Selasa, 08 September 2020

Kemenkes Pastikan WNI yang Dikarantina di Natuna Semuanya Sehat

Sejak Minggu, (2/2) warga negara Indonesia di evakuasi dari Wuhan, China, ke Natuna. Berdasarkan hitungan masa inkubasi, akan dilakukan karantina atau observasi kesehatan selama 14 hari. Disampaikan bahwa sampai saat ini semua WNI dalam kondisi baik.
"Sebanyak 237 WNI dan 1 WNA berhasil di evakuasi dari Wuhan, China, ke Natuna, Indonesia. Dan semua WNI dalam kondisi sehat, telah melakukan skrining di China," tegas Kepala Biro Komunikasi dan Pelayana Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, drg Widyawati MKM, saat ditemui pada Senin (3/2/2020).

Saat ini, semua WNI di Natuna kembali menjalani tes kesehatan ulang untuk memastikan kondisi mereka dalam keadaan prima. Adapun kondisi yang menjadi fokus pemantauan atau diamati yakni batuk, sesak napas dan demam.

"Skenario di Natuna, pemeriksaan kesehatan dilakukan dua kali. Jam 23.00 lalu (2/1) semua dalam keadaan baik," tambah Dirjen P2P Kemenkes, dr Anung Sugihantino, saat dijumpai di lokasi yang sama.

Disampaikan bahwa apabila secara komunal dalam 14 hari tidak ada yang mengalami gangguan pernapasan atau yang mengarah pada gejala, maka secara umum, maka observasi kesehatan dicukupkan dan boleh pulang karena telah melalui dua kali cek kesehatan.

"Tetapi jika dalam 14 hari ada satu, dua, atau beberapa orang yang menunjukkan gejala, maka skenarionya akan lain. Makanya kita bisa perpanjang atau evakuasi ke tempat 'spesifik'. Kita sudah siapkan medical evacuation kalau ada yang sakit," tutup dr Anung

Faktor Risiko Aritmia Jantung Seperti Dialami Gus Sholah Sebelum Meninggal

Kabar duka kembali lagi terdengar di tanah air, kali ini terjadi kepada KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, itu wafat usai menjalani operasi jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.
"Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20.55 WIB," kata putra Gus Solah, Irfan Wahid (Ipang Wahid) lewat akun Twitter-nya, @ipangwahid, Minggu (2/2/2020).

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Gus Sholah diketahui mengalami masalah gangguan irama jantung atau aritmia. Dikutip dari Mayo Clinic berikut ini adalah kondisi tertentu yang dapat meningkatkan faktor risiko seseorang bisa mengalami aritmia.

1. Penyakit arteri koroner
Mempunyai riwayat berbagai jenis penyakit jantung, seperti arteri jantung yang menyempit, serangan jantung, katup jantung yang abnormal, dan pernah mengalami gagal jantung. Adanya riwayat melakukan operasi jantung pun bisa meningkatkan risiko aritmia.

2. Tekanan darah tinggi
Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena penyakit arteri koroner, yaitu terjadinya penebalan pada dinding ventrikel (bilik jantung). Fungsi jantung dalam memompa darah akan menurun, sehingga aliran darah ke seluruh tubuh menjadi terganggu.

3. Penyakit jantung bawaan
Terlahir mempunyai kelainan jantung pun dapat mempengaruhi ritme jantung.

4. Adanya masalah di tiroid
Tiroid adalah kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak pada bagian depan leher, dan berfungsi untuk mengeluarkan hormon-hormon yang mengatur metabolisme tubuh. Kelenjar tiroid yang bermasalah akan meningkatkan risiko aritmia.
https://nonton08.com/lupin-the-third-the-elusive-fog/

3 Gejala Baru COVID-19 yang Dialami Anak-anak, Salah Satunya Sakit Perut

 Ada tiga gejala baru yang diidentifikasi sering dialami anak-anak yang terinfeksi virus Corona. Para ilmuwan di Universitas Belfast, Irlandia Utara, menyebutkan tiga gejala tersebut yaitu diare, sakit perut, dan muntah.
Meski banyak dialami anak-anak, pihak layanan kesehatan Inggris (NHS) masih enggan menyebut secara resmi ketiganya sebagai gejala, karena takut membuat para orang tua khawatir. Saat ini, daftar gejala COVID-19 yang resmi dari NHS yaitu demam, batuk, dan juga kehilangan indra penciuman serta perasa.

Menurut Dr Tom Waterfield dari Universitas Belfast, memasukkan gejala diare, muntah, dan sakit perut ke dalam daftar gejala COVID-19 yang resmi bisa dipertimbangkan. Ini karena gejala tersebut bisa saja berpotensi membahayakan anak-anak.

"Kami menemukan bahwa diare dan muntah adalah gejala yang dilaporkan oleh beberapa anak, dan saya pikir menambahkannya ke daftar gejala yang di kini diketahui perlu dipertimbangkan," kata Dr Waterfield yang dikutip dari Daily Star, Senin (7/9/2020).

Untuk membuktikannya, Belfast melihat 1.000 anak dengan usia rata-rata 10 tahun. Mereka diuji darahnya untuk mengidentifikasi apakah mereka terinfeksi COVID-19. Hasil yang didapatkan, 68 anak memiliki antibodi dengan demam yang paling umum.

Namun, sebanyak 50 persen dari mereka ternyata positif terinfeksi Corona tanpa menunjukkan adanya gejala. Sementara 13 anak mengatakan mereka mengalami diare, muntah, dan juga sakit perut.

"Studi ini menunjukkan bahwa sekitar setengah dari anak-anak tidak menunjukkan gejala saat terinfeksi virus Corona, dan bahwa strategi pengujian yang dijalani Inggris saat ini akan gagal untuk mendiagnosis sebagian besar infeksi pada anak," jelasnya.

5 Penyebab Wanita Sulit Orgasme di Saat Bercinta

Mencapai klimaks bukanlah suatu yang mudah bagi wanita. Seringkali wanita tidak mampu berorgasme saat berhubungan seks dengan pasangannya. Sehingga, tak jarang wanita memalsukan orgasmenya agar tidak mengecewakan pasangan.
Sebenarnya sulit orgasme normal terjadi. Tetapi, wanita menjadi khawatir, jika hal ini terjadi setiap melakukan bercinta. Lantas apa yang mempengaruhi orgasme?

Dikutip dari Womansday, berikut beberapa faktor yang dapat mengganggu orgasme saat bercinta:

1. Kecemasan
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan saat bercinta adalah memikirkan kepuasan pasangan. Hal ini karena menimbulkan kecemasan dalam diri. Jika Anda terlalu memikirkan sesuatu dan berakhir cemas, membuat Anda sulit orgasme.

Psikiater asal New York Grant Hilary Brenner, MD, mengatakan bahwa kecemasan dapat membawa tubuh cenderung negatif dan dapat mengganggu kehidupan seks. Sebab, pikiran akan terganggu dan membuat tidak fokus saat bercinta.

2. Tidak menegangkan otot
Selama ini Anda menganggap terlalu rileks membuat bercinta semakin nikmat. Namun, menurut terapis seks, Louanne Cole Weston, PhD, pernyataan tersebut tidak tepat. Sebab, diperlukan ketegangan otot untuk mencapai orgasme. Weston juga merekomendasikan untuk mengkontraksikan otot panggul bagian bawah.

3. Kurang berfantasi
Kreativitas fantasi wanita sangat mempengaruhi kehidupan seks. Terapis seks Kat Van Kirk, Ph.D mengatakan fantasi bisa didapat dari melakukan masturbasi. Saat Anda bermasturbasi akan membantu melepaskan hambatan kreatif di tempat tidur dan lebih mengetahui G-spotnya. Sehingga, saat bercinta dengan pasangan, Anda lebih bergairah dan mencapai orgasme.

4. Diam saja
Tidak ada salahnya saat bercinta, Anda mengeluarkan desahan kecil atau mengarahkan pasangan area yang membuat terangsang. Hal ini karena akan membuat sesi bercinta bergairah dan mencapai kenikmatan. Jika Anda diam saja, pasangan akan bingung dan terus melakukan gerakan yang dianggap bisa memuaskan Anda.

5. Takut kehilangan kendali
Anda mungkin merasa malu mengekspresikan 'liar' di ranjang, entah takut pasangan menjadi ilfil dan tidak nyaman. Namun, menahan diri bisa menghambat kenikmatan saat bercinta dan membuat sulit berorgasme. Cobalah biarkan tubuh mengikuti kenikmatan dan rasakan sensasinya.
https://indomovie28.net/perfect-sense-2/