Minggu, 20 Desember 2020

Daya Beli Masyarakat Tergerus Corona, Bagaimana Biar Nggak Makin Nelangsa?

 Pandemi virus Corona telah membuat perekonomian banyak negara babak belur. Dampak paling terasa adalah meningkatnya angka pengangguran hingga pemangkasan upah tenaga kerja hingga 50% dari upah normalnya.

Kondisi itu tak lepas dari besarnya tekanan yang dihadapi para pelaku usaha dan industri akibat seretnya laju roda perekonomian. Tak hanya di dunia, tapi juga terasa di tanah air.


Kondisi ini jelas bikin banyak rumah tangga merasakan imbasnya. Salah satu yang paling terasa di level rumah tangga adalah menurunnya daya beli yang tergerus imbas pelemahan ekonomi akibat pandemi virus corona.


Guna mengatasi masalah tersebut, berbagai cara dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah pemberian bantuan sosial (bansos) yang ditujukan langsung bagi masyarakat yang paling dalam terkena dampak pandemi virus Corona.


Beberapa bantuan sosial (bansos) ada yang bakal terus berlanjut sampai tahun 2021 mendatang. Pemerintah telah menyiapkan dana Rp 408,8 triliun dari APBN 2021 sebagai pelaksanaan program perlindungan sosial.


Dari mulai, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Sembako/Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), lalu ada Bansos Tunai, ada juga program Kartu Prakerja hingga program PBI-JKN.


Selai program yang dilakuakan pemerintah, para pelaku industri juga turut ambil bagian dalam upaya meringankan beban masyarakat yang terkena dampak penurunan ekonomi akibat pandemi virus Corona.


Salah satunya seperti yang dilakukan Mitratel yang merupakan anak perusahaan Telkom Indonesia.

https://trimay98.com/movies/love-the-way-u-lie/


Bekerja sama dengan 50 warung makan di seluruh Indonesia, anak usaha BUMN ini menyediakan layanan sarapan gratis bagi masyarakat terutama para pekerja non formal yang terkena dampak akibat pandemi.

Hingga Jumat (18/12/2020), Program Sarapan Gratis yang diluncurkan pada awal bulan April 2020 lalu telah terdistribusi sebanyak 122.000 porsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanggapan positif diterima dari berbagai pihak terutama bagi mereka yang terus bekerja selama masa pandemi.


Direktur Utama Teddy Hartoko mengajak seluruh Direksi Mitratel mengunjungi Warteg 89 di daerah Cikutra, Bandung untuk melihat secara langsung animo masyarakat terhadap Program tersebut. Bahkan Direksi berkesempatan sarapan pagi bersama driver ojek online yang kebetulan mengunjungi warteg 89.


"Program ini juga menjadi cara Mitratel untuk terus menebarkan kebaikan di tengah-tengah masa pandemi. Mitratel menyadari bahwa pandemic ini telah menimbulkan effect luar biasa terhadap perekonomian, begitu pula pedagang kecil seperti warteg ini," ujar Teddy dikutip dari keterangannya, Minggu (20/12/2020).


Warteg yang dimiliki oleh Bapak Udiyanto yang berasal dari Tegal ini berdiri di pinggir jalan PHH Mustofa, Cikutra, Bandung. Warteg yang telah melayani masyarakat sejak 15 tahun lalu ini dipilih karena letaknya yang strategis dan mudah untuk dicapai para pekerja non formal seperti ojek online, petugas kebersihan dan masyarakat lainnya.


"Kami sangat senang dapat membantu ojek online dalam menyediakan sarapan gratis buat mereka. Terima kasih buat Mitratel, program mulia ini telah membantu masyarakat kecil dan juga kami sebagai pemilik warung," ujar Udiyanto pemilik Warteg 89.


Lebih lanjut Teddy Hartoko mengatakan bahwa Program Sarapan Gratis menjadi bentuk kepedulian Mitratel untuk meyakinkan masyarakat bahwa kita bersama-sama dalam menghadapi musibah ini.


"Semoga Program yang telah dilakukan Mitratel selama lebih kurang 9 bulan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan bagi Sahabat Mitratel di manapun berada," tutur Teddy.

https://trimay98.com/movies/love-the-way-you-are/

Kisah Pejudi Insyaf, Kini Jadi Petani Mente Beromzet Rp 20 Juta/Bulan

 Judi memang bisa bikin candu, apalagi jika sudah menang berkali-kali. Namun kalah judi pun tetap bisa bikin ketagihan. Mengingat rasa penasaran untuk menang sering sekali muncul saat berjudi. Di daerah Nusa Tenggara Timur, bola guling atau bola gelinding menjadi salah satu jenis judi yang terpopuler.

Seperti namanya, judi bola guling dimainkan dengan menggunakan bola dan media kertas atau papan berisikan angka 1-12 dengan warna yang berbeda-beda. Singkatnya, pemain harus menebak angka yang akan keluar. Namun, untuk memenangkan permainan bola guling tentunya perlu trik dan pemahaman khusus.


Sama halnya dengan jenis judi lainnya, bola guling juga seakan memberikan candu bagi pria asal Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Arnoldus Iku (30). Ia menyebut dirinya sempat kecanduan bermain bola guling. Awalnya ia menyebut hanya coba-coba, tapi lama-lama jadi ketagihan, bahkan hingga menghabiskan Rp 65 juta dalam sebulan.


"Saya judi keras, tahun lalu saya habiskan Rp 65 juta sebelum saya kredit di BRI. Itu dalam satu bulan saya habiskan segitu untuk main bola guling," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.


Sayangnya, modal judi Rp 65 juta yang ia pinjam dari keluarga tak memberi hasil apapun. Arnold mengaku rugi dari bermain judi dan lebih memilih tobat. Meskipun banyak temannya yang mengajaknya kembali berjudi, ia langsung menolaknya.


"Tapi sekarang no. Kalau ada yang ngomong judi saya bilang ah judi besar saya sudah pernah, jadi tidak bagus. Lebih baik keringat keluar biar cuma Rp 1.000 tapi sangat berharga. Kalau main judi kita cuma duduk pangku kaki. Sebentar terima (duit), sebentar keluar lagi. Biar kita menang belasan juta ini uang akan habis. Modal Rp 65 juta saya rugi nggak dapat apa-apa makanya saya langsung tobat," paparnya.


Rugi judi ditambah terhimpit pandemi, Arnold pun akhirnya memilih untuk melanjutkan kembali usaha mentenya. Sebelum menjalankan jual beli mente, Arnold mengatakan dirinya dulu hanya menjual hasil kebun miliknya saja.


Mengingat waktu itu ia belum memiliki mobil atau motor untuk menjual mente dalam jumlah banyak. Ditambah jarak Malaka ke Atambua berkisar antara 2,5-3 jam lamanya.

https://trimay98.com/movies/the-way-i-love-you-2/


"Sebelum saya beli mobil, dulu belum punya motor juga, belum bisa kerja hasil. Karena kita mau beli hasil (mente) kan harus pikul dulu, apalagi jaraknya jauh. Jadi, harus pikul mente kan tidak mungkin. Saya kumpulkan duit untuk beli motor, baru saya jalankan hasil," katanya.


Arnold bercerita ia telah memulai usaha jual beli mente sejak tahun 2011 hingga sekarang. Dari kebun mente seluas 1 hektare dalam waktu tiga bulan ia bisa panen sebanyak 1,5 ton.


Selain memanen mente hasil kebun sendiri, Arnold menjelaskan dirinya juga membeli hasil mente milik warga sekitar atau bisa dibilang sebagai pengepul mente. Dari hasil kebun miliknya dan beli mente di warga sekitar, Arnold menjual mente-mente tersebut ke Atambua dan Atapupu.


"Ya kalau satu hektar dalam waktu tiga bulan itu bisa (panen) 1,5 ton. Hasil kebunnya di jual ke Atapupu dengan Atambua. Mentenya hanya dijual saja bijinya karena buahnya belum ada yang beli," katanya.


Dari hasil jual beli mente, Arnold menjelaskan dirinya mendapat keuntungan Rp 1.000 untuk setiap kilogram mente. Adapun dari jual beli mente setiap harinya ia bisa untung bersih sekitar Rp 1.200.000.


"Omzet dari mente tiap kami beli contohnya dengan harga Rp 13.000, kami jual dengan harga Rp 14.000, jadi untungnya Rp 1.000. Keuntungannya jadi tiap kali antar karena (pakai) oto kecil paling dapat bersihnya itu Rp 1.200.000 untuk setiap hari. Jadi, satu bulan itu ya omzetnya sekitar Rp 20 jutaan, tapi kan ada pengeluaran bahan bakar, makan minum," katanya.


Melihat harga mente semakin bagus, Arnold pun memutuskan untuk mengembangkan usaha jual beli mente. Arnold yang awalnya menjual mente menggunakan motor sebanyak 200 kg setiap harinya, akhirnya mengajukan pinjaman modal ke BRI untuk membeli mobil. Dengan begitu, setidaknya ia bisa menjual mente minimal 500 hingga 600 kg setiap harinya.


"Saya waktu itu ambil pinjaman di BRI dari bulan April 2020 untuk membantu saya menjual belikan hasil mente di Desa Babulu Selatan ini. Pinjaman BRI sebesar Rp 100 juta. Uang itu sebagian saya beli empat roda (mobil), bantu-bantu kios, dan juga untuk jual beli hasil mente," katanya.

https://trimay98.com/movies/the-way-i-love-you/