Jumat, 27 November 2020

WHO Investigasi Wuhan soal Asal Usul Virus Corona, Benar dari Kelelawar?

 Asal-usul virus Corona COVID-19 hingga kini masih menjadi misteri. Meskipun pertama kali dilaporkan muncul di Wuhan, China, belakangan para peneliti menunjukkan bukti kasus Corona lebih dulu terjadi di luar China.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyebut tidak bisa mengesampingkan dugaan tersebut dan mungkin saja jika Corona lebih dulu menyebar sebelum dilaporkan di Wuhan pertama kali. Investigasi asal-usul COVID-19 disebut telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu, tetapi hasilnya belum kunjung ditemukan.


Dikutip dari Reuters, kini pihak WHO pun ingin kembali ke pasar basah Wuhan, awal kasus Corona dilaporkan. Hal ini untuk mengetahui bagaimana COVID-19 mungkin pertama kali menyebar dari kelelawar.


Peter Ben Embarek, pakar penyakit hewan WHO, mengatakan bahwa tim ingin mewawancara ulang kasus awal COVID-19 dan menemukan pekerja yang terinfeksi di awal wabah, yang mungkin memiliki 'informasi penting' tentang di mana mereka mungkin tertular virus Corona baru atau COVID-19.

https://movieon28.com/movies/surau-dan-silek/


"Tidak ada yang menunjukkan bahwa itu (COVID-19) adalah buatan manusia," katanya, mengulangi pandangan WHO dan sebagian besar ilmuwan.


"Sebelum Desember 2019 kami tidak benar-benar tahu apa yang terjadi, kami tidak tahu bagaimana virus Corona COVID-19 melompat dari lingkungan alam yang paling mungkin dalam populasi kelelawar ke manusia. Dan sedikit sejarah itulah yang perlu kita rekonstruksi," kata Ben Embarek dalam acara media sosial pada hari Rabu.


China menjamin dukungan penuh investigasi WHO soal asal-usul wabah COVID-19

"WHO telah mendapat jaminan dari China bahwa kunjungan lapangan internasional untuk menyelidiki asal-usul virus Corona baru akan diatur sesegera mungkin," kata pakar darurat topnya Mike Ryan pada hari Senin.


Peneliti China sedang melakukan studi epidemiologi pada kasus COVID-19 dan kondisi awal di pasar Wuhan, sementara tim internasional yang terdiri dari 10 ahli akan melakukan studi fase 2.


Amerika Serikat, dan pada tingkat yang lebih kecil, beberapa delegasi Eropa, telah mengajukan pertanyaan tentang penundaan tersebut dan mencari jadwal kunjungan para ahli internasional, kata para diplomat.


Pakar penyakit hewan WHO Ben Embarek berkata 'belum terlambat' untuk penyelidikan asal usul wabah COVID-19.


"Apa yang ingin kami lakukan dengan tim internasional dan mitra di China adalah kembali ke lingkungan Wuhan, mewawancarai ulang kasus awal secara mendalam, mencoba menemukan kasus COVID-19 lain yang tidak terdeteksi pada waktu itu dan mencoba melihat kalau kita bisa mendorong kembali sejarah kasus pertama," ujarnya.


Investigasi WHO bersama para pakar nantinya disebut bisa mengungkap segala sesuatu yang masuk dan keluar dari pasar basah Wuhan. Mencoba mencari tahu dari mana kemungkinan virus Corona COVID-19 berasal, khususnya terkait beberapa dugaan yang belakangan menyebut berasal dari makanan.


"Mereka akan mencari kesamaan di antara para pekerja pasar yang sakit parah karena COVID-19 pada bulan Desember, dan apakah mereka terinfeksi di pedesaan atau lingkungan pertanian di China selatan atau mungkin bahkan di luar China," katanya.

https://movieon28.com/movies/adore/

Perbandingan Efek Samping Vaksin COVID-19, dari AstraZeneca hingga Sputnik V

 Sampai saat ini, para ilmuwan masih berlomba-lomba untuk menghasilkan vaksin COVID-19 yang efektif mencegah penularan virus Corona. Bahkan beberapa di antaranya sudah menunjukkan efektivitas lebih dari 90 persen.

Namun, seperti vaksin pada umumnya, vaksin COVID-19 ini juga melaporkan adanya efek samping yang dirasakan relawan saat mendapatkan suntikan uji coba. Mulai dari nyeri hingga demam.


Berikut ini berbagai perbandingan efek samping dari beberapa kandidat vaksin COVID-19, yang telah dirangkum detikcom.


1. AstraZeneca

Vaksin COVID-19 yang dikembangan AstraZeneca dan Universitas Oxford ini menunjukkan rata-rata 70 persen efektif. Para peneliti pun meyakini data efektivitas 90 persen bisa didapatkan, sebelum vaksin tersebut bisa digunakan secara luas.


Terkait efek sampingnya, dua relawan pun mengungkapkan hal yang mereka rasakan setelah mendapat suntikan vaksin tersebut. Tetapi, efek samping yang mereka rasakan tidak berangsur lama.


- Nyeri sendi dan demam

Relawan bernama Darren Lipomi, seorang profesor Departemen Teknik Nano di Universitas California San Diego mengeluhkan nyeri sendi ringan dan merasa kedinginan selama 36 jam usai disuntik.


"Rasanya seperti saya terkena flu yang cukup parah, tetapi tanpa gejala pernapasan,"


"Saya mengkonsumsi parasetamol setelah saya secara resmi mengalami "demam", dan kemudian ibuprofen dan unisom (tablet tidur) sebelum tidur. Keesokan paginya aku merasa cukup sehat, dengan rasa sakit yang menetap di persendianku," lanjutnya.


- Nyeri tubuh dan sakit kepala

Sementara relawan lainnya yaitu seorang ginekologi dari Greenwood Indiana, Dr Emily Cline, sehari usai disuntik pada 13 November sempat mengalami nyeri di tubuh dan sakit kepala yang intens.


"Prosesnya sangat teliti. Ada kuesioner yang sangat panjang yang meliputi data demografi, riwayat kesehatan, diikuti dengan kunjungan medis yang mencakup riwayat, dan pemeriksaan fisik," cerita Emily.


2. Moderna

Salah satu vaksin COVID-19 lainnya yaitu yang dikembangkan oleh Moderna juga disebut menjadi kandidat yang potensial untuk menangkal penularan Corona. Ini karena vaksin tersebut memiliki efikasi sebesar 94,5 persen, menjanjikan, dan menimbulkan efek samping yang ringan.


- Demam ringan

Demam ringan yang terjadi usai mendapatkan suntikan vaksin ini bukan menjadi pertanda yang mengkhawatirkan. Ini terjadi saat senyawa biokimia mengaktifkan sel kekebalan, dan membuat penanda inflamasi tertentu meningkat dan menyebabkan demam, kemerahan, atau pembengkakan.


Sebagian besar efek samping akan menghilang dengan sendirinya 2-3 hari pasca inokulasi. Demam ini juga bisa menjadi pertanda bahwa tubuh mulai memproduksi antibodi.


- Tangan pegal dan nyeri

Efek samping berupa nyeri dan pegal di lengan tempat vaksin disuntikkan umum terjadi, meski dengan vaksin apapun itu. Rasa nyeri ini bisa disebabkan karena nyeri otot dan merupakan respon alami tubuh terhadap benda asing, yang akan hilang setelah 1-2 hari.

https://movieon28.com/movies/moms-friends-2/


- Kelelahan

Selain itu, para relawan juga merasa kelelahan pasca suntikan. Ini kemungkinan karena reaksi dari virus yang masuk ke tubuh, yang kemudian menghasilkan respons inflamasi dan antibodi yang diperlukan.


Pada hari pertama suntikan, umumnya juga akan merasa ngantuk dan lelah.


3. Pfizer

Vaksin buatan Pfizer dan BioNTech yaitu BNT162b2 diklaim 90 persen efektif. Seperti yang lainnya, vaksin ini juga menunjukkan adanya efek samping pada relawannya.


Beberapa orang dari total relawan sebanyak 43.500 ini mengalami efek samping seperti sakit kepala dan nyeri otot pada suntikan pertama. Relawan asal Austin, Texas, Glenn Deshields (44) mengatakan merasa 'pengar yang parah' dan rasa seperti mabuk, meski hilang dengan cepat.


Lalu efek samping lainnya juga dirasakan Carrie dari Missouri. Ia merasa efek samping yang ia rasakan seperti sakit kepala, nyeri tubuh, dan demam.


Meski saat pemberian vaksin para relawan tidak mengetahui apakah mereka menerima vaksin atau plasebo, Carrie yakin yang dirasakannya ini karena penyuntikkan tersebut.


4. Sinovac

Untuk vaksin buatan Sinovac, yaitu CoronaVac yang diklaim aman juga memiliki efek samping. Tetapi, direktur Butantan Dimas Covas mengatakan bahwa vaksin ini tidak menimbulkan efek samping yang parah.


Covas mengatakan, sekitar 20 persen relawan mengalami nyeri ringan akibat suntikan dan 15 persen merasa sakit kepala, yang jumlahnya turun 10 persen pada dosis kedua. Tetapi, sebanyak 5 persen relawan lainnya mengeluhkan efek samping berupa mual, kelelahan, dan nyeri otot.


5. Sputnik V

Satu lagi vaksin yang diklaim efektif adalah Sputnik V buatan Rusia. Vaksin ini diklaim efektif 92 persen berdasarkan hasil uji coba sementara.Namun dalam uji klinisnya, sampai saat ini belum ditemukan adanya efek samping yang tak terduga dari vaksin tersebut. Tetapi, ada beberapa efek samping jangka pendek yang dirasakan para relawan, seperti nyeri di area suntikan, sindrom mirip flu termasuk peningkatan suhu tubuh, kelelahan, hingga sakit kepala.