Kamis, 04 Maret 2021

Varian COVID-19 P1 Jadi Penyebab 25-61 Persen Kasus Reinfeksi di Brasil

 Kemunculan berbagai varian baru COVID-19 bisa menjadi tantangan bagi dunia dalam menghadapi pandemi. Setidaknya ada tiga varian yang kini jadi perhatian para peneliti yaitu B117 yang berasal dari Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan yang terbaru P1 di Brasil.

Studi oleh peneliti menemukan bahwa varian P1 jadi penyebab gelombang kedua COVID-19 di kota Manaus. Pasalnya varian ini bersifat lebih mudah menular dan bisa menghindari imunitas yang dimiliki para penyintas sehingga menyebabkan kasus reinfeksi.


Hal ini diketahui setelah peneliti menggabungkan data genom, antibodi, dan rekam medis dari pasien di Manaus. Peneliti memprediksi dari 100 penyintas yang sebelumnya terinfeksi COVID-19 tahun lalu, 25 sampai 61 di antaranya kembali terinfeksi varian P1.


"Sejauh ini temuan hanya di Manaus, saya belum tahu apakah hal yang sama berlaku juga di tempat lain," ungkap salah satu peneliti Imperial College London, Nuno Faria, seperti dikutip dari New York Times pada Kamis (4/3/2021).


Hingga saat ini P1 diketahui teridentifikasi di Brasil dan 24 negara lain. Faria menyebut ini artinya dunia harus semakin ketat menerapkan upaya-upaya pencegahan. Protokol kesehatan tetap jadi cara utama menekan virus dan vaksinasi bisa melindungi kelompok berisiko dari kasus infeksi parah.


"Pesan utamanya adalah Anda harus lebih meningkatkan lagi usaha vaksinasi secepatnya... Anda harus berada satu langkah di depan dari virus," pungkas Faria.

https://nonton08.com/movies/mr-vampire-iii/


Kemenkes Angkat Bicara Soal Gejala Corona B117 yang Masuk Indonesia


 Pemerintah mengungkap temuan dua kasus varian baru Corona B117 di Karawang. Berdasarkan keterangan, kedua pasien merupakan pekerja migran indonesia (PMI) yang datang dari Arab Saudi beberapa waktu lalu.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengungkap kondisi terkini dua pasien yang terinfeksi virus Corona varian baru B117.


"Gejala sama dengan infeksi virus COVID biasa. Kondisi sudah sehat, sudah kembali bersama keluarga," kata dr Nadia kepada detikcom, Kamis (4/3/2021).


Menurut dr Nadia, kedua kasus tersebut ditemukan saaat surveilens genom sequensing pada pelaku perjalanan. "Jadi dari orang yang datang dari Arab," sebutnya.


Saat ini pihaknya masih melakukan proses tracing ke sejumlah orang yang pernah kontak dekat dengan pasien. Juru bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Karawang dr Fitra Hergyana menyebut total sudah ada 15 orang yang ditracing terkait temuan kasus Corona B117.


Dari 2 kasus yang ditemukan, Fitra menyebut hanya ada satu yang mengeluhkan gejala yakni Ny M. Namun disebutkan, gejala yang dikeluhkan masih dikategorikan ringan.


"Sudah negatif dan sebenarnya baik-baik saja, sebelumnya yang satu kan memang sempat ada demam dan batuk Mbak tapi sudah pulih," kata Fitra, Rabu (3/3/2021).


Terbawa Emosi Gara-gara Corona B117 Masuk RI? Ini Saran Dokter Jiwa


Masuknya varian Corona B117 di tengah vaksinasi COVID-19 memicu rasa cemas dan emosi. Ada yang khawatir Corona B117 bisa memicu lonjakan di tengah kasus COVID-19 yang belum teratasi, hingga rasa cemas vaksin tak akan efektif lagi.

Meski begitu, Ketua Tim Uji Klinis Vaksin COVID-19 Prof Kusnandi Rusmil meyakini vaksin Sinovac akan tetap efektif melawan varian baru Corona B117.


"Saya lagi teliti, kita meneliti di Indonesia, Brasil, Uni Emirat Arab, Turki melihat efektivitasnya. Tapi kalau setahun, harapan saya masih efektif, jadi memang tidak berhenti-hentinya meneliti," kata Kusnandi.


Jika rasa cemas masih terus muncul dan kerap berakhir emosi berlebihan, pakar kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren dari SpKJ dari RS Siloam Bogor menyebut ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Apa saja?

https://nonton08.com/movies/new-mr-vampire-ii/

Jokowi Gaungkan Benci Produk Asing, Ekonom: Mulailah dari Mobil Kepresidenan

 Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat mengkampanyekan benci produk luar negeri atau produk asing. Dia ingin seluruh pemangku kepentingan menggaungkan cinta produk Indonesia.

Direktur Eksekutif Institute Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, bila Jokowi membuat pernyataan tersebut maka bisa dimulai dari produk-produk kepresidenan, misalnya mobil dinas.


"Jadi, kalau Pak Presiden (Jokowi), pemerintah mengatakan benci produk asing ya mulailah dari pemerintah, misalnya mobil kepresidenan harus produk lokal. Negara lain kan mulai dari pimpinannya," kata dia kepada detikcom, Kamis (4/3/2021).


"Menurut saya jangan cuma slogan tapi harus dibuktikan komitmen itu dalam pengembangan industri dalam negeri sendiri, dukungannya seperti apa. Sederhananya kita buktikan mobil nasional lah," lanjutnya.


Sebagai informasi, saat ini Jokowi menggunakan mobil kepresidenan Mercedes-Benz S 600 Guard. Itu merupakan armada baru untuk mobil kepresidenan yang sudah diterima Paspampres sejak akhir 2019 lalu.


Tauhid melanjutkan, yang jadi masalah ialah Indonesia kebanyakan hanya unggul di sumber daya alam (SDA), misalnya batubara, CPO, nikel, karet, dan kopi. Sementara untuk produk teknologi, Indonesia kalah.


"Coba bayangkan katakanlah produk otomotif, kita punya nggak produk nasional? nggak punya. Elektronik, ada nggak produk nasional? beberapa, sebagian besar kita malah banyak impor, handphone, laptop itu yang bikin defisit perdagangan atau transaksi berjalan kita hancur lebur di situ," tambahnya.


Dihubungi terpisah, Direktur riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan pernyataan Jokowi terlalu keras.

"Statement dari Pak Presiden terlalu keras, kata-kata benci itu tidak pas. Kita memang harus lebih mencintai produk dalam negeri. Tapi kata-kata untuk yang asingnya bukan benci karena kalau benci itu tidak pas lah, dan ada untuk produk-produk tertentu yang masih belum tergantikan, produk asingnya belum tergantikan," jelasnya.


Dia menjelaskan masih ada produk-produk yang belum bisa diproduksi anak bangsa. Untuk itu, Indonesia masih perlu impor. Misalnya saja bahan baku yang menurutnya masih banyak impor. Begitu pula di sektor pangan.


"Konsumsi bawang putih misalnya, bawang putih itu mau tidak mau kita impor ya karena kebutuhan kita dengan produksi kita lebih banyak kebutuhan kita," tambahnya.

https://nonton08.com/movies/mr-vampire-ii/


Varian COVID-19 P1 Jadi Penyebab 25-61 Persen Kasus Reinfeksi di Brasil


Kemunculan berbagai varian baru COVID-19 bisa menjadi tantangan bagi dunia dalam menghadapi pandemi. Setidaknya ada tiga varian yang kini jadi perhatian para peneliti yaitu B117 yang berasal dari Inggris, B1351 di Afrika Selatan, dan yang terbaru P1 di Brasil.

Studi oleh peneliti menemukan bahwa varian P1 jadi penyebab gelombang kedua COVID-19 di kota Manaus. Pasalnya varian ini bersifat lebih mudah menular dan bisa menghindari imunitas yang dimiliki para penyintas sehingga menyebabkan kasus reinfeksi.


Hal ini diketahui setelah peneliti menggabungkan data genom, antibodi, dan rekam medis dari pasien di Manaus. Peneliti memprediksi dari 100 penyintas yang sebelumnya terinfeksi COVID-19 tahun lalu, 25 sampai 61 di antaranya kembali terinfeksi varian P1.


"Sejauh ini temuan hanya di Manaus, saya belum tahu apakah hal yang sama berlaku juga di tempat lain," ungkap salah satu peneliti Imperial College London, Nuno Faria, seperti dikutip dari New York Times pada Kamis (4/3/2021).


Hingga saat ini P1 diketahui teridentifikasi di Brasil dan 24 negara lain. Faria menyebut ini artinya dunia harus semakin ketat menerapkan upaya-upaya pencegahan. Protokol kesehatan tetap jadi cara utama menekan virus dan vaksinasi bisa melindungi kelompok berisiko dari kasus infeksi parah.


"Pesan utamanya adalah Anda harus lebih meningkatkan lagi usaha vaksinasi secepatnya... Anda harus berada satu langkah di depan dari virus," pungkas Faria.

https://nonton08.com/movies/scooby-doo-and-the-legend-of-the-vampire/