Jumat, 20 November 2020

Bos WHO Jadikan 3 Negara Contoh Soal COVID-19 Termasuk Indonesia

 Beberapa waktu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengundang Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk berbagi pengalaman dalam penanganan pandemi COVID-19. Terutama terkait dengan pelaksanaan IAR (Intra Action Review) COVID-19 nasional.

Dalam penuturannya, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pelaksanaan IAR COVID-19 sangat penting untuk memperkuat dan meninjau strategi dalam menangani pandemi.


"Kajian analisis (IAR) semacam ini adalah apa yang diminta dunia selama World Health Assembly bulan Mei, tinjauan interaksi menggunakan pendekatan multi-sektor masyarakat secara keseluruhan, mengakui pemangku kepentingan dalam tanggapan kesiapsiagaan di tingkat nasional dan sub-nasional," jelas Tedros dalam konferensi pers virtual WHO pada Jumat, 6 November 2020 lalu.


Tedros mengatakan masih ada harapan dalam menangani pandemi Corona ini. Dalam hal ini negara bisa menggerakkan seluruh pemerintahannya untuk meningkatkan strategi penanganan.


"Negara bisa membalikkannya dengan menggerakkan seluruh pemerintahan dan respons semua masyarakat. Tidak ada kata terlambat," tegas Tedros.


Tedros juga mendorong beberapa negara untuk belajar terkait COVID-19 dari tiga negara yang diundang untuk berbagi pengalaman IAR tersebut, yaitu Thailand, Afrika Selatan, dan Indonesia.


"Dengan melakukan review secara real time dan berbagi pelajaran kepada dunia, ketiga negara tersebut (Thailand, Afrika Selatan, Indonesia), telah mencerminkan cetak biru bagaimana negara dapat menekan COVID-19 dan memutus rantai penularan," jelas Tedros.


"Saya mendorong semua negara untuk belajar dari Thailand, Afrika Selatan dan Indonesia untuk bekerja menekan virus ini hari ini. Kita bisa menyelamatkan nyawa dan mengakhiri pandemi ini bersama-sama," kata Tedros.

https://kamumovie28.com/movies/force-of-destiny/


Dirut RSI Surabaya Meninggal karena COVID-19, Ini Gejala yang Picu Kondisi Fatal


Kabar duka datang dari Dirut Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya Ahmad Yani, dr Samsul Arifin, MARS dinyatakan meninggal karena COVID-19. Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua perhimpunan rumah sakit seluruh Indonesia (PERSI) Jatim itu dilaporkan meninggal hari ini pukul 06.45 WIB.

"Iya, benar," ujar Marketing dan Humas RSI A Yani M Budhi saat dikonfirmasi, Sabtu (14/11/2020).


Budhi menuturkan almarhum diketahui terpapar COVID-19 sejak 25 Oktober lalu. Dan sempat dirawat selama 20 hari di ruang isolasi RSU Soetomo.


Saat terinfeksi COVID-19, ada beberapa faktor yang bisa memperparah gejala bahkan memicu kondisi fatal. Seperti usia lanjut, respons kekebalan tubuh dan penyakit penyerta.


Selain itu, adapula kondisi fatal yang disebabkan karena happy hypoxia saat terpapar COVID-19. Kondisi ini terjadi saat pasien COVID-19 memiliki saturasi oksigen yang rendah tapi tak bergejala sesak napas.


Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) menyebut ada beberapa tanda atau gejala COVID-19 yang perlu diwaspadai karena memicu kondisi fatal hingga kematian.


Berikut tandanya

Kesulitan bernapas

Nyeri atau tekanan yang terus-menerus di dada

Kebingungan

Ketidakmampuan untuk bangun atau tetap terjaga

Bibir, wajah atau kuku kebiruan (kondisi ini bisa menunjukkan happy hypoxia).

Meski begitu, hingga saat ini, banyak pasien COVID-19 yang meninggal karena memiliki penyakit penyerta. Penyakit penyerta yang diidap pasien COVID-19 membuat seseorang memiliki sistem imun lebih lemah sehingga tak mampu melawan COVID-19.


"Jika sistem kekebalan tubuh tidak kuat, kemungkinan besar virus itu dapat berkembang biak di dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan parut. Sistem kekebalan akan melawannya dan menghancurkan jaringan paru yang sehat dalam prosesnya," kata Dr Sarah Jarvis GP, Direktur Klinis Patient Access, dikutip dari The Sun.

https://kamumovie28.com/movies/faith-in-destiny/

Ilmuwan Pfizer Sebut Vaksin Corona yang Dikembangkan Mampu Akhiri Pandemi

  Vaksin BioNTech dan Pfizer baru-baru ini menyatakan bahwa efektivitas dari vaksin mereka yang sudah memasuki uji klinis tahap akhir mencapai 90 persen.

Dalam wawancara dengan sebuah surat kabar Inggris, CEO BioNTech Ugur Sahin mengaku vaksin buatannya akan mampu mengakhiri pandemi COVID-19 ini.


"Jika pertanyaannya adalah apakah kita dapat menghentikan pandemi dengan vaksin ini, maka jawabannya adalah: ya," ujarnya, seperti dikutip dari laman The Guardian.


Dia pun bercerita, awalnya dirinya tidak yakin bahwa vaksin ini akan memicu reaksi yang cukup kuat bagi sistem kekebalan imunitas manusia. Namun kini, lanjutnya, pihaknya sangat yakin bahwa vaksin ini dapat mengalahkan virus Corona COVID-19.


"Vaksin ini menghalangi COVID-19 mendapat akses ke sel manusia, tetapi jika virus berhasil menemukan akses masuk, maka cell-T akan memusnahkannya," ungkapnya.


Namun demikian, kemanjuran dari vaksin ini baru akan terlihat sepenuhnya efektif dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. Dibutuhkan dua dosis vaksin guna menciptakan kekebalan tubuh manusia selama satu tahun.


Selain itu, pemerintah Israel bahkan telah memesan 4 juta dosis vaksin COVID-19 Pfizer ini. Hal itu diungkapkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kemarin, Jumat (13/11/2020).


Kemajuan positif dari vaksin pfizer ini pun turut mendapatkan apresiasi dari Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom. Namun, Tedros pun mengingatkan agar vaksin ini bermanfaat bagi semua negara, karena vaksin merupakan alat vital untuk mengendalikan pandemi.


"Vaksin akan menjadi alat vital untuk mengendalikan pandemi dan kami tergerak oleh hasil awal uji klinis yang dirilis minggu ini," ujarnya seperti dikutip dari CNA.

https://kamumovie28.com/movies/crouching-tiger-hidden-dragon-sword-of-destiny/


Bos WHO Jadikan 3 Negara Contoh Soal COVID-19 Termasuk Indonesia


Beberapa waktu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengundang Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk berbagi pengalaman dalam penanganan pandemi COVID-19. Terutama terkait dengan pelaksanaan IAR (Intra Action Review) COVID-19 nasional.

Dalam penuturannya, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pelaksanaan IAR COVID-19 sangat penting untuk memperkuat dan meninjau strategi dalam menangani pandemi.


"Kajian analisis (IAR) semacam ini adalah apa yang diminta dunia selama World Health Assembly bulan Mei, tinjauan interaksi menggunakan pendekatan multi-sektor masyarakat secara keseluruhan, mengakui pemangku kepentingan dalam tanggapan kesiapsiagaan di tingkat nasional dan sub-nasional," jelas Tedros dalam konferensi pers virtual WHO pada Jumat, 6 November 2020 lalu.


Tedros mengatakan masih ada harapan dalam menangani pandemi Corona ini. Dalam hal ini negara bisa menggerakkan seluruh pemerintahannya untuk meningkatkan strategi penanganan.


"Negara bisa membalikkannya dengan menggerakkan seluruh pemerintahan dan respons semua masyarakat. Tidak ada kata terlambat," tegas Tedros.


Tedros juga mendorong beberapa negara untuk belajar terkait COVID-19 dari tiga negara yang diundang untuk berbagi pengalaman IAR tersebut, yaitu Thailand, Afrika Selatan, dan Indonesia.


"Dengan melakukan review secara real time dan berbagi pelajaran kepada dunia, ketiga negara tersebut (Thailand, Afrika Selatan, Indonesia), telah mencerminkan cetak biru bagaimana negara dapat menekan COVID-19 dan memutus rantai penularan," jelas Tedros.


"Saya mendorong semua negara untuk belajar dari Thailand, Afrika Selatan dan Indonesia untuk bekerja menekan virus ini hari ini. Kita bisa menyelamatkan nyawa dan mengakhiri pandemi ini bersama-sama," kata Tedros.

https://kamumovie28.com/movies/riders-of-destiny/