Kamis, 11 Maret 2021

Christina Koch, Astronaut Perempuan Penakluk Antariksa

 Setahun yang lalu, Christina Koch memecahkan rekor sebagai astronaut perempuan yang tinggal terlama di luar angkasa. Pada 6 Februari 2020, ia mendarat di Bumi setelah menghabiskan 328 hari di International Space Station (ISS).

Sebelum menjadi astronaut, hidup Koch tidak jauh-jauh dari sains dan teknologi. Sebagai lulusan teknik elektro, ia memulai kariernya di NASA Goddard Space Flight Center Laboratory for High Energy Astrophysics, seperti dikutip dari situs resmi NASA, Minggu (7/3/2021).


Saat bekerja di departemen luar angkasa di Johns Hopkins University Applied Physic Laboratory, Koch berkontribusi mengembangkan instrumen untuk mempelajari radiasi yang digunakan beberapa misi NASA, termasuk wahana antariksa Juno dan Van Allen. Ia juga sempat tinggal dan bekerja di Antartika selama beberapa tahun.


Pada Juni 2013, Koch terpilih menjadi salah satu dari delapan anggota kelas astronaut NASA angkatan ke-21. Ia menjalani beragam latihan termasuk mempelajari sistem ISS, robotika, menerbangkan pesawat T-36 dan T-6, serta belajar bahasa Rusia.

https://trimay98.com/movies/dancer-kims-teaching/


Koch kemudian lulus dari pelatihan astronaut NASA pada tahun 2015. Ia harus menunggu beberapa tahun sebelum dipanggil untuk misi luar angkasa pertamanya ke ISS pada tahun 2018.


Pada 14 Maret 2019, Koch terbang ke ISS bersama astronaut NASA Nick Hague dan kosmonaut Rusia Alexey Ovchinin. Ketiganya merupakan anggota Expeditions 59 dan dijadwalkan kembali ke Bumi enam bulan setelah tiba di ISS.


Tapi masa tinggal Koch kemudian diperpanjang untuk mengumpulkan data tentang efek fisiologis yang terjadi saat perjalanan luar angkasa berdurasi panjang. Siapa sangka perpanjangan misi ini mengantarkannya menjadi astronaut perempuan yang tinggal terlama di luar angkasa.


Koch mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh astronaut NASA lainnya Peggy Whitson. Whitson pertama kali mencetak rekor tersebut pada tahun 2017 setelah menghabiskan 289 hari di ISS.


Selama berada di ISS, Koch telah melakukan lebih dari 210 eksperimen sains. Selain itu, ia juga melakukan enam spacewalk atau perjalanan di antariksa yang totalnya berdurasi 42 jam dan 15 menit.


Pencapaian Koch tidak berhenti sampai di situ karena ia dan rekan astronautnya Jessica Meir menjadi tim astronaut pertama yang semuanya perempuan yang melakukan spacewalk di luar ISS. Koch dan Meir tiga kali berpasangan dalam spacewalk untuk memperbaiki komponen eksternal ISS.


Setelah menghabiskan hampir satu tahun di ISS dan menjadi anggota tim Expeditions 59, 60 dan 61, Koch kembali ke Bumi pada 6 Februari 2020 bersama dua rekannya, astronaut ESA Luca Parmitano dan kosmonaut Rusia Alexander Skvortsov.


Menggunakan kapsul Soyuz MS-13, ketiga astronaut mendarat di Dzhezkazgan, Kazahkstan. Begitu keluar dari kapsul, senyum lebar terlihat menghiasi wajah Koch karena bisa merasakan angin di Bumi setelah hampir setahun hidup di ISS.


"Bagi saya, penting untuk melihat orang-orang yang saya lihat sebagai cerminan diri saya, saat tumbuh dewasa, ketika saya membayangkan apa yang dapat saya lakukan dengan hidup saya dan apa impian saya," kata Koch dalam wawancara dari ISS sebelum ia kembali ke Bumi, seperti dikutip dari BBC.


"Untuk mungkin menjadi sumber inspirasi bagi orang lain adalah sebuah kehormatan," pungkasnya.

https://trimay98.com/movies/delicious-love-formula-sex/

Deteksi dan Penanganan Hipospadia, Kondisi yang Diidap Aprilia Manganang

 Seorang atlet bola voli wanita, Aprilia Manganang, kini dinyatakan sebagai seorang pria usai melakukan sejumlah pemeriksaan. Disebut, ia mengidap hipospadia, yaitu kondisi kelainan bagian urogenital (saluran kencing).

Secara umum, kondisi tersebut merupakan kelainan bawaan sejak bayi baru lahir di mana bayi mengalami kelainan dengan adanya posisi lubang kencing yang tidak berada di tempatnya, yakni di tengah penis.


Saluran kencing seseorang yang mengidap hipospadia bisa terletak di bawah penis, batang penis, atau di bagian testis (buah zakar). Meski jarang terjadi, hipospadia bisa terjadi pada bayi. Menurut dr Melisa Anggraeni, M Biomed, SpA, seorang dokter spesialis anak, terdapat 10 dari 1.500 kelahiran bayi yang mengalami kondisi ini.


"Kelainan genital memang sering ditemukan pada bayi, tapi kalau kasus hipospadia enggak terlalu sering juga ditemukan," kata dr Melisa, dikutip dari HaiBunda.


Selain kelainan pada bagian saluran kencing, sejumlah pasien dengan kondisi ini juga bisa mengalami kelainan genetik lainnya atau hormonal. Sementara itu, hipospadia dapat ditemukan di awal dan diamati sejak bayi baru lahir.


"Paling tidak bisa dideteksi di 3 sampai 7 hari usia bayi bayi," ujar dr Melisa.


Hipospadia sendiri ternyata bisa disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:


Faktor genetik atau adanya riwayat keturunan yang pernah mengalami masalah ini

Ibu hamil berusia di atas 35 tahun yang memiliki risiko melahirkan bayi dengan kelainan kongenital, seperti hipospadia. Hal ini disebabkan karena sel telur yang kurang bagus.

Adanya komorbid atau penyakit penyerta, seperti diabetes melitus atau obesitas.

Paparan tambahan, seperti paparan kimia.

Bagi ibu yang baru saja melahirkan dan melihat adanya tanda-tanda hipospadia pada sang buah hati, maka bayinya bisa dibawa ke dokter. Pasalnya, kondisi ini kerap sulit dikenali oleh orang tua.

"Terkadang ada pasien yang datang anaknya sudah besar. Ibunya tidak sadar kalau pipis anaknya keluar bukan dari tengah penis. Ada ibu yang enggak ngeh karena tidak memperhatikan pipis anak karena menggunakan pampers," pungkas dr Melisa.


Selain air kencing yang tidak normal, hipospadia juga bisa dikenali dari bentuk penis anak yang cenderung melengkung ke bawah atau terlihat lebih kecil dari ukuran bayi normal.


"Kalau ibu-ibu merasa bentuk testis dan penis anak ini enggak seperti yang dilihat di internet, boleh coba konsultasi. Dokter benar-benar harus cek di mana letak lubang uretranya dan apakah testis sudah turun atau ukuran dan bentuknya normal," lanjutnya.


Lalu, bagaimana cara menangani hipospadia? Apakah kondisi ini bisa terdeteksi sejak masa kehamilan?


KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA

https://trimay98.com/movies/privacy-lewdness/


Christina Koch, Astronaut Perempuan Penakluk Antariksa


Setahun yang lalu, Christina Koch memecahkan rekor sebagai astronaut perempuan yang tinggal terlama di luar angkasa. Pada 6 Februari 2020, ia mendarat di Bumi setelah menghabiskan 328 hari di International Space Station (ISS).

Sebelum menjadi astronaut, hidup Koch tidak jauh-jauh dari sains dan teknologi. Sebagai lulusan teknik elektro, ia memulai kariernya di NASA Goddard Space Flight Center Laboratory for High Energy Astrophysics, seperti dikutip dari situs resmi NASA, Minggu (7/3/2021).


Saat bekerja di departemen luar angkasa di Johns Hopkins University Applied Physic Laboratory, Koch berkontribusi mengembangkan instrumen untuk mempelajari radiasi yang digunakan beberapa misi NASA, termasuk wahana antariksa Juno dan Van Allen. Ia juga sempat tinggal dan bekerja di Antartika selama beberapa tahun.


Pada Juni 2013, Koch terpilih menjadi salah satu dari delapan anggota kelas astronaut NASA angkatan ke-21. Ia menjalani beragam latihan termasuk mempelajari sistem ISS, robotika, menerbangkan pesawat T-36 dan T-6, serta belajar bahasa Rusia.


Koch kemudian lulus dari pelatihan astronaut NASA pada tahun 2015. Ia harus menunggu beberapa tahun sebelum dipanggil untuk misi luar angkasa pertamanya ke ISS pada tahun 2018.


Pada 14 Maret 2019, Koch terbang ke ISS bersama astronaut NASA Nick Hague dan kosmonaut Rusia Alexey Ovchinin. Ketiganya merupakan anggota Expeditions 59 dan dijadwalkan kembali ke Bumi enam bulan setelah tiba di ISS.


Tapi masa tinggal Koch kemudian diperpanjang untuk mengumpulkan data tentang efek fisiologis yang terjadi saat perjalanan luar angkasa berdurasi panjang. Siapa sangka perpanjangan misi ini mengantarkannya menjadi astronaut perempuan yang tinggal terlama di luar angkasa.

https://trimay98.com/movies/the-night-before-enlisting/