Selasa, 08 September 2020

Penyakit TBC: Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan Supaya Kasus Tak Meningkat

 COVID-19 sebetulnya bukan satu-satunya penyakit berbahaya yang dihadapi masyarakat Indonesia. Salah satu penyakit yang lain adalah TBC atau Tuberkulosis yang hingga kini kasusnya masih ditemukan.
Dikutip dari situs TBC Indonesia, sebanyak 116 ribu orang meninggal akibat TBC yang menjadi 98 ribu pada 2018. Kelompok produktif tidak luput dari risiko tertular penyakit akibat bakteri ini. Angka penyakit TBC di Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi di dunia, hanya kalah dari India dan China.

Peneliti di Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU), Suwarti dalam artikelnya "Tuberkulosis tetap menyerang saat pandemi coronavirus: 5 fakta TBC yang jarang diketahui di Indonesia" menyebutkan walau bisa dicegah dan diobati, TBC merupakan salah satu penyakit infeksi paling membunuh di dunia.

Situasi di Indonesia, menurut Suwarti setiap 30 detik satu orang tertular TBC dan rata-rata 13 orang meninggal setiap satu jam akibat penyakit menular itu. Jadi setiap hari ada 300 tewas karena TBC.

Supaya angka kasus tidak meningkat, segala hal tentang penyakit TBC yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini perlu diketahui sehingga bisa melakukan pencegahan. Bagi yang sudah didiagnosa wajib mengikuti pengobatan sesuai yang telah diresepkan dokter.

Berikut gejala, pengobatan, dan pencegahan TBC:
1. Gejala TBC

Dikutip dari Mayo Clinic, TBC diakibatkan serangan bakteri antar orang melalui tetesan liur kecil yang dilepaskan ke udara. Penularan dapat terjadi ketika pasien TBC batuk, bicara, bersin, meludah, ketawa, atau menyanyi.

Gejala TBC antara lain:

a. Batuk terus menerus selama tiga minggu atau lebih

b. Batuk berdarah

c. Sakit dada, ketika batuk atau bernapas

d. Kehilangan berat badan tanpa sengaja

e. Kelelahan

f. Demam

g. Keringat saat malam hari

h. Panas dingin

i. Kehilangan nafsu makan

TBC saat ini memang lebih banyak menyerang paru-paru namun bisa mempengaruhi bagian tubuh yang lain termasuk ginjal, otak, dan tulang punggung. Bila TBC terjadi di luar paru-paru maka gejala yang muncul bisa sangat berbeda tergantung dari organ yang terinfeksi. Misal, serangan TBC di ginjal bisa mengakibatkan muncul darah di urin.

2. Pengobatan TBC

Penegakan diagnosa TBC hanya bisa dilakukan dokter setelah melakukan tes pada pasien misal tes dahak, darah, dan CT Scan. Obat TBC yang biasa diberikan adalah:

a. Isoniazid

b. Rifampin (Rifadin, Rimactane)

c. Ethambutol (Myambutol)

d. Pyrazinamide

Minum obat sesuai resep dokter wajib dilakukan semua pasien TBC yang belum dinyatakan sembuh. Pasien TBC biasanya wajib minum obat tanpa putus selama 6-9 bulan. Namun jenis dan lamanya pengobatan bergantung pada umur, kondisi kesehatan secara umum, kemungkinan mengalami resistensi, dan serangan infeksi di tubuh.

3. Pencegahan TBC

TBC memang bukan penyakit menular namun tak mudah bagi bakteri ini untuk menyerang kesehatan tubuh pasien. Infeksi TBC biasanya diperoleh dari pasien yang berada dalam lingkungan dekat, misal tinggal satu rumah atau rekan kerja. TBC biasanya tidak menular dari orang asing.

Karena itu, bagi pasien TBC wajib mengkonsumsi obat dalam jangka waktu tertentu sesuai resep dokter. Interaksi dengan orang lain juga dilakukan seperlunya untuk melindungi lingkungan sekitar dari infeksi TBC. Berikut yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi TBC:

a. Tetap tinggal di rumah bagi yang terdiagnosis hingga dinilai dokter aman untuk kembali beraktivitas

b. Tambahkan ventilasi pada ruangan sehingga terjadi sirkulasi udara, sesekali jendela juga perlu dibuka

c. Tutup mulut saat tertawa, bersin, atau batuk dengan tisu yang langsung dibuang setelah digunakan

d. Gunakan masker.
https://indomovie28.net/sexy-part-time-wife-at-convenience-store-2/

Diklaim Ringan, Ini Efek Samping Vaksin Corona Sputnik V Buatan Rusia

 Vaksin virus Corona COVID-19 yang dikembangkan Rusia disebut berhasil menciptakan antibodi pada relawan dalam pengujian di fase 1 dan 2.
"Respons kekebalan yang didapatkan sukarelawan dari vaksin ini cukup untuk menangkal infeksi COVID-19," tulis peneliti dikutip dari CNN.

Dalam jurnal yang diterbitkan The Lancet, vaksin yang diberi nama Sputnik V itu juga menyebabkan beberapa gejala ringan pada subjek penelitian. Setengah dari subjek peneliti mengalami demam dan 42 persen mengalami sakit kepala. Sementara itu sekitar 28 persen mengeluh kelelahan dan 24 persen alami nyeri sendi.

Penelitian tersebut tidak menyebut berapa lama efek samping bertahan. Tetapi peneliti mengatakan sebagian besar efek sampingnya ringan dan tidak berlangsung lama.

"Hasilnya hingga saat ini meyakinkan. Tetapi penelitian ini masih terlalu kecil untuk melihat apakah ada efek samping serius atau yang jarang terjadi," kata vaksinolog dari John Hopkins University.

Sementara itu para ilmuwan Rusia mengakui keterbatasan penelitian ini. Jumlah partisipan yang menjadi relawan di fase 1 dan 2 cukup rendah sehingga diperlukan penyelidikan lebih lanjut tentang keefektifan vaksin ini untuk pencegahan COVID-19.

Kirill Dmitriev, kepala Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang mendanai penelitian vaksin Rusia, menyebut saat ini vaksin Sputnik V sudah didistribusikan ke kelompok berisiko tinggi. Vaksin yang dikembangkan oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya ini baru mulai uji klinis fase 3 pertengahan Agustus lalu.

Uji coba fase 3 melibatkan sekitar 40.000 orang dan hasil diharapkan dapat dilaporkan bulan depan. Jika semua berjalan dengan baik, Rusia berencana vaksinasi massal sebelum akhir tahun 2020.

Penyakit TBC: Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan Supaya Kasus Tak Meningkat

 COVID-19 sebetulnya bukan satu-satunya penyakit berbahaya yang dihadapi masyarakat Indonesia. Salah satu penyakit yang lain adalah TBC atau Tuberkulosis yang hingga kini kasusnya masih ditemukan.
Dikutip dari situs TBC Indonesia, sebanyak 116 ribu orang meninggal akibat TBC yang menjadi 98 ribu pada 2018. Kelompok produktif tidak luput dari risiko tertular penyakit akibat bakteri ini. Angka penyakit TBC di Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi di dunia, hanya kalah dari India dan China.

Peneliti di Eijkman Oxford Clinical Research Unit, Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU), Suwarti dalam artikelnya "Tuberkulosis tetap menyerang saat pandemi coronavirus: 5 fakta TBC yang jarang diketahui di Indonesia" menyebutkan walau bisa dicegah dan diobati, TBC merupakan salah satu penyakit infeksi paling membunuh di dunia.

Situasi di Indonesia, menurut Suwarti setiap 30 detik satu orang tertular TBC dan rata-rata 13 orang meninggal setiap satu jam akibat penyakit menular itu. Jadi setiap hari ada 300 tewas karena TBC.

Supaya angka kasus tidak meningkat, segala hal tentang penyakit TBC yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini perlu diketahui sehingga bisa melakukan pencegahan. Bagi yang sudah didiagnosa wajib mengikuti pengobatan sesuai yang telah diresepkan dokter.
https://indomovie28.net/escape-from-pretoria/