Selasa, 08 September 2020

Berbagai Penyebab Mr P Gagal Berdiri, Mungkin Anda Pernah Mengalami

 Susah ereksi bisa menjadi malapetaka yang menghancurkan keintiman sesi bercinta. Walaupun secara fisik tidak memicu dampak yang serius, kondisi ini bisa menggagalkan penetrasi dan memicu rasa frustrasi.
Sebuah studi dari The Journal of Sexual Medicine tahun 2013 melaporkan bahwa sekitar 26 persen pria berusia 17-40 tahun mengalami kesulitan ereksi. Penelitian ini juga menyimpulkan masalah ereksi pada pria muda biasanya disebabkan oleh gaya hidup dan kesehatan mental.

Kesulitan ereksi bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Bila penyebabnya karena penyakit, Anda bisa berkomunikasi dengan dokter. Namun, jika kesulitan ereksi dikarenakan masalah mental, komunikasikanlah dengan pasangan. Jika perlu, temui psikolog atau psikiater.

Dikutip dari Healthline, berikut beberapa penyebab penis sulit ereksi saat berhubungan intim:

1. Penyebab fisik
Penyebab fisik dari masalah ereksi sering terjadi pada pria yang berusia lanjut. Beberapa penyebab dalam kategori ini adalah:

- Penyakit jantung
- Pengerasan arteri
- Tekanan darah tinggi
- Kolesterol tinggi
- Diabetes
- Obesitas
- Sakit ginjal dan hati.

2. Penyebab emosional
Masalah emosional dapat mengalihkan perhatian pria, sehingga sulit terangsang. Biasanya disebabkan oleh:

- Khawatir tak bisa mencapai ereksi
- Tekanan pikiran, seperti masalah ekonomi, pekerjaan, dan sosial
- Konflik hubungan dengan pasangan
- Depresi.

3. Penyebab lain
Beberapa kebiasaan buruk dapat menyebabkan pria sulit ereksi. Solusi terbaik untuk penyebab ini adalah dengan mengubah gaya hidup. Berikut kebiasaan buruk yang menyebabkan pria sulit ereksi:

- Konsumsi obat-obatan tertentu
- Penyalahgunaan narkoba
- Kebiasaan merokok.

Studi: Ogah Pakai Masker dan Sosial Distancing, Kemungkinan Psikopat

 Dalam situasi pandemi virus Corona COVID-19 yang masih meningkat, ada saja alasan orang yang menolak untuk menggunakan masker dan menerapkan jaga jarak (social distancing). Bahkan masih sulit rasanya untuk mengimbau mereka untuk menerapkannya.
Baru-baru ini, para ilmuwan dari Universidade Estadual de Londrina (UEL) di Brasil melakukan sebuah penelitian yang disebut kepatuhan terhadap langkah-langkah penanganan terhadap pandemi COVID-19 dari waktu ke waktu. Dikutip dari laman World Of Buzz, penelitian ini mensurvei sebanyak 1.500 orang dewasa selama 15 minggu dari 21 Maret hingga 29 Juni 2020.

Penelitian dilakukan untuk mempelajari korelasi antara ciri-ciri kepribadian dengan kepatuhan pada protokol kesehatan pandemi. Hasil penelitian menemukan bahwa orang yang memiliki ciri-ciri anti sosial, cenderung tidak mematuhi peraturan. Itu bisa berupa menjaga jarak atau menggunakan masker.

Gangguan ini biasa disebut dengan kepribadian dissosial, kepribadian psikopat, dan kepribadian sosiopat. Jadi, apa yang dimaksud dengan ciri-ciri antisosial dalam konteks tersebut? Menurut penelitian tersebut didefinisikan atau terkait dengan ciri-ciri yang biasanya ada pada orang yang didiagnosis dengan gangguan kepribadian antisosial.

Berikut ini perilaku umum bagi mereka yang memiliki gangguan kepribadian antisosial:

- Berulang kali melanggar hukum
- Suka mengeksploitasi orang lain
- Bohong
- Impulsif.
- Agresif.
- Mengabaikan keamanan diri sendiri dan orang lain.
- Tidak bertanggung jawab.
- Memiliki kurangnya rasa bersalah, penyesalan, dan empati.

Menurut penulis penelitian tersebut, ciri-ciri ini menjelaskan, setidaknya sebagian alasan mengapa orang terus tak mematuhi langkah-langkah protokol kesehatan. Bahkan ini diiringi dengan meningkatnya jumlah kasus dan kematian akibat virus Corona.

Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa orang dengan tipe kepribadian ini merasa mereka dapat mengabaikan tindakan pencegahan COVID-19 karena memiliki empati yang rendah. Kecenderungan antisosial juga membuat mereka kurang peduli untuk menjaga diri sendiri dan orang lain dari risiko terinfeksi Corona.
https://indomovie28.net/first-born/

Penyakit TBC: Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan Supaya Kasus Tak Meningkat

 COVID-19 sebetulnya bukan satu-satunya penyakit berbahaya yang dihadapi masyarakat Indonesia. Salah satu penyakit yang lain adalah TBC atau Tuberkulosis yang hingga kini kasusnya masih ditemukan.
Dikutip dari situs TBC Indonesia, sebanyak 116 ribu orang meninggal akibat TBC yang menjadi 98 ribu pada 2018. Kelompok produktif tidak luput dari risiko tertular penyakit akibat bakteri ini. Angka penyakit TBC di Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi di dunia, hanya kalah dari India dan China.

Peneliti di Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU), Suwarti dalam artikelnya "Tuberkulosis tetap menyerang saat pandemi coronavirus: 5 fakta TBC yang jarang diketahui di Indonesia" menyebutkan walau bisa dicegah dan diobati, TBC merupakan salah satu penyakit infeksi paling membunuh di dunia.

Situasi di Indonesia, menurut Suwarti setiap 30 detik satu orang tertular TBC dan rata-rata 13 orang meninggal setiap satu jam akibat penyakit menular itu. Jadi setiap hari ada 300 tewas karena TBC.

Supaya angka kasus tidak meningkat, segala hal tentang penyakit TBC yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini perlu diketahui sehingga bisa melakukan pencegahan. Bagi yang sudah didiagnosa wajib mengikuti pengobatan sesuai yang telah diresepkan dokter.

Berikut gejala, pengobatan, dan pencegahan TBC:
1. Gejala TBC

Dikutip dari Mayo Clinic, TBC diakibatkan serangan bakteri antar orang melalui tetesan liur kecil yang dilepaskan ke udara. Penularan dapat terjadi ketika pasien TBC batuk, bicara, bersin, meludah, ketawa, atau menyanyi.

Gejala TBC antara lain:

a. Batuk terus menerus selama tiga minggu atau lebih

b. Batuk berdarah

c. Sakit dada, ketika batuk atau bernapas

d. Kehilangan berat badan tanpa sengaja

e. Kelelahan

f. Demam

g. Keringat saat malam hari

h. Panas dingin

i. Kehilangan nafsu makan

TBC saat ini memang lebih banyak menyerang paru-paru namun bisa mempengaruhi bagian tubuh yang lain termasuk ginjal, otak, dan tulang punggung. Bila TBC terjadi di luar paru-paru maka gejala yang muncul bisa sangat berbeda tergantung dari organ yang terinfeksi. Misal, serangan TBC di ginjal bisa mengakibatkan muncul darah di urin.

2. Pengobatan TBC

Penegakan diagnosa TBC hanya bisa dilakukan dokter setelah melakukan tes pada pasien misal tes dahak, darah, dan CT Scan. Obat TBC yang biasa diberikan adalah:

a. Isoniazid

b. Rifampin (Rifadin, Rimactane)

c. Ethambutol (Myambutol)

d. Pyrazinamide

Minum obat sesuai resep dokter wajib dilakukan semua pasien TBC yang belum dinyatakan sembuh. Pasien TBC biasanya wajib minum obat tanpa putus selama 6-9 bulan. Namun jenis dan lamanya pengobatan bergantung pada umur, kondisi kesehatan secara umum, kemungkinan mengalami resistensi, dan serangan infeksi di tubuh.

3. Pencegahan TBC

TBC memang bukan penyakit menular namun tak mudah bagi bakteri ini untuk menyerang kesehatan tubuh pasien. Infeksi TBC biasanya diperoleh dari pasien yang berada dalam lingkungan dekat, misal tinggal satu rumah atau rekan kerja. TBC biasanya tidak menular dari orang asing.

Karena itu, bagi pasien TBC wajib mengkonsumsi obat dalam jangka waktu tertentu sesuai resep dokter. Interaksi dengan orang lain juga dilakukan seperlunya untuk melindungi lingkungan sekitar dari infeksi TBC. Berikut yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi TBC:

a. Tetap tinggal di rumah bagi yang terdiagnosis hingga dinilai dokter aman untuk kembali beraktivitas

b. Tambahkan ventilasi pada ruangan sehingga terjadi sirkulasi udara, sesekali jendela juga perlu dibuka

c. Tutup mulut saat tertawa, bersin, atau batuk dengan tisu yang langsung dibuang setelah digunakan

d. Gunakan masker.
https://indomovie28.net/sexy-part-time-wife-at-convenience-store-2/