Senin, 14 Desember 2020

Bermodal Rp 50 Ribu, Olahan Daun Ubi Ini Terkenal hingga Abu Dhabi

 Kata siapa produk-produk makanan dari Indonesia tidak bisa mendunia? Inilah yang dilakukan oleh Ernawati (51) bersama 7 orang ibu-ibu di kelompoknya yang memproduksi olahan daun ubi. Tak tanggung-tanggung. kelompok emak-emak ini sukses menjual produk yang mereka buat hingga Abu Dhabi.

Ia pun mengatakan sebelum menjajal usaha olahan daun ubi ini, Ernawati adalah seorang pembantu rumah tangga yang bekerja di sebuah rumah. Kemudian Ernawati mencoba peruntungannya dalam usaha martabak dan mie ayam. Kini, ia menggantungkan nasib di usaha olahan dendeng ubi.


"Usaha saya dari tahun 2007, awalnya dari guru yang mengajari. Kemudian di kelurahan diajari oleh Dinas UMKM ada pelatihan pengemasan, pembukuan, legalitas, desain produk, intinya kami pelan-pelan dibina," ungkap Ernawati kepada detikcom beberapa waktu lalu.


Ia pun mengatakan memilih daun ubi yang diolah menjadi dendeng karena keunikan produk yang ditawarkan. Ernawati pun sempat beberapa kali mengisi sebuah seminar untuk memberikan inspirasi kepada mahasiswa agar lebih kreatif.


"Ketika di Dumai expo dan ada bazaar saya juga selalu menawari ke pengunjung agar mereka tahu tentang produk ini. Produk ini ada varian pedas, manis, ori. Bisa dijadikan cemilan dan lauk bersama nasi juga enak. Bisa tahan sekitar 2 bulan jika bumbu dipisah," tuturnya.


Ernawati menjelaskan untuk satu kali produksi modal sekitar Rp 50.000 untuk jadi 100 bungkus dendeng daun ubi. Ini karena ia hanya packaging, untuk daun ubi ia memetiknya di kebun sebelah rumahnya. Usahanya pun juga bisa dikatakan melejit karena produk olahannya sudah sampai ke Abu Dhabi.

https://tendabiru21.net/movies/titus-mystery-of-the-enygma/


"Seminggu bisa membuat 300 bungkus dan omset per bulannya rata-rata Rp 17.000.000. Cerita bisa menjual ke Abu Dhabi, awalnya saya titip di sebuah perumahan, Kemudian ada mereka (orang Abu Dhabi) yang menelepon nomor hp saya karena ada di banner. Mereka bawa produk saya untuk oleh-oleh ke Abu Dhabi. Ke Malaysia juga ada," jelas Ernawati.


Adapun langkah-langkah untuk membuat dendeng daun ubi yang ia produksi ini yaitu pertama-tama adalah merebus daunnya sampai empuk, kemudian ditiriskan dari airnya, lalu dipotong-potong. Bumbu dihaluskan yaitu ketumbar, bawang putih, bawang merah, merica dan digiling kemudian ditambah penyedap rasa. Setelah itu dimasukkan telur agar lengket dengan tepung sebagai pengikatnya agar bisa diiris tipis-tipis sebelum pembungkusan.


"Setelah adonan tercampur rata kemudian dipadatkan ke dalam loyang yang telah diberi minyak lalu dikukus sampai padat dan keras sekitar setengah jam. Didinginkan lalu dipotong-potong dikeringkan setengah hari tergantung cuaca, lalu digoreng," tandasnya.


Di masa pandemi kali ini ia pun juga tidak merasa terganggu dengan produksi yang ia jalani. Tetapi ia mengakui usaha yang ia jalani tidak akan bisa maju jika tidak ada bantuan KUR dari BRI. Kini pendapatannya yang hanya Rp 10.000.000 bisa naik hingga 2 atau 3 kali lipat.


"Saya awalnya usaha kecil kemudian meminjam ke BRI. Awalnya pengen di KUR, ketika selesai pakai Kupedes, produk pinjamannya untuk jadi modal usaha. Alhamdulillah yang dari pendapatannya Rp 10.000.000 sekarang bisa sampai Rp 20.000.000-30.000.000. Di BRI itu mudah, prosesnya cepat jadi memudahkan kami," pungkas Ernawati.


detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

https://tendabiru21.net/movies/love-like-the-falling-rain/

Rumah Walet Jadi Ladang Bisnis yang Digandrungi Warga Aruk

 Di sepanjang jalan menyusuri PLBN Aruk yang terletak di Kecamatan Sajingan Besar dari Kecamatan Galing, Anda akan disuguhi pemandangan kebun karet dan sawit yang tertata rapi. Memang itulah sumber mata pencaharian utama masyarakat di Galing dan Sajingan Besar yang langsung berbatasan dengan wilayah Kuching, Sarawak, Malaysia ini.


Namun dalam beberapa kesempatan, Anda juga akan melihat pemandangan berbeda berupa bangunan setinggi 7-9 meter yang dikerubungi burung walet. Rupanya itu adalah rumah yang disediakan untuk walet membuat sarang.


Salah satu pemilik, Agus Supriadi (28) mengaku rumah walet menjadi salah satu jenis investasi yang digandrungi oleh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.


"Itu sama juga kaya investasi-investasi emas, bank, bangunan, cuma kan dulu harganya (sarang walet) agak tinggi jadi lebih ke (investasi) walet, istilahnya orang tua lah," ungkapnya kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.


Apen, sapaan akrabnya mengaku rumah walet yang ia miliki sudah lama didirikan sejak tahun 2008 oleh orang tuanya. Kala itu, jumlah orang yang berinvestasi rumah walet hanya 2-3, namun kini sudah ada belasan orang yang menjajaki bisnis tersebut.

https://tendabiru21.net/movies/janin/


"Dari 2008, udah lama waktu itu masih belum istilahnya daerah sini masih dikit, masih 2-3 orang. (Sekarang) Di galing sini lah sudah belasan digit, satu dua yang berdempet pun ada," ceritanya.


Ia mengatakan dalam satu rumah walet diperkirakan bisa menampung 200-300 ekor. Bahkan ia pernah melihat seseorang yang punya rumah walet bisa menampung hingga 10.000 ekor.


Dalam setahun ia mengaku bisa panen sarang walet hingga 3 kali atau bisa panen selama 4 bulan sekali. Setiap panen bisa menghasilkan 120-130 sarang walet atau setara 1-2 kg yang bila dijual ke tengkulak sekitar tempat tinggalnya sekitar Rp 10-11 juta.


Walet biasa membangun sarangnya di atap atau dinding samping. Untuk memanennya Apen menyayat sarang walet menggunakan pisau. Setelah dikumpulkan, hasilnya langsung dijual ke tengkulak setempat.


Selama pandemi, ia mengaku tak mengalami penurunan pendapatan. Ditambah dengan nyambi sebagai Agen BRILink, Agus mengaku bersyukur mendapat tambahan pemasukan bersih per bulan Rp 5-6 juta.


"Syukurlah ada BRILink, banyak juga transaksi, yang banyak tarik tunai, transfer, istilahnya bayar iuran PLN karena kita termasuk boleh dikatakan agak aktif," kata Agus.


Agus menjadi salah satu dari 16 Agen BRILink yang tersebar di Kecamatan Galing dan Kecamatan Sajingan Besar di bawah naungan BRI Unit Galing. Di ulang tahun yang ke-125, BRI dengan tema BRILian hadir di perbatasan untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan.


Di masa yang serba sulit ini BRI juga berperan menyelamatkan UMKM-UMKM terdampak pandemi, mulai dari memberikan restrukturisasi kredit, subsidi bunga, hingga menyalurkan bantuan dari Pemerintah seperti BPUM dan BSU.


detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.

https://tendabiru21.net/movies/buku-harianku/