Jumat, 20 November 2020

Kata Pakar soal Kemungkinan Mutasi Corona dari Cerpelai Terjadi di Indonesia

 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut mutasi Corona yang semula ditemukan di Denmark, ada di 6 negara. Lima negara lainnya yaitu Italia, Amerika Serikat, Belanda, Swedia, dan Spanyol.

Beberapa ahli pun juga khawatir akan mutasi virus Corona tersebut. Sebelumnya mutasi yang disebut dengan 'Cluster 5' ini dikhawatirkan bisa mempengaruhi efektivitas dan kemanjuran vaksin di masa depan, yang saat ini sedang diteliti lebih dalam oleh ilmuwan berpengalaman.


Mungkinkah mutasi Corona dari cerpelai bisa terjadi di Indonesia?

Menanggapi hal ini, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio mengatakan kemungkinannya kecil dan baru menjadi sebuah kekhawatiran. Selain tidak ada peternakannya seperti di Denmark, jenis musangnya pun berbeda dengan yang ada di Indonesia.


"Tapi jenis musangnya beda ya. Dan di Denmark hewan yang termasuk golongan tupai atau musang ini karena bulunya bagus makanya diternak. Nah yang ditemukan di sana itu kalau nggak salah ada 4 peternakan, itu ada (virus Corona) di musangnya dan di peternaknya juga ada," jelas Prof Amin saat dihubungi detikcom, Kamis (12/11/2020).


"Yang jadi perhatian itu karena ditemukan kombinasi mutasi yang tidak biasa, tetapi ini baru kekhawatiran," lanjutnya.


Menurut Prof Amin masih terlalu jauh jika mutasi Corona dicurigai bisa menjadi potensi pandemi baru. Sebab, hingga saat ini mutasi Corona dari cerpelai masih SARS-CoV-2.


"Kalau dibilang kemungkinan (pandemi baru) ya bisa saja. Semua mutasi bisa jadi virus SARS-Coronavirus yang berbeda. Tetapi, saat ini sih masih SARS-CoV-2, masih satu famili. Ya mungkin bedanya hanya varian-varian saja," tambahnya.


Bisakah berisiko mempengaruhi efektivitas vaksin?

Hasil awal penelitian menunjukkan vaksin potensial yang dikembangkan di Denmark mampu melawan mutasi Corona dari cerpelai. Hal ini berdasarkan percobaan dengan kelinci.


"Apakah ini juga berlaku untuk vaksin lain dan apakah itu berlaku untuk antibodi manusia, kami tidak tahu," jelas Fomsgaard yang dikutip dari Al Jazeera, Jumat (13/11/2020).


Seberapa berbahaya mutasi Corona dari Cerpelai ini?

Lebih lanjut, Prof Amin mengatakan, sampai saat ini kemungkinan mutasi virus dari cerpelai ini bisa mempengaruhi efektivitas vaksin Corona tergantung pada kondisi mutasi tersebut.


"Tapi tergantung mutasi itu apakah dia mempengaruhi bagian dari virus itu, yang biasanya adalah protein spike. Apakah mutasi itu mempengaruhi daerah yang menjadi target vaksin tersebut," lanjut Prof Amin.


Prof Amin menegaskan, jika selama mutasi virus Corona itu tidak mempengaruhi bagian reseptor virus (RBD), tidak akan memberikan pengaruh pada kinerja vaksin nantinya.


"Selama mutasi itu tidak mempengaruhi yang namanya rbd (bagian reseptor virus) atau Receptor Binding Domain, maka biasanya tidak akan mempengaruhi kinerja vaksin," jelasnya.

https://kamumovie28.com/movies/the-student/


Vaksin Corona Buatan Pfizer 90 Persen Efektif, Dapat Lampu Hijau WHO?


Kepala Organisasi Kesehatan Dunia mengapresiasi kemajuan pesat riset vaksin COVID-19 yang dilakukan. Kendati demikian, Ia mengingatkan agar semua negara harus menuai manfaat.

"Vaksin akan menjadi alat penting untuk mengendalikan pandemi, dan kami didorong oleh hasil awal uji klinis yang dirilis minggu ini," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam penutupan pertemuan tahunan WHO, Jumat (13/11/2020).


Baru-baru ini, farmasi AS Pfizer dan mitranya dari Jerman BioNTech mengumumkan kandidat vaksin mereka 90 persen efektif mencegah symptomatic COVID-19. Artinya, seseorang yang disuntik vaksin ini tetap bisa terinfeksi, namun tidak mengalami gejala.


Hal ini terekam dari uji klinis yang dilakukan dengan melibatkan lebih dari 40 ribu orang sukarelawan.


"Tidak pernah dalam sejarah penelitian vaksin berkembang sedemikian cepat. Kita harus mengaplikasikan urgensi dan inovasi yang sama untuk memastikan semua negara mendapatkan manfaat dari pencapaian ilmiah ini," kata Tedros.


Pandemi COVID-19 telah menewaskan hampir 1,3 juta orang di dunia dari 52,7 juta kasus positif COVID-19. Namun, penghitungan itu mungkin hanya mencerminkan sebagian kecil dari jumlah infeksi yang sebenarnya. Sebab, banyak negara hanya melakukan tes swab terhadap mereka yang bergejala sedang dan berat.

https://kamumovie28.com/movies/student-a/

Vaksin Meningkatkan Imunitas Tubuh

  Tingkat kesembuhan pasien COVID-19 di Indonesia terus menunjukkan tren membaik. Hal ini pun memberikan optimisme tinggi bagi masyarakat dalam melewati masa pandemi COVID-19.

Dilansir dari survei IPSOS hingga Nielsen, masyarakat Indonesia diketahui paling optimis dalam menghadapi pandemi COVID-19 di Asia Tenggara. Hal ini tak lepas dari tingginya angka kesembuhan COVID-19 di dalam negeri.


"Recovery rate (rasio kesembuhan) dari seluruh total kasus COVID-19 mencapai 82,84%. Angka sembuh dan selesai isolasi COVID-19 meningkat dibandingkan sebelumnya, yaitu 80,51%," ujar Juru Bicara Satgas COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/11/2020).


Hal itu diungkapkannya dalam acara Dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dengan tema 'Antara Pengobatan dan Pencegahan: Pilih Mana?'.


Ia mengatakan keseriusan pemerintah dalam menangani pasien COVID-19 juga terlihat dari suplai obat penanganan COVID-19 yang terus terdistribusi dengan cukup. Dengan tujuan meningkatkan rasio kesembuhan, mulai 4 November, obat penanganan COVID-19 ini sudah didistribusikan ke 34 Dinas Kesehatan Provinsi dan 779 rumah sakit di seluruh Indonesia.


Pemerintah juga terus melakukan pemenuhan suplai obat penanganan COVID-19 hingga bulan Desember 2020 mendatang. Jumlah tenaga medis pun mencapai 300 ribu orang yang bekerja di rumah sakit rujukan COVID-19 di seluruh Indonesia.


dr Reisa mengatakan masyarakat sebaiknya tidak takut untuk memeriksakan diri demi mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal. Sebab obat-obatan yang tersedia di fasilitas kesehatan, sudah sangat lengkap dan membantu.


Upaya penanganan COVID-19 ini juga diikuti dengan rencana pemerintah untuk mengadakan vaksin COVID-19. Rencana ini juga memberikan optimisme bagi masyarakat. Masyarakat harus menyadari virus COVID-19 ini nyata adanya. Dengan menjalankan protokol kesehatan 3M dengan disiplin akan efektif mencegah penularan virus COVID-19.

https://kamumovie28.com/movies/once-upon-a-time-in-high-school/


"Wajib mencegah dan melindungi diri dari penyakit. Karena yang namanya mencegah jauh lebih mudah, lebih murah, lebih berfaedah daripada mengobati," tutup dr Reisa.


Sementara itu, Kepala Instalasi Gawat Darurat salah satu rumah sakit di Jakarta, dr Gia Pratama Putraz menyatakan setidaknya ada 3 fase yang harus dihadapinya hampir setiap hari dalam menangani pasien COVID-19. Fase pertama yakni meyakinkan pasien positif COVID-19 bahwa penyakit ini bisa dilalui.


"Keyakinan akan kesembuhan adalah 50% kesembuhan. Virus ini sebenarnya bisa kalah dengan daya tahan tubuh kita sendiri. Jadi biarkanlah bapak ibu, tidak usah fokus pada penyakitnya. Biarkan dokter-dokter kita yang fokus pada penyakitnya. Bapak ibu fokuslah menjaga diri dan kesehatan," ungkap dr Gia.


Fase kedua adalah saat pasien harus diisolasi sehingga tidak boleh bertemu dengan keluarga ataupun teman. Sebagai tenaga kesehatan, dokter harus terus berkunjung menyemangati para pasien dan berperan sebagai keluarga kedua pasien COVID-19.


Setelah itu memasuki fase ketiga terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah kesembuhan pasien. Sementara kemungkinan kedua adalah hasil yang tidak diinginkan yakni, meninggalnya pasien COVID-19.


Mengobati memang penting, namun mencegah lebih baik. Itulah yang dr Gia sering imbau kepada setiap orang, baik langsung kepada pasiennya atau melalui media sosial. Ia pun mengibaratkan pencegahan dengan sebuah rumus, Ri (risiko infeksi) = Jv (jumlah virus) dibagi i (imunitas tubuh).


"Jadi, cara kita menurunkan risiko infeksi adalah menurunkan jumlah virus. Caranya melakukan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) dan meningkatkan imunitas tubuh. Cara meningkatkan imunitas ini ada tiga, yang pertama memenuhi kebutuhan nutrisi yang cukup dan baik," ujarnya.


"Artinya sayur dan buah harus dikonsumsi setiap hari. Kedua, istirahat yang cukup. Penelitian terbaru mengatakan manusia itu idealnya tidur 6-7 jam, tidur sebelum jam 11 malam dan bangun sebelum jam 5 pagi, itu yang paling baik. Terakhir, olahraga rutin. Ini banyak yang tidak dilakukan di saat kita bekerja dari rumah. Padahal ada banyak olahraga yang bisa dilakukan di dalam rumah," terang dr Gia.


Masyarakat juga diimbau untuk melakukan deteksi dini gejala penyakit COVID-19. Upaya ini sangat membantu meringankan gejala COVID-19 agar tidak semakin berat nantinya.


"Saya ingin teman-teman atau masyarakat semua datang ke rumah sakit, justru ketika kondisinya belum parah. Kalau masih fase-fase awal, dahak belum kental, itu pakai obat pengencer dahak saja tidak akan menyumbat paru-paru. Jadinya tidak akan menyebabkan pneumonia parah. Selain itu sekarang tes swab juga sudah semakin cepat, dalam sehari dua hari sudah bisa diterima hasilnya. Harganya juga semakin terjangkau," ujar dr Gia.

https://kamumovie28.com/movies/the-ghost-of-ampera-house/