Senin, 04 Januari 2021

Uji Coba Smart Farming BNI Ditebar di 5 Provinsi

  Ketahanan pangan nasional menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pandemi COVID-19 yang belum diketahui masa berakhirnya semakin mendorong pemerintah untuk menggalang program pertanian guna ketahanan pangan nasional. Salah satu bentuk dukungan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) adalah program BNI Smart Farming.

Melalui program tersebut, BNI bekerja sama dengan berbagai pihak terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.


Selain itu, BNI juga turut melibatkan startup agri teknologi salah satunya PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (PT MSMB) dalam menginisiasi program Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 sebagai program kegiatan untuk membantu petani meningkatkan hasil budidayanya.


Direktur Bisnis UMKM BNI Muhammad Iqbal mengatakan program BNI smart farming ini lebih menekankan nilai tambah pada peranan BNI dalam memastikan agar para petani mendapatkan akses pembiayaan yang murah dan mudah, disertai pendampingan yang memanfaatkan teknologi pertanian digital selama proses budidaya.


"Program BNI Smart Farming yang dihadirkan telah dipersiapkan agar sejak awal modal kerja pertanian diterima akan mendapat rekomendasi pertanian yang tepat, sistem pemupukan yang presisi, hingga penanganan hama dan pemanenan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (4/1/2021).

https://cinemamovie28.com/movies/dreams-of-eroticism/


Di sisi lain, perbankan juga memanfaatkan smart farming melalui dashboard dari aplikasi bertani untuk monitoring on farm, pendampingan pertanian, yang muaranya untuk dapat memastikan kualitas kredit bank yang lebih baik dan inklusi keuangan di sektor pertanian.


"Memasuki musim panen, telah disiapkan fitur di dalam aplikasi agar mengakomodir hasil produksi petani diserap oleh offtaker mitra BNI. Dengan menempatkan alat sensor di lahan, maka kondisi tanaman sejak sebelum, saat tanam, pemeliharaan, hingga pemanenan dapat terpantau secara real time," ungkapnya


"Rekomendasi diperoleh dari alat sensor yang dapat menjangkau area hingga seluas 100 Ha akan terkoneksi dengan aplikasi yang disematkan ke dalam gadget berbasis android milik petani sehingga, kondisi lahan khususnya yang berkaitan dengan curah hujan, suhu, kondisi tanah (Ph), hingga kebutuhan pupuk dapat terdeteksi dengan mudah," imbuh Iqbal.


Dari sisi cost efficiency, maka rekomendasi dari sensor yang disematkan ke dalam aplikasi di genggaman petani tidak hanya akan memudahkan petani, tetapi juga memberikan pola pertanian yang paling baik termasuk intensitas penggunaan pupuk.


Dengan demikian, petani akan menjadi lebih produktif, lebih efisien dan efektif, hasil lahan/ladangnya mudah dijangkau pasar, serta akhirnya menjadi petani yang profesional dan berkualitas. Dengan volume hasil panen yang meningkat dan kualitas hasil yang lebih baik maka kesejahteraan petani akan semakin terjamin.


Petani Sangat Terbantu


Selama tahun 2020, beberapa kegiatan program smart farming ini diimplementasikan di 6 (enam) titik di 5 (lima) provinsi di Indonesia dan manfaatnya telah dirasakan oleh para petani.


Salah satu petani dari Situbondo Fero Kamahendra menceritakan bahwa di daerahnya petani telah merasakan manfaat yang positif dari kehadiran program smart farming ini, dimana selain mendapat dukungan permodalan untuk bertani, petani di daerahnya telah didukung dengan alat sensor, BNI benar-benar memperhatikan masyarakat pertanian di daerah kami.


Di tempat terpisah, Pujiono, petani di Malang menceritakan bahwa dengan kehadiran BNI ke daerahnya, semangat petani semakin meningkat, bahkan lahan tidur yang sebelumnya kurang produktif telah dimanfaatkan sebagai lahan hijau untuk ditanami tanaman pangan dan hortikultura.

https://cinemamovie28.com/movies/dreamscape/

RI Masih Kecanduan Impor Kedelai, Kapan Bisa Lepas?

 Kebutuhan kedelai di Indonesia secara nasional mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan itu, mayoritas kedelainya masih diimpor mulai dari Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Malaysia karena angka produksi dalam negeri masih sangat kecil.

Ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan kedelai itu pun membuat Indonesia harus mengikuti harga di pasar global. Kini, harga kedelai mengalami lonjakan drastis yang membuat tahu dan tempe juga ikut naik.


Untuk menangani hal tersebut, Indonesia perlu menggenjot produksi dalam negeri agar tak terus-menerus impor. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan berbagai upaya untuk menggenjot produksi kedelai dalam negeri.


"Itu yang harus menjadi kekuatan kita. Ini menjadi pelajaran yang penting untuk kita semua sehingga kekuatan lokal dan nasional harus menjadi jawaban dari kebutuhan itu," kata Syahrul kepada awak media di Jakarta, Senin (4/1/2021).


Ia mengatakan, menyelesaikan persoalan kedelai ini memang tak bisa instan. Menurutnya paling cepat dapat diselesaikan dalam 200 hari atau sekitar 6 bulan.


"Kalau pertanaman 100 hari minimal. Ini dua kali 100 hari bisa kita sikapi secara bertahap sambil ada agenda seperti apa mempersiapkan ketersediaannya, bukan cuma harga, ketersediaan yang penting. Tentu saja bekerja sama dengan kementerian lain," ujar dia.


Syahrul tak merinci apa saja upayanya untuk mendongkrak produksi dalam negeri. Pasalnya, ia ingin segala hal akan diselesaikan langsung di lapangan.


"Saya akan sikapi di lapangan. Saya tidak mau janji dulu karena saya lagi kerja. Dan insyaallah dari agenda-agenda yang kita siapkan hari ini mudah-mudahan ini bisa menjadi jawaban. Tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. tetapi ini menjadi jawaban dalam kontraksi-kontraksi yang ada," tutur Syahrul.


Ia menegaskan, ketergantungan impor kedelai ini tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara lain. Oleh sebab itu, cara menanganinya adalah dengan melaksanakan rencananya itu dengan bekerja sama antar kementerian/lembaga terkait.


"Tidak hanya di Indonesia ada kontraksi seperti ini. Di Argentina misalnya juga terjadi polemik-polemik terhadap kedelai itu. Tapi apa yang kami lakukan hari ini adalah kami sudah bertemu jajaran pertanian, melibatkan integrator dan juga unit unit kerja lain dari kementerian dan pemerintah daerah untuk mempersiapkan kedelai kita lebih cepat," tutup Syahrul.

https://cinemamovie28.com/movies/erotic-day-dream/


Uji Coba Smart Farming BNI Ditebar di 5 Provinsi


 Ketahanan pangan nasional menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pandemi COVID-19 yang belum diketahui masa berakhirnya semakin mendorong pemerintah untuk menggalang program pertanian guna ketahanan pangan nasional. Salah satu bentuk dukungan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) adalah program BNI Smart Farming.

Melalui program tersebut, BNI bekerja sama dengan berbagai pihak terkait seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.


Selain itu, BNI juga turut melibatkan startup agri teknologi salah satunya PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (PT MSMB) dalam menginisiasi program Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 sebagai program kegiatan untuk membantu petani meningkatkan hasil budidayanya.


Direktur Bisnis UMKM BNI Muhammad Iqbal mengatakan program BNI smart farming ini lebih menekankan nilai tambah pada peranan BNI dalam memastikan agar para petani mendapatkan akses pembiayaan yang murah dan mudah, disertai pendampingan yang memanfaatkan teknologi pertanian digital selama proses budidaya.


"Program BNI Smart Farming yang dihadirkan telah dipersiapkan agar sejak awal modal kerja pertanian diterima akan mendapat rekomendasi pertanian yang tepat, sistem pemupukan yang presisi, hingga penanganan hama dan pemanenan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (4/1/2021).

https://cinemamovie28.com/movies/wet-dream-2/