Jumat, 20 November 2020

Vaksin Meningkatkan Imunitas Tubuh

  Tingkat kesembuhan pasien COVID-19 di Indonesia terus menunjukkan tren membaik. Hal ini pun memberikan optimisme tinggi bagi masyarakat dalam melewati masa pandemi COVID-19.

Dilansir dari survei IPSOS hingga Nielsen, masyarakat Indonesia diketahui paling optimis dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Asia Tenggara. Hal ini tak lepas dari tingginya angka kesembuhan COVID-19 di dalam negeri.


"Recovery rate (rasio kesembuhan) dari seluruh total kasus COVID-19 mencapai 82,84%. Angka sembuh dan selesai isolasi COVID-19 meningkat dibandingkan sebelumnya, yaitu 80,51%," ujar Juru Bicara Satgas COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/11/2020).


Hal itu diungkapkannya dalam acara Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dengan tema 'Antara Pengobatan dan Pencegahan: Pilih Mana?'.


Ia mengatakan keseriusan pemerintah dalam menangani pasien COVID-19 juga terlihat dari suplai obat penanganan COVID-19 yang terus terdistribusi dengan cukup. Dengan tujuan meningkatkan rasio kesembuhan, mulai 4 November, obat penanganan COVID-19 ini sudah didistribusikan ke 34 Dinas Kesehatan Provinsi dan 779 rumah sakit di seluruh Indonesia.


Pemerintah juga terus melakukan pemenuhan suplai obat penanganan COVID-19 hingga bulan Desember 2020 mendatang. Jumlah tenaga medis pun mencapai 300 ribu orang yang bekerja di rumah sakit rujukan COVID-19 di seluruh Indonesia.


dr Reisa mengatakan masyarakat sebaiknya tidak takut untuk memeriksakan diri demi mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal. Sebab obat-obatan yang tersedia di fasilitas kesehatan, sudah sangat lengkap dan membantu.


Upaya penanganan COVID-19 ini juga diikuti dengan rencana pemerintah untuk mengadakan vaksin COVID-19. Rencana ini juga memberikan optimisme bagi masyarakat. Masyarakat harus menyadari virus COVID-19 ini nyata adanya. Dengan menjalankan protokol kesehatan 3M dengan disiplin akan efektif mencegah penularan virus COVID-19.

https://kamumovie28.com/movies/once-upon-a-time-in-high-school/


"Wajib mencegah dan melindungi diri dari penyakit. Karena yang namanya mencegah jauh lebih mudah, lebih murah, lebih berfaedah daripada mengobati," tutup dr Reisa.


Sementara itu, Kepala Instalasi Gawat Darurat salah satu rumah sakit di Jakarta, dr Gia Pratama Putraz menyatakan setidaknya ada 3 fase yang harus dihadapinya hampir setiap hari dalam menangani pasien COVID-19. Fase pertama yakni meyakinkan pasien positif COVID-19 bahwa penyakit ini bisa dilalui.


"Keyakinan akan kesembuhan adalah 50% kesembuhan. Virus ini sebenarnya bisa kalah dengan daya tahan tubuh kita sendiri. Jadi biarkanlah bapak ibu, tidak usah fokus pada penyakitnya. Biarkan dokter-dokter kita yang fokus pada penyakitnya. Bapak ibu fokuslah menjaga diri dan kesehatan," ungkap dr Gia.


Fase kedua adalah saat pasien harus diisolasi sehingga tidak boleh bertemu dengan keluarga ataupun teman. Sebagai tenaga kesehatan, dokter harus terus berkunjung menyemangati para pasien dan berperan sebagai keluarga kedua pasien COVID-19.


Setelah itu memasuki fase ketiga terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah kesembuhan pasien. Sementara kemungkinan kedua adalah hasil yang tidak diinginkan yakni, meninggalnya pasien COVID-19.


Mengobati memang penting, namun mencegah lebih baik. Itulah yang dr Gia sering imbau kepada setiap orang, baik langsung kepada pasiennya atau melalui media sosial. Ia pun mengibaratkan pencegahan dengan sebuah rumus, Ri (risiko infeksi) = Jv (jumlah virus) dibagi i (imunitas tubuh).


"Jadi, cara kita menurunkan risiko infeksi adalah menurunkan jumlah virus. Caranya melakukan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) dan meningkatkan imunitas tubuh. Cara meningkatkan imunitas ini ada tiga, yang pertama memenuhi kebutuhan nutrisi yang cukup dan baik," ujarnya.


"Artinya sayur dan buah harus dikonsumsi setiap hari. Kedua, istirahat yang cukup. Penelitian terbaru mengatakan manusia itu idealnya tidur 6-7 jam, tidur sebelum jam 11 malam dan bangun sebelum jam 5 pagi, itu yang paling baik. Terakhir, olahraga rutin. Ini banyak yang tidak dilakukan di saat kita bekerja dari rumah. Padahal ada banyak olahraga yang bisa dilakukan di dalam rumah," terang dr Gia.


Masyarakat juga diimbau untuk melakukan deteksi dini gejala penyakit COVID-19. Upaya ini sangat membantu meringankan gejala COVID-19 agar tidak semakin berat nantinya.


"Saya ingin teman-teman atau masyarakat semua datang ke rumah sakit, justru ketika kondisinya belum parah. Kalau masih fase-fase awal, dahak belum kental, itu pakai obat pengencer dahak saja tidak akan menyumbat paru-paru. Jadinya tidak akan menyebabkan pneumonia parah. Selain itu sekarang tes swab juga sudah semakin cepat, dalam sehari dua hari sudah bisa diterima hasilnya. Harganya juga semakin terjangkau," ujar dr Gia.

https://kamumovie28.com/movies/the-ghost-of-ampera-house/

Viral Tips Sembuhkan COVID-19 dalam Waktu 5 Menit, Dokter Paru Pastikan Hoax!

 Viral video cara menyembuhkan COVID-19 dalam waktu 5 menit di media sosial TikTok. Dalam video viral ini disebutkan penggunaan obat luka povidone iodine bisa menyembuhkan COVID-19 secara singkat.

"Tips menyembuhkan COVID-19 dalam waktu 5 menit, pertama siapkan betadine mouthwash dan cotton bud, kedua tuangkan betadine secukupnya dan basahkan dengan cotton bud, bahan siap dipakai," sebut @nicputra dalam akun TikTok-nya.


"Ketiga oleskan perlahan ke seluruh bagian dalam rongga hidung secara merata, lakukan ini secara rutin maka COVID-19 kalian akan hilang," lanjut keterangan dalam video tersebut, dengan mencantumkan sumber berasal dari Hotman Paris.


Meski belakangan sudah dihapus dari akun TikTok tersebut, video tersebut sempat viral dibagikan di berbagai platform media sosial. benarkah cara ini bisa menyembuhkan COVID-19 dalam waktu 5 menit?


Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Agus Dwi Susanto, SpP, menegaskan cara tersebut keliru atau tidak benar. Hingga saat ini, belum ada uji klinis terkait penggunaan povidone iodine untuk menyembuhkan COVID-19.


"Betadine (povidone iodine) dalam studi-studi di laboratorium dapat menurunkan viral load SARS-CoV-2. Tapi dalam penggunaannya pada manusia perlu uji klinis efektivitasnya," tegas dr Agus saat dihubungi detikcom Sabtu (14/11/2020).


Lebih lanjut, dr Agus menjelaskan virus Corona COVID-19 tak hanya berada di hidung. Namun lebih tepatnya di saluran napas atas lain dan bahkan di luar organ pernapasan.


"Reseptor virus SARS-CoV-2 bukan hanya di hidung tetapi di saluran napas atas lain, saluran napas bawah, paru, bahkan organ luar pernapasan seperti saluran cerna, pembuluh darah, jantung, otak, dan lain lain," lanjut dr Agus.


Jika sudah terinfeksi COVID-19, dr Agus menekankan virus Corona COVID-19 yang berada di organ lain tak dapat dijangkau dengan hanya mengoleskan betadine di hidung. Pernyataan cara 5 menit bisa menyembuhkan COVID-19 juga dinilai dr Agus tidak tepat.


"Statement sembuh dalam 5 menit tidak tepat. Kesembuhan dari COVID-19 tidak hanya terkait dengan membersihkan hidung dengan antiseptik. Itu salah satu upaya pencegahan. Terapi-terapi lain oleh dokter diperlukan untuk mengobati infeksi COVID-19," pungkasnya.

https://kamumovie28.com/movies/self-helpless/


Vaksin Meningkatkan Imunitas Tubuh


 Tingkat kesembuhan pasien COVID-19 di Indonesia terus menunjukkan tren membaik. Hal ini pun memberikan optimisme tinggi bagi masyarakat dalam melewati masa pandemi COVID-19.

Dilansir dari survei IPSOS hingga Nielsen, masyarakat Indonesia diketahui paling optimis dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Asia Tenggara. Hal ini tak lepas dari tingginya angka kesembuhan COVID-19 di dalam negeri.


"Recovery rate (rasio kesembuhan) dari seluruh total kasus COVID-19 mencapai 82,84%. Angka sembuh dan selesai isolasi COVID-19 meningkat dibandingkan sebelumnya, yaitu 80,51%," ujar Juru Bicara Satgas COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/11/2020).


Hal itu diungkapkannya dalam acara Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dengan tema 'Antara Pengobatan dan Pencegahan: Pilih Mana?'.


Ia mengatakan keseriusan pemerintah dalam menangani pasien COVID-19 juga terlihat dari suplai obat penanganan COVID-19 yang terus terdistribusi dengan cukup. Dengan tujuan meningkatkan rasio kesembuhan, mulai 4 November, obat penanganan COVID-19 ini sudah didistribusikan ke 34 Dinas Kesehatan Provinsi dan 779 rumah sakit di seluruh Indonesia.


Pemerintah juga terus melakukan pemenuhan suplai obat penanganan COVID-19 hingga bulan Desember 2020 mendatang. Jumlah tenaga medis pun mencapai 300 ribu orang yang bekerja di rumah sakit rujukan COVID-19 di seluruh Indonesia.


dr Reisa mengatakan masyarakat sebaiknya tidak takut untuk memeriksakan diri demi mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal. Sebab obat-obatan yang tersedia di fasilitas kesehatan, sudah sangat lengkap dan membantu.


Upaya penanganan COVID-19 ini juga diikuti dengan rencana pemerintah untuk mengadakan vaksin COVID-19. Rencana ini juga memberikan optimisme bagi masyarakat. Masyarakat harus menyadari virus COVID-19 ini nyata adanya. Dengan menjalankan protokol kesehatan 3M dengan disiplin akan efektif mencegah penularan virus COVID-19.

https://kamumovie28.com/movies/helpless/