Jumat, 08 Januari 2021

Varian Baru Corona Merajalela di Eropa, Lockdown Tak Mempan?

 Varian baru virus Corona yang awalnya dilaporkan di Inggris kini sudah menyebar ke berbagai negara. Varian yang disebut lebih mudah menular ini jadi kekhawatiran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena kasusnya terus meningkat di sebagian negara Eropa yang sudah menerapkan pembatasan total atau lockdown.

Direktur WHO Eropa, Hans Kluge, mengatakan perlu ada tindakan yang lebih tegas. Hingga hari Rabu (6/1/2021), setengah dari negara di Eropa melaporkan 150 kasus COVID-19 baru per 100 ribu penduduk.


"Dari perkiraan kami, varian ini kemungkinan akan menggantikan jenis Corona yang umum bersirkulasi, seperti yang sudah kita saksikan di Inggris dan kini mulai meningkat di Denmark," kata Hans seperti dikutip dari BBC, Jumat (8/1/2021).


"Tanpa ada upaya ekstra untuk memperlambat penularannya, akan ada dampak pada fasilitas kesehatan yang sekarang saja sudah terbebani," lanjutnya.


Laporan oleh peneliti di Imperial College London memperkirakan kasus Corona varian baru ini meningkat tiga kali lipat pada periode lockdown di Inggris bulan November. Sementara kasus varian sebelumnya berhasil ditekan sampai sepertiganya.


Angka reproduksi (R) varian Corona yang baru disebut peneliti sekitar 0,7 dalam kondisi lockdown. Sementara menurut laporan pemerintah Inggris pada 23 Desember menyebut angka reproduksi varian Corona baru sekitar 1,1 sampai 1,3.


Idealnya angka reproduksi virus harus bisa berada di bawah 1 agar jumlah kasus baru di masyarakat dapat ditekan. Angka 1 di sini artinya dari setiap orang yang terinfeksi ia bisa menulari satu orang lain atau menimbulkan satu kasus baru.

https://tendabiru21.net/movies/housewifes-afternoon-delight/


Vaksin Corona Pfizer Disebut Efektif Lawan Varian Baru Corona


 - Vaksin Corona Pfizer disebut bisa melawan varian baru Corona. Baik dari strain dari Corona yang ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan. Hal ini berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh otoritas kesehatan Amerika Serikat.

Hanya saja studi ini belum ditinjau oleh rekan sejawat. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan di Pfizer dan Medical Branc ini menyebut vaksin bisa menetralkan mutasi virus.


Dikutip dari laman Reuter, Phil Dormitzer salah satu ilmuwan vaksin Pfizer menyebut mutasi itu memiliki penularan yang lebih besar dan ada kekhawatiran bahwa virus lolos dari netralisasi antibodi yang ditimbulkan oleh vaksin.


Penelitian dilakukan pada darah yang diambil dari orang yang telah disuntik vaksin. Penemuannya terbatas, karena tidak melihat rangkaian lengkap mutasi yang ditemukan pada varian baru dari virus yang menyebar dengan cepat.


Dormitzer mengatakan hal itu menggembirakan bahwa vaksin tampak efektif melawan mutasi, serta 15 mutasi lain yang sebelumnya telah diuji oleh perusahaan.


"Jadi kami sekarang telah menguji 16 mutasi yang berbeda, dan tidak satupun dari mutasi memiliki pengaruh yang signifikan. Itu kabar baiknya," katanya.


Dormitzer juga menyebut mutasi lain yang ditemukan pada varian Afrika Selatan, yang disebut mutasi E484K juga mengkhawatirkan.


Para peneliti berencana menjalankan tes serupa untuk melihat apakah vaksin tersebut efektif melawan mutasi lain seperti yang ditemukan di varian Inggris dan Afrika Selatan dan berharap mendapatkan lebih banyak data dalam beberapa minggu.


Sebelumnya sempat muncul kekhawatiran bahwa vaksin yang dibuat mungkin tidak dapat melindungi dari varian baru, terutama yang muncul di Afrika Selatan.

https://tendabiru21.net/movies/romance-mothers-friend/

Waduh, Kasus Corona di Wuhan Disebut 3 Kali Lebih Tinggi dari Angka Resmi!

 Studi yang dilakukan para peneliti di China menemukan jumlah orang yang terinfeksi Corona di Wuhan, kota tempat pertama kali COVID-19 merebak, bisa tiga kali lebih tinggi dari angka resmi yang dirilis pemerintah.

Dikutip dari Reuters, dalam jurnal yang diterbitkan oleh PLOS Neglected Tropical Disease pada Kamis (7/1/2021) menganalisis sampel darah dari lebih 60 ribu orang sehat yang diambil dari seluruh lokasi di China per Maret-Mei 2020.


Ditemukan bahwa sampel darah 1,68 persen dari mereka yang berasal dari Wuhan, mengandung antibodi SARS-COV-2, dibandingkan dengan 0,58 persen di provinsi Hubei dan 0,38 persen di seluruh daratan China.


Dengan total populasi Wuhan lebih dari 10 juta, para peneliti memperkirakan sebanyak 168 ribu penduduk di sana telah terinfeksi. Jauh lebih tinggi dengan jumlah resmi yang tercatat yakni 50.340 pasien.


Sebuah studi terpisah yang diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China akhir bulan lalu menyebutkan tingkat "seroprevalensi" di Wuhan, persentase populasi dengan antibodi, bahkan lebih tinggi yaitu 4,43 persen, menyiratkan bahwa sekitar setengah juta orang di kota itu bisa saja terinfeksi.


Infeksi COVID-19 diidentifikasi di Wuhan pada akhir 2020 dengan wabah pertama terkait dengan pasar makanan laut di sana.


Pemerintah China telah berkali-kali menepis kritik terhadap penanganan awal COVID-19 dan sekarang mereka merujuk ke studi luar negeri yang menyebut virus Corona telah beredar di Eropa bahkan beberapa bulan sebelum di Wuhan.

https://tendabiru21.net/movies/friends-young-mom/


Varian Baru Corona Merajalela di Eropa, Lockdown Tak Mempan?


 Varian baru virus Corona yang awalnya dilaporkan di Inggris kini sudah menyebar ke berbagai negara. Varian yang disebut lebih mudah menular ini jadi kekhawatiran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena kasusnya terus meningkat di sebagian negara Eropa yang sudah menerapkan pembatasan total atau lockdown.

Direktur WHO Eropa, Hans Kluge, mengatakan perlu ada tindakan yang lebih tegas. Hingga hari Rabu (6/1/2021), setengah dari negara di Eropa melaporkan 150 kasus COVID-19 baru per 100 ribu penduduk.


"Dari perkiraan kami, varian ini kemungkinan akan menggantikan jenis Corona yang umum bersirkulasi, seperti yang sudah kita saksikan di Inggris dan kini mulai meningkat di Denmark," kata Hans seperti dikutip dari BBC, Jumat (8/1/2021).


"Tanpa ada upaya ekstra untuk memperlambat penularannya, akan ada dampak pada fasilitas kesehatan yang sekarang saja sudah terbebani," lanjutnya.


Laporan oleh peneliti di Imperial College London memperkirakan kasus Corona varian baru ini meningkat tiga kali lipat pada periode lockdown di Inggris bulan November. Sementara kasus varian sebelumnya berhasil ditekan sampai sepertiganya.


Angka reproduksi (R) varian Corona yang baru disebut peneliti sekitar 0,7 dalam kondisi lockdown. Sementara menurut laporan pemerintah Inggris pada 23 Desember menyebut angka reproduksi varian Corona baru sekitar 1,1 sampai 1,3.


Idealnya angka reproduksi virus harus bisa berada di bawah 1 agar jumlah kasus baru di masyarakat dapat ditekan. Angka 1 di sini artinya dari setiap orang yang terinfeksi ia bisa menulari satu orang lain atau menimbulkan satu kasus baru.

https://tendabiru21.net/movies/moms-friend-5/