Selasa, 08 September 2020

Soal Kondisi Tempat Karantina WNI di Wuhan, Kemenkes Jawab Cibiran Netizen

Beredar foto gambaran lokasi yang dijadikan tempat evakuasi WNI dari Wuhan. Foto tersebut ramai jadi perbincangan netizen. Sebagian menanyakan mengapa lokasi karantina tak dilakukan di Rumah Sakit.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr Achmad Yurianto, menjelaskan alasan mengapa mereka tidak dikarantina dalam Rumah Sakit.

"Ya bukan Rumah Sakit, kalau orang sakit masukan RS, kalau orang sehat ya masukan rumah sehat, ini semua orang sehat kok," tegasnya saat dihubungi detikcom, Senin (3/2/2020).

Kondisi karantina WNI dari Wuhan tersebut dilengkapi dengan sejumlah alat tidur, dan peralatan mandi.

Terlihat pula beberapa WNI tengah melakukan aktivitas makan bersama, sambil mengobrol. Beberapa WNI lain terlihat masih mengenakan masker.

Sebelumnya dari 245 WNI yang direncanakan akan dievakuasi, sebanyak 241 yang berhasil dievakuasi dari Wuhan, China.

"Alhamdullillah... sampai saat ini...241 WNI yg akan kembali semua dalam kondisi sehat..dan protokol kesehatan akan terus diterapkan secara disiplin," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam posting-an di akun Instagram, Sabtu (1/2/2020) malam.

Hobi Bersepeda? Ini Saran Dokter Agar Tak Gampang Cedera

 Melakukan olahraga bersepeda memang terdengar mudah. Namun faktanya jika tak didukung dengan pemahaman yang benar bisa meningkatkan risiko cedera atau rasa nyeri.
Dokter spesialis anestesi yang ahli di bidang nyeri, dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi, dr Henny Widyastuti, SpAn, MKes, mengatakan pemanasan untuk menguatkan otot-otot core, perut, punggung dan paha memang penting. Namun ada faktor lain juga yang perlu diperhatikan.

"Saat bersepeda dia harus berubah posisi secara berkala, karena ketika dia tetap monoton dan terus-menerus, di situ terjadi risiko overuse injury," kata dr Henny, ditemui di acara Gobar Milad Kahiji Paguyuban Pesepeda Bogor Raya (PPBR), Minggu (2/2/2020).

dr Henny juga menjelaskan, seringkali pesepeda terlalu bersemangat sehingga menambah kecepatan tanpa memperhatikan risiko.

"Risiko overuse injury itu terjadi lebih sering kepada yang ingin menaikkan kecepatannya secara tiba-tiba," ucap dr Henny.

"Jadi naiknya harus perlahan, karena membiasakan dulu gerakan badannya dulu baru menaikkan fastnya. Jadi harus bertahap," pungkasnya.

Dialami Gus Sholah Sebelum Meninggal, Apa Itu Aritmia Jantung?

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid meninggal dunia. Gus Sholah, sapaan akrabnya, sempat menjalani tindakan medis ablasi di RS Jantung Harapan Kita.
"Jadi sejak beberapa minggu lalu itu, sejak Desember, ada sedikit kelainan di dekat jantungnya, tidak beraturanlah, terus dicek di sini terus ternyata harus dilakukan tindakan ablasi ini," kata putra Gus Solah, Irfan Wahid atau Ipang Wahid.

Dikutip dari Mayoclinic, ablasi merupakan tindakan medis untuk memperbaiki gangguan irama jantung atau aritmia. Aritmia sendiri terjadi karena impuls elektrik yang mengkoordinasikan denyut jantung tidak bekerja dengan seharusnya.

Gangguan irama jantung bisa ditandai dengan denyut yang terlalu cepat atau takikardi, bisa juga denyut jantung yang terlalu lambat atau bradikardi. Denyut jantung yang normal sendiri bervariasi, tetapi umumnya ada di sekitar 60 beats per minute (bpm) pada kondisi istirahat (resting heart rate).

Penyebab aritmia sangat beragam, di antaranya sebagai berikut:

- Serangan jantung
- Kerusakan jaringan di jantung akibat serangan jantung
- Perubahan struktur jantung
- Penyumbatan pembuluh darah arteri koroner
- Tekanan darah tinggi
- Gangguan tiroid
- Diabetes
- Sleep apnea atau henti napas saat tidur, sering dialami orang-orang yang tidurnya ngorok

Penyebab lain yang juga banyak dikaitkan dengan aritmia adalah:

- Merokok
- Minum alkohol atau kopi berlebihan
- Penyalahgunaan obat
- Stres dan gelisah
- Genetik.
https://nonton08.com/wrong-turn-4-bloody-beginnings/

WNI dari Wuhan Disemprot Disinfektan Saat Turun Pesawat, Efektifkah?

Ramai diperbincangkan oleh warganet tentang cara penyemprotan desinfeksi ke warga negara Indonesia (WNI), yang baru dipulangkan dari China. Banyak sekali pertanyaan yang muncul, efektifkah disinfeksi dilakukan dengan semprotan?
Menanggapi hal ini, ahli penyakit tropis dan infeksi, dari RS Metropolitan Medical Center, Jakarta Selatan, Dr dr Erni Juwita Nelwan, SpPD-KPTI, mengatakan proses penyemprotan desinfeksi itu bertujuan untuk menghilangkan bakteri atau virus yang menempel di tubuh atau barang-barang yang dibawa oleh para WNI yang baru dipulangkan dari China.

Namun dr Erni meragukan apa penyemprotan seperti itu akan efektif untuk membunuh virus atau tidak.

"Saya sih takutnya nggak efektif ya dan nggak ada manfaat yang jelas, bajunya itu mungkin berlapis-lapis pakai jaket, dan ada pakaian di dalam, dan ada macam-macam lainnya, disemprotinnya cuma ada kaya yang di gambar itu, kalau seperti itu kan kelihatannya tidak bisa mencapai ke seluruh tempat yang diharapkan," ucap dr Erni kepada detikcom, Senin (3/2/2020).

Menurutnya prosedur penyemprotan seperti itu tidak akan bisa membunuh virus secara keseluruhan. Sebab desinfeksi akan lebih efektif bila dilakukan di dalam ruangan.

"Kalau untuk sisi tujuannya untuk melakukan desinfeksi saya rasa ada tempatnya ya, hanya saja kurang tepat cara pelaksanaannya, sebaiknya disediakan ruangan ya sehingga proses pengerjaannya itu bisa lebih sesuai tidak saat turun pesawat lalu disemprotkan begitu," jelasnya.

Soal bahan yang digunakan untuk disinfeksi, dr Erni meyakini aman untuk manusia. Hal ini juga ditegaskan oleh Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Achmad Yurianto.

"Fungsinya mematikan bakteri dan virus yang menempel. Itu memang dibuat untuk manusia, untuk disemprotkan ke orang," kata dr Yuri.

Soal Kondisi Tempat Karantina WNI di Wuhan, Kemenkes Jawab Cibiran Netizen

Beredar foto gambaran lokasi yang dijadikan tempat evakuasi WNI dari Wuhan. Foto tersebut ramai jadi perbincangan netizen. Sebagian menanyakan mengapa lokasi karantina tak dilakukan di Rumah Sakit.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr Achmad Yurianto, menjelaskan alasan mengapa mereka tidak dikarantina dalam Rumah Sakit.

"Ya bukan Rumah Sakit, kalau orang sakit masukan RS, kalau orang sehat ya masukan rumah sehat, ini semua orang sehat kok," tegasnya saat dihubungi detikcom, Senin (3/2/2020).

Kondisi karantina WNI dari Wuhan tersebut dilengkapi dengan sejumlah alat tidur, dan peralatan mandi.

Terlihat pula beberapa WNI tengah melakukan aktivitas makan bersama, sambil mengobrol. Beberapa WNI lain terlihat masih mengenakan masker.

Sebelumnya dari 245 WNI yang direncanakan akan dievakuasi, sebanyak 241 yang berhasil dievakuasi dari Wuhan, China.

"Alhamdullillah... sampai saat ini...241 WNI yg akan kembali semua dalam kondisi sehat..dan protokol kesehatan akan terus diterapkan secara disiplin," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dalam posting-an di akun Instagram, Sabtu (1/2/2020) malam.
https://nonton08.com/the-sinister-surrogate/