Sabtu, 12 September 2020

Viral di TikTok, Begini Kisah Wanita Indonesia Berambut Panjang Bak Rapunzel

 Belakangan ini salah satu video di TikTok menjadi viral. Video tersebut memperlihatkan seorang wanita yang memiliki rambut panjang bak Rapunzel di kehidupan nyata. Karena panjang rambutnya yang tidak biasa, hampir sebetis, tidak sedikit netizen yang merasa kagum melihatnya.
Video viral itu pertama kali diunggah oleh seorang teman dari wanita sang pemilik rambut panjang di akun TikTok @puyaiueo pada 28 Agustus 2020. Hingga kini unggahannya itu telah ditayangkan lebih dari 2.2 juta kali dan memperoleh 440 ribu likes.

Diketahui sang wanita pemilik rambut panjang itu bernama Roro Zahra Layungsari. Dirinya memang sengaja memanjangkan rambutnya karena tradisi turun temurun yang ada di keluarganya. Sehingga tidak hanya Roro, melainkan adik, ibu, dan neneknya pun memiliki rambut panjang seperti dirinya.

"Hal yang melatarbelakangi saya untuk memanjangkan rambut datang dari nenek saya (saya memanggil beliau Eyang). Eyang sangat menghindari pemotongan rambut, layaknya wanita-wanita Jawa zaman dahulu. Doktrinasi tersebut pun akhirnya diturunkan ke ibu saya, saya, dan adik saya," jelas Roro ketika dihubungi oleh Wolipop melalui DM Instagram pada Rabu (9/9/2020).

Wanita berusia 19 tahun itu mengaku bahwa memiliki rambut panjang justru menambah kepercayaan dirinya. Itulah mengapa dirinya tidak pernah berniat untuk memotong pendek rambutnya. Sampai saat ini Roro sendiri mengaku bahwa dirinya tidak pernah benar-benar memotong rambutnya, hanya merapihkan dan memotong bagian ujung rambutnya saja setiap beberapa bulan sekali. Dengan demikian rambutnya akan tetap rapih dan sehat.

Untuk perawatan rambut panjangnya sendiri, wanita asal Jakarta itu mengaku tidak mengalami kesulitan. Roro bahkan jarang pergi ke salon untuk perawatan rambutnya.

"Saya tumbuh besar dengan menyaksikan bagaimana Ibu dan Eyang merawat rambut mereka. Maka dari itu, saya tahu betul tips and trick serta kebiasaan yg mempermudah saya dalam merawat rambut. Tidak ada treatment khusus yg saya lakukan. Bahkan saya termasuk org yg jarang ke salon, karena pasti akan selalu dikenakan biaya tambahan," jelas Roro.

Roro juga menjelaskan bahwa agar rambutnya tetap sehat, dia tidak pernah menggunakan alat-alat styling rambut yang mengeluarkan energi panas. Menurutnya, memperlakukan rambut dengan selembut mungkin sangat penting untuk mencegah kerusakan pada rambut. Walaupun demikian tidak dipungkiri bahwa Roro juga kerap kali merasakan kerontokan rambut.

"Kerontokan rambut adalah hal yang wajar terjadi sebagai proses regenerasi, terlepas dari seberapa panjang rambut seseorang. Saya sendiri kerap merasakan kerontokan rambut berlebih akibat beban pikiran, hormon menstrual, dan hal2 lainnya. Namun, perlu diingat bahwa rambut akan tumbuh kembali seiring berjalannya waktu, sehingga kerontokan dalam ambang batas normal tidak menjadi problem utama bagi saya," jelasnya.

Diakui Roro bahwa memiliki rambut panjang kerap kali membuatnya jadi pusat perhatian. Dirinya pun sempat beberapa kali mengalami pengalaman kurang mengenakkan karena rambutnya itu.

"Terdapat hal-hal kurang mengenakkan yang terkadang datang dari lingkungan sekitar. Seringkali saya dibuat kaget jika ada orang yang datang dan tiba-tiba menyentuh rambut saya tanpa memberitahukan saya terlebih dahulu. Selain itu, rambut panjang saya juga kerap mengundang perhatian sehingga celotehan khalayak umum tidak dapat saya hindari. Saya paham betul bahwa menjadi yg berbeda akan mengakibatkan pada terpusatnya perhatian. Hingga saat ini, saya pun lebih banyak memaklumi dan memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut," jelas Roro.

Walaupun demikian, hingga saat ini Roro mengaku belum memiliki keinginan untuk memotong pendek rambutnya. Dirinya justru bertekad untuk terus mempertahankan rambut panjangnya. Menurutnya rambut panjangnya itu bisa membuatnya lebih mudah dikenali.
https://kamumovie28.com/popstar-never-stop-never-stopping/

Pengakuan Pembelot Korea Utara, Makan Serangga Demi Bertahan Hidup

Sudah bukan rahasia lagi bila Korea Utara dikenal sebagai negara yang penuh kontroversi. Tak cuma proyek senjata nuklirnya yang menuai kecaman, nasib rakyatnya juga kerap menjadi sorotan dunia.
Baru-baru ini, seorang perempuan yang berhasil kabur dari Korea Utara membeberkan kisah hidupnya yang pilu saat menjadi warga negara pimpinan Kim Jong Un tersebut.

Yeonmi Park lahir 26 tahun lalu di Korea Utara. Jangan bayangkan masa kecil Yeonmi yang penuh ceria dan canda tawa.

Di sekolah, Yeonmi Park diajarkan untuk membenci negara-negara yang bertentangan dengan Korea Utara. Ia dan murid sekelasnya pun mendapat sesi khusus untuk saling mengkritik secara tidak sehat sehingga menimbulkan konflik dan perpecahan.

"Kami tidak punya teman di Korea Utara, hanya kenalan biasa. Tidak ada konsep pertemanan," ungkap Yeonmi Park dalam sebuah wawancara dengan New York Post.

Suramnya masa kanak-kanak Yeonmi Park di Korea Utara tak hanya itu saja. Ia melihat secara langsung orang-orang di sekitarnya menderita karena kelaparan sampai mati.

"Sebuah hal biasa bagi kami untuk melihat mayat-mayat bergeletakan di pinggir jalan. Bukan hal yang aneh buatku," kata perempuan yang saat ini berdomisili di Chicago, AS.

Menurut Yeonmi Park, kesengsaraan yang terjadi di belahan dunia lain tak sebanding dengan di bekas negaranya.

"Saya sudah pernah ke daerah kumuh di Mumbai dan beberapa negara, tapi di Korea Utara sangat parah karena kelaparan di sana sangat sistematis. Korea Utara sengaja membuat negaranya kelaparan," terang Yeonmi Park.

Demi bertahan hidup, Yeonmi Park dan keluarganya pernah mengonsumsi serangga karena tak ada makanan yang tersedia. Nenek dan pamannya meninggal karena malagizi.

"Korea Utara menghabiskan miliaran dolar untuk membuat senjata nuklir. Jika mereka mau menyisihkan 20 persennya saja, orang-orang tidak akan mati karena perut kosong, tapi rezim membuat kami kelaparan," katanya lagi.

Karena sudah tak kuat menghadapi kesengsaraan, keluarga Yeonmi Park memutuskan untuk keluar dari Korea Utara. Ketika kabur bersama ibunya, ia baru berusia 13 tahun.

Mereka berusaha melarikan diri melalui China di tengah musim dingin. Namun di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh kelompok penyelundup manusia. Mereka lalu memerkosa ibunya.

Menjadi korban perdagangan manusia, ia dijual kepada seseorang dengan bayaran tak lebih dari US$ 300 atau sekitar Rp 4,5 juta.

Singkat cerita mereka berhasil keluar dari perbatasan dan bertemu dengan ayahnya yang sudah kabur terlebih dulu. Tak lama kemudian, ayah Park meninggal karena kanker usus.

Dengan bantuan misionaris Kristen, Park dan ibunya masuk ke Mongolia dengan aman. Mereka lalu dipindahkan ke sebuah penampungan di Korea Selatan.

Kehidupan Yeonmi Park berangsur membaik. Di Seoul, ia melanjutkan studinya sebelum akhirnya bertolak ke New York City pada 2014.

Berangkat dari pengalaman kelam tersebut, Yeonmi Park terinspirasi untuk menjadi seorang pejuang hak asasi manusia. Ia vokal terhadap isu hak-hak warga Korea Utara yang tertindas karena pemerintahnya yang otoriter.

Terlepas dari kisah hidupnya yang pilu, Yeonmi Park tetap bersyukur lahir di Korea Utara. "Jika saya tidak lahir di bawah tekanan dan kemelut tersebut, saya mungkin tidak akan pernah melihat terang. Mungkin orang-orang di sini, mereka tidak melihat terang dan hanya bisa merasakan gelap. Saya bisa melihatnya dengan terang," katanya.
https://kamumovie28.com/billy-lynns-long-halftime-walk-2/