Selasa, 05 Januari 2021

Mengandung Mutasi E484K, Risiko Varian Baru Corona Afsel Diwaspadai

 Semua virus, termasuk SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan virus Corona juga bisa mengalami bermutasi. Hal ini bisa membuat virus lebih cepat menular bahkan menjadi lebih berbahaya.

Dua varian baru yang saat ini tengah dikhawatirkan adalah varian yang teridentifikasi di Inggris dan juga Afrika Selatan. Keduanya diketahui lebih cepat menular dibandingkan virus Corona yang pertama kali muncul.


Seorang ahli mikrobiologi sel di University of Reading, Dr Simon Clarke mengatakan varian baru Corona yang teridentifikasi di Afrika Selatan yang disebut 501.V2 lebih mengkhawatirkan.


"Varian Afrika memiliki sejumlah mutasi tambahan, termasuk perubahan pada beberapa spike protein virus yang mengkhawatirkan," katanya yang dikutip dari BBC, Selasa (5/1/2021).


Spike protein inilah yang digunakan virus Corona untuk masuk ke dalam sel manusia. Hal ini yang membuat para ahli khawatir tentang varian ini.


"Mereka menyebabkan perubahan yang lebih luas pada spike protein daripada perubahan pada varian baru Corona dari Inggris. Dan mungkin membuat virus kurang rentan terhadap respons kekebalan yang dipicu oleh vaksin," jelas Dr Clarke.


Selain itu, mutasi Corona E484K yang dihasilkan akibat varian baru Corona Afrika Selatan ini juga terbukti bisa mengurangi pengenalan antibodi. Ini bisa melewati perlindungan kekebalan yang dibentuk oleh vaksin.


"Mutasi E484K terbukti bisa mengurangi pengenalan antibodi. Dengan demikian, ini membantu virus SARS-CoV-2 untuk melewati perlindungan kekebalan yang diberikan dari vaksinasi sebelumnya," ujar Prof Francois Balloon dari University College London.


Apakah varian ini membuat virus tersebut lebih berbahaya?

Saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa salah satu virus yang bermutasi bisa menjadi lebih berbahaya. Penerapan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan menggunakan masker masih akan tetap membantu untuk menghentikan penyebaran virus.

https://tendabiru21.net/movies/the-trip/


Dapat Nggak Ya? Ini Cara Cek Vaksin Gratis dari Pemerintah


Beberapa waktu lalu Kementerian Kesehatan (Kemkes) mengirimkan Short Message Service (SMS) secara serentak kepada seluruh penerima vaksin virus Corona COVID-19 yang telah terdaftar. Termasuk yang dapat atau tidak, bagaimana cara cek vaksin gratis?

Aturan vaksin gratis tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/12757/2020 tentang Penetapan Sasaran Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pada tanggal 28 Desember 2020 kemarin.


Dalam aturan KMK tersebut, pengiriman pemberitahuan SMS akan diberikan serentak mulai 31 Desember 2020 kemarin. Adapun sasaran penerima SMS adalah mereka yang namanya telah terdaftar dalam "Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi Corona Virus Disease COVID-19".


Berikut ini cara cek vaksin gratis dari pemerintah.

1. Buka situs di alamat pedulilindungi.id/cek-nik


2. Masukkan data berupa nomor NIK pada kolom yang tersedia


3. Masukkan kode yang tertera di layar


4. Klik selanjutnya


5. Layar akan menunjukkan hasil apakah NIK terdaftar sebagai penerima vaksin atau tidak


Berikut pemberitahuan jika Anda belum termasuk calon penerima vaksin COVID-19 gratis:


Mohon maaf, Anda dengan NIK ** Saat ini BELUM termasuk calon penerima vaksinasi COVID-19 GRATIS pada periode ini.


Jika sudah melakukan cara cek vaksin gratis dan belum terdaftar, begini aturan pengajuannya:


Bagi tenaga kesehatan atau tenaga penunjang yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan yang belum mendapat SMS atau namanya belum terdaftar saat melakukan cek NIK, dapat melengkapi data: Nama, NIK, Alamat, No HP, Tipe Nakes dan dilengkapi dengan Surat Keterangan dari kepala FASYANKES yang menerangkan kamu adalah Nakes dari FASYANKES terkait ke email vaksin@pedulilindungi.id.


Cara cek vaksin gratis juga bisa dilihat di keterangan tertulis website pedulilindungi.id.

https://tendabiru21.net/movies/from-beyond/

'Main-main' dengan Foto Pasien, Para Petugas Medis Ini Tuai Kecaman

 Foto Syekh Ali Jaber saat menjalani perawatan medis di ICU viral di media sosial. Hal ini menuai banyak kecaman, termasuk dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), yang tengah memeriksa informasi bahwa foto tersebut diambil oleh perawat.

Menurut asisten Syekh Ali Jaber, Abu Aras, foto diambil tanpa izin sehingga pihak keluarga akhirnya memberikan teguran kepada rumah sakit (RS) tempat Syekh Ali Jaber dirawat.


"Terkait foto Syekh Ali Jaber beredar berantai, foto tersebut dari salah satu perawat yang melanggar etika atau privasi pasien dan keluarga," kata Abi kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/1/2021).


Foto-foto pasien memang tidak seharusnya disebarkan tanpa izin, apalagi oleh tenaga kesehatan. Dalam beberapa kasus, pelanggaran etik seperti ini sering terjadi, mulai dari foto bersama pasien saat operasi hingga melahirkan. Berikut rangkuman kasusnya.


1. Foto bersama di ruang operasi

Beberapa tahun lalu, foto bersama di ruang operasi diambil sekelompok tenaga medis dari Fengcheng Hospital di Provinsi Shaanxi, China.


Dalam foto tersebut, tampak seorang pasien yang tak sadarkan diri, sementara beberapa tenaga medis yang tengah menangani jalannya operasi mengacungkan salam 2 jari.


Foto ini pun tersebar luas dan akhirnya menuai banyak kecaman.


2. Mengacungkan jari tengah depan pasien

Kasus serupa terjadi di Rusia, perawat Tatiana Kulikova menuai kecaman usai mengacungkan jari tengah pada pasien di ruangan gawat darurat. Foto ini lantas diunggah di media sosial dan banyak yang menghujat dirinya.


Bagaimana tidak, ia juga menuliskan keterangan yang membuat banyak orang geram.


"Orang bodoh lainnya," tulisnya.


Akibat aksinya ini, ia pun dipecat dari tempatnya bekerja.


3. Foto dengan pasien kritis

Meski mengaku sudah dapat izin dari pasien, mahasiswi kedokteran asal Meksiko ini mendapat kecaman dari banyak pihak karena berselfie cantik depan pasien.


Hal ini dikarenakan pasien yang tengah berbaring di belakangnya tampak sedang sakit parah.


4. Selfie dengan pasien saat mau melahirkan

Dokter kandungan di Venezuela, Daniel Sanchez juga menuai kecaman. Pasalnya, ia mengambil foto dengan seorang ibu yang hendak melahirkan. Bahkan ibu tersebut sudah dalam posisi mengangkang.


"Lady I can deliver your baby but first let me take a selfie," tulisnya mengomentari foto tersebut. Meski begitu, belum jelas apakah Sanchez sudah mengantongi izin dari pasien.


Sebuah petisi yang ditandatangani setidaknya 5 ribu orang bahkan mendesak dirinya diinvestigasi.


5. Foto bersama saat persalinan

Foto dengan pasien yang juga menuai kontroversi terjadi di Malaysia. Dokter perempuan memajang foto kala tengah membantu persalinan.


Tangan kirinya memberikan salam 2 jari, sedangkan tangan kanan berada di organ vital sang pasien.

https://tendabiru21.net/movies/the-maid/


Mengandung Mutasi E484K, Risiko Varian Baru Corona Afsel Diwaspadai


Semua virus, termasuk SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan virus Corona juga bisa mengalami bermutasi. Hal ini bisa membuat virus lebih cepat menular bahkan menjadi lebih berbahaya.

Dua varian baru yang saat ini tengah dikhawatirkan adalah varian yang teridentifikasi di Inggris dan juga Afrika Selatan. Keduanya diketahui lebih cepat menular dibandingkan virus Corona yang pertama kali muncul.


Seorang ahli mikrobiologi sel di University of Reading, Dr Simon Clarke mengatakan varian baru Corona yang teridentifikasi di Afrika Selatan yang disebut 501.V2 lebih mengkhawatirkan.


"Varian Afrika memiliki sejumlah mutasi tambahan, termasuk perubahan pada beberapa spike protein virus yang mengkhawatirkan," katanya yang dikutip dari BBC, Selasa (5/1/2021).


Spike protein inilah yang digunakan virus Corona untuk masuk ke dalam sel manusia. Hal ini yang membuat para ahli khawatir tentang varian ini.


"Mereka menyebabkan perubahan yang lebih luas pada spike protein daripada perubahan pada varian baru Corona dari Inggris. Dan mungkin membuat virus kurang rentan terhadap respons kekebalan yang dipicu oleh vaksin," jelas Dr Clarke.


Selain itu, mutasi Corona E484K yang dihasilkan akibat varian baru Corona Afrika Selatan ini juga terbukti bisa mengurangi pengenalan antibodi. Ini bisa melewati perlindungan kekebalan yang dibentuk oleh vaksin.


"Mutasi E484K terbukti bisa mengurangi pengenalan antibodi. Dengan demikian, ini membantu virus SARS-CoV-2 untuk melewati perlindungan kekebalan yang diberikan dari vaksinasi sebelumnya," ujar Prof Francois Balloon dari University College London.

https://tendabiru21.net/movies/mrs-doubtfire/