 juta dosis vaksin yang sebagiannya berasal dari vaksin Merah Putih.

Erick Thohir Jelaskan Cara Vaksin Corona: 1 Orang Disuntik 2 Kali

Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Erick Thohir menjelaskan konsep vaksinasi virus Corona di RI. Erick menyebut setiap orang akan divaksinasi sebanyak dua kali dengan jeda waktu.
"Nanti konsep vaksinasinya adalah dua kali, jadi tidak sekali, dan tentu kapasitas (dosis vaksin, red) dari UEA itu ada 220 juta, tetapi komitmen pada hari ini untuk tahun 2020 adalah 10 juta vaksin, dan di tahun 2021, 50 juta vaksin," kata Erick dalam rapar dengan Komisi IX DPR RI, di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020).

Indonesia menjajaki kerja sama pembuatan vaksin Corona dengan tiga perusahaan dari 2 negara berbeda, yakni China dan Uni Emirat Arab (UEA). Erick menuturkan pada 2020 ini, Indonesia akan mendapatkan palinh tidak 30 jita vaksin.

"Jadi, kalau di kumulatif dari dua kerja sama UEA dan China ini kita akan mendapatkan 30 juta vaksin di tahun 2020," terang Erick.

"Kalau satu orang memerlukan dua dosis, sehingga kurang lebih 15 juta orang yang akan bisa divaksin di akhir tahun 2020, tentu sesuai dengan kalau uji klinisnya berjalan dengan baik," imbuhnya.

Menteri BUMN Erick Thohir
Ketua Pelaksana Komite PEN Erick Thohir. Foto: Menteri BUMN Erick Thohir (Achmad Dwi Afriyadi/detikcom)
Erick menjelaskan penyuntikan vaksin tak dilakukan sekaligus dua kali. Selain itu, sebut Menteri BUMN itu, vaksin Corona ini tidak selamanya aktif di tubuh.

"Dan kembali ditekankan, ini ada dua kali dosis dalam penyuntikan dengan jeda waktu dua minggu. Sebagai catatan juga vaksin yang ditemukan hari ini untuk COVID-19 ini jangkanya masih enam bulan sampai dua tahun," ungkap Erick.

"Jadi bukan vaksin yang disuntik selamanya. Jadi, 6 bulan sampai 2 tahun," sambung dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa pemerintah memiliki komitmen 290 juta vaksin COVID-19 sampai 2021 nanti. Jumlah itu merupakan gabungan dari vaksin yang diproduksi di dalam negeri dan luar negeri.

"Tadi saya sudah mendapatkan laporan dari bu Menlu, Pak Menteri BUMN sampai 2021 kita sudah kurang lebih mendapat komitmen 290 juta, itu sebuah yang besar sekali, negara lain mungkin satu dua juta belum, kita sudah 290 juta baik yang diproduksi di sini maupun yang nanti akan diproduksi di luar. Saya kira ini berita yang sangat bagus dan kita harapkan dengan perbaikan komunikasi yang baik tadi confident market, confident dunia usaha betul-betul bisa kita berikan ke mereka," papar Jokowi dalam ratas laporan Komite Penanganan COVID-19 dan PEN, seperti ditayangkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (24/8).
https://indomovie28.net/a-good-girl-2/

Vaksin Corona Bayar Nggak Ya?

Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir merinci rencana pemerintah dalam program penyuntikan vaksin COVID-19. Menurut Erick, tidak semua masyarakat bisa mendapatkan vaksin ini secara gratis. Saat ini pemerintah tengah menggodok 2 program dalam implementasi vaksinasi massal tersebut.
"Usulan program vaksin itu ada dua. Jadi vaksin bantuan pemerintah di mana melalui budget APBN dan menggunakan data BPJS kesehatan. Bahwa nanti ada istilahnya vaksin gratis secara massal, yang diharapkan bisa di awal tahun depan," ujar Erick dalam rapat kerja dengan Menteri Kesehatan dan Komisi IX DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/20).

Lalu, ada juga kelompok masyarakat yang diwajibkan membayar secara mandiri jika ingin disuntik vaksin COVID-19. Program ini disebut vaksinasi mandiri, yang pembiayaannya tidak ditanggung oleh APBN.

"Kami juga mengusulkan bila memungkinkan untuk masyarakat juga bisa membayar vaksin mandiri untuk yang mampu," ungkapnya.

Menurut Erick, jika penyaluran vaksin kepada masyarakat digratiskan semuanya, maka APBN akan jebol. Apalagi, selama ini defisit anggaran negara terus melebar.

"Kalau dilihat dari data-data ekonominya sendiri pemasukan kepada negara cukup rentan," tuturnya.

Oleh karena itu, program vaksinasi bakal direalisasikan dengan dua mekanisme, yakni gratis dan mandiri. Tujuannya untuk menyeimbangkan kebutuhan lain yang juga harus didanai oleh APBN.

"Jadi memang yang terdata di BPJS kesehatan itu gratis tetapi dengan tingkat daya beli berapa itu harus mandiri. Karena ini bagian dari coba kita menekan juga daripada cash flow yang ada di pemerintah," pungkasnya.

Vaksin Corona Sinovac Produksi RI Baru Bisa untuk Warga 18 Tahun ke Atas

Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir membeberkan ada 30 juta dosis vaksin COVID-19 yang siap disuntikkan ke masyarakat pada akhir tahun ini. Namun, tidak semua kelompok masyarakat bisa mendapatkan vaksin ini.
Kata Erick, vaksin ini baru bisa disuntikkan kepada masyarakat berusia 18 tahun ke atas saja.

"Alhamdulillah dari konfirmasi terakhir yang kita sampaikan, tadinya vaksin ini berlaku untuk usia pada 18 sampai 59 tetapi dari konfirmasi terakhir usia di atas 59 sudah bisa menerima vaksin ini," kata Erick dalam rapat kerja dengan Menteri Kesehatam dan Komisi IX DPR di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2020).

Meski begitu, saat ini terus dikembangkan vaksin yang bisa disuntikkan juga buat usia 18 tahun ke bawah.

"Sekarang terus dikembangkan untuk vaksin kepada yang lebih muda 18 tahun ke bawah termasuk anak-anak ini masih ada prosesnya," sambungnya.

Namun, belum jelas kapan pengembangan vaksin COVID-19 untuk usia 18 tahun ke bawah selesai diproduksi.

Untuk diketahui, total 30 juta dosis vaksin yang bakal masuk ke RI akhir tahun ini berasal dari Sinovac Biotech asal China dan vaksin G42 asal Uni Emirat Arab (UEA). Masing-masing berkomitmen mengirimkan 20 juta dosis vaksin dari Sinovac dan 10 juta dosis vaksin dari G42. Jenis vaksin yang dikirim adalah vaksin yang sudah dinon-aktifkan.

Rencananya, tahun depan jumlah tersebut akan ditingkatkan secara masif. Erick memasang target mau menyuntikkan hingga 340 juta dosis vaksin yang sebagiannya berasal dari vaksin Merah Putih.
https://indomovie28.net/interrogation/