Sabtu, 12 Desember 2020

Biar Nggak Masuk Black Market, Vaksin Corona Pakai QR Code

 Pemerintah sudah menyiapkan strategi distribusi vaksin Corona agar tidak jatuh ke pasar gelap (black market). Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengatakan proses distribusi vaksin COVID-19 akan mengandalkan QR Code.

"Jadi, pengirimannya juga nanti yang namanya vaksin itu ada QR Code-nya. Jadi, ketika diproduksi ada QR Code-nya, masuk ke box ada QR Code-nya, dan pengiriman itu juga kita sudah tahu kalau dikirim ke rumah sakit ini 100 kira-kira buat siapa, itu sudah ada seperti kayak pemilu," kata Erick dalam webinar yang diselenggarakan Shopee, Sabtu (12/12/2020).


Pemerintah berupaya memastikan agar jangan sampai terjadi kesalahan dalam pendistribusian vaksin Corona. Oleh karena itu disiapkan lah program satu data yang melibatkan data BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Dukcapil, dan Kemenkes.


"Jadi supaya jangan ada grey area, atau black market yang akhirnya harga vaksin misalnya hanya berapa ratus ribu (rupiah) tiba-tiba dijual 2.000 dolar," sebutnya.


"Nah, ini yang kita jaga, ini yang harus kita pastikan, karena itu pemerintah pada step awal ini vaksin ini terkonsolidasi," sambung Erick yang juga menjabat Menteri BUMN.


Erick Thohir sebelumnya sudah menyinggung soal peluang terjadinya praktik penjualan vaksin Corona melalui pasar gelap. Tentu dirinya tak mau itu terjadi.


"Kalau ini ada loopholes (celah), ada peluang, ada oknum, nah jual-beli lagi vaksin. Nanti terkena yang disalahkan ya siapa? dan nanti keluarganya kalau ada apa-apa kan kasian," kata kata Erick dalam acara bertajuk Indonesia Town Hall di salah satu stasiun televisi nasional, Jumat (20/11/2020).

https://kamumovie28.com/movies/young-mom-2/


Kredit Seret, Sri Mulyani Wanti-wanti Ekonomi Makin Loyo


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan belakangan ini laju kredit perbankan semakin lesu nyaris menyentuh level 0%. Artinya, makin sedikit orang yang mengajukan kredit atau ngutang sepanjang masa tersebut.

"Selain mereka harus melakukan tadi PSAK 71, mereka lihat risiko kredit memang melonjak tinggi sekali. Maka credit growth menurun, credit growth sekarang ini hampir di level 0% atau bahkan negatif. Growth kredit yang sangat lemah tidak akan mungkin mendorong ekonomi kita dan ekonomi tidak mungkin hanya didorong dengan APBN sendiri," terangnya dalam acara Business, Finance & Accounting Conference yang digelar IAI, Selasa (8/12/2020).


Dengan tidak adanya pertumbuhan kredit merupakan alarm tanda bahaya. Bila dibiarkan berlarut-larut tanpa kredit dan aktivitas usaha, Sri Mulyani khawatir kondisi dunia usaha bisa pingsan. Ujung-ujungnya, ekonomi pun terdampak negatif.


"Maka situasi sekarang ini kita harus kembali atau berupaya bagaimana sektor-sektor keuangan dan korporasi kembali bisa melakukan bisnisnya. Secara hati-hati, namun harus mulai pulih, karena kalau terlalu lama dia pingsan ekonominya juga pingsan," ucapnya.


Bagaimanapun caranya, dunia usaha baik korporasi maupun perbankan harus segera siuman. Jika tidak akan menjalar ke ekonomi Indonesia secara keseluruhan.


Artinya, lanjut Sri Mulyani, perbankan harus mulai menyalurkan kredit. Di sisi lain para korporasi juga harus mulai berani mengambil kredit. "Nah kalau yang satu nggak berani mengambil kredit, yang satunya tidak berani memberi kredit maka ekonominya akan pingsan," tuturnya.


Hal itu lah yang mendasari pemerintah bersama dengan OJK untuk memberikan relaksasi kredit. Pelaku usaha termasuk UMKM bisa tidak membayar utang pokoknya selama 6 bulan atau 9 bulan.


"Untuk usaha kecil bahkan bunganya dibayar disubsidi oleh pemerintah. Sehingga mereka tidak mengalami tekanan dari sisi pembayaran kreditnya. Untuk usaha kecil pun kita memberikan yang disebut jaminan pinjaman modal kerja," terangnya.

https://kamumovie28.com/movies/the-youngest-sister-in-law-2/

Ini Syarat Tes Corona Rp 15 Ribu Bisa Beredar di Masyarakat

 Alat GeNose yang diproduksi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) bisa bikin biaya tes Corona cuma Rp 15 ribu. Alat tersebut bekerja dengan cara mendeteksi embusan napas.

Selain murah, alat ini disebut lebih efektif dari rapid dan swab test. Waktu tes yang dibutuhkan cuma 3 menit dan akurasinya sudah mencapai 90% lebih. Demikian hasil dari validasi di beberapa rumah sakit yang sudah dilakukan para inovator alat ini.


Menurut Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, alat itu sebenarnya sudah siap didistribusikan ke masyarakat karena sudah diproduksi sebelum proses uji coba berjalan.


"Bisa langsung (didistribusikan ke masyarakat) karena sudah diproduksi awal," ujar Bambang kepada detikcom, Sabtu (12/12/2020).


Namun, sayangnya saat ini alat itu belum bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat karena masih ada beberapa laporan yang harus disiapkan untuk mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan. Laporan yang dimaksud adalah hasil uji validasi alat tersebut dari 1.000 sampel di sekitar 10 rumah sakit. Saat ini, laporan itu sedang disiapkan dan akan segera diberikan ke Kemenkes.


"Hasil lengkap uji validasi lebih dari 1.000 sampel di sekitar 10 RS," ungkapnya.


Diharapkan izin edar dari Kemenkes tadi bisa keluar akhir Desember 2020 ini agar bisa segera didistribusikan ke masyarakat. Untuk tahap awal, alat ini rencananya akan diberikan ke beberapa daerah paling banyak kasus COVID-19 sebagai bakti inovasi dari Kemristekbrin.


"Kemristekbrin memasukkan GeNose sebagai salah satu alkes yang diberikan ke beberapa daerah dalam bakti inovasi," imbuhnya.


Barulah setelah itu, alat ini bisa dibagikan ke seluruh daerah di Indonesia. Kemristekbrin juga mempersilahkan pihak swasta atau perseorangan yang tertarik dengan alat itu untuk memesan dan membelinya, lalu menggunakan sesuai kebutuhan masing-masing.

https://kamumovie28.com/movies/street-stall/


Biar Nggak Masuk Black Market, Vaksin Corona Pakai QR Code


Pemerintah sudah menyiapkan strategi distribusi vaksin Corona agar tidak jatuh ke pasar gelap (black market). Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir mengatakan proses distribusi vaksin COVID-19 akan mengandalkan QR Code.

"Jadi, pengirimannya juga nanti yang namanya vaksin itu ada QR Code-nya. Jadi, ketika diproduksi ada QR Code-nya, masuk ke box ada QR Code-nya, dan pengiriman itu juga kita sudah tahu kalau dikirim ke rumah sakit ini 100 kira-kira buat siapa, itu sudah ada seperti kayak pemilu," kata Erick dalam webinar yang diselenggarakan Shopee, Sabtu (12/12/2020).


Pemerintah berupaya memastikan agar jangan sampai terjadi kesalahan dalam pendistribusian vaksin Corona. Oleh karena itu disiapkan lah program satu data yang melibatkan data BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, Dukcapil, dan Kemenkes.


"Jadi supaya jangan ada grey area, atau black market yang akhirnya harga vaksin misalnya hanya berapa ratus ribu (rupiah) tiba-tiba dijual 2.000 dolar," sebutnya.


"Nah, ini yang kita jaga, ini yang harus kita pastikan, karena itu pemerintah pada step awal ini vaksin ini terkonsolidasi," sambung Erick yang juga menjabat Menteri BUMN.


Erick Thohir sebelumnya sudah menyinggung soal peluang terjadinya praktik penjualan vaksin Corona melalui pasar gelap. Tentu dirinya tak mau itu terjadi.


"Kalau ini ada loopholes (celah), ada peluang, ada oknum, nah jual-beli lagi vaksin. Nanti terkena yang disalahkan ya siapa? dan nanti keluarganya kalau ada apa-apa kan kasian," kata kata Erick dalam acara bertajuk Indonesia Town Hall di salah satu stasiun televisi nasional, Jumat (20/11/2020).

https://kamumovie28.com/movies/seven-princess-driver/